Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Apa yang Kau Cari, Antonioni?

Apa yang Kau Cari, Antonioni?
18/05/2008


They don’t mean anything when I do them. Just a mess.
Afterwards, I find something to hang on to…
Then it sorts itself out and adds up.
It’s like finding a clue in a detective story.

—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya,
di film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, UK, 1966)

 

London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu syahdu, begitu damai. Seorang fotografer berambut kusut dengan sorot mata nyalang, melangkah gontai tanpa tujuan, menyisir tepi taman. Nun jauh di tengah sana, tampak sepasang manusia bermesraan. Naluri fotografer mengatakan: itu objek menarik, maka dipotretlah mereka. Merasa privasi dia dan pasangannya terganggu, sang perempuan berang, lalu berlari mengejar sang fotografer. Dimintanya roll film itu, tapi sang fotografer menolak.

Dipenuhi tanda tanya di benaknya, sang fotografer kemudian memproses roll film itu di kamar gelap studionya. Tercetaklah serangkaian foto hitam putih: sederet pemandangan puitis, yang “sangat damai, sangat tenang.” Lalu kenapa sang perempuan tadi tampak begitu terganggu? Tergerak menyelidiki, sang fotografer melakukan proses pembesaran (atau blow-up) atas foto-foto tersebut. Alih-alih memberi jawab, pembesaran foto malah menyodorkan tanda tanya lebih besar: jauh di semak-semak, terlihat sekilas bersembunyi sesosok manusia dengan pistol di tangannya. Apakah itu berarti aksi pemotretan telah menyelamatkan pasangan tadi dari sebuah percobaan pembunuhan?

Misteri rupanya tak berhenti sampai di situ: pada proses pembesaran berikutnya, justru didapati sesosok mayat, yakni sang lelaki dari pasangan tersebut. Penasaran, sang fotografer kembali ke taman, dan ternyata mayat itu memang tergeletak di sana. Berarti bukannya menyelamatkan, dia tadi justru memberi peluang terjadi pembunuhan. Sepulang dari taman, studionya telah diobrak-abrik: seluruh negatif maupun positif foto tadi telah lenyap. Sang fotografer kembali lagi ke taman, menenteng kamera foto berniat memotret lelaki tak bernyawa tadi, mungkin dengan motif mengabadikan bukti “sebuah pembunuhan telah terjadi”. Namun bahkan si mayat pun kini lenyap. Tak ada petunjuk yang jelas: semua telah sirna tak bersisa. Maka, apa yang sebenarnya telah, sedang, dan akan terjadi?

Sederet tanda tanya—bisa jadi inilah yang membuat film karya Michelangelo Antonioni Blow-Up (1996) terasa memikat. Dalam film ini, di mana kisah di atas bergulir, tidak kunjung jelas apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh sutradara dan penulis cerita. Tak ada kejelasan maksud seperti biasa ditemukan dalam sebuah plot standar. Tapi Blow-Up, dianugerahi Palem Emas di Festival Film Cannes tahun 1967, memang bukan jenis film kebanyakan. Dari menit-menit awal, kita pantas curiga bahwa dia bukan jenis narasi yang gamblang bercerita. Film dibuka dengan adegan segerombolan anak muda berkostum pantomim, pupur tebal di wajah, bersorak-sorai di atas mobil yang melaju ngawur, dan beraksi teatrikal. Tak pernah diterangkan lebih lanjut siapa gerangan mereka. Cerita kemudian lebih terfokus pada Thomas, demikian nama fotografer tadi, si tokoh sentral, berusaha mencari jawab atas misteri yang muncul dari lubang kameranya.

Jelas, Blow-Up adalah film tentang fotografi. Yang kemudian menarik diperbincangkan adalah betapa Antonioni, sutradara Italia yang terkenal dengan gaya visual kuat dan cara bertutur “berbeda”, menggarapnya juga dengan perlakuan dan ketrampilan (yang nantinya juga filosofi) fotografis. Kekuatan gambar Antonioni, layaknya karya fotografi, terletak pada komposisi yang sangat cermat diperhitungkan. Film ini diwarnai estetika visual yang mumpuni: gambar romantik nan puitis, latar dominan kelabu disandingkan dengan berbagai ornamen berwarna cerah, fashion bernuansa Swinging London—salah satu art scene khas 1960-an. Semuanya diramu dalam sebuah narasi yang cenderung sepi. Bagaikan menatap beku serangkaian foto yang penuh makna, dia tidak cerewet dengan kata-kata.

Lebih jauh, dengan segala perangkat fotografisnya, film ini justru mempertanyakan fotografi itu sendiri. Antonioni tampaknya sangat peduli dengan filosofi pameo usang: “a picture paints a thousand words.” Di sinilah letak persoalannya. Memilih dan menemukan makna sesungguhnya dari selembar foto, di antara ribuan kemungkinan (tafsir) makna lain yang muncul, tentu bukan perkara mudah. Dengan kata lain, sebuah misteri. Dan “misteri” inilah yang kemudian digarap secara menarik oleh Antonioni di film Blow-Up, yang terinspirasi dari satu cerita pendek berjudul “Las babas del diablo” (“The Droolings of the Devil“) karya pengarang Argentina, Julio Cortázar.

Hingga penghujung film pun, tidaklah begitu terang apa yang sebenarnya terjadi seputar foto dan pembunuhan tersebut. Antonioni kelihatan enggan menjawab teka-teki itu: dia tak berniat membungkusnya dengan akhir yang pasti. Penonton tahu bahwa ada (atau setidaknya pernah ada) sesosok mayat di taman, dan penonton pun tahu bahwa Thomas juga tahu. Tapi Thomas tak bisa menunjukkan bukti ke orang-orang bahwa pembunuhan yang dia telah lihat, atau dia rasa telah lihat melalui kameranya, memang benar-benar pernah terjadi. Tanpa bukti, bisa jadi mereka hanya akan menganggapnya berilusi. Di sinilah Thomas teralienasi, terasing dan tersisih, justru dari kenyataan di mana dia biasa diakui sebagai fotografer dengan otoritas tinggi terhadap dunianya melalui foto-foto hasil jepretannya.

Dengan demikian, film Blow-Up (dan juga bisa berarti Antonioni) sebenarnya bergulat dengan hubungan realitas dan ilusi dalam seni. Ini mengingatkan satu pertanyaan klasik: “Jika pohon tumbang jauh di tengah hutan, tapi tak seorang pun mendengar suara atau melihatnya, adakah itu benar-benar terjadi?” Benarkah di luar sana pembunuhan itu nyata terjadi, karena realitas itu pernah terekam di foto Thomas? Tapi apa yang dimaksud dengan “realitas” itu sendiri? Adakah sebuah foto bisa dikatakan menangkap realitas, atau dia hanya menciptakan ilusi tentang realitas? Mengenai ambiguitas ini, dalam kumpulan eseinya On Photography (1977), Susan Sontag berpendapat, “It is not reality that photographs make immediately accessible, but images.” Jika demikian, adakah kemungkinan perasaan Thomas (dan penonton) telah melihat “seseorang dengan pistol di tangannya” hanya efek ilusi semata yang muncul dari proses pembesaran foto? Mungkinkah itu hanya serumpun semak belukar yang selintas membentuk citra serupa sosok manusia? Kita tak pernah tahu.

Ketika Thomas kemudian menunjukkan hasil pembesaran foto itu kepada Patricia, istri temannya itu malah berkomentar, “Mirip lukisan-lukisan Bill.” Sementara Bill sendiri, si pelukis abstrak teman Thomas, seperti dikutip di awal tulisan ini, mengakui betapa lukisan abstrak yang dia ciptakan adalah “sesuatu yang tidak dimaksudkan apa-apa.” Mengenai proses melukisnya, Bill menyebutnya “kekacauan semata”. Hanya saja, setelah lukisan selesai, Bill mengaku mulai menemukan sesuatu. Segalanya seperti tersortir, dan dia merasa bisa mengartikannya: “Seperti menemukan satu petunjuk di cerita detektif.”

Namun sebagaimana kinerja detektif yang tak luput dari kekeliruan dan peluang gagal, maka adegan Thomas menyejajarkan beberapa foto sesuai narasi waktu (yang kemudian mengingatkan kita pada logika editing dalam pasca-produksi sebuah film) terasa sangat dramatis sekaligus berpotensi sia-sia: segala petunjuk itu bisa jadi tak berarti apa-apa. Terlalu banyak kemungkinan, terlalu beragam tafsir yang bisa dimunculkan. Dan Antonioni membiarkan hal itu. Tak disodorkannya jawaban final yang utuh, dia lebih bermain-main dengan perangkat estetika visual. Bahasa gambar diolahnya sedemikian rupa sehingga bermakna luas sekaligus misterius: memancing interpretasi penonton adalah tujuannya.

Kecerdikan Antonioni mengolah tanda-tanda dalam porsi “tidak terlalu sedikit, tapi juga tidak terlalu banyak” (dan karenanya menjadi misterius) melalui elemen-elemen dasar sinematografi, tampak pada adegan berikut. Ketika Thomas mendapati mayat di taman, tergeletak kaku di semak-semak, scene tersebut tampak disinari cahaya lampu neon yang ganjil dan datang entah dari mana. “I wanted the sign to illuminate the scene,” kata Antonioni, “but I didn’t want it to be of something.” Tapi tentu saja sorot lampu tak wajar itu bisa berarti sesuatu, hanya saja: mungkin tidak kita mengerti. Begitu juga dengan unsur audio berupa suara angin, yang tiba-tiba bertiup menerpa semak-semak saat itu. Dan yang paling misterius: terdengar suara pistol dikokang. Thomas menoleh, dan tak ada siapa pun selain dia dan si mayat. Tapi siapa yang tahu?

Jika kemudian Thomas mesti menunjukkan foto mayat supaya orang percaya dengan cerita seputar pembunuhan itu, tapi ternyata mayat itu lenyap sebelum sempat dipotret, maka apa yang bisa dilakukan Thomas? Dan apa yang penonton kuasa simpulkan? Adakah pembunuhan itu benar-benar nyata, karena memang pernah ada mayat terbaring di taman yang dilihat Thomas? Ataukah itu hanya rekayasa pihak tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, jika mempertimbangkan berbagai kejanggalan di sekitarnya, termasuk sorot lampu neon, suara desir angin, dan bunyi pistol dikokang? Lagi-lagi, Antonioni tak memberi penjelasan apa-apa. Dia bebaskan penonton menafsirkan sendiri teka-teki itu.

Perihal tafsir tanpa batas tampaknya juga berlaku di adegan paling terkenal menjelang akhir film, ketika segerombolan pantomim muncul kembali. Aksi teatrikal mereka kali ini: bermain tenis lapangan dengan bola imajiner. Dari kejauhan, Thomas menatap mereka dengan ekspresi datar. Namun begitu “bola” itu terlontar mendekatinya, dia pun terbawa masuk ke “permainan” itu: “dilemparkan”-nya kembali bola itu ke arah mereka. Bisa jadi, sambil tersenyum simpul penuh arti, dari ruang editing Antonioni menggenapi kebingungan penonton. Ditambahkannya pada adegan itu, suara pantulan bola setiap kali membentur raket dan lantai—seolah “bola” itu memang benar-benar ada. Lengkap sudah, batasan realitas dan ilusi tak lagi jelas di film ini.

Diiringi musik latar dari Herbert Hancock dan The Yardbirds, kamera kemudian zoom-out, dan Thomas pun lenyap dari pandangan kita. Meninggalkan sebuah taman rumput yang luas, hijau dan sepi. Pada akhirnya, film Blow-Up, mungkin sama seperti ‘seni’, atau bahkan ‘hidup’ itu sendiri: tak dibiarkannya kita berhenti mencari.

[Budi Warsito]

Blow-Up
Michelangelo Antonioni, UK, 1966.
Color, 111 min, DVD

* * *

Selain Blow-Up, Kineruku juga mengoleksi karya-karya Antonioni lainnya, seperti L’eclisse, L’avventura, Red Desert, The Passenger, Zabriskie Point, Beyond The Clouds, dan Eros.

Comments (7)

  1. doni 11 years ago

    wah kayaknya keren nih film nya..

  2. pancing 10 years ago

    great insights on the film there! beautifully illustrated kalo kata sickboy, hehe. gua juga sangat suka caranya Michalengelo Antonioni menanam pesan2 filosofis dalam filmnya. ga blak2an ditampilin, tapi malah penuh ambiguitas yang pada akhirnya terbuka buat kita sendiri intrepretasinya. Ngebuat kita sepanjang film penasaran menerka2 apa sebenarnya yang ada di balik rentetan gambar2 indah tersebut..recommend it a lot.

  3. irham 10 years ago

    ini satu dari delapan film favorit saya mas, endingnya secara simbolik membuka semuanya.

  4. Budi 10 years ago

    >>Doni: film ini, meskipun konon Antonioni sendiri nggak menyukainya, emang keren banget!

    >>Pancing: ambiguitas selalu seru ya. kadang nyebelin juga sih, tapi justru upaya menyiasatinya yg bikin menarik. neurosis is the inability to tolerate ambiguity, hehehe.

    >>Irham: yuhuu, tujuh film favorit lainnya apa aja Ham?

  5. Andika 10 years ago

    Wow, saya baru nonton dan baru merasa paham setelah baca resensi ini. ‘Realitas sebenarnya’ seperti tidak ada, yang ada hanya persepsi masing-masing karakter terhadap realitas. Di mana baik para mummer, model, fotografer, dan agennya seperti memiliki persepsi sendiri yang sulit dimengerti oleh yang lainnya. Masih sangat relevan pada era di mana kelompok masyarakat menonjolkan perbedaannya. Mungkin bisa dibilang film ini mendorong orang untuk toleransi?

    Ada nggak interpretasi lain film ini yang lebih juicy?

  6. Budi 10 years ago

    bahasan-bahasan ttg Blowup, sepengamatan saya, memang seringkali berkisar pada pertanyaan atas realitas/ilusi dlm pencitraan (foto, dan gambar bergerak juga, pada akhirnya). harusnya ada ruang interpretasi yg lebih lebar ya. SGA, dlm salah satu esai Bentara-nya ttg film ini (foto dikaitkan dg bentuk ekspresi lain seperti puisi dan roman), membubuhkan konteks ‘waktu’. seru. mungkin Andika juga bisa memberikan tafsir lain yg lebih segar, silakan lho :)

Pingbacks

  1. Author

    […] juga mengoleksi karya-karya Antonioni lainnya, seperti L’eclisse, L’avventura, Red Desert, Blow-Up, Zabriskie Point, Beyond The Clouds, dan […]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe