Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Mantra Maira: Diaspora Orang Indonesia di Amerika Serikat

Mantra Maira: Diaspora Orang Indonesia di Amerika Serikat
19/09/2010

Mantra Maira (Jalasutra, 2010, 132 hal.) karya Sofie Dewayani punya tiga ciri khas: mungil, tipis, dan serius. Buku berformat mungil ini berisi sebelas cerpen yang hampir semua pernah dipublikasi media massa kelas nasional, antara lain Femina, Koran Tempo, dan Republika. Kalau mau, kita bisa menamatkan buku ini hanya dalam beberapa jam. Meski begitu, subjek cerpen dia rata-rata kategorinya serius, dengan bentuk khas sastra koran Indonesia.

Kesan serius tampak dari cara penyajian buku ini. Faruk H. T. memberi kata pengantar dengan topik ‘sastra pasca-aksara’ dengan pendekatan Saussurean, sembari menyatakan bahwa cerpen dalam buku ini cenderung membenturkan tulisan dengan dunia pengalaman, sehingga terkesan sekadar mereproduksi ketegangan lama, yaitu ketegangan antara bahasa dengan dunia pengalaman (hal. xi). Sang penulis mengantarkan bukunya dengan esai mengenai hubungan aksara dan manusia memanfaatkan pemikiran Jack Goody, Walter J. Ong, Shirley Brice Heath. Faruk dan Sofie sama-sama mengusung tema literasi. Secara tersirat mereka sepakat menganggap itu merupakan budaya manusia yang lebih unggul dan reflektif dibandingkan lisan. Keseriusan makin menghebat manakala sebelas cerpen itu dibagi tiga dengan komposisi 4-4-3, masing-masing menggunakan judul ala makalah ilmiah, yaitu ‘teks dan internalisasi individual,’ ‘modernitas dan identitas,’ dan ‘kelas dan literasi.’ Buat apa kumpulan cerpen ini dibagi-bagi? Apa mereka benar-benar berbeda satu sama lain, sehingga perlu dengan tegas dipisah? Subjek tentang individu pasti mudah terkait dengan identitas, dan teks pasti mudah menyerempet ke soal literasi.

Lengkap sudah prasyarat bahwa buku ini merupakan teks sastra. Kelengkapan ini makin sempurna oleh komentar Budi Darma, salah seorang legenda hidup sastra Indonesia, yang menyatakan buku ini menarik berkat kewajarannya mempergunakan nuansa-nuansa wanita, melalui pilihan kata yang biasa dipergunakan wanita, gaya bahasa khas wanita, dan permasalahan yang dihadapi oleh wanita. Otomatik karya sastra ini juga bisa masuk dalam kategori ecriture feminine alias tulisan perempuan.

Sejumlah cerpen di buku ini bercerita tentang perempuan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat karena berbagai latar belakang dan alasan. Ada yang ke sana demi melanjutkan studi, ada juga yang terdampar sebagai tenaga kerja ilegal. Dunia baru ini membuat mereka menjadi misfit, yakni orang yang jadi canggung karena kesulitan berbaur dengan lingkungan atau situasi tertentu. Cerita seperti ini tampaknya khas sastra diaspora, yaitu sastra yang lahir dari orang, bahasa, budaya yang awalnya berkumpul di satu tempat tertentu, kini tercecer ke mana-mana. Contoh terbaik dari sastra diaspora ialah karya-karya Jhumpa Lahiri, yang menulis mengenai orang Amerika Serikat keturunan India atau orang India yang akhirnya menetap di sana. Karena Sofie menulis dalam bahasa Indonesia, kita bisa segera menyadari kecenderungan itu. Sebenarnya wajar Sofie menulis tema diaspora, sebab dia sendiri sekarang tengah berada di Urbana-Champaign, Illinois, Amerika Serikat. Bagi pembaca Indonesia, tema diaspora ini mungkin bisa mengingatkan pada buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (Umar Kayam) atau Orang-Orang Bloomington (Budi Darma).

Kecanggungan berinteraksi dengan dunia sekitar ini merupakan tema paling menonjol dalam buku ini, sampai melahirkan persoalan psikologis bagi sang pelaku atau merusakkan hubungan antar personal. “Mantra Maira”, cerpen pembuka, bercerita tentang seorang gadis remaja Indo yang kesulitan menghadapi ibunya yang munafik. Gadis ini lebih paham bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Perkawinan ayah dan ibunya gagal, sementara ibunya ingin terus dekat dengan dirinya. Terpaksalah dia hidup dengan ibu yang suka mengarang cerita, menutup-nutupi hubungan barunya dengan lelaki lain, dan mencari nafkah secara ilegal di Amerika Serikat. Begitu menjengkelkan ibunya, hingga Maira berniat memantrai ibunya biar celaka, soalnya dia suka memaksa agar Maira mau berbohong juga demi kepentingan dirinya. Begitu juga dengan Sri Prihatini dalam “Dialog Dua Nama” (hal. 61-74) yang awalnya memenangi Lomba Cerpen Femina tahun 2004. Wanita Jawa setengah baya ini mengubah nama jadi Fabiana Martinez, memanipulasi umur, berpenampilan seperti keturunan Hispanik agar mudah mencari nafkah sebagai pelayan toko di Amerika Serikat untuk membiayai keluarga. Namun kondisi ini jadi rumit ketika dia jatuh cinta pada pemuda setempat seumuran anaknya, sementara dirinya masih kesulitan mengucapkan kosakata Meksiko. Dalam “Bangku Belakang” (hal. 46 – 52), Sam kesulitan berkompromi dengan kehidupan dan teman-teman masa remajanya yang kemungkinan jauh lebih sukses dari dirinya, sampai dia membohongi diri sendiri baik di dunia maya maupun rela menutup-nutupi kondisi asli dirinya ketika bertemu dengan kawan-kawan lama yang membuatnya minder. Dia hanya berani jujur pada Tino, sebab Tino lebih canggung lagi menghadapi kawan-kawan lama itu, sampai membuatnya menghindari mereka semua baik di dunia nyata ataupun maya.

Sofie menghadirkan dunia gamang orang dewasa dan kanak-kanak. Kegelisahan dan kerusakan hubungan antar individu tergambar wajar, membuat salah pengertian mudah merebak dan memperburuk keadaan. Mereka rapuh, bingung, ingin memperbaiki diri, tapi kesulitan, karena ada banyak penghalang ketika hendak jujur menampilkan identitas—baik karena faktor internal maupun eksternal. Tapi tidak semua berakhir buruk. “Ketika Tuhan Berjubah Putih” (hal. 75-80) membuktikan betapa nasib nelangsa seorang ibu rumah tangga Muslim di Amerika Serikat bisa lungsur hanya oleh kebetulan kecil sederhana. Dia kembali mendapatkan lagi identitasnya dengan sempurna. Itu sudah cukup untuk menghadapi dunianya yang serba kekurangan dan hidup di lingkungan yang ekstrem berbeda dengan asal usulnya.

Berbeda dengan pendapat di back cover, teknik berkisah Sofie menurut saya cukup sederhana. Tanpa perlu bereksperimen aneh-aneh atau absurd biar terkesan punya kemampuan ‘tingkat tinggi,’ dia sudah terampil dan mampu menorehkan kesan kuat. Cerita-cerita dalam buku ini berpotensi mengganggu pembaca. Ini sudah cukup untuk melahirkan cerpen yang kuat. Kesan ini makin kentara betapa Sofie tahu kecenderungan cerpen di media massa Indonesia. Dia tidak berminat menulis cerpen sangat panjang (long short-story) yang mudah ditemui di media massa Amerika Serikat. Editing buku ini boleh dibilang bagus. Tiga-empat salah eja dan tanda baca di sana bolehlah kita anggap minor.

Sofie Dewayani kini tengah menempuh program doktoral di bidang pendidikan literasi di University of Illinois, Amerika Serikat. Dia kini memutuskan menanggalkan semua yang dulu dipelajarinya di Institut Teknologi Bandung (ITB), beralih ke sastra dan humaniora. Karya terdahulunya ialah novel berjudul Rumah Cinta Kelana (2002).

[Anwar Holid]

Mantra Maira (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: Jalasutra, 2010
Tebal: xxiv + 108 hlm
ISBN: 978-602-8252-27-0
Harga: Rp 20.000,-

Selain Mantra Maira, Kineruku juga mengoleksi buku-buku lain yang disebutkan di resensi di atas, yakni karya-karya Jhumpa Lahiri, serta Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Umar Kayam) dan Orang-orang Bloomington (Budi Darma).

Comments (2)

  1. Gilang 6 years ago

    Penasaran, seandainya ada ebook nya pasti langsung beli. Btw saya pernah baca buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (Umar Kayam) menurut saya menarik tapi waktu ada teater yang melakonkan secuplik cerita dari buku itu di Ruku ternyata jauh lebih menarik dan berkesan. Kapan ada acara serupa? :))

  2. Kineruku 6 years ago

    Buku fisiknya masih ada kok di beberapa toko buku. Acara-acara menarik seputar buku/musik/film di Kineruku bakal ada lagi kira-kira bulan Desember ini :) Nantikan update selanjutnya!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe