Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Kineruku Layar Tancep:
Impian Kemarau (Ravi Bharwani, 2004)

Kineruku Layar Tancep:
Impian Kemarau (Ravi Bharwani, 2004)
23/08/2009

Kineruku Layar Tancep
Jalan Hegarmanah 52 Bandung
Sabtu, 22 Agustus 2009
Pukul 19:00 WIB
Gratis.

Impian Kemarau (The Rainmaker)
Ravi Bharwani, Indonesia, 2004, 83 menit
a Ravi Bharwani, Salto Films, and Cinemapshere Production

Seperti halnya anak, beberapa karya memang terlahir pendiam. Dia tak hendak menyeruak ke tengah keramaian, melainkan terselip di pojok gelap, kadang terlupakan. Impian Kemarau (2004) adalah semacam ‘anak sulung’ yang tak banyak omong, lahir dari tangan Ravi Bharwani jauh sebelum film dia berikutnya, Jermal (2008). Sebelumnya Ravi pernah menyutradarai film Viva Indonesia (2001), keroyokan bersama 4 sutradara lainnya, seperti halnya Jermal yang dia garap bersama 2 sutradara lainnya. Namun Impian Kemarau-lah film panjang pertama yang utuh penuh garapan Ravi sendiri, yang justru luput dari perhatian khalayak, meskipun menurut kritikus Eric Sasono, adalah “sebuah film yang luar biasa”.

Impian Kemarau berkisah tentang desa tandus nan kering di Gunungkidul, Yogyakarta, tempat bertemunya 3 orang dengan tujuan hidupnya masing-masing. Johan, seorang meteorolog yang dikirim khusus untuk mendatangkan hujan buatan demi mengakhiri kemarau yang berkepanjangan. Asih, seorang penyanyi sinden lokal, yang pita suaranya kemudian seolah menjelma penyejuk bagi jiwa kering Johan. Dan seorang pembantu Asih, di mana pengabdian dirinya tulus tanpa pamrih pada sang majikan. Berbeda dengan cara Johan memandang hidup, sang pembantu justru lebih mengambil posisi sebagai pengamat dan pasrah menerima, menjalani hidup tanpa bertanya atau berharap.

Benturan antara tradisi yang mengungkung dan hasrat diam-diam untuk merdeka, juga rumitnya keadaan yang timbul karenanya, termasuk perkara seksualitas dan relasi kekuasaan, disajikan dengan kadar puitis maksimal sepanjang delapan puluh menit film ini. Metafora Jawa bertebaran di sana-sini, berkelindan dengan perangkat teknologi yang menghamba pada kemurahan langit. Semuanya dibangun dengan ritme pelan dan ketekunan yang mengagumkan. Sebagai film “mood” yang atmosferik, dia membebaskan penontonnya menikmati pengalaman atas ilusi yang ditawarkan di layar. Visual lirih yang sarat makna, juga pilihannya untuk irit soal kata-kata, lebih mengajak kita untuk ‘merasa’ ketimbang sekadar ‘melihat’.

Impian Kemarau adalah anak pendiam sekaligus mutiara terpendam. Dia seperti memilih (atau takdir yang memilihnya) untuk menepi ke sudut, justru ketika lampu sorot sangat layak baginya. Meski memenangkan The Best Film untuk kategori Asian New Talent Award di ajang The 8th Shanghai International Film Festival pada tahun 2005, film ini malah tak sempat beredar di bioskop di Indonesia maupun dirilis resmi dalam bentuk DVD. Pemutaran perdananya pun bukan di negeri sendiri, melainkan di Pusan International Film Festival 2004, sekaligus berlaga di sesi kompetisi ajang film paling bergengsi se-Asia tersebut. Setelah itu, dia berkeliling menyinggahi beberapa festival film internasional di Eropa.

Sabtu ini, peminat film di Bandung mendapat kesempatan langka untuk menyaksikan karya hebat ini.

[Kineruku: enjoy the cinema!]

UPDATE: Untuk reportase acara, klik di sini.

Comments (4)

  1. burqi 10 years ago

    would be my first time to watch movie @ RUBUKU,,hehe.. thx n.n

  2. Ihwan 10 years ago

    Wah kisah di desa tandus Gunungkidul yogya? menarik…

  3. Gi 4 years ago

    Sampe sekarang ini blom ada DVD nya?

Pingbacks

  1. Author

    […] pada tahun 2009 ada film-film pendek Ifa Isfansyah (sebelum Sang Penari, tentunya), juga ada Impian Kemarau (tapi Ravi Bharwani sendiri malah nggak dateng!), Eliana, Eliana (ini personal favorite saya dan […]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe