Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Superman, The Ordinary Man

Superman, The Ordinary Man
09/01/2007

Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. “He’s Superman, isn’t he?” Tapi kenyataan berkata lain. Delapan tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super.

Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Kita kenal tokoh komik populer ini: datang dari planet Krypton, berjubah merah, berkostum ketat warna biru, dengan lambang ‘S’ warna merah kuning di dadanya. Dia tampan dan atletis. Dan kemampuannya bikin kita takjub: dia terbang melawan gravitasi, badan kebal peluru, penglihatan tembus-pandang, telinga super-tajam, gerakan super-cepat dan segudang kemampuan super lainnya. Dengan kekuatannya itu, Superman mengalahkan musuh-musuhnya, menyelamatkan dunia dari ancaman para penjahat, membantu memadamkan kebakaran, membendung tanggul kota yang hancur, menegakkan Menara Miring Pisa, atau sekadar menyelamatkan kucing tetangga. Pendek kata, Superman adalah jagoan super yang baik hati. Dan sehari-harinya, Superman “menyamar” sebagai Clark Kent, wartawan kikuk berkacamata, yang menaruh hati pada Lois Lane, rekan kerjanya di suratkabar Daily Planet di kota Metropolis.

Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh superhero ini sekitar tahun 1930-an. Muncul pertama kali di Action Comics #1 yang terbit Juni 1938, Superman langsung merebut hati para penggemar. Sebelumnya, pembaca komik hanya disuguhi jagoan-jagoan semacam Tarzan dan Dick Tracy, yang semuanya memiliki banyak keterbatasan. Sementara Superman benar-benar memfasilitasi fantasi tergila manusia tentang seorang superhero ideal: seorang jagoan yang super-segalanya, nyaris tanpa kelemahan. Bahkan, nama Clark Kent diambil dari nama aktor ganteng kenamaan saat itu, Clark Gable, yang kemudian melegenda lewat film klasik Gone With The Wind (1939). Sukses komik Superman dilanjutkan dengan membuatnya “bergerak”. Film kartunnya muncul pada tahun 1941, sepanjang 17 episode garapan Fleischer Studios. Pada tahun 1947 film serialnya diproduksi, dengan aktor Kirk Alyn berperan sebagai Superman/Clark Kent, dan diteruskan oleh George Reeves di tahun 1950-an.

Kesuksesan film Star Wars (Geoge Lucas, 1977) dan Close Encounters of the Third Kind (Steven Spielberg, 1977) seolah membuka jalan untuk film-film fantasi layar lebar dengan efek visual memukau. Begitu juga dengan film Superman: The Movie, garapan sutradara Richard Donner yang dirilis pada tahun 1978, dengan Christopher Reeve sebagai pemeran utamanya. Efek visual “manusia terbang” di film ini sudah cukup halus, seolah-olah hendak membuktikan tagline-nya yang terkenal: “You’ll Believe a Man Can Fly!”. Film yang ceritanya ditulis oleh Mario Puzo (penulis The Godfather) ini meraup sukses besar, sehingga dibuat sekuelnya. Semuanya dibintangi oleh Christopher Reeve: Superman II (Richard Lester, 1980), Superman III (Richard Lester, 1983), dan Superman IV: The Quest For Peace (Sidney J. Furie, 1987). Setelah itu, ikon Superman seolah melekat pada diri Christopher Reeve, seperti halnya Boris Karloff adalah “standar klasik” untuk monster ciptaan Frankenstein.

Film yang diangkat dari komik superhero sudah dipastikan memiliki calon penontonnya sendiri, yaitu para penggemar fanatik komiknya. Mereka datang untuk menonton jagoannya “bergerak”. Sisanya adalah penonton biasa yang mungkin penasaran, yang pergi menonton karena comic-book movie biasanya menawarkan adegan visual dengan special-effect yang menarik. Mereka membeli tiket bioskop untuk sebuah tontonan penuh aksi, tentang serunya pertarungan sang jagoan melawan penjahat. Plus sedikit bumbu-bumbu percintaan, juga komedi—karena jagoan yang baik biasanya digambarkan memiliki selera humor yang cukup bagus. Dan jangan lupa: pameran kecanggihan teknologi setting dan kostum yang fantastis. Ditemani renyahnya popcorn dan sejuknya coke, penonton rela menonton sebuah bangunan cerita dengan premis sederhana: good vs. evil. Bahkan mereka pun tak keberatan mengakhiri “petualangannya” dengan ending film yang sebetulnya sangat gampang ditebak: jagoan mereka tak mungkin terkalahkan, karena dalam logika dan realitas standar komik, kebenaran akan selalu mengalahkan kejahatan.

Di film-film Superman, hal sama juga berlaku. Dalam Superman: The Movie, sejak awal penonton tahu bahwa Man of Steel itu pasti akan mengalahkan Lex Luthor, sehebat apapun usaha ilmuwan sinting yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai “penjahat jenius Bumi paling hebat abad ini”. Penonton juga tahu, di film Superman II, meskipun Jenderal Zod dan dua temannya mempunyai kekuatan setara dengan Superman (karena sama-sama dari planet Krypton), tetap saja kemenangan akhir akan menjadi milik Superman.

Tetapi mungkin bukan itu yang ditunggu-tunggu penonton. Bisa jadi penonton lebih ingin melihat Clark Kent yang kikuk itu berlari sambil melepas kacamatanya, merobek kancing bajunya dan memperlihatkan (ke penonton, tentunya) logo ‘S’ yang terkenal itu, lalu terbang melesat sebagai Superman. Dan penonton bertepuk tangan. Proses transformasi ini menjadi semacam trademark Superman sekaligus milik penonton. Penonton memaknai proses itu, sekaligus ikut memilikinya, dengan mengidentifikasi dirinya sebagai apa yang (ingin) mereka lihat. Jauh di lubuk hatinya, everyone wants to be Superman. Berikutnya, tentu saja adalah sajian aksi heroik yang fantastis, yang memuaskan hasrat terpendam setiap penonton untuk “menjadi lebih dari sekadar dirinya yang sekarang”. Mengenai hasrat mendasar ini, kita sepakat dengan komentar Stan Lee (kreator superhero Hulk, Spider-Man dan Daredevil) tentang popularitas Superman, “Most every guy wishes he could be more than he is. Who wouldn’t love to fly? Who wouldn’t love to be bulletproof? And X-ray eyes!”

Film adalah bentuk komunikasi dengan penonton, dan pencerita yang baik tahu betul cara memperlakukan audience-nya. Penonton dilibatkan, tidak dijauhkan, apalagi jika telah ada sesuatu yang terlanjur di awang-awang. Untuk itu diperlukan strategi berupa pendekatan emosional. Dalam terminologi Superman, ada sosok Clark Kent. Di satu sisi Superman adalah manusia super dengan kekuatan super-segalanya, nyaris tanpa cacat dan kelemahan (kecuali batu Kryptonite hijau, tentunya); katakanlah ini adalah sisi “sesuatu yang terlanjur di awang-awang”. Namun di sisi lain, dia adalah seorang Clark Kent, yang dengan segala kecanggungan dan kekikukannya, adalah seorang manusia biasa. Sosok Clark Kent inilah yang berperan “membumikan” karakter Superman. Di sini penonton didekatkan secara emosi, karena Clark Kent adalah “seperti kita juga”.

Sisi emosional ini—yang cukup manusiawi—menempati porsi cukup banyak di film Superman: The Movie. Clark Kent remaja, menumpahkan kekesalannya—karena ditinggal teman-temannya pulang naik mobil—dengan menendang keras-keras bola rugby ke arah langit (dan tentu saja bola itu terlontar sangat jauh). Tak cukup hanya itu, Clark pun menempuh perjalanan pulang dengan berlari secepat kilat, mendahului mobil temannya, bahkan mengalahkan kereta api yang melaju kencang. Di akhir cerita, sisi emosional ini bahkan mencapai taraf yang berlebihan. Di sebuah kerusuhan kota akibat gempa yang ditimbulkan rudal Lex Luthor, mobil Lois Lane terperosok ke dalam rekahan gempa, dan Superman terlambat menyelamatkannya. Lois meninggal terkubur pasir. Superman sedih dan marah, lalu terbang dengan emosi yang meluap-luap ke luar angkasa, mengitari bumi berulangkali dengan kecepatan tinggi… dan memutar balik waktu! Ya, Superman memutar mundur waktu sampai pada keadaan sebelum Lois terjebak gempa, sehingga sempat untuk diselamatkan dari kematian. Dalam hal ini, masalah emosi dan subjektivitas Superman dikedepankan, tak peduli apakah itu melanggar hukum alam dan nilai-nilai moralitas. Setidaknya, nilai-nilai moralitas yang selalu diajarkan oleh Jor-El (ayah Superman di Planet Krypton): “My son, you are not allowed to interfere human history…” Superman melanggarnya, menentukan nilai-nilai moralitasnya sendiri dengan mengedepankan perasaan. Mungkin inilah fenomena yang menurut Michel Foucault, pemikir asal Prancis, sedang terjadi di dalam masyarakat Barat kontemporer, “ranah utama moralitas, bagian dari diri kita yang paling relevan bagi moralitas, adalah perasaan-perasaan kita”.

Pendekatan emosi ke penonton, juga dilakukan dengan menempatkan posisi Superman sebagai bagian integral dari masyarakat. Di film Superman: The Movie, setelah aksi go public-nya yang pertama, Superman diwawancarai oleh Lois Lane. “Who are you?” tanya Lois Lane. Superman menjawab, “A friend.” Rupanya Superman ingin menunjukkan dia adalah teman bagi siapa saja, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat luas. Maka aksi heroik Superman pun melibas batas-batas rasial maupun geografis. Dia bisa hadir di belahan dunia manapun: menghentikan aksi teroris di Menara Eiffel Paris, menolong anak kecil di Air Terjun Niagara, atau menyelamatkan seorang pekerja kulit hitam yang jatuh dari ketinggian sebuah proyek bangunan. Superman adalah milik universal, dan karena itu Superman begitu populer. Lambang ‘S’-nya yang legendaris itu, muncul sebagai stiker-stiker di kaca mobil, pintu-pintu kamar, atau di baju-baju kaos di seluruh dunia. Pada tahun 1960-an, muncul film Superman versi India. Di Indonesia, pada tahun 1974 muncul film Rama Superman Indonesia, karya sutradara Frans Totok Ars. Epigon lainnya juga muncul di dunia komik Indonesia lewat tokoh Godam. Superhero lokal karangan komikus Wid N.S. yang populer di tahun 1970-an ini mempunyai kekuatan mirip Superman, dengan lambang ‘G’ di dadanya.

Namun perlu diingat, seuniversal apapun Superman, sejatinya dia tetap milik Amerika. Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh ini ketika Amerika Serikat sedang dilanda masa Depresi, dan publik membutuhkan figur panutan. Superman, dengan kostum merah birunya (mengingatkan kita pada bendera star and stripes kebanggaan warga AS) langsung tampil sebagai pahlawan. Publik Amerika seolah menemukan harapan pada sosok Superman. Semasa Perang Dunia II, tentara Amerika membaca komik Superman untuk membakar semangat mereka. Dalam komik, Man of Steel itu digambarkan bahu membahu dengan tentara Amerika melawan musuh-musuh perangnya. Bahkan diceritakan, Superman terbang ke Berlin menangkap Hitler, lalu ke Moskow meringkus Stalin! Di film Superman: The Movie, yang konon pemutaran perdananya di AS dihadiri Presiden Jimmy Carter, jelas-jelas Superman mengungkapkan alasan kemunculannya dengan kata-kata monumental, “I’m here to fight for truth, justice and the American way…” Superman adalah pahlawan, ikon kultural, sekaligus cerminan kesombongan Amerika itu sendiri.

Maka di beberapa filmnya, sering kita jumpai Superman terbang mengibarkan bendera star and stripes, mengembalikannya ke Gedung Putih, atau menancapkannya di permukaan Bulan. Atau Superman (baca: Amerika) menyelamatkan Moskow (baca: Uni Sovyet) dari ancaman bom atom Nuclear Man. Atau Superman berpidato perihal perdamaian dunia, dengan mengutip kata-kata Dwight D. Eisenhower, jenderal kebanggaan AS. Atau ketika Bumi hendak dikuasai Jenderal Zod dari planet Krypton, Presiden AS berbicara atas nama umat manusia seluruh dunia.

Jadi, bisa kita pahami—entah dengan rasa simpati atau geli—pernyataan George W. Bush sehubungan dengan tragedi Selasa Hitam 11 September 2001: “Freedom is under attack.” Yeah, “freedom“, saudara-saudara! Bukan (sekadar) Amerika. Di dunia nyata, Presiden AS itu berbicara atas nama “kebebasan” dan umat manusia—mirip kisah-kisah di komik dan film. Bedanya, di dunia nyata tak ada Superman yang menghentikan teroris menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Di dunia nyata, gedung World Trade Center tetap luluh lantak. Di dunia nyata, yang ada hanyalah Christopher Reeve, yang duduk terpaku di kursi roda merenungi nasibnya—mungkin sambil sesekali mengenang keperkasaan Superman. Tapi pendapat Reeve, yang meredefinisi arti kata “hero”, benar-benar layak kita dengarkan: “… a hero, adalah manusia biasa, yang menemukan kekuatan untuk berjuang keras dan tetap bertahan, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.” Musibah memang tak jarang membuat manusia lebih bijaksana. Kita, manusia biasa, tak harus jadi manusia super untuk bisa menjadi pahlawan. [Budi Warsito]

Bandung, April 2002

Comment (1)

  1. ellen 9 years ago

    Tulisan yg menarik, justru wkt ditulis di era Superman sdh basi sbg superhero. Sepakat dia hanya ‘manusia biasa’, paling nggak dari hasrat eksistensialis dia. Pernah kepikir knp jg dia hrs ‘hijrah’ ke Bumi? Krn hanya di planet inilah dia bs jd istimewa! Krn di Krypton semua orang adalah Superman! “I don’t think that there’s anything worse than being ordinary,” Mena Suvari di American Beauty.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe