<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kineruku.com</title>
	<atom:link href="http://kineruku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kineruku.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 09:14:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Keroncong Lama, Baru Dengar Sekarang</title>
		<link>http://kineruku.com/songs-from-old-djakarta/</link>
		<comments>http://kineruku.com/songs-from-old-djakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 13:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5256</guid>
		<description><![CDATA[Lagu-lagu rakyat Jakarta lama dalam irama keroncong, oleh Brigjen R. Pirngadie [<a href="http://kineruku.com/?p=5256">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/Krontjong_Still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5271" title="Krontjong_Still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/Krontjong_Still.jpg" alt="" width="575" height="431" /></a></p>
<p>Mendengar keroncong selalu mengingatkanku pada seorang uwak yang tinggal di Tasikmalaya dan Kuningan. Dia punya cukup banyak kaset keroncong, bahkan ketika VCD mulai umum, dia juga tampaknya suka beli. Meski kami beda selera, toh dulu setiap kali berlibur ke rumahnya aku tetap suka buka-buka <em>sleeve</em> kaset atau VCD keroncong. Apa menariknya keroncong, coba? Penyanyi perempuannya pakai kebaya, musisinya sering kelihatan sudah paro baya, kesannya jauh dari dinamis. Yang juga suka membuatku kurang terkesan ialah karena barangkali lagu-lagu &#8220;asli&#8221; keroncong cenderung stagnan—sebagian keroncong yang aku dengar adalah <em>cover version</em> dari lagu-lagu pop cengeng tahun 1980-an. Bayangkan, sudah liriknya bikin tak tahan, iramanya keroncong pula! Tapi sisi baiknya, minimal aku dengar seperti apa Gesang, Sundari Sukotjo, Waldjinah, Toto Salmon, termasuk virtuositas Idris Sardi.</p>
<p>Seiring meluasnya selera musikku, termasuk pada musik daerah dan tradisional, rasanya aku makin bisa menghargai genre musik Indonesia yang sejarahnya sudah amat tua. Bersyukur juga aku dulu pernah sesekali mendengar keroncong dari koleksi uwak-ku. Kita harus bangga dan sadar bahwa keroncong adalah salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang sangat berharga&#8212;sebelum terlambat, bisa-bisa nanti diklaim oleh Malaysia. <em>Songs From Old Djakarta In Krontjong Beat</em> aku dengar dari koleksi vinyl <a href="http://budiwarsito.net" target="_blank"><strong>Budi Warsito</strong></a>, seorang penggemar musik Indonesia lama, di perpustakaan <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a>, Bandung. Ini album kompilasi, artinya musisinya beragam, diiringi sebuah orkes keroncong di bawah pimpinan Brigadir Jenderal R. Pirngadie. Beliau pula yang mengaransemen musik dan sekalian jadi dirigen. Dalam prosesnya, rekaman ini mendapat bantuan teknis dari Tan Eng Liem.</p>
<p>Musik keroncong yang konon awalnya dimainkan para musisi tidak terlatih (amatir), di tangan Brigadir Jenderal R. Pirngadie dimainkan oleh para musisi terlatih, menjadi sangat asyik: melodinya menonjol, sementara ritemnya mengiringi dan mengisi ruang nada menjadi penuh. Seksi string dan brass, terutama biola dan flute, punya sumbangsih menonjol di setiap lagu. Permainannya sangat dinamik dan meliuk-liuk seiring dendang para vokalis yang kerap terdengar manja, main-main, sekaligus <em>effortless</em>. Juga <em>backing vokal</em> dan koor-nya memberi kesan kuat dan sangat padu&#8212;contoh terbaiknya barangkali ada di &#8220;Djali-Djali&#8221; (track 3) dan &#8220;Gambang Semarang&#8221; (track 7). Mereka menimpali lead vocal dengan amat merdu, bersahut-sahutan.</p>
<p>Mengejutkan sekaligus menyenangkan mendapati bahwa di tangan seorang tentara kita bisa mendengar keroncong yang bisa dibilang terbaik. Dari judul, kita tahu album ini merupakan <em>cover version</em> dari lagu-lagu rakyat Jakarta yang penciptanya anonim, namun sebenarnya menunjukkan lagu-lagu tersebut sudah begitu populer dan mengakar, contoh &#8220;Djali-Djali&#8221; dan “Surilang”. Bahkan “Dajung Sampan” (track 1), menurut <a href="http://arianidarmawan.net" target="_blank"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>&#8212;sutradara film dokumenter musik <em>Anak Naga Beranak Naga</em>&#8212;konon saking bekennya sampai pernah diadaptasi menjadi sebuah lagu pop di Cina berjudul &#8220;Tien Mi Mi&#8221;, dipopulerkan oleh Theresa Teng. Liriknya pun terasa sungguh familiar, mudah diikuti dan memancing <em>sing along</em>, serta kerap mengundang senyum berkat isinya yang jenaka. Sebagian tentang hal sehari-hari (onde-onde, kopi susu, serabi, juga menahan rindu), disampaikan secara berpantun dan berima. Di lagu &#8220;Lain Dulu Lain Sekarang&#8221; ada lirik begini: &#8220;<em>..yang lucu yang lebih gemukan, kalau dansa kayak gajah piaraan..</em>&#8220;, sementara di &#8220;Kopi Susu&#8221; terdengar nyanyian: &#8220;<em>..kopi susu, kopi susu gulanya pasir/ badan lesu terlalu banyak pelesir..</em>&#8221; lalu disambung &#8220;<em>..kopi susu, kopi susu gulanya batu/ hati rindu sudah lama tidak bertemu..</em>&#8221;</p>
<p>Lagu-lagu rakyat Jakarta lama ini juga memperlihatkan adanya pengaruh kuat dari musik Arab dan Cina. Pilihan nada-nada tinggi para vokalis dan suara biola yang meliuk-liuk di hampir sekujur album ini sangat terasa warna gaya gambang kromongnya, yang memang saling pengaruh-mempengaruhi. Dengan total durasi hanya 28 menit (hampir setiap lagu berdurasi di bawah 3 menit), rasanya terlalu singkat dan lekas habis bila kita hanya mendengarnya satu dua kali. Kita mau mendengar lagi dan lagi. Karena piringan hitam ini sudah tua umurnya, suara gemereseknya terdengar cukup kentara, hingga bagi orang yang belum terbiasa, barangkali sedikit mengganggu. Namun kata Budi, &#8220;Gemeresek itu bukan gangguan, tapi <em>karakter</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<a href="http://halamanganjil.blogspot.com" target="_blank"><strong>Anwar Holid</strong></a>, kontributor tetap Kineruku]</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/Krontjong_thumb.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5273" title="Krontjong_thumb" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/Krontjong_thumb.jpg" alt="" width="350" height="355" /></a><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Songs From Old Djakarta In Krontjong Beat</em></strong><br />
(arranged &amp; directed by Brigadier General R. Pirngadie<br />
with techinal assistance of Tan Eng Liem)<br />
Various Artists<br />
Produser: Jajasan Seni Tetap Segar, Djakarta<br />
Direkam oleh: Dimita Moulding Industries Ltd., Djakarta<br />
Label: Evergreen Monoaural Records (Mono TTS-570M)<br />
Format: Vinyl, LP, 12&#8243;<br />
Genre: Keroncong, krontjong, folk<br />
Tahun rilis: &#8211; (<em>tidak diketahui</em>)<br />
Durasi: 28 menit (12 tracks)</p>
<p style="text-align: left;">Side 1:<br />
1. Dajung Sampan 2. Kitjir-kitjir 3. Djali-djali 4. Stambul Djampang 5. Lain Dulu Lain Sekarang 6. Tjentik Manis<br />
Side 2:<br />
1. Gambang Semarang 2. Kelap-kelip 3. Kopi Susu 4. Onde-onde 5. Surilang 6. Persi Rusak</p>
<p style="text-align: left;">Selain <em>Songs from Old Djakarta</em>, <a href="http://kineruku.com"><strong>Kineruku</strong></a> juga mengoleksi banyak piringan hitam keroncong dan CD kompilasi keroncong lainnya. Juga ada buku sejarah keroncong.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/songs-from-old-djakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dheg Dheg Plat ke Ibukota!</title>
		<link>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-3/</link>
		<comments>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 12:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5259</guid>
		<description><![CDATA[Acara kumpul-kumpul santai soal piringan hitam kali ini diundang ke Jakarta [<a href="http://kineruku.com/?p=5259">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/DDP3_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5264" title="DDP3_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/04/DDP3_still.jpg" alt="" width="575" height="406" /></a></p>
<p><strong>Dheg Dheg Plat Vol. 3</strong><br />
Kumpul-kumpul dan Ngobrol Santai Seputar Piringan Hitam<br />
<strong><br />
Sabtu, 21 April 2012</strong><br />
Pukul 15:00 – 17:00 WIB<br />
<strong>Borneo Beerhouse</strong> (@borneobeerhose) #DhegDhegPlat<br />
Jl. Madrasah No. 14<br />
Jeruk Purut, Jakarta Selatan<br />
<strong>JAKARTA</strong></p>
<p>Setelah sukses diadakan dua kali di perpustakaan Kineruku, Bandung, kini Dheg Dheg Plat diundang seorang kolega di Jakarta untuk diadakan di ibukota. Acara ini bertepatan dengan <em>Record Store Day</em>, yang selalu dirayakan serentak di seluruh dunia pada Sabtu ketiga di bulan April setiap tahunnya.</p>
<p>Dheg Dheg Plat (memelintir judul album legendaris Koes Plus) masih berkonsep sama dengan sebelumnya: mengajak para penikmat musik untuk bertemu, saling berkenalan, memutar plat kesayangan masing-masing secara bergantian untuk diperdengarkan ramai-ramai, dilanjutkan ngobrol-ngobrol santai tentang pengalaman seputar piringan hitam. Misalnya, berbagi cerita tentang bagaimana jantung berdegup kencang ketika tak sengaja menemukan rilisan penting di lapak pinggir jalan, berdiskusi kenapa album-album tertentu itu esensial sekaligus mengubah hidup kita, serunya tawar-menawar dan barter dengan sesama kolektor, memaki jarum dan cakram yang tak lagi mau kompromi, berbagi tips merawat plat, atau sekadar begadang semalaman di depan komputer, harap-harap cemas menelusuri satu per satu katalog penjual online, atau saling berebutan di forum &#8220;siapa cepat dia dapat&#8221; bagai serigala kelaparan: HOLD!</p>
<p>Dan tentunya pengalaman mendengar (<em>listening experience</em>) itu sendiri, dimana lempengan gelap ukuran tujuh, sepuluh, dan dua belas inchi itu memang potensial menghasilkan ritual pemujaan musik, selain juga kenikmatan maksimum di kuping dan di hati.</p>
<p>Jangan lupa bawa juga <em>extra cash</em>, siapa tahu ada transaksi lempar cakram di lokasi. Meminjam kata-kata sutradara kenamaan Jerman, Wim Wenders, &#8220;<em>Don’t spend money on therapy. Spend it in a record store</em>.&#8221; Haha! Jadi, mana plat kesayanganmu? Ayo bawa, putar, dan ceritakan!</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rukustik #4: Afternoon Talk</title>
		<link>http://kineruku.com/rukustik-4/</link>
		<comments>http://kineruku.com/rukustik-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 09:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5175</guid>
		<description><![CDATA[Menikmati musik sore Rukustik #4 bersama Afternoon dan Rayhan Sudrajat [<a href=" http://kineruku.com/?p=5175">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_Still2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5176" title="Rukustik4_Still2" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_Still2.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rukustik #4: AFTERNOON TALK</strong><br />
Opening Act: <strong>RAYHAN SUDRAJAT</strong></p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
<strong>Jl. Hegarmanah 52 Bandung</strong><br />
(<a href="http://kineruku.com/how-to-reach-us/" target="_blank">peta lokasi</a>)<br />
<strong>Kamis, 16 Februari 2012</strong><br />
<strong>15:30-17:30 WIB.</strong> Gratis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>I know I still wake up in the same morning, where everything seems so blue, when your face&#8217;s still sticking like glue</em>.&#8221;</p>
<p>Bagaimana menyikapi kehilangan dan/atau hal-hal semacamnya yang tak bisa sepenuhnya kita kontrol? Meratap memandangi foto wajah si Dia yang Pergi Begitu Saja sambil memantau setiap gerak-geriknya di <em>social media</em> lalu teriak ke udara ‘Kenapaaa’; atau mendingan (di)mantap-mantap(kan) saja menutup lembaran lama dengan keyakinan 93% bahwa esok hari dan petualangan baru siap menanti di depan sana? Mungkin kita harus lebih memilih yang kedua, dan &#8220;Tak perlu sedu sedan itu,&#8221; mengutip sang legenda bohemian Chairil Anwar. Saya tahu tak segampang itu.</p>
<p><a href="http://www.reverbnation.com/afternoontalk" target="_blank"><strong>Afternoon Talk</strong></a>, trio indie-folk-pop dari Lampung mungkin menganut falsafah itu. Mungkin juga tidak. Atau kombinasi dari semua itu: toh cuek saja mereka mencomot gitar (dan bass), mendendangkan kepedihan masa lalu lewat nada-nada riang yang familiar, dan jika perlu, pita suara vokalis perempuan disetel pada <em>pitch control</em> yang meyakinkan di kalimat &#8220;<em>…don&#8217;t wanna hear you say her name that will make me wanna punch you in the face, like… thousand times!</em>&#8221; Menyerukan kekesalan memang jauh lebih seksi ketimbang mengagungkan kesedihan. Pertama kali menyimak lagu-lagu mereka seperti bertemu orang yang tak dikenal di kursi taman, yang langsung mengajak kita berbincang; dan tepat di menit pertama kita merasa: jangan-jangan kita pernah mengenalnya, entah di mana, mungkin di dunia sebelumnya? Rilisan perdana mereka, <em>Afternoon Talk EP</em> (2012), bakal keluar dalam format CD berjumlah terbatas (hanya 100 kopi), banyak menyoal kepergian seseorang dan keyakinan yang rapuh, terlena oleh surat cinta yang ternyata bukan untuk dirinya, ditimpali siulan hangat dan renyahnya ukulele yang menyelinap di sana-sini. Senyum tipis seolah tersungging di setiap repertoarnya&#8212;saya tidak merasa itu palsu. Kalaupun iya, berarti mereka sangat pintar bersandiwara.</p>
<p>Dengan senang hati Kineruku menerima permintaan Ivann Makhsara, manajer Afternoon Talk, yang berniat memboyong band-nya tur keliling Jawa (#lovelettertojava), dan khusus untuk persinggahan di Bandung, di akun twitternya dia menulis: &#8220;<em>@afternoontalk akan bermain di tempat paling saya cintai di muka bumi ini selain rumah saya, @kineruku.</em>&#8221; Kami pun menyediakan satu senja untuk mereka, apa adanya, satu di antara sore-sore biasa (bahkan bukan di akhir pekan) di teras belakang perpustakaan kami. Panggung Rukustik #4 juga akan dimeriahkan oleh penampilan <a href="http://soundcloud.com/rayhansudrajat "><strong>Rayhan Sudrajat</strong></a>, seorang <em>singer-songwriter</em> berbakat dari Bandung, dengan suara beratnya yang khas bakal kian menghangatkan sore cerah kita. Musisi yang juga tergabung di kolektif Vickyvette dan Slylab ini akan merilis sisi lain dirinya lewat album solo terbaru dalam waktu dekat.</p>
<p>Saya mengundang siapapun yang membaca tulisan ini untuk datang. Dengan musik akustik mari kita nikmati sore sebagaimana mestinya: bersahaja dan secukupnya. Meski hanya sepenggal lantaran gelapnya malam siap menghadang, tak mengapa, toh esoknya akan ada sore lagi. Hidup jalan terus.</p>
<p><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku</em></p>
<p style="text-align: center;"> * * *</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Acara ini terselenggara atas kerjasama:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineruku.com"><strong>Kineruku</strong></a> | <strong>Afternoon Talk</strong> | <strong>Rayhan Sudrajat</strong> | <a href="http://gigsonsky.com/" target="_blank"><strong>GigsOnSky</strong></a> | <a href="http://ripstore.co" target="_blank"><strong>Ripstore</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">&gt;&gt; Link terkait: <a href="http://kineruku.com/efek-rumah-kaca-bermain-akustik/" target="_blank"><strong>Rukustik #1</strong></a>, <a href="http://kineruku.com/rukustik-2-mimimintuno/" target="_blank"><strong>Rukustik #2</strong></a>, <a href="http://kineruku.com/rukustik-3-klab-klassik/" target="_blank"><strong>Rukustik #3</strong>.</a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>UPDATE:</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Foto-foto karya <a href="http://twitter.com/marnalaman" target="_blank">Marnala Eros Simanjuntak</a> selama pertunjukan Rukustik #4 di Kineruku, Bandung, 16 Februari 2012.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto1A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5225" title="Rukustik4_foto1A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto1A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Rayhan Sudrajat membuka Rukustik #4 dengan lagu-lagu ciptaannya yang hangat dan syahdu.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto2A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5226" title="Rukustik4_foto2A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto2A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Rayhan Sudrajat menggesek senar gitarnya ketika meng-cover lagu The Beatles &#8220;Strawberry Fields Forever&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto3A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5227" title="Rukustik4_foto3A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto3A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Vokalis Afternoon Talk manis menyapa penonton di Rukustik #4.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto4A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5228" title="Rukustik4_foto4A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto4A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Mendendangkan nada-nada riang tentang tema-tema kehilangan.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto5A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5229" title="Rukustik4_foto5A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto5A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto6A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5230" title="Rukustik4_foto6A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto6A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto7A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5231" title="Rukustik4_foto7A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto7A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto8A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5232" title="Rukustik4_foto8A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto8A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Afternoon Talk berpose setelah selesai manggung.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto9A.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5233" title="Rukustik4_foto9A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/02/Rukustik4_foto9A.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
Manajer Afternoon Talk, Ivann Makhsara, sambil makan berpikir keras kapan bisa kembali lagi ke Kineruku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/rukustik-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dheg Dheg Plat Vol. 2</title>
		<link>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-2/</link>
		<comments>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 08:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5008</guid>
		<description><![CDATA[Mana plat kesayanganmu? Ayo bawa, putar, dan ceritakan! [<a href="http://kineruku.com/?p=5008">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/01/DhegDhegPlat2_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5009" title="DhegDhegPlat2_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/01/DhegDhegPlat2_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DHEG DHEG PLAT VOL. 2</strong><br />
Obrolan santai seputar piringan hitam</p>
<p><strong>Minggu, 15 Januari 2012</strong><br />
Pukul 13:00 &#8211; 15:00 WIB<br />
<strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung<br />
T/F: (022) 2039615<br />
(<a href="http://kineruku.com/how-to-reach-us/" target="_blank"><strong>Peta Lokasi</strong></a>)</p>
<p>Setelah sukses dengan Dheg Dheg Plat edisi perdana September 2011 lalu, kini Dheg Dheg Plat Vol. 2 hadir untuk kita semua.</p>
<p>Dheg Dheg Plat (memelintir judul salah satu album legendaris Koes Plus) kembali mengajak para penikmat musik untuk berbincang-bincang santai tentang pengalaman seputar piringan hitam. Masih berbagi kisah tentang bagaimana jantung berdegup kencang ketika tak sengaja menemukan rilisan penting di lapak pinggir jalan, berdiskusi kenapa album-album tertentu itu esensial sekaligus bermakna secara personal, serunya tawar-menawar dan barter dengan sesama kolektor, memaki jarum dan cakram yang tak lagi mau kompromi, berbagi tips merawat plat, atau sekadar begadang semalaman di depan komputer, harap-harap cemas menelusuri satu per satu katalog penjual online. Dan tentu saja pengalaman mendengar (<em>listening experience</em>) itu sendiri, dimana lempengan gelap ukuran tujuh, sepuluh, dan dua belas inchi itu memang menghasilkan kepuasan maksimum dan kenikmatan musikal tersendiri di kuping dan di hati.</p>
<p>Mana plat kesayanganmu? Ayo bawa, putar, dan ceritakan!</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kineruku: Nama Baru, Rasa Lama</title>
		<link>http://kineruku.com/kineruku-nama-baru/</link>
		<comments>http://kineruku.com/kineruku-nama-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 12:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5093</guid>
		<description><![CDATA[Nama resmi dan alamat website baru kami: Kineruku. [<a href=" http://kineruku.com/?p=5093">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/01/KinerukuNamaBaru_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5161" title="KinerukuNamaBaru_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/01/KinerukuNamaBaru_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>Mulai 1 Januari 2012, Rumah Buku/Kineruku resmi berganti nama menjadi <strong>Kineruku</strong>. Alamat website resmi juga berubah menjadi <a href="http://www.kineruku.com"><strong>www.kineruku.com</strong></a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/kineruku-nama-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Screening &amp; Discussion: Videosonic #2: The Spectacle</title>
		<link>http://kineruku.com/screening-discussion-videosonic-2-the-spectacle/</link>
		<comments>http://kineruku.com/screening-discussion-videosonic-2-the-spectacle/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 07:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=4872</guid>
		<description><![CDATA[Karya-karya videomaker eksperimental alumnus HBK (Hochschule für Bildende Künste), Braunschweig, Jerman. [<a href="http://kineruku.com/?p=4872">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/12/videosonic2_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4873" title="videosonic2_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/12/videosonic2_still.jpg" alt="" width="590" height="244" /></a></p>
<p>Pada 7 Desember 2011 ini, Kineruku menghadirkan sebuah acara yang termasuk dalam rangkaian <strong>Videosonic #2: The Spectacle</strong>, yaitu pemutaran film dan diskusi karya-karya <em>videomaker</em> eksperimental alumnus HBK (<strong><a href="http://www.hbk-bs.de/en/" target="_blank">Hochschule für Bildende Künste</a></strong>), Braunschweig, Jerman. Pada kesempatan ini, salah satu pembuat video sekaligus dosen film di HBK, yaitu Michael Brynntrup akan hadir dalam <em>screening</em> dan diskusi.</p>
<p>Sebelumnya, pada September 2008 lalu, Kineruku juga pernah mengadakan <strong><a href="http://kineruku.com/13-september-film-screening-from-the-student-class-hbk-braunschweig-germany/" target="_blank">pemutaran film-film mahasiswa HBK</a></strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>Videosonic #2: The Spectacle</h1>
<p>Our modern culture is a society that obsessed with looking (spectacle) and what people think of each other. Modern technology facilitates and supports tools to enable us to capture both sides of looking; watcher and being watched.</p>
<p>Videosonic is a Video and Sound Triennale include: Screening, Video Talk, Seminare and Workshop. This Year Guest Country is Germany, Filmklasse &#8211; Hochschule für Bildende Künste Braunschweig.</p>
<p><strong>07 December 2011, 18:30 WIB &#8211; 21:00 WIB</strong><br />
<strong> Screening and discussion: Videosonic #2 &#8211; The Spectacle</strong><br />
<strong><br />
Kineruku</strong><br />
<strong>Jl. Hegarmanah 52</strong> Bandung<br />
Video From the Alumni of Hochschule für Bildende Künste Braunschweig &#8211; Germany<br />
Hosted by Ariani Darmawan</p>
<p>=====</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Rangkaian acara lainnya:</span><br />
Hosted by <strong>Intermedia Studio &#8211; FSRD ITB</strong><br />
<strong>01 December 2011 &#8211; 13:00 WIB</strong><br />
Seminar Videosonic #2 &#8211; The Spectale, Seminare Hall &#8211; Faculty of Art and Design &#8211; ITB<br />
Speaker: Agung Hujatnika Djenong, Krisna Murti, Michael Brynntrup,<br />
Moderated by Dimas Arif Nugroho<br />
Screening: Alumni of Filmklasse &#8211; Hochschule für Bildende Künste Braunschweig<br />
Portrait of Michael Brynntrup</p>
<p><strong>02 &#8211; 07 December 2011, 13:00 &#8211; 16:00</strong><br />
Workshop Videosonic #2 &#8211; The Spectacle<br />
<strong>Intermedia Studio &#8211; Faculty of Art and Design &#8211; ITB</strong><br />
Michael Brynntrup &amp; Deden Hendan Durahman</p>
<p><strong>08 December 2011 &#8211; 13:00 &#8211; 17:00</strong><br />
Screening, <strong>Bale Handap &#8211; Selasar Sunaryo Art Space</strong>, Hosted by Malcom Smith:<br />
Videos of Filmklasse Student &#8211; Hochschule für Bildende Künste Braunschweig<br />
Video from the Workshop Videosonic #2</p>
<p>=====</p>
<p><strong>Intermedia Studio &#8211; Faculty of Art and Design</strong><br />
Bandung Institute of Technology<br />
Jalan Ganesha 10, 40132 Bandung –Indonesia</p>
<p>http://www.fsrd.itb.ac.id</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung, 40141- Indonesia</p>
<p>http://kineruku.com</p>
<p><strong>Selasar Sunaryo Art Space</strong><br />
Bukit Pakar Timur No.100, 40198, Bandung – Indonesia</p>
<p>http://www.selasarsunaryo.com</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><em>Contact Person</em>:</span><br />
Dimas Arif Nugroho: dimas.arif.nugroho@gmail.com<br />
Deden Durahman : gege@gegelink.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/screening-discussion-videosonic-2-the-spectacle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Follow Twitter kami: @kineruku</title>
		<link>http://kineruku.com/follow-twitter-kami-kineruku/</link>
		<comments>http://kineruku.com/follow-twitter-kami-kineruku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 11:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=4862</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/11/twitter2_still1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4869" title="twitter2_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/11/twitter2_still1.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/follow-twitter-kami-kineruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nguping Jakarta:Koneksi Ketawa, Kiss Per Kiss!</title>
		<link>http://kineruku.com/nguping-jakarta/</link>
		<comments>http://kineruku.com/nguping-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 09:34:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=4639</guid>
		<description><![CDATA[Bila ingin mengenali wajah sebuah kota, humor yang berkaitan dengan perilaku alias 'kelakuan' para warganya bisa menjadi salah satu indikatornya. [<a href="http://kineruku.com/?p=4639">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/10/ngupingjakarta_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4645" title="ngupingjakarta_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/10/ngupingjakarta_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<blockquote><p>&nbsp;</p>
<p>Pramugari: &#8220;Ih, lucu banget, siapa namanya?&#8221;<br />
Anak kecil: &#8220;Nesia, Tante.&#8221;<br />
Pramugari: &#8220;Wah, bagus banget namanya! Siapa nama panjangnya?&#8221;<br />
Anak kecil: &#8220;Indonesia Raya.&#8221;</p>
<p>Sushi Tei PIM, didengar oleh seorang programmer yang ingin mengerek bendera (hlm. 166)</p></blockquote>
<p><em></em><br />
Bila ingin mengenali wajah sebuah kota, humor yang berkaitan dengan perilaku alias &#8216;kelakuan&#8217; para warganya bisa menjadi salah satu indikatornya. Bila humor macam itu dicuri dengar dari sebuah kota yang bernama Jakarta, sang ibukota, kita juga akan bisa melihat cuplikan wajah negara karena di tempat inilah pusat pemerintahan terselenggara. Selain itu, di sini pula sumber mengepulnya periuk nasi puluhan juta penduduk yang berasal dari beragam penjuru nusantara.</p>
<p>Bagian dari buku <em>Nguping Jakarta</em> yang mengawali ulasan ini, menawarkan salah satu potret Jakarta saat ini. Entah sudah berapa kali si kecil Nesia harus menjawab pertanyaan yang sama soal nama lengkapnya. Entah berapa orang yang sudah mendengar jawaban Nesia, namun hanya si <em>programmer</em> yang ikut mencuri dengar di Sushi Tei hari itu yang &#8216;melaporkan&#8217; kejadian ini ke Kuping Kiri dan Kuping Kanan yang lantas mencantumkan &#8216;laporan kejadian&#8217; tersebut di blog mereka, <a href="http://ngupingjakarta.blogspot.com" target="_blank"><strong>ngupingjakarta.blogspot.com</strong></a>. Ringkasnya, cara penyebaran dan pengumpulan humor ala <em>Nguping Jakarta</em> terbentuk dari rangkaian kesaksian dari orang-orang yang tak selalu pandai melucu, namun jelas memiliki selera humor dan sedikit berjiwa reporter karena ia tahu betul harus ke mana meneruskan kesaksian/laporan kejadian kocak yang didengarnya.</p>
<p>Kedua Kuping akan meminta &#8216;saksi&#8217; memberikan data berupa tempat dan waktu kejadian berlangsung, dan bila hasil laporan dianggap memenuhi syarat serta standar kelucuan kedua Kuping, mereka akan membungkusnya dengan judul pembuka serta menutupnya dengan komentar khas mereka lalu memuatnya di blog. Berbeda dengan rumor, humor yang dituntut oleh kedua Kuping haruslah berdasarkan data dan fakta. Karena, fakta memang bisa lucu. Ciri khas bungkusan humor olahan kedua Kuping pula yang memberikan nilai lebih pada blog/buku <em>Nguping Jakarta</em>. Untuk saya pribadi, soal akurasi kedua Kuping mencantumkan sumber data (meskipun sebatas nama lokasi) dari peristiwa lucu hasil laporan saksi adalah salah satu hal yang perlu dihargai, mengingat sejumlah media utama bahkan kerap tak lagi merasa perlu akurat soal-soal &#8216;kecil&#8217; seperti itu.</p>
<p>Kelahiran blog Nguping Jakarta sendiri terjadi akibat kedua Kuping mendengar percakapan kocak di sebuah restoran kawasan Cilandak Town Square. Saat itu, kedua Kuping sedang memesan makanan mereka, sementara pengunjung di meja sebelah asyik bergunjing dan di satu titik melontarkan pernyataan kocak. Peristiwa ini mengingatkan salah satu Kuping pada sebuah situs, <em><a href="http://overheardinnewyork.com" target="_blank">Overheard in New York</a></em>, yang memuat beragam peristiwa  lucu khas New York berdasarkan laporan kesaksian warga kota itu. Bak pejabat atau akademisi yang sedang gemar menggunakan istilah ‘muatan lokal’, kedua Kuping yang adalah pekerja profesional lantas bersepakat untuk melahirkan blog yang terinspirasi oleh situs di New York itu. Dalam sekejap, blog itu pun kebanjiran beragam kesaksian kisah lucu khas Jakarta. Sampai beberapa waktu kemudian, kedua Kuping bahkan tak terlacak identitasnya. Rupanya, mereka lupa betapa rajinnya sebagian orang untuk mengklaim. Apa yang dimaksudkan kedua Kuping sebagai ‘niat baik’ mengingat humor yang dilaporkan selalu berdasarkan peristiwa lucu yang terjadi di ruang publik, dan terkadang pelakunya sendiri tak sadar betapa lucu perilakunya di mata saksi, ternyata justru menjadi bumerang yang menjengkelkan. Di sinilah keputusan kedua Kuping untuk membuka sedikit identitas mereka dengan menggunakan nama rekaan, Kuping Kiri dan Kuping Kanan. Mari kita awali pembahasan yang (maunya sok) serius soal buku yang (seolah-olah) tidak serius ini, dengan membongkar sebagian dari ‘isi perut’ <em>Nguping Jakarta</em>.</p>
<p><strong>Bawah, Tengah, Atas, Depan: Kagak Ada yang Kagak Lucu!<br />
</strong>Isi &#8216;perut&#8217; <em>Nguping Jakarta</em> beragam, dan menggambarkan keterwakilan wajah Jakarta di berbagai lini. Sebagian dari isian itu bisa Anda ikuti di bagian ini.</p>
<blockquote><p>&#8220;Saya rasa penyebab banyaknya pelajar SLTP yang tidak lulus adalah karena mereka salah dapat bocoran kunci jawaban.&#8221; (hlm. 4, Yang Namanya Bocoran Itu Harus Resmi)</p>
<p><em></em>&#8220;Loh, Anda tidak boleh sembarangan begitu! Kita harus lihat situasi ini <em>kiss per kiss</em>-nya.&#8221; (hlm. 59, Ini Tindak Lanjut Yang Penuh Cinta!)</p>
<p><em></em>&#8220;Oh, iya tuh, seharusnya diurus oleh Deperindag.&#8221; (hlm. 44, Biar Terjamin Kualitasnya)</p>
<p>&#8220;Ya, harap maklum, saya kan bukan seniman!&#8221; (hlm. 60, Saya, Kan, Gak Pernah Ngerti Dunia Itu!)</p></blockquote>
<p>Empat cuplikan di atas bersumber dari penyataan sejumlah pejabat negara di ruang-ruang publik. Yang pertama adalah pejabat bidang pendidikan ketika diwawancara di televisi, berikutnya adalah pejabat yang (niatnya) berkelit menjawab pertanyaan wartawan soal indikasi korupsi di instansinya. Kutipan yang ketiga adalah jawaban seorang artis merangkap anggota dewan saat ditanya wartawan soal masalah perdagangan anak, dan yang keempat adalah pejabat bidang seni dan kebudayaan kala menyampaikan sambutan membuka festival seni kontemporer. Kalimat yang dikutip di sini adalah reaksi &#8216;bela-diri&#8217;-nya ketika salah satu pengunjung mencoba merevisi salah ucap sang penjabat yang berulang kali menggunakan istilah &#8220;korentomper&#8221; di sambutan resminya itu.</p>
<blockquote><p>&#8220;Pemain X ini adalah pemain yang sangat berbahaya apabila tidak dikawal&#8230;&#8221; (hlm. 36, Apalagi Jika Gawangnya Tidak Dijaga Kiper)</p>
<p>&#8220;Benar sekali pemirsa! Dan saya yakin audisi-audisi mereka ini yang selalu membuat pemirsa di studio maupun di rumah terngaing-ngaing dengan penampilan mereka&#8230;&#8221;(hlm. 44, Yang Pasti Bikin Kita Terkaing)</p>
<p>&#8220;Kita lihat memang sedikit kebingungan tampaknya Nwakolo untuk menentukan ke mana harus menendang bola.. tentunya ke arah gawang.&#8221; (hlm. 79, Kalo Ia Dengar Komentar Itu, sih, Sasaran Tendangannya Pasti Berubah)</p></blockquote>
<p>Tiga kutipan di atas diambil dari beberapa laporan pemirsa televisi, yang melaporkan beragam liputan versi sebagian reporter televisi  kita saat ini.</p>
<blockquote><p>&#8220;Bisa gak, bilang ke pilot jangan navigasi dan komunikasi? Saya mau ngidupin hape bentar aja, takut ngganggu kalau saya gak bilang-bilang dulu.&#8221; (hlm. 88, Yang Penting Beretika)</p>
<p>Penumpang 1: (memperlihatkan pass) &#8220;(Ini) tempat duduk saya, nomor 24 D-E-C kan?&#8221;<br />
Penumpang 2: (memperhatikan pass) &#8220;Itu tanggalnya Mas. Tempat duduk mas nomor 7!&#8221;<br />
(hlm. 98, Untung Bukan Bulan Januari)</p></blockquote>
<p>Sementara dua cuplikan kali ini diambil dari laporan saksi terhadap beberapa peristiwa yang memperlihatkan perilaku sejumlah orang yang terkesan sebagai profesional/penting/terpelajar saat sosok-sosok ini masih mencoba menawar ‘aturan main’ yang seharusnya sudah tak perlu dijelaskan.</p>
<blockquote><p>Anak Kecil: (kebelet) &#8220;Ma, mau pipis!&#8221;<br />
Ibu: (sibuk belanja baju) &#8220;Gak boleh! Mama lagi gak ada duit!&#8221;<br />
(hlm. 167, Inget, Harga BBM Sudah Naik!)</p>
<p><em>Bellboy</em>: &#8220;Ada barang yang ketinggalan, Bu?&#8221;<br />
Ibu: (malu-malu) &#8220;Ehm.. anak saya&#8230;&#8221;<br />
(hlm. 167. Masnya, sih, Gak Masukin Dia!)</p></blockquote>
<p>Dua cuplikan di atas merupakan laporan saksi atas ‘kelakuan’ dua orang ibu-ibu muda masa kini, di dua tempat (mal dan hotel) yang dengan segera memperlihatkan dari kelas sosial mana kedua ibu itu berasal. Kita lanjutkan dengan kutipan-kutipan berikut ini,</p>
<blockquote><p>Penumpang Angkot: (mendadak berteriak) &#8220;Assalamualaikum Bang! Assalamualaikuumm!&#8221;<br />
Sopir Angkot : (kaget) &#8220;Waalaikumsalam, Mbak!&#8221;<br />
Penumpang/Sopir: (sama-sama kaget)<br />
Penumpang Angkot: &#8220;Maksud saya &#8216;kiri&#8217;, Bang.&#8221;<br />
(hlm.78, Terlalu Sopan Mbaknya)</p>
<p>Pembeli SIM Card: &#8220;Gak ada nomor cantik, Bang?&#8221;<br />
Penjual : &#8220;Bedakin aja nomornya.&#8221;<br />
(hlm. 103, Suntik Botox Kalo Perlu)</p>
<p>Pedagang Kaos: &#8220;Ayo, ayo.. baju murah, 25 ribu bisa masuk surga.. asal dipakai shalat.&#8221;<br />
(hlm. 115, Aa? Kok, Sekarang Jualan Kaus?)</p></blockquote>
<p>Ketiga kutipan terakhir dipilih sebagai contoh laporan saksi yang diperoleh dari lokasi-lokasi umum yang berbeda dari lokasi-lokasi berlangsungnya peristiwa-peristiwa yang mendahului bagian ini. Yang pertama jelas terjadi di sebuah angkot, yang kedua di Stasiun Kota, yang ketiga di emperan Gelora Bung Karno.</p>
<p>Sengaja saya urutkan berbagai contoh peristiwa seperti di atas bukan hanya dengan niat membuktikan betapa kocaknya perilaku orang-orang Jakarta di semua lini, tapi juga sebagai pelengkap argumen saya soal kenapa kedua Kuping sebetulnya tidak sekadar mengajak kita tertawa. Lanjut Bang!</p>
<p><strong>Ngawur di Atas, Gawat di Depan, Lari di Tengah, Pasrah di Bawah?: Setelah Mereka Nguping dan Kita Ketawa, Lalu?</strong><br />
Sejumlah contoh di atas masih menyisakan pertanyaan yang lebih tepat diajukan kepada kita selaku pembaca buku itu: sudah sedemikian &#8216;lucu&#8217;-kah kondisi kita saat ini? Atau sudah selesaikah semua urusan, ketika kita sanggup tertawa atas beragam peristiwa lucu tersebut? Karena satu hal yang harus kita ingat, semua &#8216;kelucuan&#8217; di buku itu pernah terjadi. Dan pelakunya sendiri, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, belum tentu menganggap perilakunya lucu. Para saksilah yang berkesimpulan demikian, dan kedua Kuping mengamini mereka.</p>
<p>Bayangkan jika pejabat negara yang dihidupi oleh uang pajak rakyat sanggup mengobral kekonyolan perilaku mereka, kemudian direkam oleh media massa, apa dampak berikutnya? Jangan heran jika sebagian media massa pun &#8216;ketularan&#8217; dan ikut merasa tak perlu bertanggung jawab atau mengusung etika. Sampai di sini kita bicara soal penyalahgunaan kekuasaan (<em>power</em>) akibat dinamika tak sehat antara lini &#8216;atas&#8217; (penguasa) dan &#8216;depan&#8217; (media massa). Bagian &#8216;atas&#8217; tak menghargai fungsi media selaku corong publik, sehingga sebagian media massa pun menirunya dengan kemudian memilih untuk tidak menghargai publik melalui perilaku &#8216;asal meliput&#8217;.</p>
<p>Akibat kurang berfungsinya sebagian dari lini &#8216;depan&#8217; ini, jangan heran bila muncul kalangan yang sebetulnya bingung, namun tak tahu—atau tak mau tahu—muara segala permasalahan di negeri ini, dan akhirnya memilih melarikan diri dari kenyataan. Tampaknya inilah yang terjadi pada lini &#8216;tengah&#8217;. Di buku ini, lini &#8216;tengah&#8217; diwakili melalui sejumlah sosok yang &#8216;mirip&#8217; orang penting, pintar, atau terpelajar. Melengkapi lini &#8216;tengah&#8217; ini ada juga contoh yang menggambarkan kelakuan dua ibu masa kini. Dari contoh-contoh tadi, faktor penggerak lini ini jelas uang. Bagi bapak-bapak &#8216;sok penting&#8217; di pesawat, jumlah uang kelihatannya bukan soal. Barangkali ia pikir, kalau sejumlah pejabat saja sudah berhasil ia &#8216;beli&#8217;, apa susahnya &#8216;membeli&#8217; awak pesawat?  Bagi awak pesawat yang tak sempat diberi pelatihan karena berbagai potongan anggaran yang dikorupsi, pertahanan terakhir yang mereka miliki barangkali adalah dengan mengorbankan kenyamanan penumpang.</p>
<p>Bagi si Mas yang salah membaca nomor kursi di <em>boarding pass</em>-nya, ia sudah maklum dengan minimnya asistensi di berbagai bidang pelayanan publik, sehingga amat penting untuk sanggup mengurus dan berani mengklaim kepentingan pribadi. Bagi si Mbak yang memang duduk di kursi yang benar ia pun sukarela menjelaskan ke si Mas yang salah alamat itu, karena si Mbak mungkin sebetulnya adalah sosok paling &#8216;berbudaya&#8217; di antara sosok-sosok lain di pesawat itu. Bagi dua ibu-ibu masa kini? Penting untuk terus menjaga penampilan karena mungkin itulah satu-satunya bidang yang mereka pahami dan membuat mereka merasa &#8216;ada&#8217;, meskipun untuk itu mereka sampai tak sempat mendengarkan anak sendiri.</p>
<p>Sementara itu, orang-orang di lini &#8216;bawah&#8217; punya cara mereka sendiri. Setelah semua lini di atas mereka tak ada yang bisa &#8216;dipegang&#8217;, mereka pun memegang lini yang &#8216;paling Atas&#8217; sebagai cara penyelamatan diri selama diwajibkan &#8216;hadir&#8217; di dunia ini. Entah apa yang sebetulnya sedang dipikirkan si Mbak di dalam angkot yang niatnya hendak turun tapi justru mengucap salam. Demikian pula dengan apa yang ada di benak Pak Sopir Angkot. Yang jelas keduanya bersepakat secara tak langsung, dan bahkan sudah terprogram untuk senantiasa &#8216;mengikuti&#8217; aturan main yang menurut mereka sesuai dengan aturan dari Yang Maha &#8216;Atas&#8217;. Pejuang di lini &#8216;bawah&#8217; juga tak punya ketrampilan <em>marketing</em> dengan istilah berbunga-bunga, pokoknya mereka menyediakan barang dengan harga &#8216;pantas&#8217;, karena selisih keuntungan &#8216;seperak-dua perak&#8217; itulah yang menentukan hidup mereka dan keluarga esok hari. Demikian pula dengan penjual kaos di emperan Gelora Bung Karno. Ia sadar siapa yang menjadi sasaran pasarnya, namun ia tak mungkin menjual kehebatan penampilan kesebelasan nasional, karena itu ia pun menawarkan ganjaran yang lebih dahsyat lagi dengan menyerempet dunia yang paling &#8216;Atas&#8217;.</p>
<p>Hal sama juga diyakini sang pemilik kios voucher pulsa dan kartu ponsel di Stasiun Kota yang lentur mengatasi kerewelan sejumlah warga yang kerap mengaku beriman namun masih percaya khasiat nomor cantik. Pengalaman ini pula yang mengasah kreativitasnya dalam menciptakan jawaban yang relatif lebih &#8216;sopan&#8217; (sekaligus usil) ketimbang &#8220;<em>Jangan nyari yang kagak ada!</em>&#8220;, sekaligus kapasitas untuk menghibur dirinya sendiri dan sebagian orang  lain (termasuk sang pelapor) yang senantiasa memadati Stasiun Kota.</p>
<p>Bagaimanapun, kita harus wajib meyakini adanya setitik harapan di tengah kegilaan ala Jakarta. Harapan itu terwakili dari sosok si Mbak &#8216;sabar&#8217; yang duduk di bangku pesawat nomor 24  dan juga dari si kecil Nesia di Sushi Tei. Kesabaran penumpang di bangku pesawat nomor 24 itu barangkali hasil dari jam terbangnya mencerna dan mengamati beragam peristiwa di sekitarnya&#8212;lebih tepatnya, di &#8216;lini ia berada&#8212;hingga pada satu titik ia berkesimpulan untuk menjadi bagian dari solusi, dan bukan bagian dari masalah. Si kecil Nesia kadung didaulat kedua orang-tuanya untuk tabah dengan memberinya nama yang amat besar. Bisa jadi ini merupakan pilihan &#8216;lucu&#8217;, tapi belum tentu dengan niat &#8216;lucu-lucuan&#8217;. Mungkin saja orangtua Nesia adalah pasangan yang lelah dengan obsesi sejumlah orangtua kelas menengah atas yang tergila-gila pada &#8216;globalisasi&#8217; dan merasa perlu menamai putra-putri mereka dengan nama-nama yang kebarat-baratan alias berbau &#8216;internasional’. Kepalang basah menjadi nasionalis mereka pun tak bisa menemukan nama yang lebih dahsyat selain nama republik kita tercinta itu sendiri.</p>
<p>Kedua Kuping telah melakukan langkah awal yang menarik dengan memaparkan kenyataan yang jarang bisa diungkapkan oleh pihak yang berwenang: bahwa kita, sebagai sebuah tatanan masyarakat yang merupakan gabungan dari semua lini dan sudah digariskan untuk berbagi nasib bersama, memang punya masalah besar yakni ketiadaan nilai (<em>value</em>). Pemicunya antara lain karena kita tak mengenal adanya sangsi terhadap tindakan apapun dari siapapun selama ia berada di posisi &#8216;aman&#8217;, yaitu antara lini &#8216;atas&#8217; hingga &#8216;tengah&#8217;, dimana makin atas makin aman.</p>
<p>Bagaimanapun <em>Nguping Jakarta</em> tak luput dari sejumlah catatan, antara lain akibat kondisi bahasa kita yang terlalu luwes. Sebut saja soal penulisan kutipan verbal, seperti yang tertera pada blog maupun versi bukunya. Bila di sana segalanya tertulis  seperti bahasa lisan, belum tentu hal ini benar. Catatan lainnya adalah soal kelengkapan data, yang sebetulnya bisa lebih membuat buku ini menjadi pendokumentasian yang menarik, yakni pencantuman tahun terjadinya peristiwa. Itu barangkali bisa membantu pembaca mengingat sekaligus meletakkan kelucuan kejadian pada konteks. Karena, sekali lagi, bahasa kita yang sangat luwes dan dapat berkembang kapan saja berakibat apa yang lucu hari ini bisa segera menjadi basi esok pagi.</p>
<p>Akhir kata, menutup (semacam) ulasan ini, izinkanlah saya bertanya: <em>Jadi, cukupkah kita hanya tertawa</em>? Bila di antara Anda ada yang punya kapasitas mengupas buku ini hingga ke &#8216;jeroan&#8217;-nya, percayalah, keahlian Anda itu sangat diperlukan untuk pelan-pelan bisa mengubah tawa menjadi strategi mencari solusi.</p>
<p align="right">[<strong>Prima Rusdi</strong>, penulis skenario]</p>
<p style="text-align: left;" align="right"><em><strong>Nguping Jakarta</strong></em><br />
Kuping Kiri &amp; Kuping Kanan<br />
Penerbit B First, 2011, 220 hlm.</p>
<p style="text-align: left;" align="right">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/nguping-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dheg Dheg Plat Vol. 1</title>
		<link>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-1/</link>
		<comments>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 04:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4367</guid>
		<description><![CDATA[Undangan terbuka kepada para penikmat musik untuk ngobrol-ngobrol santai di sore hari, seputar piringan hitam dan apresiasi musik [<a href="http://kineruku.com/?p=4367">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/09/degdegplat1_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4370" title="degdegplat1_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/09/degdegplat1_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><strong>DHEG DHEG PLAT<br />
</strong>Obrolan santai seputar piringan hitam</p>
<p><strong>Jumat, 30 September 2011<br />
</strong>Pukul 15.00 WIB &#8211; selesai<strong> </strong></p>
<p><strong>Kineruku<br />
</strong>Jl. Hegarmanah 52 Bandung<br />
T/F: (022)2039615</p>
<p>Mendengarkan musik melalui piringan hitam, lazim pula disebut plat atau <em>vinyl</em>, selalu menghasilkan pengalaman berbeda. Pengalaman itu yang kemudian membuat apresiasi musik menjadi penting. Ketika masuk era industri musik digital, dimana musik bisa dengan gampang diunduh lalu diperdengarkan melalui piranti digital, sangat menyenangkan mendapati masih ada orang-orang dengan antusiasme tinggi justru mengumpulkan dan menikmati musik sedemikian adiluhungnya melalui medium analog, seperti piringan hitam. Pengalaman-pengalaman itu sesuatu yang tak mudah ditukar.</p>
<p>Dheg Dheg Plat (memelintir judul salah satu album legendaris Koes Plus) mengajak para penikmat musik untuk berbincang-bincang santai tentang pengalaman seputar piringan hitam. Berbagi kisah tentang bagaimana jantung berdegup kencang saat tak sengaja menemukan rilisan penting di lapak kios bekas di pinggir jalan, berdiskusi kenapa album-album tertentu itu esensial, serunya tawar-menawar dan barter dengan sesama kolektor, memaki jarum dan cakram yang tak lagi mau kompromi, atau sekadar begadang semalaman di depan komputer, harap-harap cemas menelusuri satu per satu katalog penjual online. Dan tentu saja pengalaman mendengar (<em>listening experience</em>) itu sendiri, dimana lempengan gelap ukuran tujuh, sepuluh, dan dua belas inchi itu memang menghasilkan kepuasan maksimum dan kenikmatan musikal tersendiri di kuping dan di hati.</p>
<p>Setiap orang tentu punya kisahnya masing-masing. Entah dari siasat berburu dan menemukannya, apa saja album kesayangannya, atau nilai piringan hitam yang kian berharga hari-hari ini. Ini sekaligus bisa menjadi perkenalan awal bagi kawan-kawan yang ingin lebih tahu mengenai piringan hitam. Dari pengalaman-pengalaman personal itu kita bisa belajar banyak. Dan di atas segalanya, adalah soal <em>passion</em> yang besar untuk mengapresiasi musik, yang takkan pernah padam. Itulah yang membuat mendengarkan musik tidak akan pernah sama lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/dheg-dheg-plat-vol-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kineruku Screening: 3 Short Films by Add Word Productions</title>
		<link>http://kineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions/</link>
		<comments>http://kineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 11:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4295</guid>
		<description><![CDATA[Red Umbrella, film terbaik di ajang Asian Short Film Awards @ScreenSingapore 2011 yang dewan jurinya diketuai Oliver Stone [<a href="http://kineruku.com/?p=4295">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/addword_still1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4377" title="addword_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/addword_still1.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong>3 Short Film by Add Word Productions</strong></p>
<p>Sabtu, <strong>20 Agustus</strong> 2011<br />
<strong>Pk 19:30</strong> WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52<br />
Bandung</p>
<p><em>Gratis.</em><br />
Pemutaran akan dihadiri oleh Edward Gunawan dan Andri Cung<br />
(Sutradara dan Produser <em>Payung Merah</em>)</p>
<p>Untuk info lebih lanjut kunjungi:<a href="http://addwordproductions.com" target="_blank"><br />
addwordproductions.com</a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Di bulan Ramadhan ini, Kineruku mendapatkan kesempatan memutar film-film pendek karya Add Word Productions. Salah satunya adalah <em>Payung Merah</em> (<em>Red Umbrella</em>), sebuah film pendek bergenre <em>thriller</em> supranatural yang pada Juni 2011 lalu dinobatkan sebagai film terbaik dalam ajang Asian Short Film Awards @ScreenSingapore 2011, dengan dewan juri yang diketuai oleh Oliver Stone.</p>
<p>Selain <em>Payung Merah</em>, akan diputar pula dua film pendek terbaru produksi Add Word Productions yaitu <em>Broken Vase</em> dan <em>Borrowed Time</em>, keduanya bergenre drama dan dibintangi oleh Atiqah Hasiholan.</p>
<p>Add Word Productions didirikan oleh seniman/pengusaha Edward Gunawan di Los Angeles, AS. Sebelum rumah produksi tersebut berdiri, Edward telah memproduksi sepuluh film pendek, termasuk <em>Still</em> karya Lucky Kuswandi yang pernah diputar di film festival bergengsi Clermont-Ferrand International Film Festival, juga <em>Laundromat</em> (karya Edward Gunawan sebagai sutradara) yang memenangkan banyak penghargaan.</p>
<p>Sebagai produser, Edward juga menggarap drama teater, salah satunya adalah <em>Letters to a Student Revolutionary</em> yang menuai banyak pujian kritikus Amerika Serikat. Selain itu Edward juga memproduksi acara-acara berskala besar seperti <em>East West Players’ 42nd Anniversary Visionary Award</em> dan <em>One Night Only: Divas vs. Tenors Concert</em>. <strong></strong></p>
<p><span style="color: #ffffff;"><strong>.</strong></span><strong><br />
SINOPSIS FILM</strong></p>
<p><strong><em><br />
Payung Merah (Red Umbrella)</em></strong><br />
(2010, 9:30 minutes, HD)</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_RedUmbrella.jpg"><img title="Poster_RedUmbrella" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_RedUmbrella-202x300.jpg" alt="" width="198" height="293" /></a></p>
<p>Director: Andri Cung &amp; Edward Gunawan<br />
Writer: Edward Gunawan<br />
Producers: Andri Cung, Edward Gunawan, Suryani Liauw<br />
Cast: Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Zubir Mustaqim<br />
<span style="text-decoration: underline;"><em><br />
</em></span>WINNER &#8211; 2011 Asian Short Film Awards @ Screen Singapore<br />
WORLD PREMIERE &#8211; 35th Hong Kong International Film Festival</p>
<p>Film thriller supranatural mencekam tentang seorang supir taksi yang belajar untuk sungguh-sungguh menghargai arti keluarga setelah mengantarkan seorang penumpang cantik nan misterius.</p>
<p>Malam begitu larut. Supir taksi bernama Reza (Rio Dewanto) lebih ingin berada di rumah, namun ia harus menyusuri jalanan mencari penumpang. Naiklah seorang penumpang cantik dan misterius (Atiqah Hasiholan). Ketika taksi hampir sampai di rumah yang dituju, perempuan itu menghilang. Dari pembicaraan dengan ayah si perempuan (Zabir Mustaqim), Reza kemudian memahami masa lalu kelam penumpangnya yang misterius.</p>
<p><em>A supernatural thriller about a taxi driver who learns about true appreciation of his family after picking up a beautiful yet mysterious passenger.</em></p>
<p><em>Taxi driver Reza (Rio Dewanto) would rather stay at home on this late night but he is out on the streets looking for a fare. He picks up a beautiful and mysterious passenger (Atiqah Hasiholan) and just as they are about to reach her house, she disappears. He soon discovers her tragic past from her Father (Zubir Mustaqim) and learns to appreciate his loved ones.</em></p>
<p><em><strong><br />
Borrowed Time</strong></em><br />
(2011, 8:00 minutes, HD)</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BorrowedTime.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4298" title="Poster_BorrowedTime" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BorrowedTime-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Director: Lucky Kuswandi &amp; Edward Gunawan<br />
Writer, Producer: Edward Gunawan<br />
Cast: Atiqah Hasiholan, Edward Gunawan, Andrew Trigg, Marissa Trigg</p>
<p>Drama perselingkuhan suami dengan suster yang merawat sang istri. Semua hanya bisa menunggu waktu.</p>
<p>Angela (Atiqah Hasiholan) adalah seorang suster yang bekerja di rumah Caesar (Edward Gunawan) untuk merawat istrinya, Paula (Marissa Trigg) yang sedang sakit parah. Suatu hari, Paula mengetahui perselingkuhan mereka dan kembali terserang stroke. Selagi Caesar menunggui Paula membaik, Angela harus mengambil keputusannya sendiri untuk meninggalkan Caesar.</p>
<p><em>Husband cheats on dying Wife with their live-in Nurse. We all live on borrowed time.</em></p>
<p><em>Angela (Atiqah Hasiholan) is a live-in nurse, hired by Caesar (Edward Gunawan) to care for his dying wife Paula (Marissa Trigg). One day, Paula discovers their affair and has another stroke. As Caesar waits for Paula&#8217;s condition to improve, Angela must decide whether to continue the relationship with an expiration date.</em></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
<em><strong>Broken Vase</strong></em><br />
(2010, 15:30 minutes, HD)</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BrokenVase.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4297" title="SONY DSC" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BrokenVase-201x300.jpg" alt="" width="198" height="294" /></a></p>
<p>Writer, Director: Edward Gunawan<br />
Producers: Edward Gunawan, Suryani Liauw<br />
Cast: Atiqah Hasiholan and Marissa Trigg</p>
<p>Drama komedi tentang seorang perempuan muda yang harus berhadapan dengan rahasia masa lalu tunangannya serta mengakhiri segala keraguannya saat bertemu dengan mantan kekasih tunangannya.</p>
<p>Catherine (Marissa Trigg) mengobral barang di garasi sebelum pindah ke Hawaii bersama tunangannya, Paul. Datanglah Susan (Atiqah Hasiholan) yang terlihat sebagai pelanggan biasa, namun ternyata adalah mantan kekasih Paul. Susan datang untuk mengambil barang-barangnya. Sambil berusaha mengenali Susan lebih jauh, Catherine harus menghadapi rahasia masa lalu tunangannya dan mengambil sikap atas segala keraguannya nya terhadap sang tunangan.</p>
<p><em>A comedy-drama about a young woman who must confront her fiance&#8217;s secret past and resolve her misgivings when she meets his ex.</em></p>
<p><em>Catherine (Marissa Trigg) is having a garage sale before she moves to Hawaii with her fiance Paul. Initially assumed to be just another customer, Susan (Atiqah Hasiholan) turns out to be the ex of Catherine&#8217;s fiance, who has come to the house to pick up her belongings. As Catherine gets acquainted with Susan, she must confront her fiance&#8217;s secret past and resolve her misgivings about their relationship.</em></p>
<p>WORLD PREMIERE: Los Angeles Asian Pacific Film Festival 2011 (CA &#8211; USA)<br />
22nd Honolulu Rainbow Film Festival (HI &#8211; USA)</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

