Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/reportase/ Rukustik #2: Mimimintuno, Musik Akustik di Perpustakaan

/reportase/ Rukustik #2: Mimimintuno, Musik Akustik di Perpustakaan
14/08/2010

Sabtu malam (31/7), meja besar menghilang dari ruangan. Kursi-kursi pun ke pinggir. Para pengunjung, beberapa berseragam putih abu-abu, duduk leluasa di atas ubin warna merah. Gitar akustik, amplifier, megafon, mikrofon, dan pianika menanti ingin lekas dibunyikan. Sofa bergaris vertikal menjadi panggung bagi para musisi yang sebentar lagi akan tampil. Dengan segala kemungilannya, perpustakaan Rumah Buku/Kineruku siap memuat pertunjukan akustik Mimimintuno.

* * *

Menjelang pertunjukan, Ariani Darmawan, si host acara, memperkenalkan bintang tamu kepada para pengunjung. “Mimimintuno—mungkin nanti bisa kita tanyakan artinya apa—adalah proyek akustik Nova Ruth dan Andre Toke. Di beberapa lagu, mereka juga akan dibantu oleh Kukud. Malam ini mereka akan membawakan musik yang bercerita—ini juga bisa ditanyakan.”

Ariani lalu membacakan biodata singkat Nova Ruth. Rapper asal Malang ini banyak bergelut di berbagai aliran musik, dan telah berkolaborasi dengan beberapa musisi internasional. Pada penghujung tahun 2009, ia melakukan tur keliling Eropa bersama Filastine, seorang musisi lintas genre asal Seattle yang kini lebih sering bermukim di Barcelona. Mimimintuno adalah proyek terbaru Nova Ruth yang belum meluncurkan rilisan apapun. “Anggap saja sekarang kita sedang launching stiker,” gurau Nova sambil membagi-bagikan stiker Mimimintuno. “Malam ini kita sengaja santai, kok. Biar kalau mainnya salah-salah, nggak jadi masalah.”

Tanpa berpanjang-panjang lagi, Mimimintuno menyapa telinga hadirin dengan “Hidupi Duniakuyang bernuansa hip-hop. Meskipun aliran musik tersebut identik dengan beat-beat yang intens, kali ini Nova enak saja nge-rap dengan iringan gitar akustik Toke. “Lagu ini pernah direkam Twin Sista, grup lama saya. Namanya pakai ‘sista-sista’ karena dulu itu kesannya sangat hip-hop,” tutur si vokalis dengan logat Jawa yang akrab. “Kami malah sempat mengeluarkan album, tapi kandas gara-gara dikadalin major label. Hari pertama dirilis, bajakannya sudah beredar di Glodok. Pihak label bilang album itu terjual dua ribu kopi, tapi kami nggak pernah menerima sepeser pun. Kami nggak tahu apa album itu memang laku segitu, atau pihak label cuma pengen menyenangkan kami saja.”

Lagu-lagu berikutnya, “Mother of Nature”, “Malin Kundang”, dan “Fitnah”, menunjukkan kesadaran duo ini akan isu-isu politis. “Mother of Nature” secara harfiah berkisah tentang seseorang yang bercita-cita menjadi superstar, tetapi mengabaikan alam. Namun lagu tersebut juga bisa menyinggung tentang orang yang terlarut memperjuangkan ‘isme-isme’ besar, tetapi melupakan apa yang seharusnya ia lakukan untuk orang-orang di sekitarnya.

“Malin Kundang” dinyanyikan Nova dengan cengkok Melayu, sambil sesekali meniup pianika berirama Minang di tengah-tengah lagu. Tak sekadar membahas kedurhakaan anak kepada orang tua, namun lebih besar lagi: lagu ini tentang kedurhakaan terhadap tanah air. “Contohnya AB,” ujar Nova blak-blakan. “Saya ingat waktu muncul wacana agar lumpur Lapindo dijadikan obyek wisata. Mungkin obyek wisata itu hanya akan menarik kalau AB beneran dikutuk jadi batu. Tubuhnya yang membatu terus diarak oleh korban-korban yang terlantar, ditaruh di lokasi semburan lumpur, lalu diberi selang. Jadi lumpurnya bisa mengalir masuk lewat pantat, dan menyembur keluar dari mulut. Seperti patung Singapura…”

Sementara itu, “Fitnah” adalah sebuah lagu lama Melayu berirama nasyid. Filastine pernah merekam lagu ini dalam versinya sendiri bersama penyanyi Jessika Skeletalia Kenney di album Dirty Bomb. Nova pun sering menyanyikannya sewaktu tur di Eropa. Malam itu Nova, Toke, dan Kukud memilih lagu itu bukan karena sebentar lagi bulan puasa, melainkan sebagai tanggapan atas film berjudul sama yang memberi gambaran ekstrem mengenai kehidupan umat muslim.

* * *

Nova Ruth dan Andre Toke pertama kali bertemu di sebuah kios gorengan di Malang sekitar delapan tahun silam. Sejak itu, mereka semakin akrab dan mulai bermusik bersama. Nova mengaku lagu-lagu yang dimainkan malam itu dikerjakannya bersama Toke. Dalam kolaborasinya dengan musisi lain, ia membawakan juga lagu-lagu tersebut. Namun, Nova merasa pesannya kurang tersampaikan. Akhirnya ia memutuskan kembali bermusik bersama Toke. Nova merasa musiknya paling kawin dengan permainan gitar Toke. Mungkin inilah asal nama Mimimintuno. Sebetulnya “mimi” dan “mintuno” adalah nama dua jenis kepiting yang selalu ditemukan berpasangan, tetapi dalam ungkapan bahasa Jawa “mimi lan mintuno” artinya cinta sejati.

Ketika ditanya siapa yang menulis liriknya, Toke menunjuk Nova. “Saya membantu untuk bagian reffrain,” tambahnya. Mereka berusaha menulis lagu dengan jujur, apa adanya. Menurut Nova, bermusik itu seperti berjudi. Ia tak pernah bisa benar-benar yakin seberapa besar pesan yang sampai kepada pendengarnya. “Minimal ada pendengar yang mendiskusikan lirik kami. Atau ada teman yang berhenti merokok karena lagu yang kami bawakan. Dan sebetulnya lagu kami nggak cuma bicara tentang hal-hal besar, tapi juga hal-hal personal.”

Malam itu, sisi personal Mimimintuno menyeruak lewat lagu “Burung”, “Lebih Nikmat”, “Sekuntum Mawar Merah”, “P.I.L.U.”, dan “Terima Kasih”. Baik “Burung” maupun “Lebih Nikmat” dapat dihitung sebagai lagu cinta. Bila “Burung”, dinyanyikan Nova dengan megafon, menceritakan saat-saat jatuh cinta di mana perasaan menjadi seringan dan selapang burung yang terbang di atas awan; maka “Lebih Nikmat” menceritakan momen di mana dua orang bermusuhan, yang satu rindu dan ingin meminta maaf pada yang lain. Saat lagu-lagu ini dimainkan, pengunjung perpustakaan yang datang berpasangan tampak saling merapatkan posisi duduknya.

Kenangan Nova Ruth akan kedua orang tuanya terselip dalam “Sekuntum Mawar Merah” dan “P.I.L.U.” “Sekuntum Mawar Merah” adalah lagu ciptaan Rhoma Irama yang dipopulerkan Elvy Sukaesih. Dulu setiap lagu dangdut diputar di rumah, ibu Nova dipastikan akan selalu berjoget-joget tanpa memperhatikan apapun di sekitarnya, termasuk anaknya yang sedang menangis. “Ya, dulu saya sering menangis tiap kali dengar lagu dangdut,” kenang Nova. “Sampai kemudian Filastine memberi lagu-lagu dangdut yang dia remix. Waktu saya dengarkan ternyata enak juga. Saya jadi seperti menjilat ludah sendiri.”

Lain halnya dengan “P.I.L.U.” (Papa I Love You) yang terinspirasi dari ayah Nova. Ia tak lain adalah Toto Tewel, gitaris band progressive rock Elpamas yang besar di akhir dekade ’80-an. Sewaktu kecil, ayahnya sering bepergian dan menimbulkan gunjingan di kampung tempat Nova dan ibunya tinggal. Meski demikian, ibunya selalu berbisik, “Jangan benci bapakmu. Ibu yakin dia tidak seperti itu.” Belakangan, Nova menjadi dekat dengan ayahnya dan mengetahui bahwa apa yang dibicarakan orang-orang di kampungnya memang tak benar. “Bagi calon-calon ayah, buatlah anakmu menyanyikan lagu tentangmu…” ujarnya sambil senyum-senyum. “Terima Kasih” menjadi lagu terakhir mereka malam itu. “Terima Kasih” merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan, dan tentu saja kepada para pengunjung yang menyaksikan penampilan mereka.

Penampilan Mimimintuno malam itu merupakan kelanjutan dari program Rukustik, pertunjukan musik akustik di Rumah Buku/Kineruku. Program ini awalnya diniatkan digelar setiap enam bulan sekali, tapi karena berbagai kendala, satu tahun telah berlalu sejak Rukustik #1 menghadirkan Efek Rumah Kaca. Acara ini tentu sayang untuk dilewatkan, karena kapan lagi bisa menonton bakat-bakat musik pilihan dalam suasana akrab, dari jarak amat dekat?

Setelah mendengarkan sebelas lagu yang dibawakan Mimimintuno, agak sulit juga jika harus memilih satu dua kata untuk melabeli aliran musik yang mereka usung. Menurut Toke, “Kami masih terus mencari yang pas bagi kami.” Yang jelas, biarpun memainkan berbagai aliran musik, mulai dari rap, jazz, Indonesian folk, nasyid, bahkan dangdut, sama sekali tak ada kesan dipaksakan dalam penampilannya. Ini karena ada benang merah yang jelas: suara Nova yang berat, soulful, serta penghayatan optimal, sehingga kesederhanaan lirik dan musiknya mampu menyampaikan pesan yang tak begitu sederhana. Mungkin inilah yang dimaksud musik yang bercerita.

Ketika pertunjukan selesai, beberapa pengunjung perpustakaan tentu berharap akan mendengar Mimimintuno lagi. Lebih dari berita launching stiker.

[Andika Budiman]

[Video]

 

Untuk Rukustik #1 – Efek Rumah Kaca Bermain Akustik, klik di sini. Untuk Rukustik #3 – KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra, klik di sini.

Comments (4)

  1. radityo wikono 9 years ago

    Keren menyesal aq melewatkanya… my family. love u full

  2. TOKe' 9 years ago

    moga2 dikasih kesempatan maen di RUKU lagi……..mimimintuno
    pengalaman yang menyenangkan……

  3. thiya 9 years ago

    wah lagu “malin kundang”-nya keren banget, Mas, Mbak!! apakah ada rilisan CD-nya? ingin dengar yang lainnya ^_^

  4. Nova 9 years ago

    @thiya, kami sedang berusaha ^_^
    maklum ya.. musisi independen, bukan bisnis man independen. nanti kalau sudah rilis, pasti kami kabari

    update aja terus di mimimintunoakustik.blogspot.com
    di situ kami umumkan kapan main dan kapan rilis.

    makasih yaaa uda mendengarkan malin kundangnyaaa..

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe