Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Kineruku Special Screening:
Eliana, Eliana (Riri Riza, 2002)

Kineruku Special Screening:
Eliana, Eliana (Riri Riza, 2002)
23/11/2009

Kineruku Special Screening

Eliana, Eliana
(Riri Riza, Indonesia, 2002, 83 menit)

Sabtu, 28 November 2009
Jl. Hegarmanah 52 Bandung
Pk. 18:30 WIB

Pemutaran dihadiri Riri Riza (sutradara/penulis) dan Prima Rusdi (penulis skenario)

Kineruku Special Screening kali ini mengajak publik peminat film di Bandung untuk menengok kembali ke belakang, dengan menghadirkan film yang menjadi personal favorite dan kami anggap penting di babak baru sejarah perfilman negeri ini: Eliana, Eliana.

Dirilis tahun 2002, Eliana, Eliana lahir sebagai bagian dari produksi I Sinema, yakni sebuah gerakan manifesto pembebasan sinema oleh 13 filmmaker yang sepakat melakukan eksplorasi terhadap medium film. Eksplorasi ini bisa berupa eksplorasi terhadap teknologi kamera, teknik syuting, pilihan struktur film, atau treatment penyutradaraannya. Sementara Eliana, Eliana, menurut Riri Riza sang sutradara, melakukan eksplorasi itu melalui cerita yg minim karakter dan timespan cerita yg pendek. “Film ini lebih menjadi sebuah statement tentang keringkihan manusia,” tutur Riri Riza, “cerita tentang manusia biasa, diceritakan dengan cara yang tidak biasa.”

Setelah kesuksesan Petualangan Sherina (2000), Riri Riza memilih petualangan selanjutnya yang jauh lebih personal. Baginya, setiap filmmaker harus memiliki ruang untuk berekspresi sesuai dengan kegelisahan pribadi, yang biasanya timbul setelah mengamati perkembangan hidup dan dunia sekitarnya. Eliana, Eliana timbul dari kegelisahan tersebut. Bersama Prima Rusdi, Riri Riza menulis skenario tentang drama satu malam di sebuah taksi carteran dan pojok-pojok kelam kota Jakarta, mulai dari rumah kontrakan di gang sempit, tempat bilyar dan klab malam, hingga restoran Padang.

Eliana, Eliana mengisahkan perjalanan satu malam yang harus dilalui Eliana (Rachel Maryam) dan Bunda (Jajang C. Noer). Lima tahun silam, Eliana minggat dari rumah dan kabur ke Jakarta. Kini ia harus kehilangan pekerjaan dan terancam diusir dari rumah kontrakannya. Bunda datang ke Jakarta membawa dua tiket pesawat, mengajak Eliana pulang ke kampung halamannya di Padang. Berusaha membuktikan kemandiriannya, Eliana berkeliling Jakarta naik taksi carteran, mencari teman serumahnya, Heni (Henidar Amroe) yang menghilang entah ke mana. Bunda ikut terseret ke dalam masalah mereka. Perjalanan satu malam itu akhirnya menguak banyak hal: hubungan ibu dan anak, yang mencoba berdamai dengan masa lalu dan masa kini, sambil berusaha tersenyum pada masa depan.

Hanya dengan syuting selama 12 hari, satu kamera, kru kurang dari 20 orang, dan dana sangat terbatas, Eliana, Eliana berhasil meraih banyak penghargaan di beberapa festival film internasional. Di antaranya adalah Best Young Cinema dan NETPAC/FIPRESCI Award di Singapore International Film Festival 2002, Special Mention dan Dragons and Tigers Awards di Vancouver International Film Festival 2002, Best Actress untuk Jajang C. Noer di Cinemaya Festival of Asian Cinema 2002, dan Piala Citra untuk Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia 2004. DVD film ini kemudian dirilis oleh Facets Video, sebuah distributor asal Amerika Serikat.

Beberapa karya besar dan personal sangat layak untuk dipelajari kembali, dan Eliana, Eliana salah satunya. Sabtu ini di Kineruku, sutradara Riri Riza dan penulis skenario Prima Rusdi akan berbagi cerita untuk para peminat film di Bandung.

[Kineruku: enjoy the cinema!]

Eliana, Eliana

Produksi: I Sinema, Prima Entertainment, Miles Films (2002)
Sutradara/Penulis: Riri Riza
Skenario: Prima Rusdi and Riri Riza
Produser: Riri Riza and Mira Lesmana
Pemain: Rachel Sayidina, Jajang C. Noer, Henidar Amroe, Arswendi Nasution, Marcella Zalianty
Penata Kamera: Yadi Sugandi
Penata Artistik: Adrianto Sinaga
Penyunting: Sastha Sunu
Penata Suara: Suhadi, Satrio Budiono, Adityawan Susanto
Penata Musik: Thoersi Argeswara

An intimate and restrained exploration of mother-daughter relations that uses the digital cinema medium to reflect an authentic and ground-level experience of contemporary urban life.”  —NETPAC/FIPRESCI Jury, Singapore International Film Festival 2002

“Eliana, Eliana is a breakthrough of filmmaking in South East Asia…. It’s unconventional, uncompromising yet it is still a story well told.”  —TIKOY AGUILUZ, Director of Cinemanila International Film Festival

“Eliana, Eliana offers communication in various spaces, from an apartment in the slum area, a hotel, a billiard joint, to entertainment spots and a traditional Padang restaurant. The dense and dynamic camerawork is effective in bringing to life the space and time, representing the chaotic situation of Jakarta, and conflicts within and among the characters.” —ARYA GUNAWAN & GARIN NUGROHO, Kompas daily, Sunday, April 28, 2002

A gritty slice of emotionally-fraught life set in grimy, chaotic Jakarta, director Riri Riza’s digi-debut Eliana, Eliana is the film that should—no, make that “must”—put new Indonesian cinema squarely on the map. What at first appears to be a loosely-woven tale of mother/daughter relations (with a pair of breathtaking performances by Jajang C. Noer and Rachel Maryam) quickly blossums into an inter-knit succession of parent-child reunions, each of them criscrossing the others’ intentions during a long night’s journey into day. On a variety of visceral and aesthetic levels, Riza’s tighly-budgeted, fourteen-day, one-camera production elegantly out-manoeuvers anything going on in American independent cinema today. If it seems to recapture the jagged uncertainties of something like late-career Cassavetes, I’m sure the director would be flattered to hear it, but forget the comparisons and flatter hilm even more: Eliana, Eliana – bitter, tenacious, and ultimately exhilirating – is like nothing you’ve ever seen. And see it, you must.”   — CHUCK STEPHENS, film critic of The Film Comment Magazine

“Its constantly moving camera captures flashes and fragments of action in a wonderfully off-the-cuff style, occasionally catching the same piquant energy as Wong Kar-wai’s Fallen Angels. —SCOTT FOUNDAS, film critic of Variety.com

* * *

[UPDATE: Reportase acara ini bisa di sini.]


Comments (2)

  1. umar kayang 9 years ago

    dateng ah!

  2. rukukineruku 9 years ago

    ayo ayo, ajak teman-teman, kerabat dan handai taulan, semuanya! :)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe