Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/kliping:/ Peta Syair Lagu Populer Selama 100 Tahun (1883-1983), Satu Amatan Sosiologis

/kliping:/ Peta Syair Lagu Populer Selama 100 Tahun (1883-1983), Satu Amatan Sosiologis
16/08/2014 admin

Oleh: Remy Sylado

PetaSyairLaguPopuler_RemySylado

Tiga tahun setelah Poenale Sanctie, yaitu 100 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1883, hampir seluruh dunia mengenal lagu “God Be With You Till We Meet Again” ciptaan J.E. Rankin dan G.W. Tomer, termasuk juga di Indonesia. Di Indonesia, kata-kata lagu ini berubah menjadi bahasa Melayu khas Ambon, karena kebetulan lagu ini bermula dipakai sebagai nyanyian umat di gereja-gereja Protestan Indonesia Timur. Begini:

Tuang djaga par kamu orang
Nanti katong baku dapat
Koassa Kristo Tuang Annak
Namanja lindung segalanja

Bertemou lagi samoa
Koassa Tuang pada samoa
Tarima kassi deri beta
Koassa Tuang pada samoa.

Sebelum kita tinjau secara istimewa gejala bahasa dalam syair lagu-lagu populer Indonesia masa lalu sebelum merdeka, ada baiknya kita singgung sedikit latar-belakang terwujudnya bahasa yang kita terima sebagai lingua franca Melayu itu di belahan Indonesia Timur, terutama Ambon, dari mana kroncong asli moresca sebagai janin musik populer Indonesia berangkat. Yang hendak kita sorot adalah pandangan tentang bahasa itu tadi yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang otomatis ada di belahan Indonesia Timur itu karena kerajaan bahari sekitar Sriwijaya yang menguasai maritim, dan darinya bahasa itu meluas.

Di Indonesia Timur, terutama di Ambon, meluasnya bahasa Melayu yang kini khas menjadi bahasa Ambon, erat kaitannya dengan sifat administratif penjajahan Belanda yang didahului pada abad 16 oleh bangsa Portugis melalui kegiatan gerejawi, yakni dari perlawatan apostolik rahib Franciscus Xaverius, yang datang ke Ambon setelah bermukim di Malaka, pusat perdagangan Portugis di Asia. Di Malaka Xaverius meminta seorang Melayu menterjemahkan nyanyian “Ave Maria; Doa Bapak Kami”, dan “Kredo” (Pengakuan Iman) ke dalam bahasa Melayu. Dengan ketiga terjemahan itu ia pergi ke Ambon, masuk keluar kampung membawa lonceng sambil menyanyi menyebarkan agamanya. Setelah itu, bahasa Melayu yang dihafal penduduk menjadi sesuatu yang mutlak antara menyanyi dan beribadah.

Setelah itu baru terjadi perubahan. Ketika kroncong asli merupakan satu-satunya pilihan dalam musik hiburan pada abad 16, bahasa Melayu tadi berkembang pula, dan syair-syair lagu tidak lagi harus religius. Cerminan kehidupan sehari-hari, terutama yang ada hubungannya dengan seks, kelihatan menarik perhatian para penyanyi. Contoh yang dibawah ini, akan kita lihat betapa zaman itu bergurau tentang seks, tentang istri yang serong karena suaminya berada di kota, merupakan nyanyian yang menarik.

Souda malam, sjappa de pintu
Annac Banda, teste casomba
Mari masouk, djangan takot
Lacki betta adda cotta

Dari syair-syair yang begitu, di Ambon lazim orang menyebutnya “donci-donci ondos” (lagu-lagu genit, ganjen). Sampai akhir abad 19, pengaruh bahasa Portugis masih sangat kuat dalam donci-donci populer di Ambon khususnya dan Indonesia Timur umumnya, dan ada pertalian antara nyanyian di luar gereja dan nyanyian di dalam gereja.

Lewat 10 tahun setelah 1883 berarti 1893. Perang Aceh sudah berjalan 20 tahun. Orang-orang Ambon masih tetap ahli menyanyi dan bermain musik. Dari kalangan merechaussee (meroses, tentara pilihan pemerintah Belanda yang dibentuk tahun 1890) yang berasal dari Ambon, lahir beberapa lagu yang bersifat panineungan (nostalgia). Bahasa yang dipakai dalam syair lagu tetap Melayu-Ambon. Lihat misalnya lagu di bawah ini.

OLE SIO

Ole sio, sayang la di lale
Apa tempo beta balik lagi
Ingat Ambon tana tumpa dara
Lagi ibu bapa dan sodarae

Lagu-lagu bersifat panineungan seperti ini berlangsung terus, baik pada masa revolusi fisik di Jawa Tengah, sampai pada turunan pengikut-pengikut Soumokil yang kini berdiam di Negeri Belanda memimpikan RMS.

Memasuki abad 20, jadi 10 tahun setelah 1893 adalah 1903. Industri fonograf di Amerika kian maju. Pada tahun ini perusahaan fonograf Columbia Company merekam aria-aria yang populer. Kemudian dari rekaman yang ringan atau yang populer, masuk ke Indonesia dan dimainkan di sini oleh pemusik-pemusik campuran Belanda, Melayu dan Tionghoa, antara lain lagu-lagu “Lazy Moon; Mother o’Mine” (syair dibuat oleh sastrawan masyhur Rudyard Kipling), “Navajo; Spring, Beautiful Spring”.

Pada tahun 1903 kita peroleh beberapa catatan yang menjadi ciri syair lagu. Coraknya pantun, dan bahasa yang dibangun sifatnya gado-gado, yaitu bahasa khas Indo, campuran Melayu dan Belanda. Dari tahun ini kita ambilkan contoh berikut:

AJOEN-AJOEN

Ajoen, ajoen, in de hooge klapper boom
O Mas Miro klimb in de hooge klapper boom

Djangan la mandi di kali Semarang
Kali Semarang banjak lintahnja
Djangan la kawin nona sekarang
Nona sekarang la banjak tingkahnja

 

 

2 baris yang terdahulu dalam syair ini berfungsi sebagai korus. Kemudian pantun di bawahnya sifatnya kelakar, atau dalam pelajaran sastra disebut “pantun jenaka”. Belum kelihatan ada usaha memanfaatkan syair untuk tujuan dakwah, nasehat, fatwa dan sejenisnya. Itu dapat dimengerti karena lagu populer pada dasarnya hiburan. Sampai tahun 1960 pun kita masih lazim menggunakan istilah musik populer sebagai musik hiburan, yakni terjemahan harfiah bahasa Inggris dari kata “entertainment music”. Perkataan “pop” baru tumbuh tepat pada tahun 1960, dan ini mula-mula berasal dari gerakan senirupa yang berlangsung di Inggris, dipelopori oleh R.B. Kitaj dan bergaung ke Amerika oleh Roy Lichtenstein dan Tom Wesselman. (baca Remy Sylado, Menuju Apresiasi Musik, Penerbit Angkasa, Bandung 1983, hal 75). Terminologi senirupa itu kemudian ditampi oleh musik, awalnya sebagai ejekan atas persyaratan-persyaratan estetik dan artistik yang dianggap rendah.

Berhubung kedudukan musik populer memang hiburan, maka hampir tak pernah dipikirkan usaha penyelesaian syarat-syarat artistik dan estetik tersebut. Media pertama dalam menjalinkan komunikasi terletak pada bangunan kata, yakni syair. Kedua baru akompanimen, dalam hal ini instrumentasi, aransemen, pemikiran harmoni, dan seterusnya. Adapun kata-kata yang dibangun, seperti kata kita di atas, sampai masa Balai Pustaka, dan kemudian terwujudnya Sumpah Pemuda, seluruhnya berlangsung dalam Bahasa Indo, artinya Melayu tak penuh, Belanda pun tak penuh. Mari kita perhatikan lebih lanjut contoh berikut:

OLE! OLE! BANDOENG

Ole! Ole! Bandoeng
Moois meisjes je vind hun aleen daar
Manise!
Ole! Ole! Bandoeng
Maar jou hartje moet niet djadi bingoeng

Het is zo fijn in kota Bandoeng
Het is daar friesjes de wind
Komt van de goenoeng
Veel jongelui en nona wonen daar
Kota Bandoeng is goed voor pas getrouwd paar.

Jadi bukan oleh-oleh yang dieja ole-ole berarti bingkisan, melainkan “ole!” sebagai tandaseru yang dipakai Portugis dulu di Ambon, kemudian menjadi bagian dari bahasa Melayu-Ambon pula. Ingat lagu “Ole Sio” di depan. Dan mengingat dalam lagu ini ada juga perkataan “manise”, maka semakin jelas pengaruh Ambon dalam lagu-lagu populer tempo dulu (Bahasa Belandanya: Iiedjes van tempo doeloe).

Yang kocak dalam lagu “Ole! Ole! Bandoeng” di atas, adalah pemakaian kata “mooie meisjes” yang artinya dalam bahasa Indonesia “gadis-gadis yang bagus”, jadi bukan “lieve meisjes”, yang artinya “gadis-gadis yang manis”. Jika konsisten, pandangan terhadap gadis atau wanita zaman itu lebih tajam kepada gunanya ketimbang harkat dan martabatnya.

Lepas 10 tahun setelah itu, pada tahun 1913 bersamaan dengan berakhirnya kesultanan Riau, kita jumpa lagi corak syair berbahasa Indo seperti di atas. Tetapi beda dengan lagu di atas, pada lagu berikut nampak gejala pemasukan kata-kata bahasa Inggris (baca: Amerika), disebabkan pengaruh industri seni di Amerika, antara film dan fonograf, amat menentukan pertumbuhan seni-seni hiburan di sini.

Lebih dulu, semua penyanyi wanita tidak dipanggil Nona sesuai dengan bahasa Melayu atau Jevrouw menurut bahasa Belanda, melainkan Miss. Sejumlah nama dari dekade 1910-an memakai nama keartisannya dengan Miss, dan itu masih berlanjut sampai Perang Dunia II, bahkan menjelang tahun proklamasi kemerdekaan. Di antara nama yang paling populer sampai paruhan pertama dekade 1940-an, termasuk Miss Riboet, Miss Rukiah, Miss Dja.

Rekaman fonograf baru dimulai pada paruhan kedua dekade 1920-an. Pengusaha rekaman dikuasai oleh orang Tionghoa, satu di Surabaya dan 2 di Jakarta. Yang paling terkenal sampai menjelang Perang Dunia II adalah perusahaan milik Thio Tek Hong. Semua rekaman miliki Thio Tek Hong, pada bagian putaran pertama sebelum penikmat mendengar instrumen intro, harus mendengar dulu suara sang tauke mengatakan dengan suara lantang, “Terbikin oleh Thio Tek Hong, Batavia.”

Adanya fonograf itu lebih cepat memperluas nyanyian. Namun rekaman piringan hitam itu tidak pula berarti dengan begitu panggung-panggung pertunjukan menjadi sepele. Selalu rombongan sandiwara yang bermain di pasar-pasar malam dan panggung darurat, ada juga panggung permanen, baik yang dibangun oleh Belanda maupun milik orang Tionghoa. Pangung-panggung itu hampir boleh dikata sebagai bar atau perkumpulan zaman sekarang. Terutama di Jakarta panggung-panggung seperti itu banyak sekali. Antara lain, Prinsen Park, Globe Garden, Stem en Wyns, Maison Verteegh, Pasar Gambir dan lain-lain.

Kelihatannya penyanyi perempuan lebih banyak menarik perhatian masyarakat. Di tahun 1913 itu juga di Bandung berdiri sebuah kwartet bernama Dames Krontjong, terdiri dari 4 orang Miss. Pemimpinnya Miss Ebah. Anehnya kendatipun panggilan Miss sudah begitu umum, tetap saja panggilan Nona merupakan sesuatu yang “resmi” dalam semua syair lagu. Dan jangan lupa kata-kata yang dipakai masih sekitar bahasa Indo, yakni Melayu dan Belanda. Perhatikan 2 contoh di bawah ini. Nampaknya sebutan nona identik dengan kecantikan, bahenol dan sexy.

VAARWEL NONA MANIS

Vaarwel mijn schat, mijn nona manis
Don’t forget, djangan la loepa kepada saja
Deep in jou hart, you always think of me
Ik blijf steeds dromen van mijn sweetheart

But I’ll come back my nona manis
Wacht op mij, nona la toenggoe kepada saja
But you return you always think of me
Saja la poelang ingat saja.

Masuknya bahasa Inggris di sana, kalau kita perhatikan dengan cermat, kedudukannya tak bebas seperti bahasa Belanda. Jika penyertaan bahasa Belanda berdirinya tanpa diembeli dengan terjemahan bahasa Melayu, maka kedudukan bahasa Inggris selalu disertai dengan bahasa Melayu. Lihat misalnya pada baris kedua “Don’t forget” langsung disertai dengan terjemahannya, “djangan la loepa…” Dan di baris bawah, pada “But you return,” terjemahannya merupakan jawabannya, “Saja la poelang,” dan seterusnya.

Setelah itu, baru kita dapati masuknya bahasa Inggris lebih berani. Kita lihat itu pada lagu “Waarom huil je toch Nona Manis”. Lagu ini bisa kita dengar dengan aransemen baru dinyanyikan Andres (bekas duet Sandra and Andres yang terkenal sekali lagu “Storybook Children”). Mari kita simak.

WAAROM HUIL JE TOCH NONA MANIS

Waarom huil je toch nona manis
Saja ingat terlaloe padamoe
Droog je trantjes maar nona manis
Shall I come back again to you

Dari djaoe datang sinjo manis
Soeara kekasikoe nyang merdoe
Waarom huil je weer nona manis
Sekarang I come back again to you 

Dengan begitu kuatnya nilai bahasa Indo dalam lagu populer waktu itu, apakah dengan begitu berarti tidak ada lagu dengan syair bahasa Indonesia yang utuh? Ternyata ada. Usaha mentertibkan bahasa Melayu tinggi sekaligus usaha mendirikan sekolah bagi pribumi, mau tak mau ada hubungannya dengan politik sebelumnya yang bersifat pembangunan etis. Bahasa Melayu tinggi makin berarti, lebih-lebih didirikannya oleh Belanda sebuah penerbit yang kelak bernama Balai Poestaka (sebelumnya bernama Commissie voor de Volkslectuur), didirikan tahun 1908.

Banyak buku diterbitkan. Yang amat berarti bagi perkembangan sastra Indonesia, dan sangat erat bertautan dengan ilham syair lagu-lagu populer Indonesia selanjutnya adalah novel karangan Merari Siregar, “Azab dan Sengsara”, pada tahun 1920. Ceritanya memelas. Di dalamnya dikisahkan mengenai kehidupan seorang gadis yang menemukan kepedihan hati. Tanpa sadar kerangka cerita demikian telah diserap dalam banyak lagu populer berbahasa Indonesia pada tahun-tahun berikut, termasuk tahun 1983.

Ciri-ciri melamun dalam syair lagu-lagu populer waktu itu nampak kukuh. Pada lamunan memikirkan kekasih, selalu diantar dulu melalui gambaran alam, tentang alam yang indah, laut, gunung, dan terutama langit dengan segala isinya. Gambaran alam yang demikian kentara, pada umumnya kita temui dalam puisi-puisi klasik Tiongkok. Tak seorang pun menyanggah, pengaruh Tiongkok dalam lagu-lagu populer yang tumbuh di pesisir-pesisir sangatlah dekat. Tentang gambaran alam itu, baik kita perhatikan lagu di bawah ini, warisan dekade 1920-an.

BOELAN POERNAMA

Malam hari waktoe boelan poernama
Menerangi alam majapada
Doehai boelan indah nian wadjahmoe
Mengingatkan kisahkoe dahoeloe
Waktoe itoe akoe memadoe djandji
Soempah setia sehidoep semati.

Nampaknya pola seperti ini menjadi salah satu, jika tidak malah satu-satunya sumber pergelutan syair lagu populer Indonesia setelah tahun 1963 selama 2 dekade sampai tahun 1983 sekarang. Jika di tengah peristiwa bisnis itu ada usaha pencarian nilai-nilai yang baru, seperti halnya percikan yang cukup berarti dalam misalnya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo, Ebiet G. Ade, Franky & Jane, Ritta Rubby Hartland, Iwan Fals dan terakhir Doel Sumbang, bagian itu haruslah dipandang sebagai suatu fenomena yang tersendiri sekaligus tak tetap.

Apabila kita lihat kembali perjalanan syair lagu populer Indonesia dalam dekade demi dekade, mulai dari tahun 1933, jadi setelah Sumpah Pemuda genap 5 tahun, trend syair berbahasa Indonesia nampak semakin kukuh, dan ciri ratapan yang bermuara pada cerita “Azab dan Sengsara” itu nampak menggantung. Pada tahun 1933 pas waktu Bung Karno diasingkan ke Ende, Alief Menteja menciptakan lagu berikut:

SENGSARA

Telah lama aku menyusuri buana
Aku mengembara di belantara
Memasuki penjuru mengejar pawana
Mencari kekasih pergi entah ke mana

O Tuhan, bimbinglah aku
Sampai kapan aku berlalu
Diliputi pedih diri sengsara

Tema di atas tentu ada kaitannya juga dengan ciptaan A. Dullah pada tahun 1929, “Kasih Tak Sampai”, yakni judul yang sama dengan novel Marah Rusli, juga sekitar sengsara karena patah hati. Hanya, dalam ciptaan A. Dullah ini sama-samar pandangan determinisme dan mistisisme Jawa menonggakinya. Coba kita teliti syair di bawah ini:

KASIH TAK SAMPAI

Hilanglah harapanku kini
Sedih nian hatiku mencari
Aku mendaki gunung tinggi
Masuk dalam gua nan sepi

Aku tak melihat jejak kaki
Aku menangis makin sedih
Kasih tak sampai oh kekasih
Kasih tak sampai oh kekasih

Di mana kini kasihku
Di mana pergi kasihku
Oh Tuhan laranya hatiku
Semua tempat engkau kucari

Kita lihat 2 contoh di atas sama-sama berbicara tentang ketak-berdayaan yang menyebabkan orang berseru kepada Tuhan. Sepintas memang berkesan religius. Dan katakan saja itu bagus dan berkenan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dalam berseru memanggil nama Tuhan, itu benar-benar berlatar pada penyerahan yang luluh?

Syak kita itu menjadi sangat mungkin apabila kita perhatikan kecenderungan ber-“Oh Tuhan” dalam banyak lagu populer yang tumbuh pada 20 tahun belakangan ini, yakni, setelah musik populer benar-benar menjadi bagian industri seni atau barang niaga. Banyak sekali lagu yang cepat ber-“Oh Tuhan” sehingga nilainya kolokan, kenes dan bahkan kabur kesan hormatnya. Bayangkan saja, persoalan putus cinta, yang mungkin terjadi karena ketololan, dengan cepat melibatkan Tuhan. Kalau kita boleh bergurau, kita mau berkata, bahwa persoalan yang mestinya bisa diurus oleh Ketua RW atau Pak Lurah kok begitu ringan merengek-rengek pada Tuhan. Bukan apa-apa memang. Hanya sekali lagi, Tuhan memberi akal budi pada manusia, maka berbuatlah sesuatu yang memanfaatkan akal budi itu. Meratap bukanlah sesuatu yang religius justru.

Contoh ciptaan Alief dan A. Dullah di atas barangkali masih luput dari wasangka, karena pada saat itu, dalam dekade 1930-an, belum nyata sifat-sifat komersialnya perniagaan musik. Tetapi sekarang, jika ada lagu populer yang begitu cepat ber-“Oh Tuhan”, kita agak syak; jangan-jangan itu hanya sekedar renda atau sekedar fatsoen dan jika begitu kita telah sampai kepada kemungkinan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia.

Untuk memberi gambaran tentang “Oh Tuhan” yang kering, atau “Oh Tuhan” yang tidak memberi kesan akan suatu penyerahan batiniah, penyerahan yang berakal pada suatu pergumulan imaniah yang kukuh, yang notabene menghasilkan kesan religiusitas yang utuh, paripurna dan meyakinkan, baiklah kita sebut 2 contoh berikut ini. Yang satu ciptaan Titiek Puspa berjudul “Cinta”, sebuah lagu khas festival yang menang dalam perlombaan tahun 1974 di Jakarta. Kemudian yang satunya lagi ciptaan Judi Kristanto berjudul “Bertemu dalam Kehampaan”, diciptakan pada tahun 1982. Kita comot bagian di mana “Oh Tuhan” itu berdiri.

CINTA

Oh Tuhan tunjukkanlah
Dosan dan salahku
Mudahnya dia buat janji
Semudah dia ingkar janji
Alangkah kejamnya cinta
Alangkah pedihnya
Kejam oh kejam
Pedih oh pedih
Cinta oh cinta

Lihat pula lagu “Bertemu dalam Kehampaan”, dinyanyikan oleh Chintami Atmanegara.

 BERTEMU DALAM KEHAMPAAN

Oh Tuhan, semoga kuatkan imanku
Bahagia dia walau tak di sisiku
‘Ku bahagia bila kau selalu tersenyum
Pedih kurasakan hatiku kali ini
Biarlah hidupku hampa lagi
Tanpa kau di sisiku

Masih banyak yang model begini. Seruan pada Tuhan, moga-moga jangan dibikin kesimpulan, bahwa ini ada hubungannya dengan negara republik yang tidak sekuler, melainkan lebih tajam harus dipandang sebagai suatu keterbatasan kreativitas literer, atau katakanlah sesuatu yang telah beku menjadi klise. Dengan imajinasi yang terbatas, imajinasi yang dikungkung oleh kenyataan, bahwa musik populer adalah barang industri yang telah berubah sebagai produksi massa, sulit mengharapkan kemandirian, atau sulit meminta penulis syair lagu pop menyediakan diri berkontemplasi, paling tidak bergaul dengan sastra.

Padahal, berangkat 10 tahun kemudian, pada tahun 1943, di masa pendudukan Jepang, lahir sebuah lagu populer yang menarik, yang dapat dinilai sebagai syair yang lumayan memperlihatkan suasana kontemplasi tersebut. Sikap kritik juga tercermin dalamnya. Dan kritik yang dibangun dalamnya, dilakukan dengan lambang-lambang. Kita lihat misalnya dalam 2 contoh berikut ini:

NASIB TULUNGAGUNG

Oh nasib Tulungagung
Tertimpa bahaya banjir
Alun-alun menjadilah kedung
Karena dahsyatnya air

Oh air tenagamu
Terlihat tak seberapa
Tetapi kala kamu bernafsu
Menimbulkan bencana

Tidak hanya kebun dan ladang
Yang menderita kerusakan
Pun banyak manusia
Yang menjadi korban

Rakyat tak akan lupa
Lima belas bulan sebelas
Dua ribu enam ratus dua
Waktu banjir terjadinya.

Kelihatannya pencipta lagu ini memang memanfaatkan bencana alam sebagai idiom perempuan. Dalam gambaran fisik, syair ini memang bercerita tentang pengertian lama falsafah masyarakat purba Indonesia, bahwa makrokosmos itu kejam, dan rahasia alam itu tak kuasa pula disaingi oleh potensi rohani manusia. Gambaran yang lebih musykil, kita perhatika itu dalam lagu “Kali Serayu” ciptaan Abu Yazid di bawah ini:

KALI SERAYU

Pernah kucoba
Menurutkan gerakan alunan
Seniman seniwati
Tetapi tergelincir di jalan

Sebatang padi
Yang kulihat tegak berdiri
Tetapi tiada daya
Kau rebah bila bertiup angin

Tetapi kulihat dikau
Sebagai tak mengindahkan
Segala hambatan rintangan
Terus tetap mengali menuju muara

Oh Kali Serayu
Kau sungai berterima-kasih
Tapi akan kucoba
Maka kususun pula langkahmu.

Ada otokritik yang terkesan dari syair di atas. Sang pencipta merasa tak berdaya melihat bangsanya rebah ditiup angin, artinya diinjak-injak oleh penjajahan Jepang. Walau begitu, sang seniman menyerukan, kalau ada persatuan, yaitu bersatunya air sungai dengan air laut di muara, maka terwujud pula kekuatan mencapai kemerdekaan.

Maju lagi 10 tahun dari tahu 1943, kita sampai pasa tahun 1953. Pada tahun ini, berarti usia penyerahan kedaulatan telah 4 tahun. Dalam 4 tahun itu, keadaan republik yang baru ini terasa galau. Sampai tahun 1953 telah terjadi penggantian kabinet sampai 14 kali. Oleh sebab itu, selain lagu-lagu populer yang bercerita tentang alam – dan alam ternyata sangat akrab – maka ada juga lagu-lagu populer berisi kritik, misalnya kita sebut 2 judul, yakni “TST” dan “I.I.I”. Kritik lebih langsung dan terbuka.

TST

Aku baru mengerti
Nama TST
Tahu Sama Tahu dst.

Terlebih lagi, coba perhatikan “I.I.I.”. Lagu ini mempunyai arti yang penting juga sampai tahun kampanye Pemilu yang pertama, namun tak terlihat lagi sampai 10 tahun kemudian, yaitu 1963, tahun bangunnya Lagu Pop atau Musik Pop Indonesia secara sangat mentereng. Kita lihat dulu syair “I.I.I.” yang dicipta oleh dua orang, R. Sutedjo dan Mahargono.

 I.I.I.

Kalau Bung pemimpin sejati
Harus Bung hari-hati
Jangan Bung cari kursi
Untuk diri sendiri
Nyahkanlah hatimu yang dengki
Basmilah hawa nafsu korupsi
Mari Bung marilah kembali
Pada jalan yang suci.

Suatu hal yang menyolok dari dekade awal 1950-an adalah juga pola pikir demokrasi yang liberalistis. Tak ayal perhatian terhadap Amerika menjadi berlebih-lebihan. Orang Indonesia terserang wabah “spread eagleism”. Dari masa ini, manifestasi itu nampak pada usaha pembuatan film di Jakarta yang mengangkat kehidupan “wild west”. Judul filmnya “Adios”, cerita, skenario dan sutradara oleh Bambang Sudarto dengan pemain-pemain Roostyati, Djoni Sundawa, Nazar Dollar. Kocaknya pistol baru meletus justru ketika pistol sudah disarungkan.

Bukan hanya film konoi saja yang membuktika betapa wabah “spread eagleism” itu menyerang, tetapi terutama juga dalam musik. Lagu khas koboi yang muncul pada dekade ini adalah “Si Penjaga Sapi”, mulanya dinyanyikan oleh Leila Sari, tetapi dalam rekaman populernya oleh Mien Sondakh. Penyanyi ini benar-benar berusaha sedapatnya menjadi orang Amerika, sehingga bahasa Indonesia yang lazim dibuat-buat berkesan Amerika! Sapi disebut sapey. Bukan main populernya lagu ini. Sampai sekarang lagu ini masih sangat populer, terutama dipakai sebagai lagu wajib dalam festival musik country tahunan yang diselenggarakan oleh sebuah kelompok anak muda di Bandung. Kata-kata lagu itu adalah:

SI PENJAGA SAPI

Saya ini si penjaga sapi
Yodel le yo yo yo li dei
Inilah kerjanya si penjaga sapi
Apa yang kau pikirkan lagi
Jika hari sudah petang
Sapi pulang ke kandang
Si penjaga turut dari belakang
Jika sudah tutup pintu kandang
Si penjaga menyenangkan badan
Inilah kerjanya si penjaga sapi
Apa yang kau pikirkan lagi
Yodel-yodel, yodel.

 

 

Kendatipun begitu usaha beberapa pencipta yang benar-benar berusaha menegakkan bahasa Indonesia tetap juga berlangsung. Dari kalangan mereka harus disebut nama-nama seperti Cornel Simanjuntak, Ismail Marzuki dan Iskandar. Nama yang pertama banyak mengangkat puisi penyair tertentu, misalnya puisi Chairil Anwar, menjadi lagu. Sedang dua yang lain mencipta sendiri syair lagunya. Kita akan lihat salah satu ciptaan Iskandar yang paling populer pada paruhan awal dekade 1950-an. Dengan begitu, tidak berarti kita menolak memperhatikan syair-syair Cornel dan Marzuki, yang dua-duanya seharusnya memang perlu mendapat penghargaan karena sebagai pencipta, mereka juga nasionalis yang berjuang bersama-sama pahlawan lain yang berperang melawan Belanda di Jawa Barat. Bila kita memperhatikan salah satu karya Iskandar di bawah ini, maksudnya tak lain melihat idiom-idiom yang menarik pada paruhan awal dekade 1950-an, jadi tahun-tahun muda sehabis penyerahan kedaulatan. Gambaran alam ternyata masih tetap dominan. Simak lagu di bawah ini:

BANDAR JAKARTA

Awan lembayung menghiasi bandar
Indah permai
Aman terlindung oleh Pulau Seribu
Melambai
Melambai rona merona dst.

Tentang keindahan alam ini, kita lihat berulang lagi pada ciptaan Maroeti, “Indahnya Alam”, dinyanyikan oleh Deetje Moningka yang lebih terkenal dengan nama Djuwita, satu-satunya piringan hitam yang paling besar omset penjualannya pada tahun 1950-an itu yaitu, mencapai 5000 buah. Selain itu, terdapat juga lagu-lagu palung laris pada tahun-tahun 1950-an, antara lain “Burung Nuri”, dinyanyikan oleh Darmiati, dan “Aiga”, dinyanyikan oleh Hasna Thahar. Baik kita perhatikan pula bagaimana kata-kata tentang keindahan alam itu dibangun dalam ciptaan Maroeti ini.

INDAHNYA ALAM

Angin berbunyi di pohon kelapa
Membawa berita kabar yang jauh
Sambil menyanyi berbisik apa
Betapa indah jika kutahu
Alangkah indahnya alam
Alangkah indahnya alam dst.

Kita lihat, kesulitan para pencipta lagu kita, betapa gambaran keindahan mesti diungkapkan dengan kata-kata indah sendiri. Jadi, begitu mudah ia menyerah kepada keindahan, sehingga tanpa menggunakan kata “indah” hal yang indah itu tidak sanggup diangkat.

Di luar berindah-indah, seperti “Aiga” dan “Burung Nuri”, harus juga disebut lagu “Kudaku Lari” yang besar sekali artinya dalam masyarakat luas. Hampir setiap anak kecil diparuhan pertama dekade 1950-an, rata-rata dapat menyanyikan lagu ini. Lagu ini dinyanyikan oleh Chaidar Dja’far dan dicipta oleh Bambang Sudarto, yang bikin film “Adios” tadi. Pada kuplet terakhir, kita lihat makna yang ganda, bukan sekedar kuda dalam arti lazim, yaitu kata-kata “Majulah ayo maju / Kawanku telah menanti / Paculah terus pacu / Deraplah jangan henti, ayo lari.” Lengkaplah begini:

KUDAKU LARI

Larilah hai kudaku
Larilah ayo lari
Majulah ayo maju
Wahai kudaku lari ayo lari
Jika kau lari kencang
Rasa hatiku senang
Kawan-kawan riang, ah

Kudaku lari gagah berani
Ayo lari kudaku hai kudaku lari
Kudaku lari gagah berani
Ayo lari hai kudaku lari

Majulah ayo maju
Kawanku telah menanti
Paculah terus pacu
Deraplah jangan henti
Ayo lari.

 

 

Arti ganda dalam bait terakhir, tentu ada hubungannya dengan usia republik yang masih baru, yang perlu terus negara yang sudah maju. Pencipta lagu ini, Bambang Sudarto memang seorang republikein. Pada tahun 1940-an ia menjadi wartawan dan redaktur mingguan “Republikein” di Yogyakarta. Sekarang saja dunia seninya telah total ditinggalkan. Bambang Sudarto sekarang adalah ima di mesji Yarsi (Cempaka Putih, Jakarta), dan di depan namanya disandang gelar Kiai Haji.

Dari dekade 1950-an, yaitu zaman di mana nilai-nilai budaya nasional (sic! terminilogi: nasional) mulai dibangkitkan, tak urung menyebabkan hasil yang ganda, majemuk, dan awut-awutan. Lagu dengan bahasa Indonesia yang tertib sama lakunya dengan lagu dengan bahasa yang gasruh. Ciri lain adalah di samping cerita alam, suasana yang membangkitkan daya sendu, serta suasana sehari-hari, sama-sama disenangi. Untuk itu, kita lihat sisi tersebut pada “Timang-timang Anakku Sayang”, dicipta dan dinyanyikan oleh S. Effendi, dan “Papaya Cha Cha Cha”, dibuat oleh Adikarso. Ternyata masyarakat senang yang sederhana. Demikian kata-kata “Papaya Cha Cha Cha” ini begitu populernya, sehingga hampir semua anak kecil dapat menyanyikannya. Dan masyarakat pun tak pusing apakah benar lagu ini cha cha cha atau bukan. Sebab ternyata, yang benar, irama lagu ini mambo.

Baik kita perhatikan bagaimana kata-kata di bawah ini menunjang isi syairnya secara utuh. Isinya memang cocok buat propaganda gizi.

PAPAYA CHA CHA CHA

Papaya mangga pisang jambu
Dibawa dari Pasar Minggu
Di sana banyak penjualnya
Di kota banyak pembelinya

Papaya buah yang berguna
Bentuknya sangat sederhana
Rasanya manis tidak tawar
Membikin badan sehat segar

Papaya jeruk jambu rambutan
Duren duku dan lain-lainnya
Marilah mari kawan-kawan semua
Membeli buah-buahan

Papaya tu’ makanan rakyat
Karena sangat bermanfaat
Harganya juga tak mengikat
Setalen tuan boleh angkat.

 

 

Memang lagu ini mewakili tahun 1950-an. Pada waktu itu belum ada yang namanya resesi ekonomi, yakni tema yang digarap oleh Chrisje pada seperempat tahun kemudian. Namun lagu ini baik, sebab ia merupakan ikhtisar rentang Indonesia, di mana buah-buah masih dapat dibeli dengan harga setalen, padahal waktu itu belum ada slogan tentang memanfaatkan buah-buahan dalam negeri. Dalam memasuki itu, kalau kita lihat lagu ini sekarang, bukan saja ia baik untuk propaganda gizi, tetapi juga bagus untuk menambahkan semangat pertanian buah-buahan dalam negeri.

Sebelum memasuki dekade 1960-an, harus dulu dilihat betapa musik populer Indonesia, yang dimainkan di lantai-lantai dansa oleh orang-orang yang menyebut diri “intelektual”, sepenuhnya berkait pada keadaan musik entertainment di Amerika. Sampai tahun 1955, irama yang dianggap paling “hot” adalah turunan off-beat yang berubah menjadi bebop, boogie dan jive. Setelah tahun 1955, melalui “Rock Around The Clock”, yakni judul lagu dan film yang dibintangi Bill Haley, maka irama yang hot menjadi rock.

Antara 1955 sampai 1960, rekaman lagu-lagu populer Indonesia bervariasi majemuk. Ada yang masih terikat kepada hawaiian, kroncong, Melayu, tetapi banyak juga yang mulai dijangkiti irama-irama Amerika Latin karena pengaruh sejumlah penyanyi dan pemusik dari Amerika, terutama dari kalangan kulit hitam, musaknya Xavier Cugat, Perez Prado, Nat King Cole, Harry Belafonte, dan lain-lain.

Pada tahun 1959, Bung Karno geram pada rock dan cha cha cha. Itu tertuang dalam salah satu bagian pidato Manipol Usdek-nya. Akibat pidato itu, sibuklah pejabat pemerintah mewujudkan apa yang disebut “kebudayaan nasional”. Kecenderungan awal, adalah merekam ulang lagu-lagu lama yang tadinya kroncong, menjadi rock. Itu dimulai melalui “Bengawan Solo” oleh Oslah Husein. Sehabis itu, berlangsung selera yang tak tetap, antara lagu-lagu tua dan lagu daerah. Dari masa itu juga kita kenal lagu-lagu pop Minang, melalui nyanyian Nurseha, “Ayam den Lapeh”; lalu lagu pop Batak melalui penyanyi Mathilda Silalahi dan kugiran Dolok Martimbang; lagu pop Makassar melalui Lenny Beslar dengan “Anging Mammiri”; lagu pop Banjar dengan kugiran Taboneo lewat “Ampar-ampar Pisang”, dan jangan lupa Kris Biantoro lewat “Dondong Opo Salak” janin pop Jawa.

Setahun setelah Asian Games, pada tahun 1963, barulah kita lihat musik dan lagu populer Indonesia benar-benar menjadi sesuatu yang sangat istimewa, sebab melalui sistem “singing idol” atas nama Lilis Suryani, terciptalah perdagangan musik dalam arti yang kita kenal sekarang. Pada umumnya musik dagangan ini tidak beda seperti fashion, terus berubah, dan tak jelas juga segi estetiknya. Hal yang terakhir ini kelihatannya tak penting. Bahkan kelak, setelah dekade 1970-an, ketika cukong rekaman makin numpuk di Harco, semakin tak penting pula pembicaraan yang berisfat estetik. Dagang kaset itu dalam waktu singkat berpindah-pindah selera. Selera ditentukan oleh hokki.

Sebelum tahun 1970 ada beberapa orang pencipta yang cukup rajin, antara lain A. Riyanto dan Jessy Wenas. Kita sebut dua nama ini saja, karena yang akan kita lihat pengaruh yang berlangsung dalam penulisan syair dalam dekade berikut. Satu hal yang tak boleh kita lupakan, kalau kita melihat keadaan musik dan lagu populer Indonesia sebelum tahun 1970 maka segera harus kita ingat bahwa setelah tahun 1966 berlangsung nilai-nilai yang baru dalam masyarakat, yaitu nilai-nilai sosial yang ada hubungannya dengan pergantian politik dari Orla menjadi Orba.

Maka sebelum kita lihat syair yang ditiangi oleh Riyanto dan Wenas, perlu juga kita ingat akan keadaan negeri yang telah bebas dari tekanan-tekanan dan intrik-intrik seperti di zaman Orla. Pada zaman Orla segala sesuatu yang berhubungan dengan lagu berbahasa Ingrris, dicap kebarat-baratan, dan disudutkan sebagai karib Nekolim, anti revolusi, anti Nasakaom, tak sesuai dengan kepribadian Timur, dan banyak lagi. Pemeo-pemeo yang telah tertanam sebagai opini publik itu memang erat hubungannya dengan kerja 2 orang intelektual sastra, masing-masing Sitor Situmorang (LKN) dan Pramoedya Ananta Toer (Lekra), dibantu oleh pers dengan 2 tokoh pula, yaitu Karim DP (Ketua PWI), Satya Graha (Sek.).

Sampai tahun 1965, orang masih tak boleh mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris, karena dianggap produk kebudayaan imprealisme. Maka, jangan harap juga masyarakat dapat menonton film-film Amerika. Sitor Situmorang adalah hulubalang PAPFIAS (Panitia Aksi Pengganyangan Film Imprealis Amerika Serikat) yang mengganyang semuam film AMPAI. Jika ada bioskop yang berani memutar film Amerika, pasti gedungnya akan dirusak oleh PKI/CGMI/IPPI, seperti terjadi atas bioskop Dewi di Jalan Braga Bandung.

Dalam pemerintahan Orba, muncul lagi film-film yang didambakan pada masa lalu. Dari lembaran masa ini, kita lihat adanya lagu populer yang memberikan kesan kritik sosial, dinyanyikan oleh Bing Slamet, artis yang sangat berbakat itu. Lagunya berjudul “Ke Bioskop”, dibangun dengan bahasa slang atau bahasa Indonesia yang tidak baku. Perhatikan syairnya itu:

KE BIOSKOP

Malam Minggu aye pergi ke bioskop
Bergandengan ame pacar nonton cowboy
Beli karcis tau-tau kehabisan
Jaga gengsi terpaksa beli catutan
Aduh emak asyiknya nonton dua-duaan
Kayak nyonya dan tuan di gedongan
Mau beli minuman kantong kosong gelandangan
Malu ame tunangan kebingungan
Pilem abis ane terpaksa nganterin
Masuk kampung jalan kaki kegelapan
Sepatu baru, baru aja dibeliin
Dasar sial, pulang-pulang nginjek gituan
Apaan tuh? Ade deh.

 

 

Kesan yang sama kita lihat juga dalam lagu ciptaan Titiek Puspa, “Rambut Gondrong”. Nampak jelas berlangsungnya nilai-nilai baru dalam masyarakat setelah Orla tumbang. Lantas lewat Titiek ini juga, kita lihat, sebetulnya sikap kritik lewat sosial yang kemudian menjadi tak terpisah dalam lagu-lagu Iwan Fals dan pengamen-pengamen di Jakarta, sekitar Pasar Kaget, Pecenongan, Roxy maupun Senen, halnya telah sangat galib. Coba kita simak lagu Titiek tersebut.

RAMBUT GONDRONG

Ini cerita jaman dulu jaman Majapahit
Semua kaum lelaki berambut panjang
Raja dan ksatrianya malam dikonde
Kalau kawan tidak percaya Pak Guru
Semua aman tidak dilarang
Tiada polisi main cegatan
Sekarang jaman modern terulang kembali
Eh sinyo yang muda-muda berambut gondrong
Tetapi entah kenapa kini dilarang
Lalu jadi macet karena cegatan
Tuh Bung Polisi dan Pak Tentara
Buka barbir gratis di tengah jalan.

 

 

Gambaran sosial dalam segi yang lain kita peroleh pula dalam ciptaan Jessy Wena, “I Benci Deh Ame You”, dinyanyikan oleh Bob Tutupoly, juga sebelum tahun 1970. Para bencong kian merajalelas. Dan Ali Sadikin, gubernur yang kontroversial itu ternyata mengulurkan tangan kepada para bencong tersebut. Ciptaan Wenas ini merupakan gambaran nilai dari kehidupan di masa Orba pula.

I BENCI DEH AME YOU

Mulanya maksud hati I
Ingin nonton wayang
Tepat di tengah jalan tersenggol nona mude
Si none hampir marah tetapi tidak jadi
Malah dia bicara padaku, “Hallo John”
Kupikir ini dia kesempatan bagiku
Kuajak dia jalan dengan bergandengan tangan
ngomong ini dan itu tapi hati curiga
Dan akhirnya kutahu dia pria
Ah, sialan benar
Rupanya dia itu kaum wanita adam
Untung di saat itu tiada yang melihatku
Kini aku yang marah tapi memang salahku
‘Ku pergi jauh sambil bicara padanya
I benci deh ame you.

 

 

Juga pada permulaan Orla ini, sebelum memasuki tahun 1970, gambaran bebas dari keterbatasan dan keterikatan merupakan bagian yang tajam dalam pergaulan sosial. Di paruhan kedua dekade 1960-an itu pula timbul gejala penyelewengan seks yang menarik perhatian pengarang novel, antara lain Motinggo Busje, Abdullah Harahap, dan Asbari Nurpatria Krisna, yang mengusungnya dalam prosanya, dan gaungnya diterima oleh pencipta lagu-lagu populer. Kita ambil misalnya contoh lagu yang dinyanyikan Pomo, peniup tanduk-besi yang tenar.

OOM SENANG

Ha ha ha ha ha ha
Mau ke bulan ya ha ha ha ha
Apa apa apa apa
Oom Senang ya ha ha ha ha
Apa maunya ha ha ha ha ha
Oom Senang ha ha ha ha ha

………………………………………

Salah lagi ha ha ha ha ha
Bukan ditelan layu ha ha ha
Ditelan masuk ha ha ha ha ha
Oom Senang senang ha ha ha
Oom tidak mabuk
Oom lagi senang-senang

Mudah-mudahan saja syair yang puntang cerenang ini tak lantas dibilang mengingatkan puisi Sutardji Calzoum Bachri. Contoh syair lagu Pomo di atas hanya pertanda kecil di antara beberapa contoh lagu populer Indonesia yang menggambarkan keadaan yang dihayati, atau keadaan nyata yang sekedar dilihat, sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Selain itu, bekerja dalam pengertian tidak resmi tetapi labanya besar, atau dalam istilah waktu itu “ngobjek”. Merupakan luka sosial yang nyata memasuki babak awal Orba, dan ini sempat pula ditangkap dalam salah satu syair lagu populer tahun 1968 dalam rekaman Fenty Effendi, iringan musik Melody Ria.

OBJEK

Ini jaman memang nggak keruan
Laki perempuan rebutan dagangan
Cari barang murahan di pegadaian
Objek apa ya, bapak objek naon, duh emak
Objek gunung duh emak cari untung
Ulah kitu ya bapak, jangan gitu dong emak
Objek gunung ya kang mas, bikin bingung
Dari barang butut hingga televisi
Perabot dapur termasuk meja dan kursi
Sang perantara mondar-mandir naik taksi
Sial banget objek bohong, hilang komisi

Lepas dari sana artinya di luar tangkapan peristiwa –peristiwa sosial yang nyata, isi syair lagu-lagu populer Indonesia sebelum tahun 1970 rata-rata berkisar dan berulang di sekitar bayang-bayang cinta dan patah hati yang menyebabkan seseorang tercenung dan melamun memikirkan masa silamnya. Dalamnya cinta selalu dianggap suci. Kita ambil misalnya beberapa contoh di bawah ini.

CINTA KASIHKU

Dua hati berpadu dengan syahdu
Cinta nan suci
Tak akan mungkin dihancurkan badai
Cinta abadi
Cintaku cintamu mesra selalu
Sejarah sejalan dst.

Lagu di atas dinyayikan oleh Trio Visca, sebuah grup vokal tahun 1968, dan salah seorang di antaranya kemudian menjadi bintang film yang paling terkenal, Widyawati. Coba kita perhatikan pula lagu yang dinyanyikan Bob Tutupoly di bawah ini:

TANDA TANYA

Tanda tanya kini datang menyiksa kalbuku
Semenjak kutanyakan bilakah kau mau
Biasanya kaupun sambut dengan penuh mesra
Tetapi kini serasa hampa belaka
Entah apa gerangan yang kau risaukan
Mungkin rahasia ini demi kasih yang suci.

Di samping itu, lamunan tentang cinta suci yang telah berlalu, tak jarang, bahkan hampir selalu digambarkan sebagai suasana terasing yang menyiksa. Itu lumrah. Yang menjadi masalah, idiom itu tidak mengalir lagi. Kata-kata yang paling laku adalah sekitar kesunyian. Kita lihat misalnya contoh syair yang dinyanyikan Ida Royani di bawah ini:

TERKENANG DIKAU

…………………………………
Masa yang silam
Tak mudah lupa
Penuh kenangan kualami
Di waktu malam sunyi sepi
‘Ku duduk sendiri
Terkenang dikau seorang kasih
Hatimu suci murni

Rata-rata memang kita tidak memperoleh penyelesaian atas keterasingan itu. Syair lagu populer kita, dengan begitu melulu berisi tentang lamunan-lamunan cinta. Sikap perlawanan terhadap nasib tak ada. Nampak kesan seakan-akan dalam sikap itu menunjukkan betapa bangsa kita selalu nrimo terhadap kesengsaraan dan penderitaan. Benarkah begitu? Kita tidak yakin. Kita masih agak kuat bersikeras, bahwa keterbatasan visi, yang menghasilkan gambaran yang klise ini, sepenuhnya disebabkan tak intimnya pemusik populer dengan dunia sastra, kecuali yang harus kita lihat secara khusus itu Ebiet G. Ade, Franky & Jane, Leo Kristi. Sementara itu, tak dapat dielak, apabila kita berbicara tentang syair lagu atau lirik, mau tak mau kita berhadapan dengan “sense of poetic”, paling kurang ekspresi melalui gugusan kata yang terpilih namun bukan yang dibuat-buat model Guruh Soekarno Putra yang akan kita bicarakan belakang.

Apa yang kita liha sebagai klise tadi, adalah contoh plastis lagu populer Indonesia sebelum tahun 1970. Sekarang bagaimana kiranya syair itu pada tahun-tahun setelah 1970 dan seterusnya? Setelah tahun 1970, nampaknya ada perubahan selera. Grup-grup lelaki, mereka yang umumnya berambut jabrik meniru mode grup-grup besar di Inggris dan Amerika, misalnya Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, dan lain-lain, mulai memasuki dunia rekaman.

Dengan rambut gondrong ditambah kumis-janggut, tentunya itu memberikan gambaran yang khas antara jantan perkasa atau primitif, nyeleneh dan acak-acakan. Modelnya memang begitu, apa mau dikata. Hanya satu-dua saja yang benar-benar menghayati gondrong sebagai manifestasi sikap perlawanan dan pemberontakan terhadap nilai-nilai. Tak kita sebut itu siapa. Di luar itu, ternyata yang gondrong jabrik bertampang sangar itu, ketika terlibat dalam dunia rekaman, syair lagu-lagunya lembek, padede dan gampang nangis. Dengan kata lain, selera yang berubah di awal dekade 1970-an, hanya penyanyinya yang grup laki. Klise gembleng masih berlanjut juga. Dan gembleng itu kita lihat pada Mercy’s, kugiran paling populer di bawah Koes Plus, di mana duduk nama-nama seperti Rinto Harahap, Charles Hutagalung, dan Reynol Panggabean. Selain itu, harus juga disebut Panbers, dan kemudian menyusul Rolles, AKA, Freedom, dan lain-lain. Tidak kita contohkan syair-syair mereka di sini.

Yang patut kita kemukakan dalam membicarakan syair para grup laki di bawah ini, terutama Koes Plus. Kugiran bersaudara yang telah tampil tahun 1963 melalui nyanyian yang bersandar pada gaya Everly Brother, pada 10 tahun kemudian mengganti coraknya seperti Bee Gees. Kedudukan Koes Plus sangat berarti dalam masyarakat. Syair-syairnya, kendatipun banyak yang tawar dan klise, ternyata banyak juga yang bagus dan tahan kritik. Kita ambil salah satu di bawah ini:

LIHAT JENDELAKU

Lihat! Lihatlah jendelaku
Warna hijau dari kayu
Masuk! Masuklah rumahku
Rumah besar kosong selalu
Telah lama aku terkurung. Selalu
Tembok dan pagar mengurung diriku
Aku selalu menunggu saat kebebasanku
Tolong! Tolong buka pintuku
Pintu rumahku terkunci. Selalu
Panggil! Panggilah kawanmu
Ikut makan bersamaku.

 

 

Pada dekade 1970-an juga ada usaha menawarkan syair yang bisa mewakili banyak banyak segi kehidupan, terutama syair dapat dijadikan sebagai media orang berbicara tentang asas: kebudayaan tandingan, atau counter culture, atau anti establishment. Usaha semacam itu tumbuh mula-mula di Bandung sebagai gerakan. Gerakan ini memang tak segera tempias. Tetapi akarnya telah tertanam. Paling tidak melalui kampus-kampus perguruan tinggi. Salah seorang yang hendak kita sebut di sini adalah Harry Roesli, waktu itu mahasiswa ITB jurusan mesin, sekarang dosen IKIP jurusan sastra & seni. Kita ambil lagunya yang paling populer.

MALARIA

Seprei tempat tidurmu putih
Itu tandanya kau bersedih
Mengapa tidak kau tiduri
Kau hanya terus menangis
Apakah kau seekor monyet
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini
Bila kau hanya bicara
Guling bantalmu kan bertanya
Apa yang kau pikirkan nona
Kau hanya bawa air mata
Dan ketawa yang kau paksa
Lanjutkan sisa hidup ini
Sebagai nyamuk malaria.

 

 

Pertentangan nilai dan mutu mulai ramai dibicarakan pada awal dekade 1970-an, dan sebuah majalah hiburan yang terbit di Bandung termasuk yang sangat menentukan hal itu. Grup bukan rekaman menghantam grup-grup rekaman karena syairnya yang lembek. Sekalian untuk mendamaikan dan mendorong kreativitas maka timbul gagasan dari Wim Umboh dan Idris Sardi mengadakan pertunjukan semalam suntuk di Pasar Minggu. Pertunjukan itu disebut Summer 28, memang berlangsung pada musim panas tetapi artinya konon Suasana Meriah 28 tahun merdeka. Tak ada manfaat apa-apa yang dicapai di sana kecuali pengalaman yang menunjukkan betapa penonton seni di Indonesia masih perlu dibina apresiasinya, dan pemusik Indonesia masih perlu pula dibina kesadarannya bahwa penonton adalah raja. Tingkahlaku para artis yang sering tengil dan kelewatan seakan Indonesia adalah dia.

Adapun rekaman-rekaman yang ada pada masa-masa itu semakin tidak tetap karena perubahan selera yang terlalu cepat ditentukan oleh tauke-tauke rekaman. Sejak itu tauke rekaman tidak lagi terbatas satu orang dan satu perusahaan. Banyaknya perusahaan menyebabkan terjadi persaingan keras di pasaran. Oleh sebab itu, memang sulit mencari pemusik yang siap dengan lagu-lagu terpilih artinya lagu dengan syair yang tidak melulu klise.

Sehabis pesta Summer 28 di tahun 1973, jadi pesta yang terjadi tepat 10 tahun lalu itu, rekaman lagu populer benar-benar seperti pabrik kelontong. Selera yang dimaksud tadi, berjalan antara epigon dan latah. Memasuki tahun 1975, orang berlomba mengerjakan rekaman lagu-lagu kasidah. Siapapun yang merasa mampu dan juga merasa dirinya Islam, merasa wajib mengerjakan rekaman kasidah. Lagu-lagu kasidah itu sendiri bukannya tidak mengundang pro-kontra. Yang dipersoalkan, boleh menyanyikan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW, tetapi dilarang menyanyikan ayat Al-Qur’an.

Dalam dekade yang penuh perubahan itu, tak kalah penting harus disebut, munculnya secara mengejutkan penyanyi-penyanyi kecil menyanyikan lagu-lagu populer. Orangtua artis yang telah beranak segera berebutan. Mulanya itu berlangsung akibat rekaman Chicha, penyanyi anak-anak yang memukau karena lucu dan manis. Karena dunianya kanak-kanak, maka lagu yang dinyanyikan juga sekitar dunia mereka. Kita pindahkan salah satu lagunya yang paling populer.

HELLY

Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly (guk! guk! guku!)
Kemari! Ayo lari-lari
Helly (guk! guk! guk!)
Ayo lari-lari.

 

 

Selesai masa lagu populer anak-anak, dengan cepat selera berubah kepada musik dangdut. Istilah dangdut mulau pertama dipakai di Aktuil oleh Billy Silabumi sebagai tanda ejekan bagi jenis musik ini. Lama kelamaan, ternyata musik dangdut menjadi salah satu corak musik populer Indonesia yang hampir dipastikan akan merupakan pilihan utama dalam bentuk musik hiburan setelah tahun 2000. Alasannya, karena musik tradisional Indonesia, dari Sabang sampai Merauke sangat ditentukan oleh dominannya irama melalui perkusi (kendang, tifa, tomtom, dan sebangsanya) dan bagian itu secara istimewa mewataki dangdut. Selain itu friksi yang beralih dari musik bercorak Arab, sebagian besar ditopang oleh sifat-sifat am Islamiyah. Yang paling berhasil mewarnai takrif ini tak lain Rhoma Irama. Kekuatan lagu-lagu Rhoma berkisar pada fatwanya. Dengan itu nampaknya Rhoma berniat mewujudkan apa yang pada dekade awal 1960-an merupakan dambaan organisasi budaya seperti Lesbumi dan HSBI, yakni melakukan dakwah melalui seni, suatu hal yang hakiki dilakukan oleh para mubaligh tanah Jawa dulu kala.

AL QUR’AN DAN KORAN

Dari masa ke masa manusia
Berkembang peradabannya
Hingga di mana-mana manusia
Merubah wajah dunia

Gedung-gedung tinggi mencakar langit
Nyaris menghiasi segala negeri
Bahkan teknologi di masa kini
Sudah mencapai kawasan samawi

Tapi sayang disayang manusia
Lupa diri, tinggi hati
Lebih, dan melebihi tingginya
Pencakar langitnya tadi

Sejalan dengan roda pembangunan
Manusia makin penuh kesibukan
Sehingga yang wajib pun terabaikan
Sujud lima waktu menyembah Tuhan
Karena dimabuk oleh kemajuan
Sampai komputer dijadikan Tuhan
(Yang bener aje)

Kalau bicara tentang dunia
Aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama
Mereka jadi alergi

Membaca koran jadi kebutuhan
Sedang Al-Qur’an Cuma perhiasan
Bahasa Inggris sangat digalakkan
Bahasa Arab katanya kampungan
(Nggak salah tuh?)

Buat apa berjaya di dunia
Kalau akhirat celaka
Marilah kita capai bahagia
Di alam fana dan baqa

Daripada ‘ku merana
Hidup selalu menderita
Lebih baik sederhana
Asal hidup bahagia.

Dibandingkan dengan syair lagu-lagu populer biasa, maka syair dangdut sebagai suatu bagian dari simptom baru dalam musik hiburan Indonesia ternyata memiliki pergumulan etis yang lebih gigih, jika tidak yang lebih berhasil. Intimitas yang lahir termasuk juga bagaiman kata-kata itu mewakili keadaan sehari-hari dalam masyarakat luat, adalah fatwa-fatwa yang boleh dikata sudah meleluri (leluri = tradisi). Mari kita lihat itu pada ciptaan Rita Jacky yang dinyanyikan Rita Sugiarto di bawah ini:

MAKAN HATI

Buat apa tampan kalau makan hati
Lama-lama mati bunuh diri
Biar jelek asal sayang sampai mati

Biar jelek asal sayang
Biar miskin, kaya hati

Apa gunanya tampan
Kalau jadi pikiran
Apa gunanya istana
Bagaikan neraka

Banyak syair lagu dangdut yang akrab dengan masyarakat bawah, yang memberikan catatan plastis tentang arti kemiskinan. Keadaan itu pulalah yang selanjutnya harus kita lihat sebagai jawaban mengapa dangdut begitu menyatu dengan peri kehidupan masyarakat umum. Jawabnya, karena dangdut adalah jembatan atau perantara yang mewakili keadaan sosial masyarakat kita yang sesungguhnya. Syair yang memelas dalam dangdut tidak sampai menjengkelkan seperti memelas yang telah berubah jadi nelangsa dalam syair pop umumnya. Masih ada suasana cengar-cengir yang tumbuh dari sifat memelasnya lagu dangdut. Kita perhatikan saja segi itu pada ciptaan Asmin Chaider yang dinyanyikan B. Komala, iringan OM Nababa, edaran tahun 1983 berikut ini:

PUTUS CINTA KARENA MISKIN

Aku putus cinta karena aku miskin
Aku dipandang hina
Bagai sampah yang tak berguna
Barulah kusadari bercinta tentang harta
Hanya cari sengsara, oh!
Aku putus cinta karena aku miskin

Dulu pernah kukhayalkan
Ingin hidup bahagia
Bersamamu kekasihku
Dalam dunia cinta
Kiranya badai datang
Menghancurkan harapan
Yang lama kudambakan, oh dst.        

Tidak gampang menyanyi menurut aturan dangdut. Penyanyi pop yang latah pada musim dangdut di tahun 1976 dan seterusnya, biasanya tak tahan, karena tak menyatu. Penyanyi-penyanyi dangdut yang dianggap kuat menghayati corak musik ini, selain Rhoma Irama, juga Elvy Sukaesih, A. Rafiq, Mansyur, dan terakhir muncul Camelia Malik.

Pada Camelia Malik, musik iringan atau akompanimen di belakang vokalnya terdengar unik dan hampir dapat dikatakan sangat memuaskan. Pada musik iringan atas Camelia Malik kita semakin percaya pada masa depan dangdut sebagai satu-satunya pilihan yang akrab dan sekaligus Indonesiawi memasuki abad 21 nanti. Adapun syair yang menunjang musik Camelia, sejauh yang berkaki, nampak lebih hati-hati dan sederhana namun tetap intim.

Beralih dari musim dangdut, suatu ketika kita jumpa nama Chrisye. Kehadirannya termasuk penting sebab, syair dengan akompanimen yang galib manus, hampir dapat dikatakan sebagai piawai (standar) tersendiri yang mempengaruhi akompanimen maupun gaya syair. Lagu yang dinyanyikan Chrisye, yang akan kita bicarakan di sini, adalah ciptaan Guruh Soekarno Putra. Putra bekas presiden pertama RI ini rupanya asyik nian mempelajari bahasa Sansekerta. Dikiranya, semakin lebur dalam ungkapan-ungkapan bahasa Sansekerta, akan semakin pada pula nilai literernya lagu. Sepintas memang terasa suatu pembaruan. Tetapi lama-lama terasa makin perlente, tidak intuitif, dan sangat dibuat-buat. Ada masanya dalam sastra Indonesia di mana orang mengira karya yang berbobot adalah jika kata-kata yang dibangun di sana terasa kabur, gelap, dan berbelit-belit oleh bahasa yang sekedar kembang-kembang, artinya tak luga, kuna dan sok aristokat Jawa. Kita simak itu pada lagu berikut:

SMARADHANA

Ratih dewi citra khayalku prana
Dalam hidupku yang haus akan asmara
Hm, nikmatnya bercinta

Andika dewa
Sima duli sang smara
Merasuk sukma menyita heningnya cipta
Oh, resahku jadinya

Prahara nestapa
Seakan tak kuasa
Membendung asmara insan sedang bercinta
Gelora asmara di samudra cinta
Melenakan daku dibuai cinta

Di samping lagu ini, dalam kaset yang sama juga ada ciptaan Junaedi Salat, berjudul “Duka sang Bahaduri”, juga sarat dengan bahasa Sansekerta, lengkap dengan kamusnya. Ck ck ck.

Pudar masa bergenit-genit dengan bahasa Sansekerta, pada paruhan kedua dekade 1970-an itu kita jumpa dengan corak syair yang menawan, yang tahan kritik, yang atasnya dapat diuji melalui kritik sastra. Yang dimaksud di sini tak lain adalah lagu-lagu Franky & Jane dan Ebiet G. Ade. Yang pertama disebut, syairnya dibuat oleh Yudhistira Ardi Noegraha, memang penyair, penulis drama dan novelis muda yang kreatif. Kemudian yang kedua Ebiet G. Ade berasal dari lingkungan sastra pula, maklum orang Yogya, anak muda siapa yang tidak bergaul antara sastra, teater, dan senirupa di kota itu. Hadirnya Ebiet sangat berarti, karena ia berhasil membuktikan, sastra bukan sesuatu yang elite. Dalam masyarakat tradisional juga, misalnya masyarakat Jawa dan Aceh, sastra merupakan satu kesatuan dengan kehidupan. Perhatikanlah bagaimana puisi Ebiet yang dinyanyikannya ini.

UNTUK KITA RENUNGKAN

Kita mesti telanjang
dan benar-benar bersih
suci lahir dan di dalam bathin

tengoklah ke dalam
sebelum bicara
singkirkan debu yang masih melekat

anugerah dan bencana
adalah kehendak-Nya
kita mesti tabah menjalani
hanya cambuk kecil
agar kita sadar
adalah Dia di atas segalanya

anak menjerit-jerit
asap panas membakar
lahar dan badai menyapu bersih

ini bukan hukuman
hanya satu isyarat
bahwa kita mesti banyak berbenah dst.

Pada periode ini juga nama Rinto Harahap kelihatannya sangat menguasai pasaran lagu-lagu populer melalui beberapa penyanyi, antara lain Iis Sugianto, Nur Afni Octavia, Christine Panjaitan, dan lain-lain. Jika orang menyebut nama Rinto, orang pun akan segera terbayang akan jeritan “sayang”, yaitu kata yang sarat dalam ciptaan-ciptaannya, lagu yang aduh lembeknya, kenes, manja, padede, mendayut-dayut, dan pucat tak ada darah. Tapi astagfirullahaladzim, dengan lagu-lagu itu Rinto menjadi orang kaya. Kita ambil 2 contoh lagu sarat “sayang” bikinan Rinto di bawah ini, yang pertama dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang, yang kedua oleh Grace Simon.

ADAKAH HARAPAN
………………………………..
Seribu hari sudah aku hidup begini
Tak sekalipun kau datang
Apa sudah tiada arti diriku ini
Jawablah hati ini sayang

Masihkah kau ingat
Masihkah kau harap
Seperti janjimu
Oh…sayang
Adakah harapan
Untuk dirimu
Menunggumu menanti lagi.

AKU TAK PERCAYA LAGI
…………………………………………
Hei…mengapakah…??
Aku ini bukan hanya untuk mainan
Hei…mengapakah…??
Hanya dusta yang kau lakukan pada diri ini
Sedangkan dusta ku tak pernah..!!!
O…usahlah kau merayuku lagi
Sedangkan gitar ku tak punya…!!!
O…sudahlah…sudahlah…!!!
Aku tak percaya lagi aku tak ingin menangis lagi.
Hanya engkau milikku sayang…
O…janganlah jangan aku tak sanggup!!!!

Tak salah lagi, Rinto Harahap contoh paling nyata untuk syair-syair lagu cengeng pada dekade awal 1980-an. Syair dengan titik-titik yang banyak, tanda seru, dan tanda tanya yang tak cukup hanya satu, adalah cerminan labilitas dan ketakmampuan mengungkapkan perasaan melalui gugusan kata yang pas, terpilih, dan tidak mubazir. Betapa pun jenis syair ini mengkhalayak di kalangan usia pubertas, pada ujungnya membosankan juga. Dan itulah, dari saat-saat yang membosankan masyarakat mendambakan yang baru lagi. Titiek Puspa berhasil membaca suasana itu. Dengan kata-kata yang sederhana dan cenderung miskin, lahirlah lagu “Apanya Dong”. Bukan main mengkhalayaknya lagu ini. Bagian yang paling menarik perhatian orang adalah sekitar ulangan kata-kata “apanya dong”, begini:

Apa apa apanya dong
Apanya dong apanya dong
Apa apa apanya dong
Apanya dong dang ding dong

Ulangan kata-kata yang runtun seperti ini mengingatkan kepada bentuk rock awal tahun 1950-an di Amerika, juga yang sangat menarik perhatian, yakni suatu modus untuk mencapai suasana tertentu, mirip seperti suasana ekstase, trance, atau voodoo dalam musik-musik ritual kulit-hitam Amerika, dari mana sesungguhnya bentuk rock sendiri tercerabut dan berkucak dalam masyarakat. Sekedar perbandingan kita sebut 2 buah contoh yaitu, “Mambo Rock” dinyanyikan oleh Bill Haley, dan “Keep Knockin’ Won’t You Please Come In”.

Trend ini berlaku juga terhadap salah satu lagu yang paling menarik tahun 1983, dinyanyikan oleh Nola Tilaar dan diciptakan oleh Melky Goeslaw, berjudul “Dansa Reggae”. Seperti halnya “Apanya Dong” yang berlaku ulangan kata yang runtun, daya tarik yang tak kalah penting diperhatikan adalah pemakaian bahasa Indonesia yang tidak baku. Justru dengan bahasa itu terjalin intimitas yang besar. Pada nyanyian Nola, hal baru dalam syairnya adalah pelajaran bahasa-bahasa daerah, mirip seperti salah satu iklan bahan baku foto buatan bangsa Jepun. Untung saja kata-katanya hanya sekedar ajakan berdansa. Kalau ajakan berdansa ditolak, bisa-bisa syairnya berubah jadi maki-maki seperti ini:

Orang Betawi bilang: sialan lu
Orang Bandung bilang: bedul siah
Orang Semarang bilang: kakekane
Orang Surabaya bilang: jancuk kon
Orang Manado bilang: ngana pe ma
Orang Makassar bilang: ka’bulampe
Orang Batak bilang: bodat ho
Orang Ambon bilang: se pu mai
dst.

Nah, bagaimana kiranya bentuk syair 10 tahun akan datang? Wallahualam bissawab! Namun, yang dapat kita pastikan, inklusif dangdut, musik pop Indonesia sampai kapan pun agaknya tak dapat swatantra dari citra musik niaga di Amerika sana. Apa yang menjadi mode di Amerika biasanya itu akan segera dilalap di sini. Sudah tentu ini kalau kita bicara musik menurut sajian instrumen. Dalamnya tidak termasuk syair atau kata-kata. Sebab, seperti telah kita lihat di atas, perjalanan syair lagu populer Indonesia punya jalur sendiri dalam rel selera dan sejarah.

Suatu hal yang mungkin kebetulan, dalam penutupan pembicaraan ini, kita jumpa lagi dengan Ambon. Menjelang tutup tahun 1983 ini, nampaknya gaya Ambon dengan sentuhan-sentuhan jazz mulai bermuara dalam musik pop kita. Pelopor di bidang ini hampir semua orang Ambon pula: Chris Kayhatu, Utha Likumahuwa, Ongen Latuihamalo, Jopi Latul, dan lain-lain ditambah dengan Jopie Item dari Manado, Ireng maulana peranakan Sangir-Banten, Abadi Soesman orang Jatim. Dan seterusnya.

* * *

 

 

Diketik ulang oleh Kineruku dari Perjalanan Musik di Indonesia: Sebelum dan Sesudah Perang (1983, halaman 95-117), sebuah buklet dwibahasa (Indonesia-Inggris) yang disusun oleh Panitya Penyelenggara PENSI ’83 di Jakarta, 26 November 1983. Dicetak oleh PT Lithopica, Jakarta. Demi keperluan pengarsipan secara digital ini, Kineruku melengkapinya dengan tautan streaming beberapa lagu.

Baca seri /kliping/ lainnya di sini.

 

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe