Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

DJava String Quartet yang Hebat dan Akrab

DJava String Quartet yang Hebat dan Akrab
19/07/2010

I Listen To DJava String Quartet adalah album musik klasik yang dimainkan secara dinamis sekaligus enak sekali untuk didengar dan dinikmati. Ia jelas berakar kuat pada musik klasik dan betul-betul memperhatikan pakemnya, namun pendekatannya sangat akrab, merayu, bahkan kadang-kadang nadanya terdengar seperti sedang bercanda dan humoris, membuat album ini asyik untuk diputar terus-menerus. Suasana hangat itu menjadi nilai tambah dari album ini. Dia mengembalikan pada pemahaman awal bahwa musik itu sesuatu yang harus bisa dinikmati, membuat pendengarnya gembira, santai, dan mendapatkan pengalaman berharga setelahnya.

Meski dibuka dengan lagu berdurasi cukup panjang (sepuluh menitan), delapan lainnya merupakan lagu dengan durasi yang rata-rata sama dengan kecenderungan musik pop sekarang, yaitu sekitar empat menitan. Mungkin faktor pilihan lagu dan durasi yang membuat album ini jadi terasa sangat dinamis dan segar. Album ini mampu mengejutkan pendengar bahwa musik klasik ternyata bisa tampil secara gembira, luwes, informal, jauh dari kesan kaku dan resmi. Yang muncul ialah kepiawaian (virtuosity) keempat pemainnya, yaitu Danny Ceri (violin), Ahmad Ramadhan (violin), Dwi Ari Ramlan (viola) dan Ade Sinata (cello). Mereka bermain seimbang, terus saling menimpal memberi peran dan saling menguatkan.

Pada dasarnya album ini hanya menampilkan tiga komposisi. Pertama karya Joseph Haydn, yaitu “String Quartet No. 61 in D minor, Op. 76”, terdiri dari empat movement; kedua “Cublak-cublak Suweng Tema Variasi” aransemen karya Budhi Ngurah, dan ketiga karya Sulkhan Tsintsadze, “Three Miniatures for String Quartet” terdiri dari empat movement. Haydn sudah sangat terkenal sebagai salah satu bapak musik klasik yang paling berpengaruh dan terkenal; Tsintsadze merupakan komposer paling ulung dari negeri Georgia, sementara Budhi Ngurah—meski namanya bisa jadi masih asing—jelas mampu mengaransemen ulang lagu tradisional Indonesia dengan sangat apik. “Cublak-cublak Suweng” di sini terdengar sangat menggairahkan untuk dimainkan secara string; mereka sedikit memberi sentuhan nuansa nada-nada keroncong yang dimainkan dengan jenaka. Mendengarnya seolah-olah melihat sekelompok anak kecil yang main riang gembira, berlari-lari kecil, saling berkejaran di halaman luas nan asri.

Buat saya sendiri, penampilan terbaik DJava String Quartet tergambar hebat saat membawakan “Three Miniatures for String Quartet”. Dua menit pertama lagu ini mula-mula berirama sangat cepat, lantas reda, beralih jadi tenang, mendayu-dayu, sangat pelan dan menyayat, akhirnya secara bertahap naik kembali jadi cepat, bersemangat, bergelombang, membuat kita berayun-ayun. Sempurna, baik saat main bersama-sama maupun solo. Salut!

Yang juga menarik dari album ini soal produksinya. Meskipun sederhana dan murah, kualitas suara album ini tetap terdengar hebat dan rasanya tiada kekurangan apa pun di dalamnya. Kemasan simpel dan minimalis ini mengingatkan pada desain rilisan ECM. Kuartet yang terdiri dari mahasiswa Institut Seni Indonesia, Jogjakarta ini merekam album di studio milik Agus Suwage—seorang perupa kontemporer terkemuka Indonesia yang justru terkenal karena suka musik rock dan jazz. Ke depan, mungkin kita boleh berharap agar DJava String Quartet¬† menghasilkan album kedua, ketiga, dan seterusnya sama hebat dan menarik atau bahkan lebih dari album debut ini.

[Anwar Holid]

Yes, I Listen To DJava String Quartet
DJava String Quartet, 2010 (37 menit)

Foto ilustrasi diambil dari akun Facebook DJava String Quartet dan blog Tobucil.

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe