Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

The King is Alive | Kristian Levring, 2000

The King is Alive | Kristian Levring, 2000
13/11/2008

Dogme #4: The King is Alive. Kristian Levring, Sweden/Denmark/USA, 2000, 105 min, English/French with English subtitle.

Sebuah bis wisata penuh dengan turis berkulit putih dari Eropa dan Amerika terdampar kehabisan bahan bakar di gurun pasir Afrika. Tanpa makanan dan peralatan komunikasi yang memadai, mereka mencoba bertahan hidup sembari menunggu bala bantuan yang datang entah kapan. Suasana kian keruh ketika friksi-friksi di antara mereka mulai bermunculan. Naluri kebinatangan akhirnya menyeruak di antara mereka yang mencoba bertahan hidup: wisata eksotis yang dulu mereka bayangkan, kini berubah menjadi undian kematian. Rasa putus asa yang mendera, pengkhianatan yang menyakitkan, dan juga dehidrasi silih berganti menyerang. Demi mengusir kengerian atas maut yang kian mendekat, mereka memutuskan untuk mengadakan pementasan teater karya Shakespeare, King Lear. Seperti layaknya kisah Lear, mereka pun harus bergulat dengan hasrat dan amarah, juga kebencian dan kesombongan. Dan tentu saja, ditambah bonus setting berupa atmosfer gurun yang ganas.

Sulit membayangkan apa yang terlintas di benak sutradara Kristian Levring ketika dia membuat film yang sarat eksperimentasi plot yang menarik ini. Apapun itu, semoga saja bukan perasaan menyesal telah terlanjur menandatangani Vow of Chasity, sebab lokasi syuting yang tidak bersahabat ditambah berbagai larangan khas Dogme 95 tentu membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Tema yang dipilih pun bisa jadi tidak cukup orisinal (bayangkan Robinson Crusoe bertemu Melrose Place), namun penampilan memukau assemble cast seperti Miles Anderson, David Bradley, dan Jennifer Jason Leigh, membuat film ini menjadi sayang untuk dilewatkan. Poin ekstra layak diberikan untuk lanskap-lanskap indah dari sang director of photography Jens Schlosser, terutama jika mengingat bahwa dia merekam gambar-gambar itu hanya dengan handycam dan tanpa bantuan tripod.

Menonton The King is Alive terasa seperti menengok kembali sebuah cinderamata menarik, sebentuk kenangan atas gerakan sinema yang kini hanya sayup-sayup terdengar gaungnya. [Tumpal Tampubolon]

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe