Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Pat Metheny, Mahadewa Gitar yang Pernah Ada

Pat Metheny, Mahadewa Gitar yang Pernah Ada
05/08/2009

Karena terbiasa dengar musik rock dan sejenisnya, dulu aku cukup yakin bahwa Brian May, Eddie Van Halen, Joe Satriani, atau Steve Vai merupakan gitaris paling hebat sedunia. Tapi semakin banyak jenis musik yang aku dengar, tambah yakinlah bahwa keyakinan itu bisa dibantah, dan akhirnya rontok perlahan-lahan. Perubahan itu semakin drastik ketika makin banyak album Pat Metheny yang aku dengar.

Aku pertama kali dengar Pat Metheny dari KLCBS, stasiun radio jazz di kotaku, Bandung. Tentu awalnya aku belum tahu bahwa itu karya gitaris berambut bak surai singa itu. KLCBS menggunakan satu atau dua karya Metheny sebagai musik latar untuk informasi mereka, sampai sekarang. Sebagian lagi mereka putar per lagu. Penyiar KLCBS, entah karena kebijakan apa, jarang menyebut musisi atau judul lagu yang mereka putar. Tapi kadang-kadang mereka menyebutkannya juga. Lama-lama aku tahu bahwa lagu yang mereka gunakan ialah “Last Train Home” dan “Phase Dance.”

Minatku pada Pat Metheny tambah besar ketika aku makin sering dan intens dengar jazz. Suatu hari seorang temanku meminjami aku VCD konser Pat Metheny, Secret Story, yang menurutku jauh lebih subtil daripada konser gitaris rock atau heavy metal. Tampaknya gitaris rock cenderung heboh sendiri atau narsis bila sedang manggung, apalagi ketika sedang melakukan solo gitar; sementara gitaris jazz justru cenderung lebih mementingkan musik apalagi bila sedang melakukan solo. Mereka mungkin jarang kelihatan bergaya, tapi malah memperlihatkan performa hebat secara keseluruhan.

Kira-kita tahun 1996, aku beli album Pat Metheny yang terdengar sangat ajaib dari Yuliani Liputo, judulnya Zero Tolerance for Silence. Album itu sepertinya terdengar hanya berisi distorsi gitar. Selama mendengar, keherananku hanya begini: “Kok kepikiran sih bikin album seperti ini?” Album itu membuyarkan bayanganku bahwa karya-karya dia senantiasa agung dan diciptakan dengan ketelitian hebat. Tapi rupanya album itu menyimpan kontroversi dengan cerita sendiri. Setelah itu dengar Beyond the Missouri Sky (Short Stories) yang nuansanya mengawang-awang, seakan-akan mengetengahkan semesta nan luas.

Baru waktu Rumah Buku menyediakan sejumlah album Pat Metheny, kepenasaranku pada musik dia makin terpenuhi. Di sana tersedia Still Life (Talking), Letter from Home, The Road to You, We Live Here, Imaginary Day, juga Beyond the Missouri Sky, Pat Metheny Trio, I Can See Your House from Here, dan One Quiet Night, album solo terbarunya.

I Can See Your House from Here merupakan album duet bersama John Scofield, seorang dewa gitar lain yang mungkin juga terabaikan dari scene gitaris umum—yang biasanya memang lebih peduli pada gitaris rock. Album ini ternyata sangat hebat. Judulnya saja sangat kena, seakan-akan bilang mereka tahu rahasia dapur masing-masing. Highly recommended.

Kerja sama Metheny/Scofield bukan sekadar pertemuan dua mahadewa gitar atau datang untuk bersahut-sahutan, melainkan saling isi dan menjalin. Seakan-akan berusaha saling paham, berkomunikasi. Rasanya belum pernah aku dengar album gitar sehebat ini, bahkan hasil pertemuan gitaris rock sekalipun. Terlintas nama Cacophony (Marty Friedman & Jason Becker) untuk diadukan, tapi menurutku Cacophony monoton dan lebih ngotot untuk kebut-kebutan. Mungkin lebih menarik membayangkan Tom Morello dan Steve Vai bikin album duo yang betul-betul senyawa, bukan sekadar pamer aksi memainkan efek dan kecepatan. Menurutku, nuansa I Can See Your House from Here ini lebih condong ke rock ketimbang jazz.

Patrick Bruce Metheny lahir pada 12 Agustus 1954 di Lee’s Summit, Missouri, Amerika Serikat. Dia memutuskan total main musik setelah ke luar dari University of Miami, yang hanya dia masuki satu semester. Namanya mulai muncul di ranah jazz pada 1975, ketika dia gabung dengan band Gary Burton dan merekam sebuah album trio bersama Jaco Pastorius (bass) and Bob Moses (drum) berjudul Bright Size Life. Pada 1977 Metheny merilis Watercolors, yang menampilkan Lyle Mays (piano, keyboards). Kerja sama dengan Mays ini secara resmi dia kukuhkan sebagai Pat Metheny Group (PMG), yang pada 1978 menghasilkan album perdana menggunakan nama tersebut.

Dengan PMG boleh dibilang Metheny mencapai puncak kreativitas dan popularitas, meski dia terus bertualang mencari berbagai alternatif terhadap batasan-batasan musik. Dia bisa berkolaborasi baik sebagai duet, trio, pemain tamu, menghasilkan album etnik, belum lagi solo. Maka gayanya sulit dijelaskan, tapi yang jelas merupakan unsur dari progressive jazz dan jazz kontemporer, post-Bop, jazz-rock fusion, and folk-jazz. Salah satu contohnya ialah pada tahun 1998 PMG memenangi dua Grammy Award kategori Rock Instrumental Performance untuk “The Roots Of Coincidence” dari album Imaginary Day, sekaligus Contemporary Jazz Performance untuk album tersebut. Ke mana saja tuh gitaris rock pada tahun itu?

Di album Pat Metheny Trio 99 –> 00 (2000), aku berspekulasi, kalau penggemar rock/metal dengar, mereka mungkin akan malu bilang bahwa John Petrucci, Yngwie J. Malmsteen, atau Vernon Reid sebagai dewa gitar. Ini tentu pendapat berlebihan untuk menonjolkan betapa gila daya jelajah Metheny. Di album live-nya, Trio –> Live, ada lagu “Faith Healer” (19 menit), yang mungkin tak pernah terbayang bakal tercipta bahkan oleh gitaris metal terhebat yang pernah ada.

PMG juga termasuk band jazz besar yang awet. Selain dua pendirinya, anggota lain yang paling bertahan ialah Steve Rodby (Bass) dan Paul Wertico (drums). Meski begitu mereka kerap menampilkan musisi tamu, yang lama-lama jadi bagian utuh grup tersebut, terutama ketika tur, misalnya Mark Ledford (vocals, trumpet, gitar), Armando Marçal (perkusi), dan Nana Vasconcelos (perkusi dan suara mulut). Dengan PMG juga Metheny memenangi belasan Grammy Award. Tapi entah kenapa, setelah menghasilkan The Way Up (2005) yang ambisius, grup ini istirahat. Metheny kemudian malah terlibat dengan Brad Mehldau, sesama pianis seperti Mays, untuk menghasilkan dua album. Hanya saja Mehldau lebih tampak sebagai pianis tradisional daripada Mays yang memberi nuansa begitu kaya dalam latar musik mereka.

The Way Up merupakan album konsep yang terdiri dari satu lagu sepanjang 68 menit, namun dipecah jadi empat bagian, semata-mata untuk kepentingan navigasi CD dan keperluan komersial. Pembukanya (Opening) merupakan intro sepanjang lima menit yang amat luar biasa dan sempurna sebelum masuk ke wilayah musik yang kompleks, meliuk-liuk, mengawang-awang, menegangkan, namun juga amat terampil, dinamik, dan memperlihatkan improviasasi dan permainan solo hebat. Metheny menyatakan bahwa album itu merupakan reaksi terhadap kecenderungan musik sekarang yang biasanya menuntut perhatian singkat-singkat namun kekurangan nuansa dan detail. Argumen yang sangat wajar. Ganjarannya, pada 2006 album ini memenangi Grammy Award untuk Best Contemporary Jazz Album.

Dengan puluhan album yang telah dia hasilkan, mendengarkan Pat Metheny seperti merupakan petualangan menjelajahi musik yang tiada habis. Aku sendiri belum mendengar SEMUA karya dia. Namun, apalagi yang ingin aku dengar dari karyanya, kecuali sejumlah album yang mungkin sulit aku dapat, misalnya Upojenie (2002) albumnya bersama Anna Maria Jopek dan The Falcon and the Snowman (1985), sebuah soundtrack dari film berjudul sama, di sana mereka bekerja sama dengan David Bowie—teman main Setiawan Djody. Aku sendiri bergantung pada Rumah Buku dan Satia Nugraha untuk mendapatkan banyak diskografi Metheny.

Moral utama yang aku dapat dari mendengar karya-karya Metheny ialah totalitas dan kualitas. Jika kamu seorang gitaris, jadilah gitaris hebat, produktif, inovatif, membuka seluruh kemungkinan. Jika kamu penulis, tulislah sebaik-baiknya, sebanyak mungkin, totallah di sana. Semangat seperti itu tentu baru sedikit saja bisa aku lakoni, itu pun dengan kualitas yang boleh dipertanyakan. Tapi seperti daya dobrak Metheny yang hebat, inspirasinya selalu kuat. Bukankah hebat ketika kita dengar musik, ternyata di sana juga ada semangat dan dinamika hidup? [Anwar Holid]

Anwar Holid, sayangnya, tidak bisa main gitar. Apa ini termasuk ganjil? Dia bekerja sebagai editor dan penulis, juga blogger di http://halamanganjil.blogspot.com.

[MP3]
Pat Metheny – Soul Cowboy
Charlie Haden & Pat Metheny – Cinema Paradiso (Love Theme)
John Scofield & Pat Metheny – Say The Brother’s Name
Pat Metheny Group – The Roots of Coincidence

Rumah Buku mengoleksi beberapa karya Pat Metheny, di antaranya: One Quiet Night (2003), Trio 99 –> 00 (with Bill Stewart and Larry Grenadier, 2000), Imaginary Day (1997), Beyond the Missouri Sky (with Charlie Haden, 1996), I Can See Your House from Here (with John Scofieldz, 1993), The Road to You (1993), Letter from Home (1989).

Selengkapnya lihat di sini.


Comments (10)

  1. wartax 10 years ago

    wah, belum ada yang komen euy. tapi semoga pada tertarik denger musik pat metheny di link itu.

  2. arif purnomo 10 years ago

    kyknya saya jadi orang yang komen pertama kali nih…ha2..
    saya justru tau pat metheny ketika saya baca biography dewa budjana, saya emang pengagum dewa budjana…dalam tulisan itu disebutkan salah satu musisi yang menginspirasi budjana adalah pat metheny. nah dari situ saya mulai mencari tau siapa itu pat metheny, jujur sempet kebingungan juga nyari cd nya karena ternyata susah…album pertama yang saya dapatkan waktu itu one quiet night, dan saya langsung suka dengan apa yang dia mainkan di album itu..kalau saya bilang dia itu musisi yang jenius, terdengar dari karya2nya sih..sangat kaya eksplorasi..salah satu gitaris terbaik di dunia yang saya tau…yah pada akhirnya saya menjadi pengagumnya juga sampai sekarang …saya masih berburu album2nya juga sampai sekarang ha2…thanks udah ngasih tau tempat yang ngejual album2nya..

  3. WARTAX 10 years ago

    makasih sudah baca & komentar. di rumah buku cukup banyak tersedia album pat metheny. mungkin kalau mas tinggal di bandung, lebih baik lagi lihat-lihat koleksi rumah buku lainnya. menarik & bagus-bagus.

  4. Sudani 10 years ago

    viva Mr Pat!
    Setelah beberapa lama ngumpulin albumnya satu2, akhirnya nyaris lengkap. Cuma kalo beli CDnya susah, alhasil cuma nyari mp3nya.
    Sekarang lagi seneng nonton n dengerin “the way up” versi live in Korea, menurut saya fantastis, gak bosen bosen.
    kalo dengerin gitaris satu ini maen, nyeselnya cuma satu : saya gak bisa main gitar :D

    * btw setelah minta di salah satu forum, akhirnya udah dapet yang terbaru, quartet live with gary burton.

  5. wartax 10 years ago

    Salam,

    Sudani, boleh enggak aku pinjem/copy konser “the way up” live in Korea? Kalau bisa, makasih banget. Bisa dititipkan via Rumah Buku.

  6. Danan 10 years ago

    Pat Metheny saya tau sekitar pertengahan tahun 1980-an. Waktu itu saya lihat film The Falcon and The Snowman (Sean Penn dan Timothy Hutton, kalo tidak salah). Lagunya bukan main… coba saja dengar The Flight of the Falcon. Kocokan gitarnya, bukan kocokan biasa. Kemudian saya bisa dapat kasetnya, kemudian bertahun-tahun kemudian baru saya bisa punya cd-nya. Hebatnya, kekayaan nada dan suara dalam album itu lahir dari Pat dan Lyle (tentu ditambah vokal David Bowie yang oke sekali dalam This Is Not America). Memang bukan main.
    Jadilah saya pecandu Pat Metheny. Sudah dengar lagu2nya dalam album As Wichita falls, so falls Wichita Falls? Bagus. Lalu ada satu lagi album soundtracknya selain The Falcon, yakni A Map of The World… dengerin deh.
    Saya bukan pemain gitar. Musik adalah sesuatu yang cuma bisa saya nikmati. Sebagai penikmat, saya terkagum-kagum membayangkan bagaimana jari2 Pat menggerayangi senar2 dan leher gitarnya. Gitarnya pun ber-macam2. Dengan semua itu dia bisa menghasilkan “suara2” yang… tak terkatakan. Subtil.
    Yang juga jadi kekhasan Pat Metheny adalah kaos yang dia pakai setiap kali konser selalu strip2 seprti zebra. Sementara dia dan teman2nya selalu bersikap santun sekali setiap kali konser.
    Pat pantas memang disebut “mahadewa” gitar.

  7. Danan 10 years ago

    Saya koreksi, judul album seharusnya As Falls Wichita, So Falls Wichita Falls…
    Thanks.

  8. andy 10 years ago

    Saya salah satu penggemar berat Pat Metheny. Koleksi CD, DVD (juga laser disc) saya lengkap (kecuali album Upojenie). Bahkan saya juga koleksi kaos t-shirt Pat Metheny atau PMG nya. Musik Pat Metheny memang luar biasa. Album2 barunya selalu saya tunggu. Coba simak album barunya Orchestrion. Musiknya asyik, enak didengar, khas typikal Pat Metheny. Dia memainkan seluruh alat musik (gitar, piano, drums, vibraphone, perkusi dll) by himself ! Edan nya dia bisa memainkan secara live lagu2 dari album Orchestrion tersebut dengan dia hanya bermain sendirian. Edan ! genius !

  9. Zae 9 years ago

    Sy hanya bisa memainkan komposisi yg berjudul : Last Train Home versi livenya. Pat Metheny memang mahadewa gitar. Nada2 yg dimaenkan Pat sangat rumit dan cepat sampai sangat cepat, tp plg enak didengar di telinga saya. Benar2 gitaris cerdas. Udah dulu ah komennya, nanti dilanjut lg ea. Salam kenal ea. :p

  10. soepri 9 years ago

    Tidak bisa dipungkiri bhw Pat Metheny memang hebat. Salah satu kehebatannya adalah mampu membuat komposisi yang seimbang antara easy listening (ngepop) sekaligus tetap berciri khas dan bermutu, tidak kacangan sama sekali.

    Coba liat komposisi yg kelihatannya sederhana macem last train home…

    Perkusinya mirip kereta api yg sedang jalan…sound gitarnya mirip bel kereta api…hmmm…benar2 khas namun tetap easy listening.

    Selain pat hanya satu grup yg mampu membangun komposisi semacam ini dg baik yaitu Cream lewat Traintime.

    Tapi Traintime-nya Cream samasekali tidak easy listening…(walaupun tetap keren)

    Okeeeee….

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe