Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Birth of the Cool | Miles Davis

Birth of the Cool | Miles Davis
18/09/2008

Kineruku menandai album ini dengan “recommended“; saya malah ingin menegaskan: “highly recommended.”

Mendengar album ini benar-benar pengalaman melampaui batas. Sebagaimana bila mendengar sebuah masterpiece atau album klasik, kita sama sekali tak merasa sedang mendengar album produksi lebih dari setengah abad lalu (persisnya tahun 1949), tetapi seakan-akan mendengar album rilisan tahun ini, ketika pemain jazz hip seperti Chris Botti, Michael Bubble atau Jamie Cullum dan Norah Jones berhasil menyeruak jadi bintang di antara pop star lain.

Kualitas soundnya terdengar nyaris tiada beda dengan rekaman zaman mutakhir, entah kalau saya terlalu berlebihan menilai album ini. (Yang saya dengar ialah rilisan versi 1957.) Dengan durasi rata-rata 3 menit, album ini menjelma menjadi serangkaian komposisi yang mudah sekali diterima telinga, jauh dari prasangka awal bahwa album ini siapa tahu bakal berisi komposisi rumit, panjang, dan harus didengar dengan penuh perhatian. Putar album ini sambil tetap melakukan aktivitas normal, biarkan dia mengalir mengisi ruang dan waktu, tahu-tahu semua lagu mengalun, di awali serangkaian jazz yang segar, ceria, ekspresif, ditutup dengan lagu yang syahdu, lantas balik lagi ke urutan pertama, dan mengalun ulang. Tentu saja ada yang bertempo lambat, seperti “Moon Dreams”, yang menghasilkan nada-nada indah dan syahdu, bukan melankolia (kesedihan).

Sebagai album seminal (sangat orisinal dan berpengaruh) dalam sejarah cool jazz, Birth of the Cool memang mengagetkan sekali. Album ini lain sekali dengan tipikal karya Davis yang panjang, sepi, sekenanya—misal dalam album ‘Round Midnight (live), yang hanya terdiri empat nomor. Memang solo Davis sudah menonjol, terdengar sekilas-sekilas, energik, diperkuat dan ditimpali Gerry Mulligan (baritone sax) dan Lee Konitz (alto sax), namun dia tak mendominasi, tetap memberi ruang yang sama besar untuk semua instrumen dan orang lain, menghasilkan nuansa bersemangat dan positivisme.

Menurut sejarah, kelompok bersembilan orang Miles Davis yang terlibat dalam sesi pembuatan album ini mengadopsi pendekatan musik klasik, maka aransemennya terdengar inovatif. Hampir semua review profesional memberi label “sempurna” untuk album ini, di antaranya Allmusic, MusicHound, Penguin Guide to Jazz, dan RS Album Guide, sementara lainnya memberi bintang empat setengah dari skala lima. Sungguh sebuah album yang sulit untuk dilewatkan, atau minimal mesti masuk dalam daftar album yang segera harus didengar. Dari sinilah ternyata nomor-nomor standar Davis berasal, antara lain Jeru, Budo, Venus de Milo, dan Israel. Track pertama, “Move”, langsung menghentak, seru, dan harmonis, seolah-olah menawarkan penjelajahan musikal yang bakal sulit diduga di track selanjutnya. “Darn That Dream” terdengar seolah-olah menjadi bonus track, sebagai satu-satunya lagu bervokal/berlirik, disimpan terakhir setelah semua puas main musik.

DiKineruku ada lagi album setipe dengan ini, namun terdengar menggunakan pendekatan berbeda, lebih rapi dan terkontrol, yaitu Out of the Cool karya Gil Evans—musisi yang ternyata berperan besar di balik pembuatan album Birth of the Cool. Selain menjadi komposer beberapa lagu dalam album ini, dialah yang menyediakan apartemennya sebagai tempat berkumpul band Miles Davis untuk berlatih merekam album legendaris ini.

[Anwar Holid]

 

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe