Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Storytelling | Todd Solondz, 2001

Storytelling | Todd Solondz, 2001
23/06/2008

 

Ada dua segmen dalam film Storytelling: Fiction dan Non-Fiction. Fiction bercerita tentang Vi (Selma Blair) seorang mahasiswi S1 jurusan Penulisan Kreatif yang kurang percaya diri. Demi rasa aman gadis berambut pink ini berpacaran dengan Marcus (Leo Fitzapatrick), teman sekelasnya yang menderita cerebral palsy. Di sebuah perkuliahan, karya Marcus dikritik brutal oleh dosen mereka. Marcus yang kecewa lantas mengambinghitamkan Vi karena mendukungnya untuk membacakan tulisan tersebut. Merasa ditolak, Vi kehilangan rasa aman, dan membuat sebuah tulisan ‘fiksi’ berdasarkan petualangannya paska kehilangan rasa aman. Dalam Non-Fiction fokus terarah pada Scooby Livingston (Mark Webber), pelajar tahun terakhir sekolah menengah atas yang sadar akan keinginannya menjadi pemandu talk show televisi, tetapi tidak sadar akan upaya yang mesti dilakukannya untuk mencapai keinginan tersebut. Pada suatu hari Scooby bertemu dengan Toby (Paul Giamatti) pria setengah baya yang baru saja memulai karirnya sebagai pembuat film dokumenter. Toby berhasil meyakinkan Scooby dan keluarga Livingston untuk berpartisipasi sebagai subyek dari karya ‘non-fiksi’ yang hendak dibuatnya, sebuah film dokumenter.

Storytelling cukup tricky, paling sedikit ada tiga kemungkinan setelah menonton film ini. Pertama, akan ada penonton yang tak suka karena menganggapnya jahat. “Kok berani bercanda tentang hal-hal yang tabu ditertawakan?” pikir para penonton ini gusar. Reaksi yang masuk akal mengingat yang dibercandakan termasuk cerebral palsy, the N-word, sensor film, sampai pembantu asal El Salvador. Kedua, ada juga penonton yang memuja film ini sebagai dark comedy yang hebat. Mereka terus tertawa terpingkal-pingkal melihat betapa karakter dalam film ini mengalami penderitaan yang amat sangat. Sebuah tawa yang tanpa disadari turut menyiksa karakter dalam film. Kemungkinan terakhir, ada penonton yang keningnya berkedut saat berhadapan dengan candaan Storytelling, tetapi tak sampai membencinya. Mereka yang juga tertawa, tetapi tak terlalu keras karena alasannya berbeda. Penonton ini bukan menertawakan penderitaan karakter, melainkan tertawa karena merasa teridentifikasi dan tahu persis betapa riilnya derita yang dialami karakternya. Mereka yang duduk setia sampai end credits sambil bertanya-tanya, “Orang gila mana yang berani ngangkat cerita kayak gini?”

Storytelling ditulis dan disutradarai oleh Todd Solondz, pembuat film yang terkenal konsisten mengangkat cerita orang-orang tersisih (Welcome to the Dollhouse, Palindromes). Keterusterangan Solondz menyangkut penderitaan karakter sering disalahpahami sebagai sebuah kekejaman terhadap karakter. Perlu diperhatikan, dalam membuat film kemungkinan besar Solondz tahu betul apa yang dikerjakannya. Alih-alih menulis karakter-karakter yang atraktif secara tipikal, karakter-karakter Solondz biasanya memiliki latar belakang yang sama dengan dirinya seorang Yahudi. Dalam wawancara Solondz sering menyatakan kecintaannya pada setiap karakter yang ia angkat dan berjanji tak bakalan menyiksa mereka lebih dari apa yang terjadi dalam kenyataan. Storytelling sendiri bisa jadi merupakan sahutan Solondz atas tudingan orang-orang yang salah memahaminya.

Selain tema, masih banyak yang bisa dibahas dari Storytelling. Premisnya konsisten dari awal sampai akhir: apa yang disebut fiksi belum tentu fiksi dan apa yang disebut non-fiksi belum tentu non-fiksi. Saya pribadi sangat suka dengan ketepatan penggambaran kelas penulisan kreatif beserta dosen dan para mahasiswanya, sepertinya semua writer wannabe yang pernah mendapat kritik pedas akan merasa teridentifikasi‚ÄĒcoba simak pilihan kata pada adegan ini. Secara umum dialognya bagus, meskipun kadang agak terlalu terencana. Ngomong-ngomong, musik Storytelling digarap oleh Nathan Larson dan band indie pop asal Skotlandia, Belle & Sebastian. Akhir kata, “Hidup Todd Solondz!”

[Andika Budiman]

Comment (1)

Pingbacks

  1. Author

    […] diadakan. Sebagai gantinya kami membacakan karya yang ada. Saya membaca sebuah cerpen lama dan resensi ini. Mirna membacakan esei tentang interpretasi seni rupa yang elusif dan eksklusif. Erick membacakan […]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe