Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Jens Lekman – Night Falls Over Kortedala (2007)

Jens Lekman – Night Falls Over Kortedala (2007)
25/05/2009

Night Falls Over Kortedala
Jens Lekman
Secretly Canadian, 2007

Curhatan Jujur Seorang Sahabat

Menyimak lagu-lagu Jens Lekman rasanya sama seperti menyediakan kuping bagi sahabat kita yang lucu dan melankolis. Kita tahu, curahan hati seseorang, baik yang kita dengarkan langsung atau dia tuliskan di buku harian, belum tentu sepenuhnya jujur. Bisa jadi dia membuat semuanya lebih baik dari kelihatannya. Namun, hal ini tampaknya tak berlaku pada Lekman: melalui liriknya ia seperti bercerita apa adanya. Tak ada usaha puitis berlebihan, atau membesar-membesarkan kadar tragisnya. Betul-betul apa adanya, seabsurd apapun pengalamannya. Pada diri pria asal Kortedala, Swedia itu, inilah daya tariknya: lirik jujur, cerkas, humoris.

Selain piawai soal lirik melirik, tentulah aransemen yang cenderung simpel dan catchy juga membuat kita betah berlama-lama mendengarkan celotehannya. Album Night Falls Over Kortedala dibuka dengan “And I Remember Every  Kiss”, bunyi string yang membahana membuat kita membayangkan film epik klasik. Di lagu ini Lekman bersumpah: dia hanya akan mencium seseorang jika ciuman tersebut mampu “membakarnya”, layaknya ciuman pertama.

Belum puas dengan lagu pertama, di lagu kedua, “Sipping on the Sweet Nectar”, Lekman kembali mengoceh perihal ciuman pertama. Bedanya, kali ini Lekman terdengar lebih ceria, mungkin karena dia sudah sempat curhat pada sahabatnya (“…so I called up Lisa/ ’cause she’s my only friend…“). Lekman kembali merayakan ciuman pertamanya, meski dengan sedikit sesal. Ya, ciuman pertama memang tak selalu seindah yang dibayangkan: lengkap dengan kembang api dan menara Eiffel sebagai latar belakang. Intro lagu ini seolah melempar kita ke tahun ’80-’90an, di mana opening theme song serial-serial TV sangat gemar menggunakan synth.

Di lagu “The Opposite of Hallelujah”, kita seolah diminta memerankan sang ‘little sister‘ yang di-curhatin Lekman di pinggir pantai. Lekman berharap kita tidak memprotes tindakannya atas apa yang telah ia alami: bahwa hidupnya sangat berkebalikan dengan hidup saudara perempuannya, yang dia analogikan sebagai Hallelujah, sang puja puji. “You don’t know what I’m going through…” keluhnya berulang-ulang. Lucunya, meski protes, lagu ini tetap terdengar ceria.

Lagu favorit saya (dan banyak orang lainnya) tentulah “A Postcard to Nina”. Saya menobatkannya sebagai lagu termanis dan lirik terkocak—masing-masing dalam kadar yang pas. Di lagu ini, ketika Lekman selesai menuliskan ‘kartu pos’ untuk Nina, dia bubuhkan tanda tangannya “Yours truly, Jens Lekman“. Rasanya langsung sakit gigi atau diabetes saking manisnya.

Tak jarang kejujuran Lekman terkesan brutal, tapi, memang itulah hal paling benar untuk dilakukan, bukan? Dalam “I’m Leaving You Because I Don’t Love You”, terlihat betapa judul itu menyampaikan apa yang memang harus disampaikan, tanpa polesan make-up, straight to the point. Untuk mengetahui latar belakang ‘kebrutalan’ tersebut, silakan dengar keseluruhan liriknya.

Sementara “If I Could Cry (It Would Feel Like This)” hanya berisi kalimat persis seperti judulnya, meski kadang ditambah “Ooh…” dan alunan ‘biola’ yang menyayat di sana sini. Jangan-jangan lagu ini menginspirasi Melly Goeslaw menciptakan lagu yang irit lirik. Selanjutnya, “Your Arms Around Me”, sekilas mirip penggambaran mimpi yang aneh. Kian terasa aneh ketika suara harpa digabung dengan loop, dan betapa ungkapan “God is in details” sangat tepat untuk Lekman yang cermat membangun suasana, “I was slicing up an avocado/ when you came up behind me/ with your silent brand new sneakers.”

Tak hanya pengalaman pribadinya, Lekman juga berceloteh mengenai “Shirin”, seorang imigran asal Timur Tengah yang mengelola salon kecantikan tanpa sepengetahuan pemerintah setempat. Si tukang cukur mengoceh soal perang yang sedang berkecamuk di Irak, sembari santai memangkas rambut Lekman. Nada bernyanyi Lekman terdengar berempati—bukan mengasihani—atas nasib Shirin. Rupanya Lekman tak hanya brutal, tapi juga baik hati.

“It Was a Strange Time in My Life”, seaneh judulnya, menjelaskan kenapa orang bisa menjadi sangat pemalu. Pendapatnya sadis (“Most shy people I know are extremely boring“), tapi tetap mengundang senyum simpul atau bahkan gelak tawa. Sedangkan “Kanske Är Jag Kär I Dig” (I Think I’m in Love with You) menggambarkan bagaimana kikuknya dia di depan perempuan yang ia sukai—ah ya, itu pernah terjadi pada kita semua, bukan? Dan, setelah semua ke-jaim-annya itu gagal total (“my words are just c-c-c-coming out all wrong…“), akhirnya Lekman pun cepat belajar (“I sure could use a little help…“), menyadari bahwa lebih baik dia menjadi apa adanya saja di depan cewek itu (“I think I’m gonna drop my cool now.”), meskipun itu berarti akan terlihat tolol atau tidak keren. (“The best way to touch your heart is to make an ass of myself.”) Di penghujung lagu, terdengar beat patah-patah yang biasanya dipakai untuk lagu R&B atau hiphop, namun tak terdengar ganjil disandingkan dengan jiwa sendu nan manis ala Lekman. Lagu penutup, “Friday Night At The Drive-In Bingo” memuat kalimat terindah untuk sepasang muda mudi mabuk kepayang yang berniat kabur dari ‘dunia’. “We could fake our deaths to get insurance money and take on hippie names.” Yeah, apapun, Lekman.

Sekali lagi, album ini membuktikan Lekman adalah lirikus andal. Ia selalu berhasil membuat bait-bait lagunya bermakna, terkadang berima tanpa terkesan memaksa. Selain itu, secara keseluruhan berbeda dengan album-album sebelumnya, Lekman mengemas album ini dengan lirik melankolisnya yang lebih ceria tapi kalem—sekalem ekspresinya di sampul album. Saya agak merasa kehilangan nomor-nomor ‘power’ ballad seperti “Sky Phenomenon” dari kompilasi Oh, You’re So Silent Jens (2005) atau “If You Need a Stranger (To Sing at Your Wedding)” dari album When I Said I Wanted to Be Your Dog (2004) yang musiknya mengikuti lirik, amat sangat  melankolis.

Agaknya Lekman kali ini berusaha lebih optimis. Jika bukan dalam lirik, setidaknya dalam aransemen musik. Saya sangat bahagia mendapati perubahan kemasan curhat teman kita ini, yang dirangkum dalam sebuah buku harian musikal dengan nama kampung halamannya tertera di sampul depan.

[Lintang Melati]

 


Comments (3)

  1. Ivann 11 years ago

    review yang yahud :D

  2. reno 11 years ago

    >> Sementara “It Was a Strange Time in My Life”, seaneh judulnya, menjelaskan kenapa orang bisa menjadi sangat pemalu. Pendapatnya sadis (“Most shy people I know are extremely boring”), tapi tetap mengundang senyum simpul atau bahkan gelak tawa.

    jadi browse lirik lengkapnya. “i flirted with a girl in sign language ’cause she was deaf.”

    WAH!

  3. Lintang Melati 11 years ago

    @Ivann : Terima Kasih, Ivann.

    @reno : WAH! juga. Lekman memang jago merangkai lirik yang tidak disangka-sangka, sptnya seaneh apapun peristiwa dlm hidupnya, dia bisa menggambarkannya dgn semanis mungkin :)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe