Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Lolita, Love, Rumah Buku

Lolita, Love, Rumah Buku
23/12/2008

Beberapa bulan kemarin, saya ditemani Iqbal pergi ke Rumah Buku dengan misi utama: mengembalikan sebuah novel klasik yang baru dibaca kurang lebih setengahnya, yaitu Lolita karangan Vladimir Nabokov. Padahal novel itu sudah dari dulu masuk daftar novel yang ingin sekali saya baca, tapi ah ternyata membuat kecewa. Uang rp5000 seakan melayang hanya untuk membaca kisah tidak bermoral tentang seorang lelaki paruh baya yang terobsesi dengan apa yang dia sebut sebagai “nymphet”, yaitu anak-anak perempuan berusia 9-12 tahun. Novel ini (sejauh yang saya baca) banyak dihabiskan untuk cerita naratif sang tokoh utama, Humbert Humbert dalam upayanya menggauli seorang gadis 12 tahun (yang juga anak tirinya!) bernama Dolores (a.k.a. Lolita). Dan ketika akhirnya dia berhasil tidur dengannya, saya menyerah dan memutuskan untuk berhenti.

Oh my God, this is disgusting. Jujur saja, saya bukan seorang yang mementingkan moral dalam sebuah karya seni. Bahkan pada mulanya saya sangat tertarik dengan premis buku ini. Wow, novel klasik tentang seks pedofilia? Kapan lagi! Tapi di sini Nabokov menggambarkan Humbert Humbert tanpa sedikitpun sisi baik yang bisa membuat saya peduli dan bersimpati padanya. He’s 100% a pervert! Saya (dan kebanyakan orang) selalu menyukai novel yang mempunyai tokoh yang membuat saya ”jatuh hati” dan menikmati hal-hal yang dia lakukan dan bicarakan. Tapi dengan Lolita hal itu tidak terjadi, karena saya merasa jijik jika harus mendukung Humbert dalam upayanya menyetubuhi gadis 12 tahun! Sekali lagi, saya bukan puritan berpikiran tertutup yang anti terhadap novel-novel “menyimpang”. Jika begitu mungkin saya tidak akan menyukai Tropic of Cancer. Tapi entah kenapa Lolita membuat saya jijik. Mungkin karena gaya narasi Nabokov yang membuat karakter Humbert begitu nyata.

Ngomong-ngomong tentang gaya tulisan Nabokov, itu juga adalah salah satu hal yang membuat saya menyerah membaca buku ini. Dia senang sekali menggunakan narasi-narasi panjang tanpa dialog, bahkan paragraf. Sebenarnya gaya seperti itu tidak masalah bagi saya, tetapi kalimat-kalimatnya itu menurut saya overdone. Over-the-top. Permainan kata-nya seolah-olah dilakukan just for the sake of wordplay. Ya memang gaya penulisan Nabokov justru adalah salah satu faktor yang membuat novel ini spesial di kalangan orang banyak. But I just don’t buy it. Just my two cents.

Selesai mengembalikan Lolita dan membayar biaya perpanjangan rp2500 (Aarrghh berarti jumlah uang yang saya habiskan untuk Lolita adalah rp7500! Bisa beli bubur ayam Pak Zaenal yang spesial tuh), saya melihat-lihat buku-buku di sana yang sudah ditata ulang menjadi lebih rapi. Saya berpikir untuk meminjam buku Photocopies karangan John Berger yang sepertinya menarik karena buku itu seperti kumpulan cerpen tetapi bukan kumpulan cerpen, melainkan satu buku utuh yang setiap babnya adalah kisah pendek penggalan momen dalam kehidupan (seorang pria yang kedatangan tamu tak terduga, seorang gadis penggosip di dalam bus, dll.) dan cerita-cerita itu tidak saling berhubungan (kurang lebih begitulah yang saya tangkap, sori kalau salah). Ah tapi tidak jadi karena teringat tiga huruf yang selalu menghantui dalam beberapa hari terakhir ini: U-A-S. Uuuh, mengetiknya saja membuat saya ingin masuk ke dalam lubang dan tidak keluar untuk selamanya. Akhirnya saya menghabiskan waktu dengan membaca buku kumpulan strip komik Calvin & Hobbes yang membuat saya tersenyum lebar beberapa kali.

Nah, saat mengembalikan Calvin & Hobbes ke rak itulah pertemuan pertama saya dengan sebuah buku yang beberapa saat lagi akan jadi salah satu buku favorit. Secara tidak sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah buku tipis berwarna merah muda berjudul Love. Sebuah buku untuk anak-anak karangan Lowell A. Siff dan Gian Berto Vanni (ilustrator). Tertarik membaca pujian dari The Times yang tertera di sampul belakang, saya pun duduk dan mulai membacanya. Hal pertama yang menonjol adalah ilustrasinya yang unik dan polos serta halamannya yang seperti buku interaktif. Tapi kemudian yang membuat saya terhanyut dalam buku itu adalah ceritanya, yaitu tentang (*minor spoilers ahead*) seorang gadis kecil yang ditinggal kedua orangtuanya saat berusia 9 tahun sehingga ia dipungut oleh panti asuhan.

Sebagai pendatang baru yang berwajah jelek, dia kesulitan menemukan orang yang mau berteman dengannya. Kelakuannya pun jadi buruk, mungkin karena ia sudah putus harapan dengan orang-orang yang tidak menghargainya itu. Orang-orang pun mulai berpikir bagaimana caranya menyingkirkan dia dari panti asuhan. Dst., dst., sampai akhirnya saya tiba pada halaman terakhir. Membaca kalimat di situ, saya terhenyak. Semua di sekeliling saya terasa bergerak dalam slow-motion dan terus melambat sampai akhirnya semua berhenti bergerak. Waktu terhenti untuk sesaat. Kehidupan saya adalah sebuah video dan seseorang telah menekan tombol pause. Suasana benar-benar sunyi sampai-sampai saya dapat mendengar detakan jantung dan desiran suara darah mengalir dalam tubuh. Ooohhh, suatu sensasi di mana Tuan Sentimental di dalam diri saya muncul dan memukulkan godamnya ke hati ini hingga bergetar tak terkendali. Suatu perasaan yang belum pernah saya rasakan sejak melihat arti ”rosebud” terungkap dalam film Citizen Kane. Untuk beberapa saat saya bersandar pada kursi dan menerawang sambil menggenggam lemah buku itu di tangan. Sebuah buku anak-anak yang saya baca dalam waktu lima menit telah berhasil membuat saya terenyuh hebat. Suatu pengalaman emosional yang sepertinya tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Membuat saya yakin bahwa cinta adalah sesuatu yang paling indah yang bisa dirasakan manusia. Silakan datang ke Rumah Buku, Jl. Hegarmanah nomer sekian sekian (lupa) kalau kamu ingin merasakan pengalaman saya barusan.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Rumah Buku, sayang sekali masih banyak orang yang tidak mengetahui keberadaannya. Bahkan mendengar namanya saja belum. Saya pun tahu secara tidak sengaja saat berkunjung ke rumah teman yang terletak di sebelahnya. Saran saya untuk teman-teman di Rumah Buku (halo Rani dkk), agar lebih mempromosikannya lagi karena sepertinya kabar tentang keberadaan Rumah Buku masih lebih banyak beredar mulut-ke-mulut. Saya sering sedih melihat data peminjaman buku, film, dan CD musik di sana. Banyak karya-karya bagus yang baru dipinjam beberapa kali. Contohnya baru ada satu orang yang meminjam Ulysses-nya James Joyce, dan itupun orang bule. Dan ternyata saya adalah peminjam DVD The Bicycle Thief yang pertama. Hooray for me! Sayang sekali padahal Rumah Buku adalah the perfect place for hipsters (haha) and hipster-wannabes (hahaha). Pokoknya semua hipster’s first kit ada di sana lah. The Velvet Underground & Nico? Check. On The Road? Check. A Bout de Souffle? Check. Andy Warhol? Check. Habiskanlah beberapa bulan untuk melahap sebagian isi dari Rumah Buku, maka kamu resmi menjadi seorang hipster.

[Aditya IP, seorang pengunjung Rumah Buku, 26 Juli 2007]

Comments (5)

  1. meinisa 10 years ago

    iya benar, cerita lolita hanya menarik di bagian luarnya saja. bikin penasaran para pembeli buku tsb. sebenarnya sih seruu tapi susah di di cerna jalan ceritanya. terlalu berbelit-belit

  2. Aditya I.P. 10 years ago

    iya, mending minjem Love aja :)

  3. risha 9 years ago

    hmmmmm
    kenapa semua mengeluhkan tentang novel lolita, padahal saya akan memakai novel ini untuk thesis saya,,,,,,,
    setelah saya baca novel ney, memang ceritanya sngt berbelit, susah dicerna dan membuat saya ngantuk,,,apalgi isi dlm novel ney hanya menceritakan tentang kehidupan humbert yang penuh dengan nafsu sexualnya,,,,
    tapi saya sangat tertantang untuk membahas kasus pedophile yang di alami humbert2,,,,
    ya semoga saja, saya dpt mendapatkan sesuatu yang beda dr novel ini,,,

  4. pritta 9 years ago

    Saya sudah lama ingin membaca lolita tapi belom sempat.. hmmm melihat review-an-nya.. calvin and hobes nampak lebih menarik :D

  5. cynthia 9 years ago

    Menurutku pesan moralnya ya, jaga anak anda dengan baik lah… novel ini kan menceritakan dari sisi Humbert, yg bersalah, ya wajar dong, kalo kebanyakan ‘menyimpang’, justru dengan novel ini kita kira2 bisa tau apa yg ada di pikiran para pedofilia itu dan bagaimana cara menyembuhkan mereka mungkin? trus dg alur cerita yg berbelit2, permainan kata yg ada di dalamnya, mungkin bahasanya yg terlalu tinggi sehingga anda tidak mengerti? coba aja baca sampai habis, aku udah baca sampai habis dan menurutku novelnya bagus kok

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe