Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Kineruku Special Screening:
Film-film Kursi Panas

Kineruku Special Screening:
Film-film Kursi Panas
06/10/2009

Kineruku Special Screening
Film-film Pendek Tugas Akhir IKJ 2008-2009
Jl. Hegarmanah 52 Bandung
Sabtu, 10 Oktober 2009
Pukul 18:30 WIB
Diskusi dihadiri para pembuat filmnya.
Gratis.

Untuk pemutaran spesial kali ini Kineruku kedatangan gerombolan anak muda dari Institut Kesenian Jakarta. Mereka membawa segepok karya fresh from the oven, yakni film-film pendek tugas akhir mereka, yang dibuat demi syarat kelulusan di Fakultas Film dan Televisi tahun 2008-2009.

Kegelisahan dalam proses pencarian jatidiri, keinginan mengutarakan kembali apa yang disimak dari berbagai persoalan hidup, hasrat tampil beda; jamak muncul di karya-karya ini. Spirit kebebasan yang tak terbebani perhitungan untung rugi ala pasar, juga kemerdekaan dari segala bentuk kompromi yang umum berlaku di industri, mendorong munculnya eksplorasi yang khas dan spontanitas yang segar dalam tujuh film pendek ini.

“Kursi panas” di ruang persidangan dosen adalah fase pertanggungjawaban akademik yang harus dan telah mereka lalui. Di “kursi panas” itu pula bobot keilmuan para pembuat film itu diujikan. Sebaliknya, melalui karya-karya itu pula kadar, peran, serta andil pendidikan sebagai pemberi bekal dan penuntun bisa ditakar. Sebagai satu-satunya sekolah film di Indonesia, cukup memadaikah kurikulumnya untuk bisa menghasilkan insan perfilman yang siap berkarir dan berkarya di luar tembok institusi akademik?

Kini, film-film itu diputar untuk pertama kalinya bagi khalayak Bandung. Kesempatan yang bagus untuk mendengar mereka berbagi.

Salam,
Kineruku
dan FFTV IKJ

* * *

Film-film yang akan diputar adalah:

1.
the-first-nation-on-mars
The First Nation On Mars
(Drama, 2008, 8 menit, 16mm)
Sutradara: Nala Atmowiloto
Asisten Sutradara: Deni Setiawan, Ari Secilia
Skenario: Priyahita Anindyarukmi
Produser: Perdana Batangtaris
Penata Kamera: Nala Atmowiloto
Penata Artistik: Ardini Fatimah
Penata Suara: Miller Anderson

Sam (39 tahun), seorang astronot berkebangsaan asing menjalani perjalanan bersama rekannya, Ben (35), yang bertugas sebagai pendokumentasi. Setibanya di Mars, Sam sangat bangga sebagai perwakilan negara yang pertama kali mendarat di planet gersang itu. Mereka kemudian menelusuri Mars dan mengalami banyak hambatan: terjebak badai, kesulitan dokumentasi, filter kamera copot dari lensa, hingga bahan baku kamera yang mendadak habis. Setelah menyusuri lebih jauh lagi, Sam terkejut mendapati bendera Merah Putih milik bangsa Indonesia yang menancap di tanah. Ternyata mereka bukan yang pertama mencapai Mars.

Nala Atmowiloto belajar film di IKJ dari tahun 2003 hingga 2008. Setelah beberapa kali menjadi penata kamera di film-film pendek dan iklan untuk televisi, ia kemudian menyutradarai film The First Nation on Mars, yang sempat diputar di Jakarta International Film Festival 2008 dan Oberhausen Short Film Festival 2009.

2.
sabotase
Sabotase
(Drama, 2009, menit)
Sutradara: Hadrah Daeng Ratu
Skenario: David M. Latupeirissa
Produser: Meera Delima A.
Penata Kamera: Mechsura Wijil Kaisar
Penata Suara: R. Anom Prakoso
Penata Artistik: Ida Ayu Kusumawardhani
Penyunting Gambar: Fakta Hakim

Penggusuran tanah oleh pemerintah makin marak, berkedok menanggulangi penggunaan lahan tidur oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Penduduk sekitar mulai mempersiapkan diri untuk mengantisipasinya. Ketika seorang pegawai pemerintahan datang untuk membagikan surat edaran pengosongan lahan, seorang warga malah merobek-robek surat itu di depan petugas tersebut. Sabotase pun dilakukan: arus pendek listrik sebagai pemicu kebakaran. Orang-orang terpaksa pergi dari pemukiman mereka dan menjalani hidup yang berbeda.

Hadrah Daeng Ratu adalah mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta angkatan 2005 dengan minat utama Penyutradaraan. Berpengalaman sebagai penulis, casting director, asisten sutradara, menyutradarai film pendek, dan video klip.

3.
pabrik-dodol
Pabrik Dodol
(Dokumenter, 2009, 10 menit)
Sutradara/Skenario: Ari Rusyadi

Dengan tempo lincah, musik rancak, dan gaya penyuntingan yang gesit, film ini menyajikan proses pembuatan dodol Garut, dari awal hingga akhir, secara tradisional maupun modern.

Ari Rusyadi lahir di Garut, 3 Januari 1986. Kecintaan terhadap film mendorongnya merantau ke Jakarta dan belajar film di IKJ. Setelah pusing dengan segala bentuk ‘film art‘ yang dijejalkan di bangku kuliah, Ari pulang ke kampung halaman karena tak kunjung menemukan ide untuk film tugas akhirnya. Namun kepulangan itu justru memberinya inspirasi untuk mengangkat penganan khas daerahnya—sekaligus makanan favoritnya—menjadi sebuah film dokumenter. Pabrik Dodol pernah diputar di Hamburg Film Festival, St. Petersburgh Film Student Festival, dan meraih penghargaan The Best Short Documentary di IFF Short Film Competition 2009, Melbourne.

4.
nemesis
Nemesis
(Drama, 2009, 14 menit)
Sutradara: William Chandra
Produser: Bayu Rosa
Penata Kamera: Chamelia
Penata Artistik: Agung Nugraha
Penata Suara: Claus Marinest
Penyunting Gambar: Hendry Gunawan

John menceritakan satu malam di mana ia membunuh Reno, sebagai balas dendam atas kematian Yoan, adik perempuannya yang bunuh diri setelah diperkosa Reno. Ketika kasus ini sampai ke pengadilan, ayah Gultom menggunakan kuasanya sebagai pengacara kenamaan untuk melindungi anaknya. Karena hukum tak lagi memberikan keadilan, maka John menegakkannya dengan caranya sendiri.

5.
this-is-bullshit
This Is Bullshit
(Drama, 2009, 15 menit)
Sutradara: Perkasa Nalaputra M.
Produser: Rr. Widhoretno S.
Penata Kamera: Dharmawansyah
Penata Suara: Miller Anderson

Di Jakarta tahun 2009, Dimas (20 tahun) yang cerdas memiliki teori bahwa manusia baru bisa percaya adanya Tuhan jika bukti kuasanya bisa ia lihat dengan mata kepala sendiri. Sembari berjalan ke tempat kekasihnya, ia bercerita langsung kepada penonton tentang teori tersebut. Kebobrokan moral masyarakat di sekitar juga memperkuat teorinya bahwa Tuhan tak lagi ada untuk disembah.

Perkasa Nalaputra Masjhur, akrab dipanggil Heytuta, mengaku sebagai sutradara terburuk yang pernah diluluskan Fakultas Film & Televisi IKJ. Heytuta selalu malas mengurus film-filmnya untuk dimasukkan ke festival manapun. Beberapa penghargaan telah disabetnya di Festival Film Penyutradaraan, yaitu film Let Me In sebagai film terbaik 2005, film 1st sebagai sutradara terbaik 2007, dan film Something Stupid sebagai film ter-serah di ajang Sri Sulastri Award. Filmnya yang berjudul Chocolate terpilih untuk DVD kompilasi Hari Film Nasional 2006. Demi kelulusannya dari IKJ, kali ini Heytuta bersama dua orang temannya, Miller Anderson dan Tyas Rahadi, membuat film tugas akhir study (terburuknya) yang berjudul This Is Bullshit (2009). So, sit back, relax, & enjoy.

6.
kabar-gembira
Kabar Gembira
(Drama, 2008, 23 menit)
Sutradara: Nicholas Yudifar
Penulis Skenario: Damas Cendekia
Produser: Abdul Manaf
Penata Kamera: Batara Goempar, Siagian
Penata Artistik: Wihanna Erlangga
Penyunting Gambar: Aaron Hasim

Nazarudin, seorang supir mobil jenazah, sedang mengantarkan jenazah ke kampung halaman. Di perjalanan ia bertemu Safi’I, seorang ayah yang pergi meninggalkan anaknya. Mereka berdua melanjutkan perjalanan bersama dan saling berbagi pengalaman kehidupan.

Nicholas Yudifar lahir di Jayapura, 30 September 1984. Awal keterlibatan dengan film pendek dimulai sewaktu duduk di bangku SMA. Ketika itu mencoba-coba membuat film pendek dengan judul Borland Bangun! Ayo Sekolah! yang berhasil menjadi pemenang pertama kategori pelajar dalam ajang Festival Film Independen Indonesia di tahun 2002 yang diselenggarakan oleh SCTV. Setelah itu mengenyam pendidikan sinematografi di Institut Kesenian Jakarta dengan minat penyutradaraan.

7.
cinta
CINtA
(Drama, 2009, 28 menit)
Sutradara/Skenario: Steven Facius
Produser: Ella Hamid
Penata Kamera: Gandang Warah
Penata Musik: Titi Sjuman

Ini adalah kisah CINtA di sebuah dunia yang masih menyisakan bekas luka lama di masa lalu. Antara seorang Cina bernama A Su dan seorang muslimah bernama Siti. Di hari yang menentukan segalanya A Su meminta Siti untuk menikah. Pertanyaan sederhana yang harus mereka jawab bersama dengan cara yang susah. Pencarian jawaban dari dua orang sederhana yang tak mengerti kenapa mereka harus berbeda. Dan sebaliknya mengerti, bahwa sebenarnya mereka cuma saling jatuh cinta.

Steven Facius, seorang Cina Indonesia kelahiran Jakarta 12 Januari 1984, mengenyam pendidikan di FFTV Institut Kesenian Jakarta dengan bidang mayor sutradara. Aktif berkarya dan bekerja sebagai Assistant Director dalam iklan di televisi, video klip, dan film.

Comments (2)

  1. ari 11 years ago

    pasti dateng!!! posternya keren!!!! acaranya pasti lebih keren lagi!!! horeeee!!!!

  2. Kopral Djono 11 years ago

    Heytuta, Sutradara terburuk yang pernah diluluskan FFTV IKJ? ha ha ha…paradoks

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe