Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Opera Jawa | Garin Nugroho, 2006

Opera Jawa | Garin Nugroho, 2006
01/09/2009

OPERA JAWA

Sutradara/Skenario: Garin Nugroho
Pemain: Artika Sari Devi, Martinus Miroto, Eko Supriyanto, I Nyoman Sura, Retno Maruti, Jecko Siompo Pui, Slamet Gundono.
Director of Cinematography: Teoh Gay Hian
Music: Rahayu Supanggah
Art director: Nanang Rakhmat Hidayat;
Kostum: Samuel Watimena;
Sound engineer: Pahlevi Indra C. Santoso;
Durasi: 119 menit

Kawan saya pernah suatu kali berkomentar dalam nada jenaka-tapi-getir setelah menonton maraton hexalogi Star Wars: “Jadi seluruh galaksi menderita karena seseorang kehilangan istrinya?” Saya hanya tersenyum kecut. Kesimpulannya kedengaran sederhana, bahkan naif, tapi alangkah benarnya.

Takdir sekelompok manusia ternyata acapkali ditentukan oleh keputusan pribadi orang-orang “besar”. Yakinkah Anda bahwa semua peperangan yang mengubah sejarah tidak diwarnai kepentingan pribadi yang mungkin terkesan remeh-temeh?

Begitupun dengan kisah Opera Jawa. Untungnya pertikaian pribadi serupa itu tidak menjadikan kisah film ini menjadi narasi yang nyinyir. Sebaliknya, penonton diajak menyelami konflik dengan pola yang terasa begitu akrab di masyarakat kita. Ketika kisah klasik cinta segitiga orang “besar” terjadi di lanskap murung ketidakadilan sosial, jadilah tragedi berskala besar pula. Ini bukan sekedar cerita cengeng cinta segitiga yang pelakunya beradu mulut di bawah hujan. Bukan pula kisah epik dengan ide-ide agung semacam “pertentangan kelas”. Ini adalah studi muram tentang kesetiaan, hawa nafsu dan takdir sosial yang silang sengkarut, berkelindan tanpa ampun dan berujung pada tragedi.

Cinta Segitiga dan Krisis Segibanyak
Adalah Siti (Artika Sari Devi), seorang mantan penari yang menikah dengan Setio (Martinus Miroto), pengusaha keramik yang berusaha bertahan di tengah iklim ketimpangan sosial yang terutama didalangi angkara murka pengusaha-penguasa setempat, Ludiro (Eko Supriyanto). Kesibukan Setio dalam berbisnis membuat Siti kerap kesepian, dan di balik setiap lubang, mengintip hasrat Ludiro yang diam-diam menginginkan Siti. Bukan kebetulan jika ketiganya diceritakan pernah terlibat dalam sanggar tari pementasan Ramayana. Afiliasi karakter terlihat jelas. Siti adalah Sinta, Setio adalah Rama, dan Ludiro jelas Rahwana.

Tidak seperti kisah yang hitam-putih, Siti diam-diam menyimpan hasratnya sendiri, dan ia terombang-ambing di antara pemenuhan hasratnya sendiri dan memenuhi janji setia kepada suami. Di sini Garin Nugroho menyodorkan pertanyaan menarik: apakah kodrat wanita hanya sebagai “ladang garapan” kaum lelaki? Adakah ia hanya segumpal “tanah liat” yang bisa dibentuk semaunya, seperti ditampilkan dalam adegan luar biasa ketika Setio mencoba “memahat” Siti bagaikan keramik ciptaannya? Celakanya, ada hal lain yang ternyata sudah lebih jelas kodratnya: ego lelaki. Rasa frustasi Ludiro yang cintanya ditolak berbenturan dengan ego Setio yang merasa harga dirinya dicabik-cabik. Pertemuan bernada keras ini yang akan membawa tragedi demi tragedi nantinya.

Sementara, ketimpangan sosial begitu terasa: Ludiro dan puaknya menindas semua yang tidak mau tunduk padanya, dan bahkan berkolusi dengan penguasa setempat [Garin menggambarkannya dengan orang-orang, yang meski berpakaian ala penari tapi bertopi tentara]. Dengan ketulusan yang dipertanyakan, Setio menggalang perlawanan terhadap ketidakadilan itu. Tragisnya, yang lebih terlihat justru nasib orang-orang kecil yang tidak dapat menentukan takdirnya sendiri. Dianiaya, digiring atau sebaliknya, jadi anjing pengawal yang tunduk di bawah para tuan. Bagi orang kecil, segalanya serba salah. “…kulo mbenjing tumut sinten…” (“…saya besok ikut siapa…”), rintih mereka. Sudut pandang rakyat jelata juga bisa kita temukan dalam sosok pendongeng yang diperankan Slamet Gundono. Dengan bahasa Jawa pesisiran, ia menyuguhkan pengantar kisah ini dalam gaya khas orang kecil: kejenakaan yang berangkat dari kegetiran.

Ini adalah potret sosial yang kuat, sekaligus komentar yang keras terhadap segala ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Nadanya terasa begitu akrab, terutama karena hirarki sosialnya yang khas, membuat penonton bisa langsung menyelami kondisi masyarakat yang digambarkan dalam Opera Jawa.

Menonton Film, Menonton Opera

Sebagai film yang hendak berbicara pada berbagai level, Opera Jawa dijadikan arena eksperimen yang berani oleh Garin. Untuk menyampaikan pesan dalam bentuk metafora yang berlokasi di dunia non-realis, Opera Jawa mendakukan dirinya sebagai perpaduan berisiko antara medium film, seni tari dan seni rupa.

Berisiko, karena ketiga bentuk medium tersebut memiliki karakter masing-masing yang tidak mudah didamaikan. Film—meski mengaku sebagai medium hibrida—kerapkali bertumpu pada bahasa gambar di atas bahasa rungunya. Seni tari memiliki kekuatan ala teater, untuk dinikmati geraknya dalam keutuhan, melalui interaksi yang jujur. Saya menyebutnya jujur karena interaksi antara pelaku dan penikmat tari tidak dimediasi lewat satu alat lagi yang “memaksakan” cara pandang, seperti kamera misalnya. Kedua medium yang berpotensi bertabrakan ini menjadi bahan berbahaya yang jika tidak diramu dengan baik akan saling mematikan “rasa”-nya.

Terbukti, perpaduan medium film dan tari di beberapa tempat menjadi tanggung. Adegan Siti yang hendak dikuasai Ludiro dengan cara keras (dilambangkan lewat sodoran kaki Ludiro) menjadi tidak optimal karena kamera memaksa penontonnya memandang dari sudut tertentu. Pemilihan sudut gambar melakukan “kekerasan” terhadap seni geraknya sendiri. Di adegan lain, ketika Ludiro berdansa dalam kefrustasiannya di bar, ekspresinya menjadi sangat kuat dan menggetarkan, justru ketika—kali ini—kamera mengambil posisi pasif.

Seolah belum cukup rumit, masih ada satu lagi media yang harus dicampurkan: seni rupa, dalam kasus ini seni instalasi. Untuk “meramaikan” filmnya, Garin sengaja mengundang para perupa tersohor untuk menyumbang karya. Tidak tanggung-tanggung, nama-nama semacam Sunaryo, Titarubi, Entang Wiharso, Nindityo Adi Purnomo, Hendro Suseno, S. Teddy hingga Agus Suwage hadir. Meskipun karya para perupa itu mampu menjadi bagian utuh dari metafor cerita, tidak urung ada yang hilang. Hakikat seni instalasi adalah pengalaman meruang penikmatnya bersama karya itu sendiri. Dengan memindahkannya ke medium dua dimensi, pengalaman yang krusial itu hilang. Maka, meski kita bisa menyaksikan Siti tergoda ratusan lilin yang bagai kunang-kunang, atau terpikat oleh jalinan kain merah yang begitu tampak bergairah, atau terjebak di labirin sabut kelapa, tetap saja kita terbentur layar. Kita hanya mampu menjadi pengintip seperti biasanya. Dengan segala hormat, segala karya seni itu jatuh-jatuhnya menjadi dekorasi belaka bagi metafor yang hendak dihadirkan.

Tapi semua kekurangan itu berujung dari kehendak yang berani atas bentuk-bentuk eksperimen, dan karena itu patut dihargai.

Cacat di sana-sini barangkali tidak bisa dihindarkan untuk sebuah medium eksperimental semacam ini. Namun toh untungnya, perpaduan berbagai bentuk seni ini masih mampu menghadirkan karya yang menggetarkan. Ada yang tercerabut dari karya senirupa misalnya, tapi ia masih mampu menyodorkan pengalaman estetis bagi pemirsa. Bagi saya, unsur utama penyelamat adalah cerita, yang didukung akting yang kuat, koreografi tarian dan musik.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, cerita Opera Jawa merupakan saduran bebas dari epik Ramayana dengan meletakkannya dalam konteks yang sangat “Indonesia”. Pilihan ini membuat penonton dengan cepat memiliki ikatan dengan cerita. Semua ditampilkan dengan tari dan tembang yang mudah-mudahan masih menjadi bagian bawah sadar berkesenian masyarakat kita.

Koreografi tari yang kuat memainkan peranan penting. Ekspresi mentah gerak para penari mampu menyajikan emosi yang diharapkan. Kita bisa ikut merasakan kejenakaan ketika para buruh wanita menari-nari mengejek “kekuranglelakian” Setio, yang bisa jadi cuma dalam benaknya sendiri. Atau ketika hasrat Siti menggelora dalam tarian menggunakan kukusan nasi, tergoda bujuk rayu Ludiro yang bersembunyi di balik lirik tembang yang menceritakan nikmatnya telo (ketela). Di lain waktu, kesan mencekam begitu terasa lewat gerak liar para penari “barong”, dan adegan penjebakan di labirin sabut kelapa.

Secara keseluruhan, kekuatan ekspresi gerak ini menjadi penjaga utama emosi cerita, sehingga konflik demi konflik mengalir lancar, mencengkeram para penontonnya hingga klimaks tiba.

Keagungan dan Kejujuran
Satu hal yang ingin saya soroti adalah perihal perilaku masyarakatnya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, orang kecil lebih sering hanya tergiring. Dalam percaturan sejarah, sudah jadi nasib orang kecil menjadi pion, atau seberuntung-beruntungnya jadi orang luar. Maka mereka kerapkali justru bisa menjadi pengamat yang jujur tentang kebengisan di sekitarnya. Bukan kebetulan pula jika spirit kejujuran selalu tampil kuat dalam kesenian rakyat kecil. Di Opera Jawa, obrolan kopi yang berupa tembang dan lantunan gaya pemain tobong menjadi tampak begitu polos dan naif, juga jenaka. Menjadi jenaka tampaknya sebuah kutukan bagi rakyat kecil yang hanya bisa menyisakan senyum pahit di wajah mereka.

Kepolosan dan kenaifan mungkin bukan kualitas yang mencirikan keagungan, namun apa arti keagungan itu kalau hanya membawa derita? Film Opera Jawa menjadi sebuah cermin, betapa nilai adiluhung sangat mungkin bersanding dengan nestapa. Sebuah kemunafikan yang tak terbayang. Barangkali seperti keris yang selalu disembunyikan di belakang, atau seperti blangkon Jogja yang mbendol mburi, membengkak di belakang.

Salah satu korban keagungan yang mungkin berpotensi dilupakan adalah Sukesi (Retno Maruti yang tampil elegan), ibunda Ludiro yang tidak berdaya mencegah angkara-murka putranya, namun juga menyayanginya sepenuh hati. Adakah ia terjebak dalam konstruksi tentang kodratnya sebagai perempuan? Di sini sosok Sukesi menjadi kutub yang berlawanan dengan Siti. Tapi ketundukan macam itu pun ternyata berbuah penderitaan. Lalu haruskah sikap yang diambil hanya kerelaan, seperti dipilih Sukesi? Pertanyaan demi pertanyaan tak kunjung terjawab, dan kita dipaksa merenungkannya.

Rasanya menyesakkan juga mengingat film ini diciptakan untuk memperingati 250 tahun Mozart di Wina, Austria. Indonesia diwakili oleh sebuah narasi suram tentang kekerasan dan kebengisan yang berjubah keagungan. Tapi apa mau dikata, itulah cerminan diri yang sejujur-jujurnya.

Kalau kawan saya itu menonton Opera Jawa, mungkin ia akan berkomentar mirip: “Jadi seluruh rakyat menderita karena cinta segitiga?” Sebuah pengamatan utuh mungkin tidak akan membuahkan kesimpulan sesimpel itu. Tapi di kepala saya terngiang-ngiang tembang-tembang yang dibawakan Slamet Gundono, tampil dalam gaya yang bisa diberi nama “Banyumasan Blues”. Karena musik blues bertolak dari tema-tema kesedihan, nada getir dari komentar kawan saya itu masih akan terus menghantui, saya kira.

[Ifan Adriansyah Ismail]


 

Comments (5)

  1. kaka 9 years ago

    pengen ini.. pengen ini.Kalo dari Buah batu naek apaan ya?

    bisa naik angkot dari Karapitan, jurusan Kalapa-Ledeng, ke arah Ledeng. berhentinya di Cipaganti mentok (seberang Setiabudi Supermarket). Jalan Hegarmanah itu letaknya di sebelah Setiabudi Supermarket, ada jalanan ke atas. Ikuti saja plang Secapa, cari nomer 52 di sebelah kanan. Ditunggu ya! (Admin)

  2. habibi 9 years ago

    garin sedang mencoba membaca film masa depan.

  3. umar kayang 9 years ago

    garin sedang mencoba membaca film masa depan? wattthefakk

  4. jarwadi 8 years ago

    review yang luar biasa kereeeen, tidak menyesal saya menyelesaikan membaca tulisan yang luar biasa ini

    salam

Pingbacks

  1. Author

    […] (edisi Inggris maupun terjemahan Indonesia), buku-buku Haryoto Kunto tentang kota Bandung, DVD film Opera Jawa (kami khusus membelinya di Belanda karena tidak dirilis di Indonesia), DVD film Me and You and […]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe