Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/blog:/ Binatang-binatang di Kepala Syd

/blog:/ Binatang-binatang di Kepala Syd
20/06/2008

SydBarret

An effervescing elephant
with tiny eyes, and great big trunk
once whispered to the tiny ears
the ears of one inferior
that by next June he’d die, oh yeah!
because the tiger would roam
and the little one said oh my goodness I must stay at home
and everytime I hear a growl
I’ll know the tiger’s on the prowl
and I’ll be really safe you know
The elephant he told me so
And everyone was nervy, oh yeah!
and the message was spread
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus
who wallowed in the mud and chewed
his spicy hippoplankton food
and tended to ignore the word
prefering to survey a herd
of stupid water bison, oh yeah!
and the jungle took fright
and ran around for all the day and the night
but all in vain because you see
the tiger came and said to me,
“You know I wouldn’t hurt not one of you
I much prefer something to chew
you’re all too scant, oh yeah!”
He ate the elephant…

– lagu “Effervescing Elephant“, Syd Barrett, album Barrett (1970).

Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius.

Tentu saja lancang dan tolol sekali membandingkan diri saya dengan dia. Saya bukan otak kreatif awal Pink Floyd untuk kemudian dipecat dari sana (bahkan saya tidak pernah punya band, karena saya tak bisa bermain instrumen apapun selain seruling, dan itu pun hanya satu lagu, “Ibu Kita Kartini”!), saya bukan seorang Capricorn, saya tidak mengonsumsi LSD tiga sampai empat kali sehari, dan saya tak pernah secara resmi dinyatakan gila. Setidaknya psikiater saya belum sampai hati mengatakannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara tak sengaja saya mendengar satu lagu Syd Barrett di sebuah toko musik, pada sebuah musim dingin di pinggiran Seoul. Dan kebetulan umur saya juga 16 tahun waktu itu. Ada perasaan merinding yang janggal, murung sekaligus senang, rasa penasaran menjalari kepala saya, atau kombinasi yang aneh dari semua itu. Sesuatu yang misterius. Semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Sejak saat itu saya resmi menjadi penggemar.

Lagu itu adalah “Effervescing Elephant”. Sebagai closing track dari album solo keduanya (yang kemudian menjadi album terakhirnya), itu justru termasuk lagu paling awal yang pernah Syd tulis, ketika masih berumur 16 tahun. Tentu saja ini bukan komposisi terbaiknya, tapi lagu tersebut sangat berarti bagi saya. Dinyanyikan hanya dengan iringan gitar kopong, nada lagu ini terdengar riang sekaligus ganjil, sepintas seperti progresi lagu mars untuk anak-anak. Liriknya pun terkesan kekanak-kanakan, meski sebenarnya tidak. Dia memang bercerita soal binatang, sejenis fabel. Namun fabel macam apa, dengan pesan jenis apa, yang keluar dari kepala seorang jenius gila seperti Syd?

Sedikit berbeda dari kebanyakan lirik Syd lainnya yang rumit dan sulit dimengerti, “Effervescing Elephant” sebenarnya cukup mudah. Dan tumben, struktur dramatiknya jelas. Seperti ada logika bertutur yang dipatuhi, semacam pola Struktur Tiga Babak. Pertama, Perkenalan Karakter dan Masalah. Tersebutlah seekor Gajah, (perhatikan deskripsinya yang teliti “…with tiny eyes and great big trunk…“) sedang menyampaikan kekhawatiran tentang kehidupan hutan yang ganas, kepada rekannya sesama gajah yang lebih junior. Hukum rimba berlaku mutlak: siapa kuat, dia bertahan. Dan itu selalu berarti soal siapa memangsa siapa. Dan Harimau, tentu saja, adalah ancaman besar bagi mereka. Gajah Kecil jelas ketakutan, “…oh my goodness I must stay at home!“, tapi rumah macam apa, di tengah hutan, yang sanggup melindungi binatang dari kejamnya predator alam bebas?

Masuklah babak kedua, Intensifikasi Masalah. Maka ketika Harimau datang, seisi hutan pun tegang. “…and everytime I hear a growl, I’ll know the tiger’s on the prowl.” Saya membayangkan sesosok loreng dengan otot-otot kaki yang ramping dan lentur, berjalan melenggang. Ya, hanya melenggang. Itu pun sudah cukup membuat sekumpulan binatang resah bukan main, dan mau tak mau mereka harus tetap bergerombol jika ingin selamat dari terkaman sang pemangsa (apakah Syd sedang menyindir konsep agung “manusia adalah makhluk sosial” sekaligus homo homini lupus?). Sederetan nama binatang Syd sebutkan, mulai dari Zebra, Mongoose, hingga Kuda Nil pemalas yang gemar berkubang dan mengunyah “his spicy hippoplanktom food“. Diksi yang amat jeli. Bahkan Greg Graffin, vokalis Bad Religion yang juga profesor biologi di UCLA, rasanya tidak akan pernah terpikir memakai kata ‘hippoplankton’ untuk sebuah lirik lagu.

Syd terus menggenjreng gitarnya, bernyanyi dengan suara tak stabil: seperti terlalu rendah saat mengambil nada awal, lalu falsetto di beberapa bagian, untuk kemudian nyaris tercekik kehabisan nafas di bagian lain. Dan tibalah penghujung cerita, Penyelesaian Masalah. “…and the jungle took fright/ and ran around for all the day and the night.” Siapa akhirnya yang menjadi santapan Harimau? Kepada siapa Nasib Buruk akan ditimpakan oleh Sang Penguasa? Ketakutan seluruh penghuni rimba sempat terhapus oleh Sabda Raja Hutan: “You know, I wouldn’t hurt one of you.” (Yeah, seperti dalam hidup, harapan seringkali muncul, bukan?) Tapi tunggu dulu, “I’d much prefer something to chew.” (Oh sial, harapan palsu, mulai dibanting.) Pada akhirnya, well, baca saja sendiri kalimat terakhir lirik di atas, ada baiknya setelah Anda selesai mengunduh lagu tersebut di Limewire.

Setiap lagu itu selesai diputar, saya selalu diam termenung. Syd menyisakan 15 detik di akhir lagu hanya dengan suasana sepi, hanya ada suara jengkerik di gelapnya malam, dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, lolongan binatang kesakitan. Saya curiga Syd tak sekadar membicarakan binatang semata-mata. Dia sedang membahas sesuatu yang lebih besar, hal-hal yang tak pernah selesai, lebih subtil, hal-hal yang susah dijelaskan. Pada titik tertentu dalam hidup, seberapa percaya Anda terhadap Takdir (dengan ‘T’ besar), berikut segala usaha mengakalinya? Dan hebatnya, segala narasi itu dikemas Syd secara ringkas hanya dalam durasi lagu 1 menit 52 detik. Segala ironi dan kesia-siaan bertahan itu. Nada datar, progesi tak terduga, tanpa reffrain, 173 kata yang padat, dan setiap bait hanya dinyanyikan sekali.

Entah kenapa kalimat terakhir lagu itu selalu mengingatkan saya pada baris puisi Chairil Anwar yang terkenal, “sekali berarti sudah itu mati”. Bisa jadi hidup yang sialan ini memang seperti itu: dia hanya sekali, dan tak lebih dari sekumpulan ironi atas hal-hal percuma. Mungkin tak masuk akal, tapi saya menangkap ada kemiripan di situ: keduanya sama-sama berusaha tetap optimis dari awal, meski sekaligus tahu betul betapa semuanya akan selalu berakhir tragis. Seberapa jauh kita sanggup menyiasatinya, untuk kemudian tetap tunduk takluk tak berdaya? Logika ironi selalu diramu dari bahan-bahan menyebalkan seperti itu. Chairil berharap panjang umur (“aku mau hidup seribu tahun lagi“), tapi toh penyakit TBC menghentikannya di angka 27. Sementara di lagu “Dark Globe”, komposisi terbaiknya menurut saya, Syd menyanyi dengan tenggorokan sedih luar biasa, “Won’t you miss me?/ Wouldn’t you miss me at all?” Dan kita tahu, karir musiknya yang brilian terpaksa terhenti di rentang waktu sangat pendek, setelah dinyatakan sebagai “an incurable mad man” oleh dokter jiwa, untuk kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang gila (dalam arti harfiah) dan tinggal di rumah ibunya hingga akhir hayatnya. Sering terlintas di benak saya, apa jadinya jika Chairil dan Syd, yang sama-sama tertarik tema kesepian transendental, hidup di zaman sama dan berkolaborasi? Seperti apa Chairil (dia penerjemah handal) mengalihbahasakan lirik lagu Syd “when I was alone/ you promised the stone from your heart“? Dengan nada minor macam apa Syd menyanyikan baris puisi Chairil “aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang“?

Ya, saya selalu kagum pada mereka yang demikian fasih perihal binatang-binatang sebagai metafor. Selain lagu di atas, beragam satwa bertebaran di karya-karya Syd Barrett, mulai dari Angsa, Burung, Serigala, hingga Cumi-cumi. Bahkan di salah satu sampul albumnya, tergambar bermacam-macam Serangga. Sementara satu-satunya hal yang pernah saya lakukan soal binatang, hanyalah sebaris puisi tolol berikut ini, yang tak mungkin hinggap di kepala Chairil Anwar, saya tulis di usia 7 tahun: “Once I had a cat. Now he’s dead.” Well, setidaknya itu berima.

[Budi Warsitopengelola Kineruku]

Dimuat di JEUNE Magazine,
edisi Juni-Juli 2008.

[VIDEO]

 

#blog_BudiWarsito

Comments (3)

  1. msipop 12 years ago

    wah bud, gambarnya yang ini lebih mantep nih..harusnya pake yang ini aja kemaren..hehehe

  2. admin 12 years ago

    Oh iya ya? Gw agak asal nge-grab sih. Emang yg kemaren yang dipake kayak apa Dimas? Btw ini Rani, Budinya belum muncul2 masih sibuk ngitungin isi ragunan di kepala Syd buat Jeune berikutnya :)

  3. wartax 12 years ago

    Setelah ini review Pink Floyd yah? Aku punya tulisan sederhana tentang PF. Nanti aku kirimkan OK.

    Wartax

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe