Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/wawancara/ Yusi Avianto Pareanom: “Buku Hebat adalah yang Menantang Kepenulisan Saya..”

/wawancara/ Yusi Avianto Pareanom: “Buku Hebat adalah yang Menantang Kepenulisan Saya..”
20/08/2013 admin

Pada Oktober 2012, Yusi Avianto Pareanom singgah ke Kineruku membagi kepiawaian dan keceriaannya di bincang buku Rumah Kopi Singa Tertawa, kumpulan cerpennya yang berhasil meraih penggemar loyal tersendiri. Diskusi bersama penulis sekaligus pendiri Penerbit Banana itu berlangsung hangat di tengah gerimis sore—dibuka dengan penampilan The Bo membawakan versi akustik satu nomor The Kinks—diselingi aneka racikan kopi dan terlalu banyak gelak tawa. Seorang kawan baik Kineruku, Anwar Holid, mewawancarai Yusi Avianto Pareanom via email setelahnya, untuk dimuat pada awal 2013 di blog pribadinya menjadi beberapa bagian. “Jawaban-jawaban Yusi membuatku gelagapan,” kata Anwar. Atas seizin keduanya, hasil wawancara nan pekat tersebut disatukan kembali untuk ditampilkan di web Kineruku berikut ini.

 

Dari mana cerita-cerita ajaib, rada absurd, terkesan fantastik tapi tetap membumi, dengan selera humor yang aneh di buku Rumah Kopi Singa Tertawa berasal?

Pertama-tama harus disebutkan di sini bahwa segala predikat yang Bung Anwar lekatkan kepada cerita-cerita itu belum tentu saya atau orang lain sepakati lho. Tapi, jawaban untuk pertanyaan itu sederhana saja. Cerita-cerita itu bermula dari apa yang saya lihat dan baca, atau dengan kata lain pemantiknya adalah keseharian yang berlangsung di depan mata ataupun peristiwa besar yang terjadi di belahan dunia sana, yang bisa saja terjadi sekian puluh tahun yang lalu.

Cerpen “Sebelum Peluncuran”, misalnya, saya garap sepulang dari peluncuran Jantung Lebah Ratu Nirwan Dewanto. Malam itu di mata saya selain terlihat tegang Nirwan juga tampak kencang. Nah, dari situ saya menduga-duga siapa tahu Nirwan melakukan persiapan khusus. Ide ini kemudian saya gabungkan dengan kenangan tentang ayah saya yang sebagaimana orang Semarang lainnya terlahir sebagai pengeluh profesional.

“Edelweiss Melayat ke Ciputat” bermula dari pemandangan seni instalasi alternatif alias tumpukan sampah di depan Pasar Ciputat yang sering saya temui sehabis mengantar A.S. Laksana yang berumah di kawasan itu. Dari situ kemudian timbul pemikiran bagaimana seandainya kantung-kantung plastik itu isinya bukan sampah melainkan potongan tubuh manusia dan bagaimana sikap kita jika mendengar kabar orang yang tak kita senangi mati dengan cara mengenaskan.

“Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai” bermula dari berita ringan tentang santapan terakhir yang diinginkan Stanley Baker, Jr, tahanan mati paling lapar sedunia.

“Sengatan Gwen” adalah obsesi kepada seorang adik kelas semasa SMA di Semarang. Nama gadis itu Carolina, cantiknya maksimal. Sayangnya, saya tak punya keberanian untuk sekadar berkenalan waktu itu, sungguh sesuatu yang saya sesali sampai sekarang karena saya tak bisa melacak lagi jejaknya.

“Rumah Kopi Singa Tertawa” sendiri lahir dari kejengkelan. Dalam cerita-cerita pendek Indonesia dengan setting kafe, yang sering terjadi adalah si protagonis duduk di pojokan, melamunkan seseorang, lalu datang pengunjung baru yang menarik minatnya, si protagonis plirak-plirik tak karuan lalu membayangkan sekian skenario di kepalanya, tetapi tak pernah ada tindakan lanjutan. Jangankan itu, dialog saja disimpan dalam hati sehingga suasana kafe mirip malam kudus yang sunyi senyap. Padahal, justru di kafe atau rumah kopilah kemeriahan dan keriuhan terjadi, sering kita dengan potongan percakapan menarik tanpa tahu konteks atau juntrungannya. Omong-omong, saya membuat versi Inggrisnya, lho. Awalnya sih sekadar ingin mengalihbahasakan, tapi kenapa harus berhenti di situ. Ini ibaratnya rumah kopi yang sama pada hari yang berbeda. Sila simak di tautan ini.

Petualangan Raden Mandasia dan kawan-kawannya adalah pelintiran sesuka hati dari berbagai cerita rakyat Nusantara. Saya menyebutnya demikian karena dongeng (ya, semestanya dongeng) ini sangat anakronis sehingga cerita dari tlatah dan zaman lain masuk. Saya tak mau membuka lebih banyak, tak mengejutkan nanti kalau Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi terbit. Yang pasti, di dalam sendirinya ia, sebagaimana fiksi yang lain, harus logis, seajaib apa pun premisnya.

Kalau ingatan tak berkhianat, saya malah belum menyentuh atau menggarap cerita-cerita yang bahan dasarnya sudah “elok”. Saya contohkan tiga, ya. Di Depok, tepatnya di luar pintu 35 perumahan Pesona Khayangan, ada tukang ojek bertangan satu. Nama panggilannya Jore, ia kehilangan tangan karena kecelakaan. Tak banyak yang mau menggunakan jasanya, apalagi ibu-ibu. Saya termasuk yang bersedia. Nah, karena Jore jarang dapat penumpang, setiap kali saya muncul para tukang ojek di sana menyorongkan laki-laki asal Ambon ini. Di satu sisi, memberi kesempatan Jore mencari nafkah patut dilakukan. Di sisi lain, sebetulnya kecemasan tak pernah benar-benar menghilang dan saya sadar sepenuhnya jika terjadi kecelakaan—semoga tak pernah demikian—saya hanya boleh menyalahkan diri sendiri.

Contoh kedua, di Jogja. Semasa kuliah dulu, ada tetangga samping tempat kos, ia asli warga kampung Pogung Dalangan yang suatu malam memotong penisnya sendiri karena jengkel istrinya tak mau meladeni. Padahal, si istri sudah dikode sejak sore hari. Karena rumahnya gelap, potongan burung itu tak bisa ditemukan segera dan ketika akhirnya disusulkan ke rumah sakit, dokter menyerah. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, jawabnya cukup mengejutkan, ia ingin menghukum istrinya. Bahwa kemudian ia sendiri yang merana ia hanya bisa tersenyum pahit. Tapi, menurut pengakuannya, setelah tragedi itu ia masih tetap punya hasrat dan punya cara khusus melakukannya dengan istrinya. Bagaimana tepatnya? Mengingat tulisan ini dipacak di ruang publik dan materinya dewasa, saya hanya bisa bilang pengaturannya sedikit banyak bisa menghibur keduanya.

Contoh ketiga berkaitan dengan kematian, kejadiannya di Jogja dan Jakarta, berentang belasan tahun. Di Jogja, saya sempat mengantar pacar melamar menjadi dosen di sebuah sekolah tinggi bahasa. Di sana, saya sempat ngobrol dengan kepala admistrasinya, seorang pria kurus berambut putih yang saya taksir berusia di atas 60 tahun. Ia sangat santun sebagaimana kebanyakan priyayi Jogja pada umumnya. Tak ada yang istimewa dari obrolan kami. Beberapa hari kemudian, tak sampai sepekan, laki-laki itu ditangkap dengan tuduhan membunuh dua orang tetangganya, sepasang suami istri, gara-gara urusan tanah. Kasusnya cukup heboh waktu itu, tapi kemudian karena kurang bukti ia dibebaskan. Seperti apa yang sebenarnya terjadi, saya tidak tahu. Tapi, saya sempat dihinggapi perasaan ganjil bahwa ketika kami mengobrol, laki-laki itu pasti sedang memikirkan tindakan keji terhadap tetangganya. Di Jakarta, di kawasan Kalibata, saya sempat potong rambut di sebuah salon. Pemiliknya seorang laki-laki Batak umur 60-an yang penampilannya sangat melambai. Kami sempat ngobrol, dan untuk suatu alasan, ia ekstra ramah kepada saya. Beberapa hari kemudian, tak sampai sepekan juga, ia terbunuh di salonnya, dan sampai sekarang pelakunya belum tertangkap. Jadi, saya sempat bertemu calon pembunuh (sekiranya tuduhan itu benar) dan calon korban pembunuhan tak lama sebelum peristiwanya terjadi. Bahannya dahsyat, bukan? Tapi, saya belum menemukan momen menuliskannya.

 

Menurut Anda buku atau tulisan yang hebat itu seperti apa? Jika perlu sebut judul-judulnya.

Sebagai penulis, saya akan bilang bahwa buku hebat adalah yang menantang kepenulisan saya. Jika Bung Anwar bertanya 25 tahun yang lalu, jawabannya akan sangat berbeda. Sebagaimana remaja atau dewasa muda yang sedang mencari-cari, buku bagus masa itu adalah yang saya anggap mencerahkan atau menghadirkan semangat perlawanan kepada penguasa. Beberapa buku berpengaruh membentuk saya sebagai pribadi, seperti karya Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya), misalnya. Saya masih menganggap Ragawidya: Religiositas Hal-hal Sehari-hari sebagai salah satu bacaan terpenting dalam hidup saya. Apalagi saya juga sempat beberapa kali ngobrol dengannya, dan setiap perjumpaan sangat berkesan. Betapa tidak, pejuang kemanusiaan sejati. Saya membaca buku itu pertama kali dulu semasa mahasiswa tahun kedua, bersamaan dengan periode nyantri di salah seorang kiai di perbukitan Panggang, Gunungkidul. Ceritanya lagi gandrung sama tasawuf saat itu. Serius ini, Bung, tapi kalau mau ketawa ya silakan. Saya juga sempat sangat suka Burung-burung Manyar. Sekarang ceritanya beda. Saat membaca ulang buku-buku ini, rasanya gatal betul ingin menyunting.

Cerita dalam buku-buku Pramoedya Ananta Toer masih menarik sampai sekarang, tapi tidak penulisannya. Hal yang sama bisa saya katakan untuk cerita-cerita silat karya Kho Ping Hoo ataupun Chin Yung.

Buku bagus adalah yang segala unsurnya ciamik: ide, plot, penokohan, deskripsi, dialog, dan sebagainya. Gampangnya, tak boleh ada kedodoran sedikit pun, ini juga berlaku untuk buku nonfiksi, dan serampung menyelesaikannya saya bisa bilang ‘bajingan’ dan geram kok ada orang bisa menulis sehebat ini. Ada penulis yang sewaktu saya baca karya pertama kali bikin tercengang tetapi setelah beberapa saat saya yakin bisa mengimbanginya, malah mungkin mengunggulinya. Tapi, ada nama-nama yang membuat saya geram permanen.

Terlalu banyak kalau harus menyebut judul buku bagus di sini, Bung. Bulan lalu, sewaktu liburan di Jogja, ada teman dari Balairung (majalah yang dikelola mahasiswa UGM) menanyakan buku-buku apa saja yang membuat saya tidak akan merasa nelangsa jika terdampar di sebuah pulau, dan jumlahnya hanya dibatasi tujuh. Ini pertanyaan sialan.

Namun, mari bermain-main, saya akan mencoba spontan di sini, satu pengarang maksimal satu judul:

  1. Romeo and Juliet – William Shakespeare. Ceritanya mungkin sudah kita kenal, kasih tak sampai. Tapi, coba simak lagi soneta-sonetanya, bahasa benar-benar dimaksimalkan. Ngeri, Bung, kok ada orang bisa sepintar ini. Kritikus Harold Bloom pernah berujar kalau Tuhan itu ya Shakespeare, kalau Shakespeare bukan Tuhan, ia tak tahu siapa lagi yang layak disebut sebagai Tuhan.
  2. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Magic realism? Nah, it’s all magical. Macondo, tujuh generasi Buendia, kebun pisang, 17 Aureliano Buendia yang lahir dari tujuh belas perempuan dan berayah sama—Kolonel Aureliano Buendia, Remedios si Cantik, hasrat kepada gadis jelita berusia sembilan tahun, dan segala keajaiban yang lain.
  3. Labyrinths – Jorge Luis Borges. Jika seorang Umberto Eco mendapatkan ilham menggarap The Name of Rose dari cerita “Library” yang ada di buku ini, itu sudah alasan yang cukup bukan?
  4. The Savage Detectives – Roberto Bolano. Marquez dan Borges jelas-jelas jahanam, dan Bolano mampu menjadi antitesis mereka. Apa tidak bikin merinding? Bolano dengan ‘sastra jerohannya’ melucuti anggapan pembaca dunia bahwa sastra Amerika Latin kalau tidak Marquezian pastilah Borgesian. Kredonya, yang ia buat ketika sakit keras sebelum ajalnya, membuat tertegun: sastra + sakit = sakit.
  5. The Ground Beneath Her Feet – Salman Rushdie. Mengapa bukan Midnight Children? Setelah pilihan buku Marquez dan Borges yang terlalu jelas jatuhnya, saya ingin mengambil yang berbeda untuk Rushdie. Tapi, sesungguhnya menurut saya Rusdhie jauh lebih matang dalam buku ini ketimbang dalam Midnight. Dan, siapa yang sanggup menolak tawaran pelintiran sejarah rock’n roll di sini? Novel ini lebih asyik lagi disimak sembari Bung mendengarkan lagu yang melodinya digarap dua anak muda berbakat dari Irlandia, Bono dan The Edge, dan liriknya oleh Rusdhie sendiri, di video ini.
  6. Dictionary of the Khazars – Milorad Pavic. Bajingan sebajingan-bajingannya. Tobat saya, takluk negara, kalau ketemu saya pasti cium tangan. Mungkin setiap malam Jumat kalau ingat saya akan kirim Al Fatihah untuk Pavic. Setiap alineanya terasa gurih saat dikunyah.
  7. Prajurit Schweik – Jaroslav Hasek. Kegembiraan murni, dikunjungi beberapa kali tetap saja tak luntur rasa senangnya. Buku yang belum selesai sebetulnya karena Hasek keburu meninggal sebelum bukunya tamat.
  8. Dataran Tortilla – John Steinbeck. Danny dan kawan-kawan gembelnya adalah contoh penghayat maksimal carpe diem. Kalau wiski bisa dihabiskan hari ini, mengapa harus disisakan sampai esok hari? Pula soal anjing yang dipinjam untuk menghangatkan kaki dan telur bumbu. Seperti Schweik, saya membaca Dataran versi Indonesia yang diterbitkan Pustaka Jaya, dua-duanya diterjemahkan dengan gemilang oleh Djoko Lelono.
  9. The Unbearable Lightness of Being – Milan Kundera. Tentang yang antep dan yang ceketer dari manusia, disajikan dengan takaran terbaiknya.
  10. Teaching a Stone to Talk (nonfiksi) – Annie Dillard. Ketika Dillard mengajak kita bersamanya bertualang ke Kutub Selatan, Galapagos, lembah Amazon, ataupun menyambangi seorang laki-laki yang terbakar dua kali, sejatinya itu adalah tawaran menziarahi ruang batin kita masing-masing. Penerbit Banana sudah menerbitkan edisi Indonesianya dengan judul Mengajari Batu Bicara.
  11. The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami. Dua bersaudara Kano, Malta dan Creta, melayanimu dalam mimpi. Bagian-bagian lain boleh terlupakan, tapi tidak untuk dua kakak-beradik ini.
  12. The Road – Cormac McCarthy. Buku ini memaksa saya menggunakan kata yang tidak saya sukai karena terlalu sering muncul di televisi: mencekam. Kengerian dunia post-apocalyptic begitu pekat dalam setiap lembarnya. Bagaimana kalau hari esok benar-benar tak menawarkan apa-apa, tak segenggam gandum, sepotong langit biru, ataupun sekadar tatapan letih dari kawan seperjalanan yang ringkih?
  13. Shah of Shahs (nonfiksi) – Ryszard Kapuscinski. Salah satu karya jurnalistik terbaik, soal Shah Iran dan revolusi yang menumbangkannya, ditulis ala novel.
  14. The Moveable Feast (nonfiksi) – Ernest Hemingway. Tulisan Papa semasa muda di Paris, disunting lagi pada masa senjanya, terbit setelah kematiannya. Buku ini secara tak langsung menjelaskan dengan telak bahwa sarekat yang baik (masa ini Papa berkawan erat dengan Ezra Pound, F. Scott Fitzgerald, dan masih banyak nama tenar lain) akan mengasah kepenulisan seseorang. Saya kira film Midnight in Paris karya Woody Allen banyak mengambil bahan dari buku ini.
  15. The Catcher in the Rye – J.D. Salinger. Bagi Holden Caulfied, segala sesuatu yang palsu itu memuakkan. Itu sebabnya sekalipun seseorang beranjak dewasa dan berumur, kerinduan pada masa-masa ketika pemikiran dan sikap tak mesti kompromis selalu memanggil-manggil. Penerbit Banana sudah mengeluarkan edisi Indonesianya beberapa tahun yang lalu (saya menyimpan tanda tangan asli Salinger di lembar perjanjian copyright, bersanding dengan tekenan saya sendiri).
  16. Dari Ave Maria Sampai Jalan Lain ke Roma – Idrus. Kegembiraan setiap kali membaca ulang buku ini selalu diiringi rasa sedih. Jika pada periode ’45 Indonesia sudah punya pengarang secekatan Idrus, mengapa jejaknya tak terasa di karya-karya pengarang sesudahnya? Pertanyaan barusan tentu generalisasi.
  17. On the Road – Jack Kerouac. Truman Capote mengejeknya sebagai karya ketik, bukan tulisan. Tapi, ini karya ketik yang sungguh aduhai, Bung.
  18. Million Dollar Baby – F.X. Toole. Soal dunia boksen, pembaca akan tertawa lalu nangis sebombay-bombaynya (sudah terbit edisi bahasa Indonesia oleh Banana). Silakan cek di sini.
  19. The Lone Ranger and Tonto Fist Fight in Heaven – Sherman Alexie. Membuka mata, menyingkirkan stereotip lama tentang Indian yang terbangun karena film Hollywood ataupun buku-buku Karl May. Sinis, lucu, mengharukan (sudah terbit edisi bahasa Indonesia dengan judul Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga oleh Banana). Saya pernah membahasnya di sini.
  20. Contact – Carl Sagan. Karena semesta di luar sana alangkah luasnya.
  21. Rashomon – Ryonosuke Akutagawa. Bukan hanya soal ambiguitas moralnya, melainkan juga permainan sudut pandangnya yang berganti-ganti.
  22. Salvador (nonfiksi) – Joan Didion. Sebuah buku yang sangat membantu memahami anatomi teror dan geopolitik, ditulis dengan hemat dan jernih, buah pengamatan dari dekat.
  23. The Orchid Thief (nonfiksi) – Susan Orlean. Obsesi (Orlean) atas obsesi (penggila anggrek), keanekaragaman hayati dan mistisme Florida, dan orang pertama yang dipenjarakan karena penyelundupan anggrek di Amerika Serikat adalah warga Indonesia (sudah terbit edisi bahasa Indonesia dengan judul Pencuri Anggrek oleh Banana. Siapa lagi?).
  24. All Over but the Shoutin’ (nonfiksi) – Rick Bragg. Soal sejarah keluarga dan kasih ibu sepanjang masa, mengharukan tetapi sama sekali tidak cengeng. Detail-detailnya keren, pula soal cerita sampingan semacam lele yang sebesar paha orang dewasa dan pria yang selalu saja setelah bebas dari penjara berusaha ditahan lagi dengan cara yang sama seperti sebelumnya, yaitu ngemplang bayar setelah makan mewah di restoran.
  25. Einstein’s Dream – Alan Lightman. Imajinatif, sangat serius bermain-main.

Lho, kok sudah 25? Daftarnya diakhiri kalau begitu. Gila, saya meninggalkan nama Kafka, Chekov, Dostoyevsky, Arundathi Roy, Jonathan Franzen, Mahbub Junaidi, Joyce, Eco, Calvino, dan masih banyak lagi. Tapi, ya sudahlah.

Karena judul terakhir di daftar adalah Einstein’s Dream, saya mau melantur sedikit ah. Buku ini adalah salah satu alasan saya membuat penerbitan sendiri setelah tak lagi bekerja di Majalah TEMPO. Kalau tak salah, pada 1998 saya membawa naskah terjemahan buku ini ke penerbit KPG (bukan orderan). Mereka perlu waktu berbulan-bulan sebelum bilang ‘ya’. Buku terbit dengan judul Mimpi-mimpi Einstein. Saya kira mereka tak menduga buku ini bakal sangat laris. Saya dibayar dalam jumlah yang membuat tiga pasang sepatu tak sanggup menampung tumpahan air mata. Dengan memberikan naskah ciamik, dan dibayar dengan hanya… (aduh, tak sampai hati saya menyebutnya) saya “menyumbang” Gramedia yang sudah kaya raya. Ketika 2012 buku ini cetak ulang dengan sampul baru, iseng-iseng saya bilang kepada mereka mbok saya direken. Ternyata suara saya didengar dan ada pembayaran kedua setelah belasan tahun. Jumlahnya? Tak terlalu penting, saya menghargai itikad baik mereka karena memang sejatinya tak ada kontrak resmi yang mengharuskan mereka melakukan itu.

 

Anda menulis fiksi dan nonfiksi. Kenapa berada di dua ranah kepenulisan itu, tidak pilih salah satu? Apa masing-masing daya tarik, kesulitan, dan tantangannya?

Kalau bisa dua kenapa harus ambil satu? Fiksi, dengan aturan ketat di dalam dirinya sendiri—yaitu kelogisan—memungkinkan saya beruji coba bentuk. Kesulitan terbesar saat ini adalah menyediakan waktu lebih untuk menulis fiksi karena secara nyata banyak sekali urusan lain.

Dalam nonfiksi, fakta adalah sesuatu yang suci, jadi godaannya adalah menahan diri tidak menyelundupkan hal-hal di luar fakta yang bisa membuat tulisan lebih menarik. Dalam fiksi, saya enteng memasukkan yang faktual. Dalam nonfiksi, saya tak berani menghadirkan yang fiktif. Tantangan utama penulisan nonfiksi adalah mencari sudut pandang, mana yang paling penting sekaligus memikat karena biasanya jatah halaman di media cetak terbatas sehingga cerita-cerita sampingan yang mungkin menarik terpaksa dipinggirkan. Lain cerita jika kita menulis feature panjang atau buku dengan beberapa tulisan yang saling berkait. Ada sedikit kelonggaran, tapi prinsipnya penulisan tetap harus hemat.

Sebetulnya, menulis hemat juga berlaku untuk fiksi, tak boleh ada kata, frasa, apalagi kalimat yang sia-sia. Menjawab pertanyaan Bung Anwar, saya memberanikan diri melantur.

Sebuah materi dasar yang sama bisa diangkat menjadi tulisan fiksi atau nonfiksi, tetapi efeknya akan berbeda kepada pembaca. Misalnya, cerita tentang pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis kecil. Katakanlah dua tulisan ini setara bagusnya, tetapi yang nonfiksi akan lebih mengusik karena pembaca tahu peristiwanya nyata, dukanya nyata, dan kematiannya mutlak. Sementara, tulisan fiksi, jika pembaca tak tahu cantelannya dengan kejadian nyata, sedikit banyak menghadirkan jarak.

Saya tak tahu apakah pembaca tulisan-tulisan saya merasakan perbedaan suara kepengarangan antara karya fiksi dan nonfiksi saya. Sila Bung Anwar jawab sendiri.

 

Bagaimana Anda memelihara etos menulis?

Simpel saja, Bung: banyak membaca dan berkumpul dengan teman-teman yang punya minat besar kepada kepenulisan. Kumpul-kumpul ini kan seperti mengamalkan pepatah lama Jawa, cedhak kebo gupak atau dekat kerbau bakal kena kotoran. Untungnya, gerombolan kerbaunya aduhai sehingga kotorannya pun asyik. Dengan bacaan dan obrolan (ejekan juga), saya tak saja tergerak selalu menulis tetapi juga tertantang menghasilkan karya yang lebih baik.

 

Mungkin Anda punya banyak draft tulisan yang lama tidak selesai dan akhirnya malah ditinggalkan atau dibuang. Apa halangan Anda sehingga draft itu gagal jadi tulisan yang siap dipublikasi atau dijual?

Kalau yang belum selesai banyak, Bung, tapi ya tidak dibuang. Saya tak menganggapnya gagal, belum lengkap saja. Suatu ketika pasti menemukan jalan menjadi tulisan utuh. Sebelum menggarap Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, sebetulnya saya sudah menulis draft novel Anak-anak Gerhana, pengalaman generasi saya yang tumbuh sebagai anak Orde Baru. Tapi, di tengah jalan ada kesulitan menentukan siapa narator dan bagaimana suaranya, pula belum sanggup berbagi cerita yang saya rasa terlalu pribadi. Resminya memang fiksi, tapi tetap saja pada bagian-bagian tertentu terasa terlalu dekat sehingga bikin macet. Saya lari ke Raden Mandasia yang semestanya dongeng, ini pengalaman yang membebaskan. Sekarang saya sudah tahu bagaimana menangani Anak-anak Gerhana, semoga tergarap cepat setelah merapikan Raden Mandasia.

Ilustrasi lain soal draft. “Sebelum Peluncuran” saya tulis dalam dua jam tetapi “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih” perlu berbulan-bulan. Bukan sok menyulit-nyulitkan diri melainkan memang cerita itu seperti datang dalam kepingan-kepingan. Pertama soal nama Anwar Sadat itu sendiri, kemudian cat kuku, dan kenangan kenakalan masa kecil. Karena benang merahnya belum dapat, yang tersimpan baru fragmen-fragmen. Setelah sebuah kebetulan yang betul-betul terjadi, perjumpaan anak-anak Bengkel Novel Dewan Kesenian Jakarta dengan seorang pemuda yang baru saja mereka rasani, saya langsung tahu apa yang ingin saya tulis dengan bahan-bahan yang sudah terkumpul sebelumnya. “Ajal Anwar Sadat” sering dibaca sebagai cerita tentang kebetulan atau bahkan nasib naas. Ini tentu boleh-boleh saja. Seorang pemuda, peserta diskusi di Kineruku bulan Oktober lalu, malah sempat protes kepada saya mengapa Anwar Sadat dalam cerita mesti tewas. “Ia kan orangnya baik, Mas,” katanya. Saya hanya bisa tersenyum. Kalau dalam kasus ini seorang pengarang boleh hidup lagi, saya ingin bilang bahwa cerita itu sebetulnya tentang penulisan. Tak ada yang mati, kecuali si pengarang setelah naskahnya ia bagi.

 

Apa kelemahan Anda sebagai penulis? Apa ada usaha tertentu untuk mengatasinya atau malah membiarkan kelemahan itu, berusaha menguburnya dengan kualitas karya?

Kurang militan, selalu memberi alasan kepada diri sendiri menunda pekerjaan. Tenggat sejatinya tenaga penggerak yang hebat. Dulu, semasa di TEMPO, saya bisa menulis rubrik Selingan atau Investigasi yang berisi beberapa artikel sekaligus dalam sehari. Sekarang, karena tenggat dibuat sendiri, saya langgar sendiri pula seenak-enaknya. Terlalu, memang. Tapi, untuk tulisan pesanan saya tetap taat. Nah, ini bukti sekali lagi.

Kalau kelemahan karya silakan orang lain menilainya. Yang pasti, saya berupaya menyajikan yang terbaik ketika naskah itu terbit. Rumah Kopi Singa Tertawa, misalnya, saya seleksi dari sekitar 150 cerpen yang saya buat sejak masa kuliah. Saya tak ingin menyodorkan karya yang menurut saya belum memuaskan sekalipun mereka sudah dimuat di media massa.

 

Anda tidak tertarik mencari proyek tulisan dari politisi, pengusaha, atau pesohor yang minta dibuatkan buku ? Atau kalau pernah, ceritain pengalaman mengerjakan buku berdasarkan pesanan.

Pada 2012 ini terbit buku Pembelajaran T.P. Rachmat yang saya garap bersama seorang penulis lain, isinya tentang pemikiran Teddy Rachmat, mantan Presdir Grup Astra International dan pendiri Grup Triputra. Ini bukan kali pertama saya menulis buku pesanan. Pertimbangan saya menerima pekerjaan semacam ini simpel, saya mesti mendapatkan imbalan yang sangat layak. Imbalan di sini tidak melulu soal uang tetapi lebih kepada pengalaman yang memperkaya saya.

Pada 2009, misalnya, saya diminta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Departemen Luar Negeri menulis sejarah hubungan baik Indonesia – Korea Utara. Sejak awal saya tahu bahwa tulisan saya mesti dalam koridor mereka dan honor dalam bentuk uang juga tak terlalu istimewa. Tapi, kesempatan berkunjung ke sebuah negara sosialis semasa Kim Jong Il masih hidup terlalu langka dilewatkan. Kapan lagi? Kalau kita punya uang, ke Eropa gampang saja. Tapi ke Korea Utara, punya uang berapa pun belum tentu tembus. Sila tengok catatan saya di tautan ini.

Penulisan Pembelajaran T.P. Rachmat memberi kesempatan saya belajar langsung dari salah satu pelaku bisnis papan atas Indonesia. Ia pintar, idealis, sekaligus sangat realis sehingga ide-idenya membumi. Sudah begitu, bayaran untuk saya pun aduhai. Jadi, nikmat Tuhan mana yang hendak saya dustakan kalau begini?

Tidak semua tawaran saya terima, tentu. Ada yang benar-benar karena angka yang mereka sodorkan membuat saya terharu karena jumlahnya sangat menggelikan sementara proyek penulisannya jelas-jelas komersial, ada pula yang saya tak cocok dengan tema maupun subjeknya. Saya, misalnya, tak akan mau menggarap penulisan biografi politisi atau pengusaha bermasalah jika niatnya adalah pencitraan (saya tak terlalu suka kata ini, terlalu banyak dipakai, tapi untuk kali ini terpaksa) sekalipun dibayar sangat-sangat mahal. Pasti akan jadi buku degil dan melodramatis. Wah, dosa besar saya kalau sudah begini. Tapi, saya malah tak akan meminta bayaran sedikit pun dan bersedia mengongkosi sendiri penerbitannya jika saya mendapatkan akses penuh dan subjeknya mau buka-bukaan serta kendali penulisan sepenuhnya ada di tangan saya. Siapa yang tak mau jika suatu saat para jenderal di pusaran 1998 berani buka-bukaan total, misalnya.

 

Proyek ambisius apa yang Anda sedang kerjakan sekarang?

Tentu ada ambisi dalam setiap penulisan, tapi apakah itu ambisius, silakan teman-teman yang menilai. Saat ini sedang menggarap dua novel, Anak-anak Gerhana dan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Anak-anak Gerhana semula berjudul Kue Mangkok Kelima. Dulu, kalau tak salah kelas empat SD, saya sempat iseng ikut-ikutan bekerja untuk tetangga yang membuat kue mangkok. Pekerjaan saya dan teman-teman sederhana, mencutik kue keluar dari mangkoknya. Jika ada kue yang rusak, kami disuruh memakannya karena kalau dijual kue itu tak bakalan laku. Satu dua kali masih senang, tapi begitu kue kelima sudah tidak lagi karena kue ini fungsinya primer sekali, mengenyangkan. Saya tak lama bekerja di sana karena ketahuan ayah dan dimarahi. Setelah besar, saya baru sadar bahwa Mas Puji, pemilik usaha kue mangkok itu, sebenarnya mengajarkan kehatian-kehatian kepada kami. Seingat saya, istri atau kakak perempuannya tak terlalu sepakat dengan kebijakan Mas Puji soal keharusan makan kue yang rusak tadi.Tapi, karena perkara kue mangkok ini saya anggap kurang mewakili apa yang saya mau sampaikan secara keseluruhan, judulnya saya ubah menjadi Anak-anak Gerhana.

Calon-calon buku berikutnya sudah ada juga, tapi tak menyebut di sini, lha wong yang dua ini saja sudah bertahun-tahun belum klaar.

 

Apa yang kurang dalam industri penerbitan kita sekarang?

Cenderung latah. Beberapa penerbit sebetulnya sudah berani menyodorkan tawaran berbeda. Tapi, dengan sistem distribusi yang dimonopoli Grup Gramedia agak berat buku-buku semacam ini mendapat tempat kecuali tersambar dewi keberuntungan. Umur buku di rak-rak toko buku singkat sekali, paling tiga bulan kecuali sangat-sangat laku. Padahal, ada buku yang panasnya lambat. Ketika orang di jejaring sosial mulai bicara, bukunya tak ada di toko. Sialnya, si penerbit kesulitan menjual langsung karena buku masih tertahan pula di distributor.

Gramedia terlalu besar, ia menguasai bisnis dari hulu sampai hilir (pabrik kertas, percetakan, penerbitan, toko, sampai bisnis dalam satu grup yang menunjang promosi mereka—Harian Kompas, apa lagi?). Kebijakannya sulit ditawar karena posisinya memang lebih kuat. Mungkin suatu saat jika para penerbit di luar Gramedia mau mengajukan keberatan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk menghilangkan monopoli, situasinya bisa menarik. Tapi, mungkin pula toko buku ke depan makin tak dibutuhkan. Banana belum meluncurkan buku-e. tapi ke depan pasti ke sana dan penjualan langsung secara online akan makin ditingkatkan.

 

Apakah Anda berpandangan sinis terhadap buku best seller?

Sama sekali tidak, rezeki orang masing-masing. Tapi, saya akan lebih berbahagia jika yang laris adalah buku bermutu. Saya lebih terganggu oleh perayaan berlebihan karya-karya buruk, pula yang mendapatkan kredit lebih daripada yang semestinya, terlepas buku-buku itu laku atau tidak.

Mending mana: buku yang page turner atau buku yang susah dibaca meski kelihatannya insightful?

Saya menjawab begini saja, yang penceritaannya asyik. Insightful itu apa sih sebetulnya, hikmah? Jika ya, tak akan ada yang baru, jatuhnya truisme dan mirip judul buku-buku Balai Pustaka atau film Rhoma Irama: sengsara membawa nikmat, salah asuhan, perjuangan dan doa, dan sejenisnya. Umberto Eco sering banget nulis perkara remeh-temeh, dan itu ia sebutkan sendiri di bukunya, tapi tetap saja enak dikunyah karena penceritaannya memang ciamik.

 

Kenapa sebagian orang tetap baca buku yang bodoh? Maksud saya ialah buku yang dangkal, dengan karakter plin plan, tidak meyakinkan, bahkan ceritanya pun gampangan dan tidak mengayakan pembaca—tapi eh buku seperti itu tetap saja dibaca dan laris. Apa ada sesuatu yang melampaui itu, sehingga orang tetap ramai-ramai baca dan merasa mendapat manfaat dari buku seperti itu?

Sedikit memutar, ya. Di Korea Utara, setelah beberapa hari saya menyadari mengapa rakyatnya begitu patuh kepada penguasa. Benar, sebagian karena rasa takut. Tapi, yang tak kalah berperan adalah tak adanya kesempatan melihat selain apa yang disodorkan pemerintahnya sehingga mereka tak bisa membandingkan keadaan diri sendiri dengan dunia luar. Otomatis, tak ada keinginan mereka mendapatkan yang berbeda, terlebih rezim Korut berhasil menanamkan ke rakyat mereka bahwa negara merekalah semesta dunia dan salah satu yang termakmur di planet ini. Seseorang bisa tergoda kepada rumput tetangga karena melihat, bukan karena hijau atau lebatnya benar. Kalau akses kepada rumput tetangga tak ada, “rumput tetangga” itu sendiri menjadi sesuatu yang asing.

Nah, kasus Korea Utara bisa dipakai menjawab secara tak langsung pertanyaan Bung Anwar. Akses kepada bacaan berbeda, atau bacaan yang baguslah, sering tertutup karena tekanan kawan sebaya atau lingkungan. Karena teman-temannya membaca dan membicarakan terus sebuah buku, seseorang akhirnya membeli atau setidaknya membaca dengan meminjam buku itu karena tak mau ketinggalan kereta. Bila buku itu bagus, beruntunglah ia. Kalau buku itu mblawus, belum tentu ia tahu buku itu mblawus karena jarang atau malah tak pernah terpapar buku bagus. Yang jelas, ia tak akan menjadi orang luar di kalangannya, dan ini penting baginya. Hasrat menjadi bagian dari yang lebih besar ini masih kuat karena komunalitas berakar. Pepatah kita kan bilang ‘Bersatu teguh bercerai runtuh’, padahal mestinya ‘Bersatu teguh, sendiri-sendiri juga begitu’. Faktanya, banyak yang tak nyaman atau sanggup hidup individualis (bukan berarti mementingkan diri sendiri lho, tapi berani berbeda dengan alasan bukan asal-asalan).

 

Buku bodoh seperti apa yang pernah Anda baca?

Kalau buku terjemahan yang asal-asalan alih bahasanya. Contohnya banyak, tapi saya tak mau berpanjang-panjanglah untuk hal ini. Kalau yang karya lokal adalah yang segala unsurnya kebalikan dari syarat-syarat buku bagus yang saya sebutkan di atas. Selain bahasa yang berantakan, dalam buku bodoh sering saya jumpai motif seorang karakter melakukan tindakan sedemikian misteriusnya sampai tak diketahui pengarangnya sendiri. Judul-judul tak perlu disebutlah. Bukan mengelak, saya lebih senang membikin daftar buku yang mendatangkan pahala karena kita bersyukur berjumpa dengan buku semacam itu.

 

Terakhir, kenapa Anda dengan jengkel bilang bahwa pertanyaan tentang proses kreatif itu ketinggalan sepuluh tahun lalu?

Karena dari dulu sampai nanti karya bagus itu hanya dihasilkan dengan cara berpikir kok, Bung. Berpikir ciamik tentu butuh asupan yang aduhai, yaitu bacaan dan tontonan yang bagus dan mitra tanding setara yang tak ragu menyuarakan pendapat mereka.

 * * *

>> Beberapa judul dari daftar-25-buku-jika-terdampar-di-pulau pilihan Yusi Avianto Pareanom di atas tersedia di koleksi rental perpustakaan Kineruku.

>> Buku kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa (cetakan terbaru, 2017) bisa dibeli di Kineruku seharga Rp 50.000. Pemesanan via SMS: 087824281152 atau email: kineruku[at]gmail[dot]com, atau via tautan berikut ini. Tersedia juga buku-buku rilisan Penerbit Banana lainnya.

Comments (3)

  1. Ifan Ismail 4 years ago

    DIA DAPAT TANDA TANGANNYA SALINGER?? *salah fokus.

    Anyway, wawancara yang seru, gurih tapi bernutrisi. Maaf atas kata-kata pujian berkesan superlatif ini. Belum nemu kata-kata lain. Harus dibookmark ini.

    • Author
      Kineruku 4 years ago

      Hahaha! Tapi memang bikin iri itu, dapat tanda tangannya langsung. Langka! :)

Pingbacks

  1. […] Maka ketika ada peluang untuk mendisiplinkan diri menulis—seperti kesepakatan dengan teman-teman Remotivi—saya merasa hal itu harus diambil. Kalau AS Laksana pernah berpendapat bahwa menulis bagus adalah masalah kebiasaan, maka menulis itu sendiri adalah masalah kedisiplinan. Dan merawat etos menulis, selain dengan membaca, adalah dengan cara berkumpul bersama teman-teman yang punya minat besar pada kepenulisan, papar Yusi Avianto Pareanom dalam wawancaranya dengan Anwar Holid. […]

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe