<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kineruku.com</title>
	<atom:link href="http://kineruku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kineruku.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 04:28:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Pak Misbach (Tak Lagi) Mampir  ke Forum Lenteng…</title>
		<link>http://kineruku.com/misbach-anak-sabiran/</link>
		<comments>http://kineruku.com/misbach-anak-sabiran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 06:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=6141</guid>
		<description><![CDATA[Catatan atas dokumenter Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan [<a href=" http://kineruku.com/?p=6141">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Prima Rusdi</strong></p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/MisbachYusaBiran_STILL.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6145" alt="MisbachYusaBiran_STILL" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/MisbachYusaBiran_STILL-785x484.jpg" width="550" height="339" /></a></p>
<p>Misbach Yusa Biran adalah tokoh ‘raksasa’ dalam sejarah film Indonesia. Sepanjang hidupnya ia tak sungkan bersikap, tak henti mencintai film. Terlebih lagi: mencintai sejarah yang bisa terekam dalam bentuk arsip film. Misbach mendirikan Sinematek lebih dari 40 tahun silam. Soal perlunya Indonesia memiliki arsip film sudah ia yakini jauh sebelum UNESCO akhirnya menetapkan arsip film sebagai medium penyimpanan sejarah kontemporer pada 2010. Misbach berpulang tepat hari ini setahun yang lalu, 11 April 2012. Setahun setelah kepergian sang raksasa, kita bisa menelusuri kembali bulan-bulan terakhir hidupnya melalui <em><strong>Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip</strong></em>), <strong></strong> dokumenter panjang ketiga produksi Forum Lenteng (2013) hasil kolaborasi antara Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, Mahardika Yudha, Syaiful Anwar &#8216;Paul&#8217;, dan H. Misbach Yusa Biran, yang disutradarai oleh Hafiz Rancajale.</p>
<p><i>Anak Sabiran, </i>berdurasi 155 menit, dibuka dengan cuplikan surat Misbach kepada para pembuat film di Forum Lenteng pada Januari 2012. Intinya, di surat itu Misbach menawarkan gagasan yang telah lama ada di benaknya. Tentunya ide Misbach itu mirip pun tidak, dengan rencana atau konsep yang hendak diterapkan tim Forum Lenteng. Lebih jauh lagi, Misbach mengingatkan perlunya kejelasan pendekatan yang hendak digunakan Hafiz dkk saat merekam kehidupannya, supaya tak mirip dengan dokumenter lain yang pernah dibuat (garapan sutradara Edwin, diproduseri Riri Riza) mengenai sosoknya. Di surat yang sama, Misbach juga menyebut soal tak pahamnya ia tentang ‘film independen’. Gaya bahasa tulisnya lugas, mengungkap kejelasan sikap. Luar biasa bila mengingat surat ini, juga sejumlah surat berikutnya, ditulisnya kurang dari empat bulan sebelum ia berpulang. Sekilas, penonton bisa berprasangka bahwa surat Misbach itu berupaya mengintervensi gagasan para pembuat film Forum Lenteng. Namun bila disimak dengan lebih seksama, bisa jadi sikap tersebut justru upaya pembelaan Misbach terhadap penonton yang tak selayaknya diberikan tontonan yang itu-itu saja. Di setiap akhir suratnya Misbach menuliskan, “<i>Kapan-kapan saya mampir ke Forum Lenteng</i>.”</p>
<p>Kepribadian Misbach tampaknya sulit disimpulkan oleh mereka yang sempat mengenalnya. Seno Gumira Adjidarma, misalnya, dikejutkan oleh karakter Misbach yang ternyata ‘tidak lucu’, padahal karya-karya tulis Misbach yang diakrabinya sarat dengan humor. Sementara sutradara Riri Riza tak pernah merasa bisa dekat dengan Misbach Yusa Biran semasa almarhum menjadi salah satu dosennya di IKJ. “Saya bahkan pernah mendebat beliau,” kata Riri. Pemicunya tak lain gara-gara cara puritan Misbach memandang film. Katakanlah, untuk urusan penceritaan, Misbach bersikeras pentingnya pembuat cerita untuk memulainya dari sebuah tema yang ‘penting’. Pendekatan semacam ini mungkin lazim bagi para sineas angkatan ‘lama’, namun bagi angkatan ‘baru’ ada keengganan mengadopsi cara lama yang sangat mungkin bakal menggiring film ke wilayah propaganda. Tak heran bila perbedaan pendapat antara Riri dan Misbach pun tak terhindarkan. Namun ketika Riri menuntaskan <i>Petualangan Sherina</i> (2000), Misbach mengontaknya, meyakinkan bekas mahasiswa yang pernah menentangnya itu untuk mengirimkan berbagai materi film <i>Petualangan Sherina</i> agar tersimpan di Sinematek. Dari titik ini, kita mulai bisa melihat Misbach dalam dimensi lebih utuh. Di satu sisi ia memang sekeras batu kali, namun di sisi lain Misbach punya kapasitas memilah-milah, kapan ia perlu menentang (atau tepatnya menantang), dan kapan ia perlu mendukung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/MisbachDiwawancaraForumLenteng.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6147" alt="MisbachDiwawancaraForumLenteng" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/MisbachDiwawancaraForumLenteng-785x588.jpg" width="550" height="412" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada segmen-segmen wawancara, kita akan melihat ekspresi Misbach yang keras dan serba jelas. Tatapan matanya tak pernah lepas dari si pewawancara. Juga saat ia menjelaskan soal penglihatannya yang praktis separuh buta akibat glukoma. Bukan Misbach namanya bila bercerita soal kondisi kesehatannya dengan mendayu-dayu. Justru sebaliknya, ada kesan ia hendak meyakinkan kita: bahwa tak ada yang bisa memangkas cara pandangnya terhadap apapun yang diyakininya, termasuk mata rusak sekalipun. Hujan sempat turun beberapa kali sepanjang pengambilan gambar dokumenter ini. “Saya memang tidak basah! Tapi kameranya?” tegur Misbach, pandangannya beralih dari lensa kamera ke arah tim pembuat film. Tatapannya tak putus dari Hafiz dkk meski kamera terus bergulir, hingga akhirnya tim Hafiz bergerak memindahkan kamera sambil tetap merekam ekspresi Misbach. Segmen ini sempat membuat saya bergidik atas dua alasan.</p>
<p>Alasan pertama, Misbach tetap bertahan di posisi yang sudah disepakati oleh sutradara, meski ia sudah menyuarakan ketidaksetujuannya. Misbach tak pernah berhenti berpikir sebagai pembuat film sejati yang paham etika. Secara etis, Misbach tahu betul hanya sutradaralah yang berhak membubarkan ‘umat’ saat pengambilan gambar berlangsung. Juga hanya sutradaralah yang berhak memutuskan apakah pengambilan gambar bisa dilanjutkan atau tidak, apapun alasannya. Di segmen wawancara berikutnya, pengambilan gambar bertempat di dalam ruangan dan hujan kembali turun. Kali ini gangguan muncul dari suara hujan yang menerpa genteng. Lagi-lagi Misbach mengingatkan Hafiz dkk soal gangguan tersebut, dan ketika Hafiz memutuskan untuk melanjutkan syuting, kita bisa melihat ekspresi Misbach yang tak sepenuhnya yakin (jangankan setuju) namun ia tetap patuh, meski sempat berkomentar.</p>
<p>Alasan kedua, Misbach jelas tak setuju bila ada yang bersikap ‘menggampangkan’ peralatan kamera yang merupakan ‘jantung’ produksi film. Baginya keselamatan kamera lebih penting ketimbang subjek, meskipun subjek itu adalah dirinya. Segmen ini nyaris seperti testimoni tentang bagaimana Misbach menempatkan film pada posisi yang diyakininya penting sekaligus ideal dari hulu hingga hilir, bahkan hingga menjelang akhir hayatnya. Misbach juga tak pernah bisa ‘pensiun’ sebagai pekerja film, tersirat dari suratnya yang lain: ia menanyakan apakah ia perlu mengenakan pakaian yang sama, demi ‘<i>continuity</i>’! Di balik sikapnya yang keras, jelas Misbach tetap meyakini film sebagai bentuk kerja kolaborasi. Tak heran bila sebagai subjek pun Misbach bukanlah ‘sekadar subjek’ yang siap ‘terima jadi’. Lebih penting lagi, sikap keras Misbach sama sekali tak mencerminkan sikap feodal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/TitiekPuspa.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6148" alt="TitiekPuspa" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/TitiekPuspa-785x544.jpg" width="550" height="381" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagian lain dari <i>Anak Sabiran</i> menampilkan cuplikan dari film-film arahan Misbach. Bila sejumlah narasumber menggambarkan Misbach sebagai sosok yang religius (konon ini pula yang membuatnya lengser sebagai sutradara di awal 1970-an saat maraknya produksi film-film bertemakan seks), di mata saya, yang lebih dominan tampak adalah potret ideal Indonesia menurut kacamata Misbach. Indonesia versi Misbach adalah Indonesia yang mencerminkan keragaman, namun juga bersahaja (meski tampil ‘<i>stylish</i>’) dan santun. Menarik bila menyimak definisi seniman versi Misbach yang digambarkannya (versi lirik lagu yang dilantunkan Titiek Puspa) sebagai, “berbudi luhur.” Jelas para karakter pria di film-filmnya mengagumi perempuan, namun dengan cara sopan. Indonesia versi Misbach bukanlah Indonesia yang (sok) taat tapi bingung berpijak. Karakter perempuan yang diperankan Nani Wijaya digambarkan mengajar sejumlah murid di masjid. Nani mengenakan kain batik dan kebaya dengan selendang menutupi kepalanya, namun selendang itu lebih sebagai bagian dari keseluruhan busana. Karakter pria di adegan sama juga mengenakan kemeja batik, tanpa peci. Misbach adalah produk dari generasi yang tidak mengumbar keyakinan agama yang dianutnya di ruang publik. Di film ini kita bisa melihat kitab suci Al Quran berukuran besar dalam posisi yang siap dibaca Misbach kapan saja dan terletak secara strategis di kamar tidurnya.</p>
<p>Ketaatan Misbach beragama tak lantas mengurangi keutuhan cara pandangnya untuk bersikap. Cara ia menyikapi ideologi lain yang berseberangan dengannya bukanlah semata-mata atas pertimbangan agama. Di dalam wawancara Misbach dengan Amalia Sekarjati (Kineforum) yang dimuat sebagai bagian dari buku restorasi film <i>Lewat Djam Malam</i> <i>Diselamatkan </i>(terbitan Sahabat Sinematek, 2012) terungkap keberatan Misbach terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menurutnya menggunakan film sebagai medium penjajahan pikiran. Meski di sisi lain, Misbach juga mengakui, “Mereka (PKI) belajar dari sejarah. Kalau buat kita, sejarah adalah kenang-kenangan.”<a title="" href="#_edn1">[i]</a> Rupanya, meski tak bersepakat dengan PKI, Misbach tak hendak membiarkan sejarah menjadi bagian nostalgia semata. Kejelian Misbach ‘mencuri ilmu’ demi kepentingan lebih ‘besar’ itulah yang rupanya menjadi salah satu pendorong membentuk Sinematek. Sungguh cara pikir yang berbeda dibandingkan mereka yang mengaku taat dan menerapkannya dengan mengharamkan beragam istilah (yang penting ‘anti’, karena tak paham substansi) dan apapun yang dianggapnya berbeda dengan dirinya, seperti yang lazim kita lihat hari-hari ini.</p>
<p>Misbach tak pernah berhenti berpikir. Gawatnya, semua yang ia pikirkan tampaknya penting. Di tengah kemacetan jalan raya ia mengutip revolusi Bolshevik, sosok Napoleon versi Marlon Brando, sampai pada ketidaksetujuannya akan posisi film di mata birokrat ketika dokumenter itu dibuat. Salah satu ciri khas Misbach: saat benaknya terganggu oleh isu yang menurutnya penting, ia akan terus melontarkan pertanyaan yang sama seolah menuntut jawaban. Bila tidak terjawab pun ia akan mempertegas sikapnya, “Siapapun yang bikin keputusan, saya tetap tidak setuju film ada di bidang pariwisata!” suaranya menggelegar menyoal posisi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yang saat <i>Anak Sabiran</i> dibuat, bertugas mengurus film. Bila menyalahkan pihak pemerintah cenderung menjadi bagian tak terpisahkan di kalangan pelaku film, Misbach malah sempat memperjelas bahwa muara dinamika antara pemerintah dan pelaku film bukan sekadar soal duit.<a title="" href="#_edn2">[ii]</a> Kegagalan subsidi pemerintah menyokong perkembangan film di tahun 1950-an disebut Misbach sebagai contoh. Ia lebih meyakini perubahan bisa terjadi melalui pendidikan.<a title="" href="#_edn3">[iii]</a></p>
<p>Mengulang-ulang pertanyaan ini kembali terjadi saat Misbach menggiring Hafiz dkk ke Sinematek yang dulu dirintisnya. Di tengah kondisi Sinematek yang memprihatinkan, Misbach tetap tampak gagah, jauh dari kesan sentimental. Bahunya senantiasa tegap, menopang kepalanya yang tegak dengan tatapan mata ke depan, meski napasnya tersengal-sengal. Misbach masih menyiratkan dan menyisakan harapan soal Sinematek. “Masak iya ini semua mau dibubarkan?” beberapa kali ia bertanya sambil menapaki ruang demi ruang Sinematek yang terbengkalai. Luar biasa. Seperti bersepakat, tak satupun dari tim Hafiz dkk menjawab pertanyaan Misbach kali itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/SinematekIndonesia.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6149" alt="SinematekIndonesia" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/SinematekIndonesia-785x635.jpg" width="565" height="457" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siapapun yang hari ini ikut prihatin atas Sinematek, dan sebetulnya sangat berniat mendukung keberlangsungannya, kesulitan memaparkan apa yang sebenarnya menghambat beragam upaya menopang lembaga tersebut. J.B. Kristanto, jurnalis senior yang sekaligus pemerhati dan pegiat film, saat ditanya soal kondisi Sinematek saat ini pun hanya bisa berucap, “Ruwet.” Ini jelas tingkatan yang jauh lebih parah ketimbang ‘repot’ atau ‘kusut’. ‘Repot’ bisa diatasi dengan perbaikan pengelolaan, sementara ‘kusut’, jika dalam konteks rambut, jawabannya cukup dengan kondisioner. Tapi ‘ruwet’? Jelas perlu tenaga ekstra untuk menguraikan duduk perkara yang kerap tak jelas ujung pangkalnya. Selain itu juga dibutuhkan waktu lebih lama untuk mengatasinya. Akibatnya bagi mereka yang peduli tapi bingung bagaimana cara memulai peran sebagai bagian dari solusi, hanya ada dua pilihan: menunda niat untuk berpartisipasi, atau lebih parah lagi, menenggak parasetamol yang bisa diperoleh tanpa resep.</p>
<p>Di luar urusan film, wacana yang juga sempat terjadi antara Misbach Yusa Biran dan Forum Lenteng, setidaknya melalui salah satu anggota tim risetnya, Fuad Fauji, adalah soal perlunya <i>erekan</i> alias semacam getek sarana penyeberangan penduduk Lebak. Saat beranjak meninggalkan Sinematek, Misbach melangkah dituntun Fuad, anggota tim pembuat <i>Anak Sabiran</i> yang paling dekat dengannya lantaran berasal dari kampung yang sama. Misbach sempat setengah memaki Fuad sambil bercanda, “Bagaimana ini? Kalau bikin <i>erekan</i> saja tidak bisa, gimana bisa ngurus arsip film?” Sepanjang proses pembuatan film, Misbach sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit, meski tetap bisa menuntaskan fase syuting. Dari catatan Hafiz, di hari pengambilan gambar terakhir, Misbach menunaikan janjinya mampir ke Forum Lenteng. Tak lama setelah itu kesehatannya terus menurun. Saat kembali dirawat, Misbach bahkan sempat mengirim pesan pendek kepada Fuad, “<i>Kapan syuting lagi?</i>” Hafiz dan Fuad dkk tak sempat menjenguk hingga Misbach wafat.</p>
<p>Apa jadinya kalau Misbach sempat mampir beberapa kali lagi ke Forum Lenteng? Mengamati caranya berbicara soal revolusi, isi surat-suratnya untuk Forum Lenteng, serta bagaimana perilakunya saat berkunjung ke Sinematek, jelas Misbach tak menyerah. Dan tak akan pernah. Ia tetap bermimpi bikin film lagi. Ia tetap yakin Sinematek masih bisa diselamatkan. Apapun caranya. Jika saja Misbach sempat mampir lagi ke Forum Lenteng, besar kemungkinan ia ‘melantik’ atau tepatnya ‘mendaulat’ (baca: ’menjerumuskan’) Fuad Fauji sebagai Panglima Revolusi Sinematek. Misbach tampaknya lebih percaya pada perubahan ekstrem untuk kondisi yang kadung ekstrem. Sebagai pecinta dan pelaku sejarah, Misbach bisa kembali mengutip soal Revolusi Bolshevik, atau mencontohkan bagaimana Joesoef Ronodipoero (alm.) dkk sempat ‘merebut’ RRI, “<i>Kalau mereka bisa, masak kamu dan Forum Lenteng enggak?” </i>demikian barangkali kurang lebih dialog rekaan antara Misbach dan Fuad. Batal menjadi Panglima Revolusi Sinematek, bukan berarti Fuad terbebas dari amanah Misbach yang lain, yakni urusan <i>erekan </i>bagi warga Lebak.</p>
<p>Usai menonton <i>Anak Sabiran</i> saya berkesimpulan bahwa yang ‘dimaki’ Misbach sebetulnya bukan (hanya) Fuad dan Forum Lenteng, tapi juga kita semua, yang sejujurnya memang layak dimaki antara lain atas kondisi Sinematek saat ini. Sinematek hari ini bak simbol kualitas ‘eksentrik kontemporer’ kita  semua: rajin mendambakan semua hal yang tidak kita miliki, tapi tidak becus mengurus apa yang sudah ada. Selebihnya, Misbach layak kita kenang sebagai sosok yang pada masanya mungkin bukan tipikal pahlawan yang diidam-idamkan namun justru muncul karena ia diperlukan oleh zaman. Berkat ‘si batu kali’ itu kita (sebetulnya) punya arsip film.</p>
<p>Misbach tak sempat melihat hasil akhir penyelamatan salah satu harta karun yang tersimpan di Sinematek berkat jasanya, film <i>Lewat Djam Malam</i> (Usmar Ismail, 1954), yang hasil restorasinya merupakan kerja guyub ‘sejuta umat’ minus partisipasi pemerintah Indonesia. Di antara partisipan restorasi ‘berdarah-darah’ tersebut antara lain, J.B. Kristanto dan Konfiden, Sahabat Sinematek, Kineforum (saat itu digawangi Lisabona Rahman), anggota dan pengurus harian divisi Film Dewan Kesenian Jakarta saat itu, Philip Cheah (mantan Festival Director Singapore International Film Festival), National Museum of Singapore (NSM), L’Immagine Ritrovata (satu-satunya laboratorium restorasi film, bertempat di Italia), hingga World Cinema Foundation yang dibentuk Martin Scorsese. Sutradara legendaris dunia ini bahkan membuat pesan video yang ditayangkan sebelum pemutaran perdana hasil restorasi <i>Lewat Djam Malam</i> di PPHUI pada 18 Juni 2012. Batallah kita menjadi warga Indonesia yang nekat mencintai film (juga sejarah) serta ‘menjebloskan’ diri bekerja di bidang film tanah air bila tak sanggup mengatasi ironi. Pemutaran diawali dengan rangkaian pidato berkepanjangan dari wakil pemerintah Indonesia yang tak berujung-pangkal hingga memancing beberapa pekerja film meneriakkan, “Hidup Singapura!” sebagai upaya menghibur diri dari serangan malu dan juga demi harga diri (karena para perwakilan Singapura hadir, dan sejumlah pekerja film telah mengenal mereka secara pribadi selama bertahun-tahun), mengingat Singapura sejujurnya justru berperan amat besar dalam proses restorasi yang rumit serta menelan waktu dan biaya tinggi itu.<a title="" href="#_edn4">[iv]</a></p>
<p>Sesaat sebelum mengirimkan tulisan ini kepada Kineruku, saya memperoleh kabar, ketua baru Sinematek akan merestorasi 29 judul (!) film Indonesia dengan total biaya 3 miliar rupiah (!!). Sepertinya ada ‘kesalahan istilah’ yang coba saya luruskan. Biaya 3 miliar rasanya tak mungkin cukup untuk merestorasi 29 judul film sekualitas restorasi a la <i>Lewat Djam Malam</i> (yang biaya totalnya konon nyaris menembus 6 miliar rupiah, masuk akal karena sebagian proses berlangsung tahunan dan berlokasi di Eropa dengan mata uang euro yang keparat nilai tukarnya itu). Yang paling mungkin adalah, biaya 3 miliar tersebut digunakan untuk proses digitalisasi 29 film koleksi Sinematek. <em>Mungkin</em>.</p>
<p align="center"> * * *</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-size: 90%;">&gt;&gt; <em>Tulisan ini adalah bingkisan kecil untuk perayaan hari ulang tahun </em><span style="color: #993300;"><strong><a href="http://kineruku.com" target="_blank"><span style="color: #993300;">Kineruku</span></a></strong></span><em> (Bandung) yang ke-10, dan </em><span style="color: #993300;"><strong><a href="http://ruangrupa.org" target="_blank"><span style="color: #993300;">ruangrupa</span></a></strong></span><em> (Jakarta) yang ke-13. Saya percaya apapun yang bisa mencapai umur satu dekade atau lebih pasti digerakkan oleh visi yang diwujudkan dengan aksi.  Apapun hasil akhirnya</em>.</span></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><strong>Jakarta, 11 April 2013<br />
</strong><br />
<span style="font-size: 90%;"><b>Prima Rusdi </b>adalah seorang penulis skenario dan pembuat film, bermukim di Jakarta. Saat ini sedang menjadi <i>Script Editor/Consultant</i> untuk dua skenario film layar lebar yang masing-masing ditulis oleh sutradara Malaysia dan Singapura, keduanya akan diproduksi oleh <i>13 Pictures</i> (Singapura).</span></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ednref1">[i]</a> Amalia Sekarjati, “Misbach Yusa Biran tentang Usmar Ismail dan Lewat Djam Malam”, di buku <i>Lewat Djam Malam Diselamatkan</i> (Sahabat Sinematek, 2012), hlm. 63-64</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref2">[ii]</a> Ibid, h. 65</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref3">[iii]</a> Ibid, h. 66</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref4">[iv]</a> Usai pemutaran, Zhang Wenjie (wakil dari NSM) sempat bertanya soal isi pidato wakil-wakil pemerintah kita yang disampaikan dalam &#8220;bahasa Indonesia&#8221; (sengaja saya beri tanda kutip karena secara struktur maupun isi sama sekali tak ada logika bahasa yang bisa dipertanggungjawabkan dengan akal sehat), dan teriakan “Hidup Singapura!” yang saya terjemahkan ‘bebas’ untuk dia sebagai, “<i>Intinya bro, lo semua oke banget</i>.”</p>
<p>&gt;&gt; Semua foto diambil dari situs resmi <span style="color: #993300;"><a href="http://anaksabiran.akumassa.org/" target="_blank"><span style="color: #993300;">anaksabiran.akumassa.org</span></a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Film dokumenter <em><strong>Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)</strong></em> akan diputar di Kineruku pada bulan Mei 2013. Informasi selengkapnya akan dikabarkan kemudian.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/misbach-anak-sabiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan 10 Tahun Kineruku</title>
		<link>http://kineruku.com/perayaan-10-tahun-kineruku/</link>
		<comments>http://kineruku.com/perayaan-10-tahun-kineruku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 04:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=6075</guid>
		<description><![CDATA[Mari bersukaria di pesta ultah kita! [<a href=" http://kineruku.com/?p=6075">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/Kineruku10Tahun.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6129" alt="Kineruku10Tahun" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/Kineruku10Tahun.jpg" width="575" height="385" /></a></p>
<p><strong>Perayaan 10 Tahun Kineruku</strong><br />
Kineruku<br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung</p>
<p><strong>Minggu, 7 April 2013<br />
</strong>Pk. 13:30 WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>Dimeriahkan oleh</strong>:<br />
&gt; Pembukaan <strong>Pameran &#8220;When I Was 10.&#8221;</strong><br />
&gt; Musik <strong>Rukustik #5: nadafiksi</strong></p>
<p>Tiada Kesan Tanpa Kehadiranmu!</p>
<p>Angka 10 kerap (di)identik(kan) dengan &#8216;sesuatu&#8217;. Juri loncat indah mengacungkan papan angka 10 untuk atraksi mencebur yang sempurna, tak sembarang album bisa mendapat ponten 10.0 di kolom ulasan musik, dan nomor punggung 10 adalah milik legenda sepakbola macam Pele, Maradona, Messi, atau Okto Maniani, tergantung dari generasi mana Anda. Jika dilekatkan pada usia manusia, angka 10 tahun&#8212;kira-kira kelas 5 SD&#8212;jelas masa pertumbuhan yang penting. Ditanya berapa umurnya, si bocah bisa mengacungkan sepuluh jarinya dengan bangga. Bisa jadi ia baru kenal cinta monyet, mungkin pula ia mulai berlagak dewasa (karena sebentar lagi lulus SD dan masuk SMP?), meski di kepalanya cuma ada kata: bermain, dan bermain. Di usia 10 tahun ini, kira-kira Kineruku pun merasa demikian. Pertama kali berdiri 29 Maret 2003, berhasil melewati satu dekade hingga hari ini adalah perjalanan yang luar biasa bagi kami, untuk tetap bisa bertahan menjadi ruang pengetahuan dan pertemanan. Di satu sisi merasa dewasa, bersyukur dan (ya, kami harus akui) ada sedikit rasa jumawa telah berhasil melalui 10 tahun perjalanan; sekaligus di sisi lain kami masih belum puas dan ingin terus berkreasi sambil tetap bergembira dengan hal-hal baru di depan sana. Jalan masih panjang, <em>enjoy the ride</em>!</p>
<p>Menandai syukuran <strong>Perayaan 10 Tahun Kineruku</strong>, kami menggandeng 10 seniman, arsitek, dan penulis yang juga adalah kerabat dekat Kineruku, yang selalu mendukung kami dan sedikit banyak telah menjadi saksi dan mitra seperjalanan, untuk berkarya dan berpameran 10 hari di Kineruku dengan tema &#8220;<strong>When I Was 10.</strong>&#8221; Demi menambah maraknya suasana, kami mengajak <strong>nadafiksi</strong>, kelompok musik akustik dari Bandung, untuk tampil di <strong>Rukustik #5</strong>, acara musik akustik tahunan di Kineruku yang kali ini khusus diadakan di pesta ulang tahun kami. Tadinya kami ingin menyusun kalimat yang lebih berbunga-bunga, demi menggambarkan perasaan kami di usia 10 ini. Tapi apa yang kami rasakan ternyata jauh lebih berbunga-bunga hingga sulit dilukiskan dalam kata-kata. Singkat cerita, kami tunggu kedatangan siapapun yang membaca kabar gembira ini untuk merapat ke Kineruku, Minggu 7 April 2013 jam setengah dua siang. Ada jajanan pasar, nostalgia, gelak tawa. Ada <em>open mic</em> bagi yang ingin menyumbang anekdot, baca puisi, lagu, atraksi sulap, apapun! Kalian semua diundang!</p>
<p>Salam,<br />
<strong>Kineruku</strong><br />
baca-dengar-tonton<br />
<a href="http://kineruku.com" target="_blank">www.kineruku.com</a></p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Bantu sebar kabar ini: twitter <a href="https://twitter.com/kineruku" target="_blank">@kineruku</a> dengan hashtag <em></em><a href="https://twitter.com/search?q=%2310ThnKineruku&amp;src=hash" target="_blank"> #10ThnKineruku</a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rukustik #5</strong>:<br />
&gt; <strong>nadafiksi</strong> <span style="font-size: 90%;">adalah kelompok musik akustik dari Bandung yang digawangi oleh Dwi Kartika Yuddhaswara (vokal, gitar) dan Ida Ayu Made Paramita Sarasvati (vokal, pianika). Di atas panggung maupun saat rekaman mereka biasa ditemani para pendukung tetap yakni Tesla Manaf Effendi (gitar, <em>synthesizer</em>, sekaligus produser), Bani Ambara (flute, vokal), Gaya Baya (perkusi, sadatana) dan Okky Ade Chandra (bass). Ciri khas mereka terletak pada warna suara Yuddha yang berat dan membius, dengan petikan gitar syahdu menghanyutkan, ditimpali vokal ganjil Ida yang seperti memanggil-manggil dari alam lain, dan paduan instrumen-instrumen sederhana lainnya. nadafiksi akan meluncurkan album penuh pertamanya dalam waktu dekat. | <a href="https://twitter.com/nadafiksi" target="_blank">@nadafiksi</a></span></p>
<p><strong>Pameran &#8220;When I Was 10.</strong>&#8221;<br />
&gt; Berlangsung selama 10 hari (7-16 April 2013), menghadirkan 10 karya:</p>
<p>01.<br />
<strong>Andika Budiman</strong><br />
<em>Perburuan</em><br />
2013, instalasi/interaktif</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Setiap membaca buku, mendengar musik, menonton film koleksi perpustakaan Kineruku, Andika selalu memeriksa daftar nama-nama peminjam sebelumnya. Ia bertanya-tanya apakah alasan mereka meminjam sama dengannya. Terlalu banyak pertanyaan, terlalu sedikit petunjuk. Terinspirasi bacaannya waktu kecil, buku serial detektif cilik, Andika merancang sebuah permainan mencari surat dan meninggalkan jejak.</span></p>
<p>02.<br />
<strong>Andreas Anex</strong><br />
<em>Tunjukkan Apa Yang Kaubaca, Akan Kutebak Usiamu.</em><br />
2013, instalasi</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Bukankah seisi dunia sudah terselip di buku-buku, dan berbagai usia tercermin di setiap judul? Melalui buku-buku filsafat, jiwa kanak-kanak 10 tahun dalam diri Anex diawetkan dalam sederet pertanyaan remeh dengan jawaban lebih panjang. Ia merasa tak lagi kanak-kanak, seolah menjadi dewasa dengan bertambahnya usia, sekaligus terjebak dalam kiat-kiat menjadi mereka.</span></p>
<p>03.<br />
<strong>Artiandi Akbar</strong><br />
<em>A Recollection / On Free Drives</em><br />
2013, video</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Rekoleksi, bagi Artiandi: cara untuk memanggil kesan, nilai, cerita pada satu tujuan pikir. Rekoleksi, dengan kemudi bebas, menampung materi yang perlu, setengah perlu, belum perlu atau bahkan tidak perlu untuk ditemukan. Setidaknya itu pilihan yang lebih ringan, sekaligus menyenangkan untuk dinikmati lebih kurangnya.</span></p>
<p>04.<br />
<strong>Diandra Galih</strong><br />
<em>Three Times Ten</em><br />
2013, cetak offset 100 edisi</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Seyogyanya karya ini menganjurkan urutan atau indeks atas segala yang rasional, namun itu sama saja dengan kegilaan. Kegilaan, sebagaimana banyak hal logis lainnya, bermuara pada akhirnya: artifisial, histerikal, mengembalikan dirinya ke dalam versi <em>chaos</em>–nya sendiri. Kaku tapi fleksibel, ukuran berskala namun pada saat bersamaan nir-skala, rata sambil pula mengimitasi kedalaman. Kekuatan dari <em>grid</em> Andra yakini mampu membuat kita berpikir bahwa kita berhadapan dengan materialisme (kadang ilmu pengetahuan, logika) sekaligus menyediakan jalan pembebasan menuju iman (atau ilusi, atau fiksi).</span></p>
<p>05.<br />
<strong>Dimas Ario</strong><br />
<em>Perjamuan Pertama</em><br />
2013, instalasi/ragam media</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Rekonstruksi momen penerimaan komuni pertama yang dialami Dimas di umur 10 tahun&#8212;usia minimal seorang anak boleh menerima komuni pertamanya, karena telah memasuki masa pra-remaja dan dianggap sudah siap untuk menjadi pribadi matang dalam iman. Bagi umat Katolik, komuni adalah simulasi dari perjamuan kudus yang menjadi salah satu aktivitas sakral dalam peribadatan.</span></p>
<p>06.<br />
<strong>Ismail Reza</strong><br />
<em>Grace</em><br />
2013, seri fotografi</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Fetisisme anatomis pada <em>Achilles&#8217; tendon</em>, baik secara seksual maupun nonseksual, tergambar dari serangkaian foto kaki-kaki perempuan yang mengenakan <em>high heels</em>&#8212;yang secara artistik mengubah cara pandang pada kaki dengan memberikan porsi lebih ke bagian tumit. Ketertarikan Reza pada tumit pertama kali ia sadari di usia 10.</span></p>
<p>07.<br />
<strong>Leonardiansyah Allenda</strong><br />
<em>March</em><br />
2013, instalasi</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Ketertarikan Leo pada ide menjadikan ruang umum sebagai rumah, sekaligus ruang terbuka yang membuat orang merasa tidak terasing di tempat umum, menggerakkannya untuk menyusun ulang batu-batu kecil di taman belakang Kineruku. Ada upaya meniru sistem penyusunan buku-musik-film di rak-rak yang lebih pada pengelompokan, bukan pengaturan yang terlalu matematis.</span></p>
<p>08.<br />
<strong>Muhammad Akbar</strong><br />
<em>In The Past 10 Years</em><br />
2013, grafis di atas kertas</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Pada akhirnya semua adalah soal perjalanan. Dalam upaya memenuhi cita-citanya sebagai penjelajah isi jagat, Akbar mulai menandai titik-titik di atlas dunia yang sudah ia kunjungi dalam 10 tahun terakhir ini.</span></p>
<p>09.<br />
<strong>Tisa Granicia</strong><br />
<em>Tabungan Doa-doa</em><br />
2013, instalasi keramik/interaktif</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Menabung, yang dirasa Tisa harusnya ia lakukan sejak kecil, menginspirasi seri keramik 10 celengan ini. Orang-orang diajak memasukkan kertas-kertas bertuliskan doa untuk Kineruku, surat cinta, koin, uang kertas, apapun. Di akhir pameran, celengan-celengan itu akan dipecahkan dan isinya dibacakan.</span></p>
<p>10.<br />
<strong>Yusuf Ismail</strong><br />
<em>Eating A Birthday Cake</em><br />
2013, video</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Arti ulang tahun bagi manusia dipandang Ucup sebagai momentum komedi tragis: seremoni tiup-lilin-potong-kue tiap tahun seiring bertambahnya usia, secara signifikan adalah peringatan terhadap berkurangnya usia, dan kian mendekatnya proses perjalanan menuju kematian.</span></p>
<p style="text-align: center;"> * * *</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/perayaan-10-tahun-kineruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Diskusi] Mari Bung, Kita ke Bandung!</title>
		<link>http://kineruku.com/mari-bung-kita-ke-bandung/</link>
		<comments>http://kineruku.com/mari-bung-kita-ke-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 05:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5976</guid>
		<description><![CDATA[Ngobrol-ngobrol santai akhir pekan soal Majalah Bung!, hidup pria Indonesia [<a href=" http://kineruku.com/?p=5976">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MariBung_Still4.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6004" title="MariBung_Still4" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MariBung_Still4-785x511.jpg" alt="" width="600" height="390" /></a></p>
<p><strong>Mari Bung, Kita ke Bandung!</strong><br />
Ngobrol-ngobrol Santai tentang Majalah <em>Bung!</em></p>
<p><strong>Sabtu, 2 Maret 2013</strong><br />
Pukul 14:30-17:00 WIB</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung<br />
(<em>peta menuju</em> <a href="http://kineruku.com/how-to-reach-us/" target="_blank">lokasi</a>)</p>
<p>Menghadirkan:<br />
<strong>Kunto Adi Wibowo</strong> (dosen studi media Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran)<br />
<strong>Syarif Maulana</strong> (penggiat Klab Filsafat Tobucil)<br />
<strong>Tim Redaksi Majalah <em>Bung!</em></strong></p>
<p>Moderator:<br />
<strong>Budi Warsito</strong> (pustakawan Kineruku)</p>
<p>Dimeriahkan oleh penghiburan musik santai dari:<br />
<strong>Tetangga Pak Gesang</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika Anda masih ingat, kita pernah mengalami kejayaan majalah pria ketika <em>Matra</em> (untuk segmen dewasa) dan <em>Hai</em> (remaja) isinya masih membanggakan dan penuh daya mendampingi hidup hingga periode 1990-an&#8212;untuk tidak menyebut <em>booming</em> majalah di era 1970-an dimana segala macam majalah memang terbit dengan penuh gairah; mulai dari majalah musik, rohani, militer, sulap, hingga beternak unggas. Sementara sejak awal 2000-an hingga hari ini justru majalah pria waralaba (<em>franchise</em>) yang memenuhi lapak-lapak majalah; membuat kita bertanya-tanya apakah jadwal <em>gym</em> dan <em>gadget</em> terbaru sungguh-sungguh mendominasi benak pria Indonesia, atau benarkah kantor menjadi pusat semesta dengan jenjang karier adalah segalanya, <em>mall</em> jadi satu-satunya ruang publik, dan kenapa lidah kita lebih terbiasa mengucapkan &#8216;<em>meeting</em>&#8216; atau &#8216;<em>married</em>&#8216;, dan bukannya &#8216;rapat&#8217; atau &#8216;menikah&#8217;?</p>
<p>Jika majalah-majalah pria waralaba itu dinilai gagal mencitrakan pria Indonesia sesungguhnya, lalu di manakah wajah orang-orang itu bisa terwakili? Di mana tempat bagi mereka, pria yang biasa-biasa saja, yang sadar dengan apa yang ideal tapi sekaligus juga realistis, yang tetap tahu caranya berbahagia di tengah keseharian satir yang penuh beban dan tuntutan hidup, dengan menertawakan dirinya sendiri? <em><strong>Majalah Bung!</strong></em> terbitan ruangrupa (Jakarta) berusaha menjawabnya. Terbit pertama kali pada Oktober 2011, dalam penjelasannya ke penulis-penulis kontributor yang mereka undang berpartisipasi, <em>Bung!</em> mengaku sebagai majalah tentang pria Indonesia usia 25-45 tahun yang tinggal di perkotaan dengan segala peran yang mesti dijalaninya dengan penuh suka dan duka; dari keberanian, ketulusan, kelicikan, hingga kebrengsekannya menjalani hidup. Diniatkan sejak awal untuk terbit hanya 4 edisi, majalah ini kemudian dengan santainya memuat tulisan brilian soal keperjakaan yang (di)hilang(kan), rumah-rumah para pria pekerja yang merantau, dinamika naik ojek (anak haram moda transportasi?), suka duka &#8220;pertandingan&#8221; kasur (salah satu kalimat pengantarnya sungguh <em>catchy</em>: &#8220;Dengan perempuan jagoan di ranjang, apakah Bung yakin sedang bertualang?&#8221;), kisah seru dan mengharukan tentang sekolah khusus laki-laki, romantika berpacaran di jembatan layang (saat taman-taman kota tak bisa diharapkan), filsafat bersepeda (ditulis oleh seorang pastur), pria-pria yang tak bisa menyetir mobil (dengan segala konsekuensinya), hingga wawancara dengan seorang preman tentang aktivitas sehari-harinya. Kali lain mereka cuek menulis tentang absurdnya olahraga binaraga, pengalaman SKJ semasa Orde Baru, akal-akalan kere merekam kaset-kaset musik yang sulit terbeli, pembahasan model rambut dan koleksi celana dalam, rumitnya menjaga hubungan menantu dengan mertua, hingga berpanjang-lebar membahas bulu ketiak perempuan&#8212;tema yang sudah pasti tak bakal dapat tempat di majalah-majalah pria standar.</p>
<p>Semboyan majalah <em>Bung!</em> boleh simpel, &#8220;Hidup Pria Indonesia&#8221;, namun sebenarnya misi mereka sungguh tak main-main: membuka ruang untuk berdiskusi dan menganalisis konstruksi sosial dalam maskulinitas di Indonesia dari berbagai sudut pandang (kelas, etnis, kepercayaan, seksualitas, lokalitas, dsb), dan memberikan ide dan pandangan alternatif atas maskulinitas yang selama ini selalu dikomodifikasi oleh industri. Pertanyaannya sekarang, berhasilkah misi mulia tersebut? Sambutan (dan sambitan) khalayak, baik lewat akun twitter <strong><a href="http://twitter.com/majalahBung" target="_blank">@majalahBung</a></strong> maupun rubrik surat pembaca, rata-rata bernada positif dengan beberapa catatan masukan. Edisi-edisi selanjutnya selalu ditunggu-tunggu, setidaknya oleh pangsa pembaca yang telah berhasil mereka dapatkan. Dalam tulisan perpisahan di edisi terakhir (edisi 4, terbit Januari 2013), diakui bahwa menuntaskan seluruh pembahasan atas kehidupan seorang pria sampai khatam adalah &#8220;<em>hil yang mustahal</em>&#8220;&#8212;mengutip pelawak Asmuni, tentunya. Hidup jalan terus, kegilaan akan terus terjadi, dan bagaimana pun majalah <em>Bung!</em> telah turut mewarnai sejarah penerbitan majalah pria di Indonesia. Setelah purnatugas mereka, kini giliran kita sepenuhnya, para pembaca, untuk lanjut memaknainya. Diskusi santai akhir pekan di perpustakaan Kineruku nanti adalah salah satunya.</p>
<p>Tentu menarik menyimak <strong>Kunto Adi Wibowo</strong>, peneliti dan dosen Fikom Unpad&#8212;yang bukan kebetulan juga pernah diundang menulis di majalah <em>Bung!</em>&#8212;dengan segala wawasan akademiknya perihal studi media mengupas tuntas majalah ini. Disandingkan dengan sudut pandang tengil dari <strong>Syarif Maulana</strong>, penggiat Klab Filsafat Tobucil yang terbiasa menilai hal-hal dari kacamata filosofis secara serius tapi santai. Meski diskusi ini dibikin mungkin hanya demi alasan supaya para awak redaksi <em>Bung!</em> bisa bertamasya ke Bandung di akhir pengabdian mereka, namun hampir seluruh tim memang diboyong langsung dari ibukota, mulai dari para redaktur (<strong>Ardi Yunanto, Roy Thaniago, Ika Vantiani</strong>) hingga para penata artistik (<strong>Reza Mustar</strong>, <strong>Andang Kelana</strong>). Mereka siap berbagi rahasia dapur redaksi, syukur-syukur bisa menginspirasi. Khalayak Bandung yang hadir diskusi di perpustakaan Kineruku nanti bisa sekalian bertukar pikiran (atau nomor kontak, setidaknya?) dan berkenalan dengan orang-orang di balik layar majalah pria Indonesia itu, yang lucunya, menurut <a href="http://jakartabeat.net/idea/kanal-idea/interview/item/1679-ardi-yunanto-pria-indonesia-tidak-terwakili-di-majalah.html#.USwLmhnW5Ak" target="_blank"><strong>sebuah wawancara</strong></a>, &#8220;<em>tidak ada yang macho</em>.&#8221; Demi menambah semarak suasana, bakal ada hiburan musik oleh <strong>Tetangga Pak Gesang</strong>, duo kembang akustik yang masih hangat dari penggorengan alias baru terbentuk beberapa purnama yang lalu.</p>
<p>Kami mengundang Anda yang membaca pengumuman ini, baik sebagai pembaca majalah <em>Bung!</em> maupun bukan (atau belum?), kontributor, para <em>secret admirer</em> maupun pencibir, apapun dan siapapun, untuk datang meramaikan. Tiada kesan tanpa kehadiran Anda!</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
baca-dengar-tonton<a href="http://kineruku.com"><br />
www.kineruku.com</a></p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: center;">Acara ini terselenggara berkat kerjasama:<br />
<span style="color: #993300;"><a href="http://kineruku.com"><span style="color: #993300;">Kineruku</span></a></span> | <span style="color: #993300;"><em><a href="http://twitter.com/majalahbung" target="_blank"><span style="color: #993300;">Bung!</span></a></em></span> | <span style="color: #993300;"><a href="http://ruangrupa.org/" target="_blank"><span style="color: #993300;">ruangrupa</span></a></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;">Edisi lengkap Majalah <em>Bung</em>! (1, 2, 3, 4) bisa dibeli dengan harga khusus di acara diskusi.<br />
Dapatkan segera sebelum menjadi barang langka!<br />
(<em>klik foto untuk memperbesar</em>)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung1A.jpg"><img class="alignnone  wp-image-6000" title="MajalahBung1A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung1A.jpg" alt="" width="175" height="230" /></a>  <a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung2A.jpg"><img class="alignnone  wp-image-5999" title="MajalahBung2A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung2A.jpg" alt="" width="174" height="230" /></a><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung3A.jpg"><img class="alignnone  wp-image-5998" title="MajalahBung3A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung3A.jpg" alt="" width="174" height="230" /></a>  <a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung4A.jpg"><img class="alignnone  wp-image-5997" title="MajalahBung4A" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/MajalahBung4A.jpg" alt="" width="175" height="230" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/mari-bung-kita-ke-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Crowdfunding] Pandai Besi Rekaman di Lokananta</title>
		<link>http://kineruku.com/pandai-besi-lokananta/</link>
		<comments>http://kineruku.com/pandai-besi-lokananta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2013 05:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5988</guid>
		<description><![CDATA[Ajakan dana khalayak untuk mendukung rekaman Pandai Besi di Lokananta [<a href=" http://kineruku.com/?p=5988">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/PandaiBesiLive.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5989" title="PandaiBesiLive" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/PandaiBesiLive.jpg" alt="" width="525" height="277" /></a></p>
<p>Lokananta adalah sejarah dan Efek Rumah Kaca yang bermutasi menjadi Pandai Besi ingin menorehkan secuil sejarah di tempat itu. Sebagai perusahaan rekaman/label musik pertama di Indonesia yang berdiri pada 1956 di Solo, Lokananta pernah mengalami zaman keemasan memproduksi piringan hitam dan kaset. Ruangan arsip mereka kini masih menyimpan ribuan lagu daerah dari seluruh Indonesia dan juga rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno.</p>
<p>Nama “Lokananta” diberikan oleh presiden pertama kita. Artinya, ‘gamelan di kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh’. Dengan akustik ruangan tua studio legendaris berukuran 14 x 31 meter itu, Pandai Besi terinspirasi untuk melakukan sesi rekaman di sana. Sembilan lagu dari album pertama dan album kedua Efek Rumah Kaca akan dimainkan oleh Pandai Besi dan direkam secara <em>live</em> di Lokananta pada 9-12 Maret 2013. Hasilnya akan dirilis dalam bentuk piringan hitam, kaset, dan CD.</p>
<p>Pandai Besi beranggotakan personel Efek Rumah Kaca, yaitu Cholil Mahmud (vokal, gitar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar); ditambah <em>additional player</em> tetap saat di panggung yakni Airil &#8220;Poppie&#8221; Nurabadiansyah (bass, vokal latar); serta didukung Andi &#8220;Hans&#8221; Sabarudin (gitar), Muhammad Asranur (piano), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Nastasha Abigail (vokal latar). Proyek ini dimulai dengan beberapa latihan di studio sejak bulan puasa tahun lalu. Di tengah kesibukan Efek Rumah Kaca merampungkan album ketiga, Pandai Besi mulai serius menggarap proyek spesial yang awalnya hanya iseng untuk melepaskan kebosanan setiap membawakan lagu-lagu di album <em>Efek Rumah Kaca</em> (2007) dan <em>Kamar Gelap</em> (2008). Mereka mencoba bersenang-senang dengan menempa lagu-lagu lama Efek Rumah Kaca lewat interpretasi baru, menyuntikkan warna segar yang berbeda dari patron biasa. Sementara itu, Efek Rumah Kaca masih tetap beranggotakan Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (bas, vokal latar), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar). Itulah tiga personel yang tersisa dari perjalanan musik mereka sejak 2001.</p>
<p><strong>SETLIST LOKANANTA:</strong><br />
Jika diibaratkan sebuah kisah dongeng, rekaman <em>live</em> di Lokananta menandakan Pandai Besi melakukan satu perjalanan historis memasuki lorong waktu. Mereka menempa kembali besi-besinya, mencetak karya tepat di sebuah tempat yang konon pada masanya banyak melahirkan ksatria bertalenta. Inilah titik tolak industri rekaman di Indonesia. Sembilan lagu Efek Rumah Kaca yang akan direkam Pandai Besi melalui napak tilas ini sebagai berikut.<br />
1.    &#8220;Hujan Jangan Marah&#8221;<br />
2.    &#8220;Menjadi Indonesia&#8221;<br />
3.    &#8220;Di Udara&#8221;<br />
4.    &#8220;Melankolia&#8221;<br />
5.    &#8220;Jangan Bakar Buku&#8221;<br />
6.    &#8220;Laki-laki Pemalu&#8221;<br />
7.    &#8220;Debu-debu Berterbangan&#8221;<br />
8.    &#8220;Jalang&#8221;<br />
9.    &#8220;Desember&#8221;</p>
<p><strong>CROWFUNDING:</strong><br />
Produksi rekaman proyek album spesial Pandai Besi menghabiskan biaya tidak sedikit. Hal itu membuat kami merasa bahwa pendanaan oleh khalayak (<em>crowdfunding</em>) merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan album di bawah <em>community label</em>. Diharapkan, album ini kelak menjadi salah satu katalog sejarah bagi perpustakaan musik di Indonesia. Dengan ini, kami mengajak teman-teman ikut berpartisipasi membantu kami dengan rincian reward berikut.</p>
<p>1. Dukung dengan <strong>Rp 60.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>kaset Pandai Besi dan foto Pandai Besi</strong> yang akan didistribusikan pada 1 April 2013. Cover kaset ini tersedia secara terbatas, yaitu <strong>200 buah</strong>.</p>
<p>2. Dukung dengan <strong>Rp 150.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>CD dan kaus Pandai Besi</strong> yang akan didistribusikan pada 1 April 2013. Cover CD bertanda tangan personel Pandai Besi dan desain kaus terbatas sebanyak <strong>500 buah</strong>.</p>
<p>3. Dukung dengan <strong>Rp 350.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>kaset, CD, kaus, dan vinyl 7-inch</strong> dengan lagu berjudul <strong>“Desember” versi Efek Rumah Kaca</strong> dan <strong>versi Pandai Besi</strong> yang akan didistribusikan pada 1 April 2013. Sementara itu, khusus vinyl yang dimaksud di sini akan didistribusikan tiga bulan setelah rekaman. Cover CD bertanda tangan personel dan desain kaus terbatas sebanyak <strong>300 buah</strong>.</p>
<p>4. Dukung dengan <strong>Rp 700.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>kaset, CD, kaus, totebag, album foto, dan vinyl 12-inch setlist Pandai Besi</strong> yang akan didistribusikan pada 1 April 2013. Sementara itu, khusus untuk vinyl yang dimaksud di sini akan didistribusikan empat bulan setelah rekaman. Selain itu, Anda juga mendapatkan voice over greetings di CD dari personel, cover CD bertanda tangan personel, desain totebag dan kaus terbatas sebanyak <strong>300 buah</strong>.</p>
<p>5. Dukung dengan <strong>Rp 5.000.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>kaset, CD, kaus, totebag, album foto, dan vinyl 12-inch setlist Pandai Besi</strong> yang akan didistribusikan pada 1 April 2013. Sementara itu, khusus vinyl yang dimaksud di sini akan didistribusikan empat bulan setelah rekaman. Selain itu, Anda juga mendapat cover CD bertanda tangan personel, desain totebag dan kaus terbatas. Anda pun dapat <strong>ikut dalam rombongan Pandai Besi</strong>, termasuk turut serta dalam proses rekaman sebagai <em>backsound</em> di Lokananta (akomodasi, konsumsi dan transportasi bis dari Jakarta ke Solo ditanggung panitia). Dukungan itu terbatas untuk <strong>10 orang</strong>.</p>
<p>6. Dukung dengan <strong>Rp 10.000.000</strong>, Anda akan mendapatkan <strong>kaset, CD, kaus, totebag, dan <em>private acoustic session</em> Pandai Besi</strong> dalam acara ulang tahun atau lainnya (sesuai dengan kesepakatan). Dukungan itu terbatas untuk <strong>5 orang</strong>.</p>
<p><strong>CARA BERPARTISIPASI:</strong><br />
1.    Pilih paket dukungan.<br />
2.    Transfer sesuai paket dukungan ke rekening yang sudah ditentukan (tercantum).<br />
3.    Kirimkan bukti transfer ke <strong>efekrumahkaca@gmail.com</strong>.<br />
4.    Kirimkan data diri dan alamat beserta foto ke email Efek Rumah Kaca.<br />
5.    Sertakan ukuran kaus (bila memilih paket itu).<br />
6.    Dukungan akan ditutup sampai <strong>19 Maret 2013</strong>, khusus dukungan yang masuk dalam rombongan akan ditutup pada <strong>7 Maret 2013</strong>.<br />
7.    Semua sudah termasuk ongkos kirim.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan</span>:<br />
1.    Nama semua pendukung akan tercantum tertulis dan atau <em>voice over</em> dalam CD (tergantung pilihan dukungan).<br />
2.    Semua pendukung mendapatkan serpihan benda bersejarah yang digunakan personel Pandai Besi selama rekaman.<br />
3.    Foto semua pendukung akan ditampilkan dalam website <a href="http://www.efekrumahkaca.net" target="_blank"><strong>www.efekrumahkaca.net</strong></a><br />
4.   Apabila karena satu dan lain hal, rekaman tersebut gagal, maka dana dukungan yang telah diberikan akan dikembalikan tanpa dikenakan potongan biaya.<br />
5.    Untuk menunjang proses tersebut diatas (no. 4) dibutuhkan data diri, nomer rekening bank setiap pendukung.<br />
6.    Informasi data pribadi yang sudah dikirimkan tidak akan kami berikan kepada pihak ketiga.</p>
<p><strong>TRANSFER DUKUNGAN ke:</strong><br />
Rekening BCA 221-121-8942 a.n. Cholil Mahmud<br />
Rekening Mandiri 164-0000-562928 a.n. Cholil Mahmud</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak:<br />
<strong>Yurie: 081399241499</strong><br />
email: <strong>efekrumahkaca@gmail.com</strong> atau <strong>yurskie@gmail.com</strong></p>
<p>&gt;&gt; Info selengkapnya, silakan kunjungi web resmi <a href="http://efekrumahkaca.net/en/crowdfunding-pandai-besi#.USsYJRnW5Al" target="_blank"><strong>crowdfunding Efek Rumah Kaca/Pandai Besi</strong></a>.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 85%;">Efek Rumah Kaca pernah mengadakan <a href="http://kineruku.com/efek-rumah-kaca-bermain-akustik/"><em>secret show</em> di Kineruku</a>, dengan membawakan set akustik dan beberapa <em>cover version</em>, pada pertengahan 2009 silam. CD album mereka, <em>Efek Rumah Kaca </em>(2007) dan <em>Kamar Gelap</em> (2008) tersedia juga di Kineruku.</p>
<p></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/pandai-besi-lokananta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[ARSIP] Merekam Wajah Asli Indonesia *)</title>
		<link>http://kineruku.com/merekam-wajah-asli-indonesia/</link>
		<comments>http://kineruku.com/merekam-wajah-asli-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2013 09:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[Music Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5898</guid>
		<description><![CDATA[Music of Indonesia Series, musik-musik tradisional dari Sabang sampai Merauke, perekaman terbesar yang pernah dilakukan Smithsonian Folkways [<a href=" http://kineruku.com/?p=5898">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/Koleksi-CD-Seri-Musik-Indonesia-di-Kineruku.jpg"><img class="alignnone  wp-image-5925" title="Koleksi CD Seri Musik Indonesia di Kineruku" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/Koleksi-CD-Seri-Musik-Indonesia-di-Kineruku-785x588.jpg" width="600" height="449" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>Beberapa pakar AS dan Indonesia bekerja sama meneliti<br />
dan merekam musik tradisional berbagai daerah di Indonesia.<br />
Dibiayai Ford Foundation, dilaksanakan oleh lembaga ilmiah.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Orang boleh menganggap musik metal nan bising itu sebagai &#8220;lambang&#8221; yang bergengsi. Paling tidak itulah anggapan sebagian remaja kota yang jumlah amat terbatas itu. Suka atau tidak, musik &#8220;pinggiran&#8221; seperti keroncong, dangdut, gamelan <em>ajeng</em>, langgam Jawa, gambang kromong, merupakan cermin yang paling sah dari wajah budaya Indonesia. Itulah sebabnya musik &#8220;pinggiran&#8221; seperti itu mendapat perhatian istimewa dari Smithsonian Institute, sebuah lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan Amerika yang cukup bergengsi.</p>
<p>Sejak dua tahun lalu beberapa pakar musik dari Amerika dan Indonesia bekerja sama meneliti dan merekam beberapa jenis musik tradisional atau musik rakyat dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dua pakar AS, yaitu Philip Yampolsky dan Alein Feinstein, sedangkan dari Indonesia ada Sal Murgiyanto, Rizaldy Siagian, R. Supanggah, dan sejumlah doktor lainnya yang tergabung dalam Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), yang sebelumnya bernama Masyarakat Musikologi Indonesia.</p>
<p>Sampai sekarang, proyek besar yang rencananya merekam 20 volume atau album ini, dan diberi judul <em>Music of Indonesia</em>, sudah selesai empat album. &#8220;Ini adalah perekaman terbesar yang pernah dilakukan oleh Smithsonian,&#8221; kata Yampolsky yang bertindak sebagai editor. &#8220;Selama ini rekaman yang dilakukan oleh Smithsonian paling banyak hanya tiga sampai lima album, &#8220;tambah Yampolsky yang beristeri wanita asal Solo ini. Musik rakyat Yunani saja, pada tahun 1970, hanya direkam tiga volume.</p>
<p>Volume pertama berjudul <em>Songs Before Dawn</em> memuat gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. Yang kedua, <em>Indonesian Popular Music</em>, yang sampulnya bergambar Rhoma Irama, berisi lagu-lagu dangdut, keroncong, langgam Jawa. Album ketiga, <em>Music from the Outskirt of Jakarta</em>, khusus berisi gambang kromong, khusus berisi gambang kromong asli Betawi. Sedangkan volume empat merupakan kumpulan lagu-lagu tradisional dari Sumatera Utara, meliputi Batak Toba, Karo, dan <em>ho-ho</em> dari Nias. Volume kelima akan merekam topeng Betawi (Bekasi), gamelan <em>ajeng</em> (Karawang), <em>tanji</em> (Tangerang).</p>
<p>Dalam waktu dekat Yampolsky akan berkeliling ke beberapa daerah untuk meneliti dan merekam musik rakyat dari beberapa daerah, seperti Minang, Gayo, Melayu, pedalaman Kalimantan Barat, Sulawesi, Irian. Adapun musik tradisional dari keraton Jawa dan musik daerah Bali, menurut Yampolsky yang berlatar belakang pendidikan etnomusikologi Indonesia dari Universitas Washington ini, tidak direkam karena sudah sangat dikenal. Proyek yang direncanakan selesai lima tahun ini memang khusus untuk musik yang belum banyak dikenal.</p>
<p>Dengan seperangkat alat perekam yang canggih, dan diproses di AS, seri rekaman itu diterbitkan berupa <em>compact disc</em> dan pita kaset biasa. Dalam perekaman ini Yampolsky dibantu oleh Djoko Kurnain, pengajar ASTI Bandung. Selain terbit dalam bahasa Inggris, juga dalam bahasa Indonesia. Pada setiap volume dilampirkan esei singkat mengenai musik yang bersangkutan, disusun Yampolsky bersama R. Supanggah dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Solo dibantu dua mahasiswa jurusan musik Universitas Sumatera Utara, Medan.</p>
<p>Usaha perekaman ini ternyata tidak mudah. Sebelum melakukan rekaman di beberapa pelosok daerah, para asisten Yampolsky mengikuti kursus singkat mengenai teknik perekaman yang diberikan oleh seorang ahli dari AS. Para peserta kursus ini dari sekolah tinggi seni di Bandung, Padang, Ujungpandang, Denpasar, Medan, Solo. &#8220;Dan di lapangan, kalau saya tak banyak tahu tentang musik yang akan direkam, saya mengajak orang yang mengetahuinya,&#8221; ujar Yampolsky.</p>
<p>Hampir semua rekaman dilakukan secara langsung, <em>live show</em>, kecuali dangdutnya Rhoma Irama dan Mansyur S. yang dibeli langsung dari produsernya. Begitu pula lagu-lagu pop daerah Karo dan Makasar. Dari rekaman utuh sepanjang delapan jam, setiap musik diedit menjadi hanya 17 menit, dan hasilnya disimpan sebagai arsip di Smithsonian di Washington dan MSPI di Solo.</p>
<p>Smithsonian, yang sudah berusia seabad lebih, berdiri pada tahun 1846, mempunyai beberapa biro. Misalnya Bureau of American Ethnology, National Gallery of Arts, dan United States of National Museum. Kegiatannya meliput pameran, festival seni, penelitian hewan langka, arkeologi, konservasi lingkungan. Maka usaha perekaman musik rakyat oleh lembaga ilmiah dan berbobot seperti ini merupakan proyek besar dan amat penting, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi masyarakat ilmiah di dunia.</p>
<p>Rizaldy Siagian menilai kegiatan ini sangat penting karena mencerminkan kekayaan dan ragam budaya Indonesia. &#8220;Selain itu, kelak para ahli tak perlu lagi mengorbankan waktu dan biaya untuk meneliti musik tradisional sampai ke pelosok-pelosok,&#8221; ujar ketua Jurusan Etnomusikologi USU Medan ini.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;">*) Diketik ulang dari tulisan <strong>Budiman S. Hartoyo</strong> di majalah <strong><em>TEMPO</em>, 22 Agustus 1992</strong>, halaman 70.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/TEMPO-22-08-1992-Merekam-Wajah-Asli-Indonesia.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5932" title="TEMPO 22-08-1992 Merekam Wajah Asli Indonesia" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/TEMPO-22-08-1992-Merekam-Wajah-Asli-Indonesia-223x300.jpg" width="223" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>&gt; ikhti[ar]sip.006</strong></p>
<p>Perpustakaan Kineruku mengoleksi <em>Seri Musik Indonesia</em> 01-10 dalam format CD rilisan resmi dari Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (1999). Foto ilustrasi di awal posting ini adalah sampul-sampul CD dari sepuluh album tersebut, yaitu:</p>
<p>01. <em>Gandrung Banyuwangi: Nyanyian Menjelang Fajar</em><br />
02. <em>Musik Populer Indonesia: Kroncong, Dangdut, Langgam Jawa</em><br />
03. <em>Musik dari Daerah Pinggiran Jakarta: Gambang Kromong</em><br />
04. <em>Musik dari Nias dan Sumatera Utara: Hoho, Gendang Karo, Gondang Toba</em><br />
05. <em>Musik Betawi &amp; Sunda: Topeng Betawi, Tanjidor, Ajeng</em><br />
06. <em>Musik Malam dari Sumatera Barat: Saluang, Rabab Pariaman, Dendang Pauah</em><br />
07. <em>Musik dari Rimba: Riau dan Mentawai</em><br />
08. <em>Musik Vokal dan Instrumental dari Flores Timur dan Tengah</em><br />
09. <em>Musik Vokal dari Flores Tengah dan Barat</em><br />
10. <em>Musik dari Biak, Irian Jaya</em></p>
<p>Di setiap album termuat <em>liner notes</em> yang cukup komprehensif dalam bahasa Inggris tentang musik yang direkam di dalamnya. Info lengkap dari <em>Music of Indonesia Series</em> bisa dilihat di web <a href="http://www.folkways.si.edu/find_recordings/indonesia.aspx" target="_blank"><strong>Smithsonian Folkways</strong></a>, termasuk daftar lagu dan <em>liner notes</em> dalam format PDF yang bisa diunduh.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/merekam-wajah-asli-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Norwegian Wood &#124; Tran Anh Hung, 2010</title>
		<link>http://kineruku.com/norwegian-wood-tran-anh-hung/</link>
		<comments>http://kineruku.com/norwegian-wood-tran-anh-hung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2013 09:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5938</guid>
		<description><![CDATA[Ketegangan antara terikat masa lalu dan niat hidup di masa depan [<a href=" http://kineruku.com/?p=5938">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/NorwegianWood_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5939" title="NorwegianWood_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/NorwegianWood_still.jpg" alt="" width="575" height="383" /></a></p>
<p>Menurut <em>Associated Press</em>, Tran Anh Hung butuh empat tahun untuk mendapat persetujuan Haruki Murakami agar novel legendarisnya bisa dijadikan film. &#8220;Murakami sangat melindungi karyanya. Dia memberi dua syarat. Pertama, dia harus baca naskah skenarionya dulu. Kedua, dia ingin tahu budget-nya digunakan untuk apa saja di film ini,&#8221; kata Tran.</p>
<p>Apa empat tahun cukup berpengaruh signifikan membangun dan menghasilkan film yang memuaskan untuk dinikmati? Tran Anh Hung mengaku pertama kali membaca novel itu pada tahun 1994 dan sejak itu terobsesi mewujudkannya sebagai film. Harapan itu mulai bersemi ketika pada 2004 ia bertemu Murakami untuk pertama kalinya. &#8220;Dia sangat pendiam, serius, dan hati-hati,&#8221; kesan Tran. Murakami baru memberi lampu hijau untuk adaptasi itu pada tahun 2008.</p>
<p>Yang mungkin cukup mengejutkan, sebagai kerja kolektif internasional (sutradara dari Prancis, produksi di Jepang, musik oleh Jonny Greenwood dari Inggris dan Can dari Jerman), film ini tetap menggunakan bahasa Jepang, bukan Inggris. Padahal bila berbahasa Inggris kemungkinan besar filmnya lebih bisa diterima pasar internasional. Sejak awal Tran bersikeras film itu harus berbahasa Jepang. Dia tidak bisa membayangkan film ini berbahasa selain Jepang dan dia tidak membuat pilihan di luar itu. Konsekuensinya, Tran harusnya bekerja ekstra keras. Mula-mula skenario ditulisnya dalam bahasa Prancis, terus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan akhirnya diubah ke dalam bahasa Jepang. Selanjutnya, ketika produksi, dia menggantungkan bantuan dari produser untuk berkomunikasi dengan para aktor.</p>
<p>Di tangan sutradara yang sangat terpengaruh sinema Prancis, <em>Norwegian Wood</em> berjalan tenang, namun tidak sampai terkesan lamban. Para tokoh tampil cukup mengesankan, tapi entah kenapa tampaknya ada sesuatu yang membuat kedalaman karakter mereka kurang tergali. Sejumlah orang berpendapat itu lantaran pada titik tertentu memang sulit mengadaptasi novel menjadi bahasa film.<em> The Daily Telegraph</em>, misalnya, di samping memuji keberanian dan keberhasilan Tran, mengkritik bahwa &#8220;film ini hadir sekadar sebagai ringkasan atas novel Murakami.&#8221;</p>
<p>Trauma, bayang-bayang kematian, persahabatan, cinta erotik, kebebasan seksual, juga harapan berpendar cukup proporsional menyelimuti Watanabe, tokoh utama pria. Sebagai pria biasa yang mengalami peristiwa dramatik bunuh diri sahabatnya, tertarik pada pacar sahabatnya, hidup Watanabe sudah cukup galau untuk bisa tetap waras menghadapi masa depan. Tapi kehadiran Naoko (pacar sahabatnya yang mati bunuh diri) di tengah kehidupan kampus yang terbuka dan optimistis, terutama karena dia pun tertarik pada Midori&#8212;perempuan atraktif yang sifatnya sama sekali berbeda dengan Naoko&#8212;membuatnya gelombang hidupnya menjadi lebih bergolak dan nelangsa. Ketegangan antara terikat kembali pada masa lalu dan niat hidup bahagia bersama Naoko bertabrakan dengan optimisme yang meragukan bersama Midori. Salah satu pelepasannya: menyanyi bersama lagu &#8220;Norwegian Wood&#8221; milik The Beatles.</p>
<p>Harus diakui, harapan jutaan pemuja buku itu&#8212;tak terbatas pembaca Jepang&#8212;memang sangat besar begitu tersiar kabar film ini hendak dibuat. Tapi Tran tahu buku dan film adalah dua hal yang berbeda, dan tampaknya dia tidak terlalu terpengaruh tuntutan itu. &#8220;Satu-satunya tekanan yang saya rasakan adalah harus bisa membuat film bagus,&#8221; papar Tran. Secara visual, <em>Norwegian Wood</em> memang sungguh indah, terutama <em>scene</em> di musim dingin. Sementara ilustrasi musik besutan Jonny Greenwood bisa dibilang sangat berhasil. Yang mungkin agak membingungkan ialah soal waktu yang dibuat mengambang entah sebagai kenangan masa lalu atau kejadian nyata (<em>real life</em>).</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Anwar Holid</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/DVD-Norwegian-Wood-di-Kineruku.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5941" title="DVD Norwegian Wood di Kineruku" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/02/DVD-Norwegian-Wood-di-Kineruku-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><em><strong>Norwegian Wood</strong></em><br />
Sutradara: Tran Anh Hung<br />
Tahun rilis: 2010<br />
Produser: Chihiro Kameyama, Shinji Ogawa<br />
Screenplay: Tran Anh Hung, berdasar novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami<br />
Pemain: Kenichi Matsuyama (Watanabe), Rinko Kikuchi (Naoko), Kiko Mizuhara (Midori)<br />
Musik: Jonny Greenwood, Can<br />
Sinematografi: Mark Lee Ping Bin<br />
Editing: Mario Battistel<br />
Durasi: 133 menit<br />
Bahasa: Jepang</p>
<p><strong>Kineruku</strong> mengoleksi DVD film <em>Norwegian Wood</em>, juga buku-buku karya Haruki Murakami, antara lain <em>Sputnik Sweetheart, Blind Willow Sleeping Woman, The Wind Up Bird Chronicle, Kafka on the Shore, Dengarlah Nyanyian Angin, The Elephant Vanishes</em>, dsb. Tersedia pula DVD film Tran Anh Hung lainnya yaitu <em>The Scent of Green Papaya</em> (1993).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/norwegian-wood-tran-anh-hung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutaran Film Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Perancis 2012</title>
		<link>http://kineruku.com/kompetisi-film-pendek-nasional-festival-sinema-perancis-2012/</link>
		<comments>http://kineruku.com/kompetisi-film-pendek-nasional-festival-sinema-perancis-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5864</guid>
		<description><![CDATA[Pemutaran 10 judul yang masuk putaran final Kompetisi Film Pendek Sinema Perancis 2012 [<a href=" http://kineruku.com/?p=5864">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/10TahunKineruku.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6123" title="10TahunKineruku" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/04/10TahunKineruku.jpg" width="575" height="385" /></a></p>
<p>Pemutaran Film<br />
<strong>Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Prancis 2012</strong></p>
<p><strong>Jumat, 18 Januari 2013</strong><br />
Pk. 18:30 WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung<br />
<strong>Gratis </strong>(<em>harap datang tepat waktu</em>)</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Pendaftaran Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Prancis 2012 dibuka pada September 2012 dan ditutup 10 November 2012. Sebanyak 69 film masuk ke panitia dari berbagai daerah di Indonesia, memberikan gambaran tentang keberagaman cerita dari banyak sudut pandang dan latar budaya.</p>
<p>Tim seleksi IFI (Institut Francais Indonesia) membuat koridor untuk pemilihan film-film tersebut, yakni: mengutamakan kesederhanaan dalam bercerita; mampu memotret realitas keseharian; dan menyajikan cerita dengan baik, secara teknis maupun artistik. Tiga poin utama tersebut menjadi pegangan utama dalam menyeleksi film-film yang masuk. Memang bukan tugas mudah ketika menghadapi materi-materi yang terus membuat tim seleksi IFI berpikir tentang pilihan-pilihan. Tak ada baik dan buruk dalam hal ini; lebih soal kejelian dalam menentukan sikap ketika berkarya.</p>
<p>Berikut ini adalah 10 film pendek finalis Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Prancis 2012, yang akan diputar di Kineruku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/01-Parkir.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5868" title="01-Parkir" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/01-Parkir-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a></p>
<p><strong>PARKIR</strong> | Jason Iskandar, 2012, Antelope Film, 14 menit 59 detik<br />
<em>Sepasang kekasih mencari mobil mereka di area parkir yang luas karena mereka lupa dimana mereka parkir. Seorang supir tua membantu mereka.</em><br />
A couple is looking for their car in a big park building because they forgot where they parked it. An old driver offers them help. Dans un immense parking, un couple ne se souvient plus où est garée sa voiture. Un vieux chauffeur propose de les aider.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/02-Wrong-Day.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5869" title="02-Wrong-Day" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/02-Wrong-Day-300x168.jpg" width="300" height="168" /></a></p>
<p><strong>WRONG DAY</strong> | Yusuf Radjamuda, 2011, Kafe Ujung, 3 menit 30 detik<br />
<em>Seorang polisi mengejar kriminal pada hari menjelang tugas pertamanya, karena sesuatu hal, terjadilah percakapan antara keduanya.</em><br />
A policeman who just started his function has to pursue a criminal. One thing happened and creating a conversation between both of them. Un policier, qui vient de débuter dans la fonction, poursuit un criminel. Une conversation démarre entre eux.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/03-Keripik-Sukun-Mbok-Darmi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5870" title="03-Keripik-Sukun-Mbok-Darmi" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/03-Keripik-Sukun-Mbok-Darmi-300x125.jpg" width="300" height="125" /></a></p>
<p><strong>KERIPIK SUKUN MBOK DARMI</strong> | Heri Kurniawan, 2012, School of Design, Binus University, animasi 4 menit 24 detik<br />
<em>Pada suatu sore di Stasiun Sukabrantah, Mbok Darmi yang ketinggalan kereta mengalami kisah menyebalkan gara-gara sebungkus keripik.</em><br />
A late afternoon at Sukabrantah train station, Mbok Darmi missed her train and experienced unpleasant moment because of chips. Un après-midi à la gare Sukabrantah, Mbok Darmi rate son train et passe un mauvais moment à cause d’un paquet de chips.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/04-Jumprit-Singit.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5871" title="04-Jumprit-Singit" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/04-Jumprit-Singit-300x168.jpg" width="300" height="168" /></a><br />
<strong><br />
JUMPRIT SINGIT</strong> | Mahesa Desaga, 2012, Sembilan Production, 8 menit 19 detik<br />
<em>Seorang anak bertemu pencuri yang berbohong kepadanya, bahwa ia sedang bermain Jumprit Singit (Petak Umpet).</em><br />
A boy meets a thief who lied to him that he is playing Jumprit Singit (hide and seek). Un enfant surprend un voleur qui lui ment en prétendant jouer à Jumprit Singit (cache-cache).</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/05-Halo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5872" title="05-Halo" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/05-Halo-300x170.jpg" width="300" height="170" /></a></p>
<p><strong>HALO!</strong> | Athpal S. Paturusi, 2012, mutumata Creative Boutique, 5 menit 59 detik<br />
<em>Ketika kata “halo” membuka sebuah peristiwa.</em><br />
Everytime the word &#8216;hallo&#8217; is heard, something happens. Quand le mot “hallo” se fait entendre, un événement survient.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/01-Tanya-Jawab.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5873" title="01-Tanya-Jawab" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/01-Tanya-Jawab-300x168.jpg" width="300" height="168" /></a></p>
<p><strong>TANYA JAWAB</strong> | Jason Iskandar, 2011, Antelope Film, 8 menit 30 detik<br />
<em> Seorang anak laki-laki meminta bantuan pengasuhnya untuk tanya jawab mengenai materi pelajaran. Tetapi ia tidak dapat menjawab pertanyaan dari pengasuhnya.</em><br />
A boy is asking his nanny for Q &amp; A of his study, however he is not able to answer the question. Un garçon demande à sa baby-sitter de lui poser des questions sur ses leçons. Mais il n’est pas en mesure d’y répondre.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/02-Palak.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5874" title="02-Palak" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/02-Palak-300x168.jpg" width="300" height="168" /></a></p>
<p><strong>PALAK</strong> | Jaka Triadi, 2012, Sinematografi UNAIR, 9 menit 12 detik<br />
<em>Manusia adalah serigala bagi manusia lain.</em><br />
A man is a wolf to other men. L’homme est un loup pour l’homme.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/03-Penghulu.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5875" title="03-Penghulu" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/03-Penghulu-300x168.jpg" width="300" height="168" /></a></p>
<p><strong>PENGHULU</strong> | Destri Tsurayya I., 2012, Forum Film Pelajar Bandung, 10 menit 34 detik<br />
<em>Niat Dayat dan Marni untuk menikah mendapat tantangan dari penghulu.</em><br />
The intention of Dayat and Marni to get married is being challenged by the worship. Avant de se marier, Dayat et Marni doivent passer une épreuve imposée par le fonctionnaire du culte.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/04-Waktu-Kunjung-Pacar.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5876" title="04-Waktu-Kunjung-Pacar" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/04-Waktu-Kunjung-Pacar-300x187.jpg" width="300" height="187" /></a></p>
<p><strong>WAKTU KUNJUNG PACAR</strong> | Nizar, 2012, Sinematografi UI, 7 menit 54 detik<br />
<em>Momen indah sepasang kekasih; Boim dan Imah. Candle light dinner, dan mimpi mereka tentang cinta.</em><br />
Beautiful moment of a couple, Baim and Imah. Candle light dinner and their dream about love. Un moment de Bonheur entre Boim et Imah. Dîner aux chandelles et rêve d’amour.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">===</span><br />
<a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/05-Jatisari-First-Blood-Reloaded_0.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5877" title="05-Jatisari-First-Blood-Reloaded_0" alt="" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2013/01/05-Jatisari-First-Blood-Reloaded_0-300x150.jpg" width="300" height="150" /></a></p>
<p><strong>JATISARI FIRST BLOOD RELOADED</strong> | Sirojuddin, 2012, Jatisariku, 13 menit 33 detik<br />
<em>Tanpa alasan yang jelas, Kopral Jono disekap oleh Kepala Gangster Jatisari. Dengan kesaktiannya, Sersan Rebo berhasil menyelamatkan Kopral Jono.</em><br />
Without clear reason, Corporal Jono is being held as a hostage by Jatisari Gangster. With his magic, Sergeant Rebo succeeded to free him. Sans motif clair, le Caporal Jono est retenu prisonnier par le chef des bandits de Jatisari. Grâce à son pouvoir magique, le Sergent Rebo parvient à le sauver.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: center;">Pemutaran film ini terselenggara atas kerjasama:<br />
<a href="http://institutfrancais-indonesia.com/" target="_blank"><strong>Institut Francais Indonesia</strong></a> dan <a href="http://kineruku.com"><strong>Kineruku</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/kompetisi-film-pendek-nasional-festival-sinema-perancis-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Serigala Lapar di Antara Domba yang Tersesat</title>
		<link>http://kineruku.com/jadilah-serigala-lapar-di-antara-domba-yang-tersesat/</link>
		<comments>http://kineruku.com/jadilah-serigala-lapar-di-antara-domba-yang-tersesat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2012 10:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5817</guid>
		<description><![CDATA[Menulis musik bukan lagi 5W+1H, melainkan creative writing [<a href=" http://kineruku.com/?p=5817">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5836" title="BincangBukuLTD_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_still.jpg" alt="" width="575" height="383" /></a></p>
<p>&#8220;Sebenarnya alasan saya menerbitkan buku ini ialah agar bisa jalan-jalan,&#8221; kata Taufiq Rahman dengan nada serius, tetapi orang-orang malah tertawa. &#8220;Waktu tur buku <em>Like This</em>, saya berkesempatan bertemu banyak pegiat <em>scene</em> musik di berbagai kota dan saya tahu ada banyak orang baik di sana.&#8221; Kali ini buku debutnya <em>Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer</em> diperbincangkan secara intim dan blak-blakan pada Minggu, 18 November 2012 di Kineruku, Bandung. Di tempat yang dianggap sebagai &#8220;<em>the coolest library in town</em>&#8221; ini <a href="http://lokasitidakditemukan.tumblr.com/" target="_blank">Taufiq Rahman</a> kembali bertemu puluhan orang fans musik rock ’n’ roll. Salah satunya <a href="http://xenantaya.blogspot.com/" target="_blank">Ismail Reza</a>, seorang penggila musik yang cukup familiar di Bandung. Dia menanggapi buku itu sekaligus mengorek lebih dalam isi kepala Taufiq. Di antara hadirin tampak <a href="http://gutterspit.com/" target="_blank">Ucok &#8216;Homicide&#8217;</a>, Anto Arief 70&#8242;s Orgasm Club, juga Harlan Boer yang baru saja merilis EP <a href="http://soundcloud.com/raindogs_recs/sets/sakit-generik" target="_blank"><em>Sakit Generik</em></a>. Taufiq mengaku, para pegiat <em>scene</em> musik lokal itulah yang sangat berjasa membantunya menyebarkan ide dan berbagi antusiasme musik di situs yang dia dirikan bersama Philips Vermonte, <a href="http://jakartabeat.net" target="_blank">Jakartabeat.net</a>.</p>
<p><a href="http://kineruku.com/dijual-buku-lokasi-tidak-ditemukan/" target="_blank"><em>Lokasi Tidak Ditemukan</em></a> menarik bukan saja karena membukakan mata untuk mendengar musik-musik penting yang mungkin belum terjelajahi atau terlalu tersingkir oleh musik niaga (<em>mainstream</em>), melainkan juga berusaha memuat banyak pemaknaan sewaktu menikmati musik, baik lewat album, nonton konser, juga menziarahi tempat-tempat legendaris di dunia rock and roll. Taufiq menemukan dan menawarkan banyak hal dari penjelajahan itu. Bertutur ala catatan personal, dia secara jeli berusaha menyusun konteks sosial-politik suatu musik, baik merekatnya dengan penelitian musikolog, data statistik, maupun hipotesis yang kelewat berani. Sikap ini lahir dari keyakinannya bahwa “menulis musik adalah menulis tentang manusia.&#8221;</p>
<p>Menandaskan hal itu Ismail Reza bilang bahwa menulis musik yang baik mestinya memang harus bisa membuka banyak kemungkinan. &#8220;Musik yang baik kalau bisa semakin banyak menghasilkan tafsir baru setiap kali didengar,&#8221; kata dia. Dia menyatakan bahwa para pemadat musik seperti Taufiq&#8212;yang ingin menyatakan bahwa dirinya menemukan musik berharga&#8212;harus bisa menjadi serigala lapar di tengah domba-domba tersesat. Misinya ialah dengan ganas dan jujur mengabarkan musik yang bagus kepada khalayak, sebab industri musik dengan segala kepentingannya secara cerdik pula mampu menipu telinga dan otak banyak orang agar mengonsumsi produk musik yang &#8220;dianggap bagus&#8221; padahal sebenarnya busuk.</p>
<p>Itu membuat perdebatan seperti apa musik yang bagus dan apa kriterianya jadi sangat relatif. Buat Reza jawabannya telak, &#8220;Musik yang bagus adalah musik yang gue suka.&#8221; Orang yang bilang seperti ini harus bisa menjelaskan dan meyakinkan orang lain kenapa musik yang disukainya bagus, layak diapresiasi, dan produk musik lainnya pantas dibuang. Sementara menurut Taufiq musik yang bagus ialah yang punya dampak sosial-politik kuat. Musik seperti itu tidak terbatas hanya karena laku sekian juta kopi atau mendapat habis-habisan dari berbagai media dan komentator terkemuka. Orang yang mau menulis musik selayaknya mengabarkan pada publik setiap kali menemukan musik bagus. Itu yang membuat kini Taufiq mengaku sudah meninggalkan musik rock and roll umum&#8212;terutama produk Barat, bahkan yang dianggap <em>masterpiece</em> sekalipun&#8212;dan memilih melanjutkan penjelajahan ke ranah yang belum banyak tergali, entah dari Arab, Afrika, anak benua India, dan tentu saja Indonesia. &#8220;Menulis musik bukan lagi 5W+1H, melainkan <em>creative writing</em>,&#8221; ujarnya. &#8220;Kita harus bisa membuat agar subjeknya jadi menarik.&#8221;</p>
<p>Meski bisa jadi cara bertutur tulisan Taufiq bagi sebagian orang terasa kurang <em>fun</em>, bahkan berisiko dianggap <em>snob</em> dan pretensius, harus diakui banyak pembaca bilang bahwa Taufiq menulis musik dengan <em>passion</em>, dengan gairah tinggi. Kata Ucok, &#8220;Saya tahu Taufiq tidak suka hip-hop, tapi hanya dia yang mampu me-<em>review</em> album Homicide dengan benar.&#8221; Itulah yang membuat perjalanan Taufiq bersama musik rock seolah-olah tak akan pernah mau berakhir, karena ia terus menemukan &#8220;lokasi-lokasi&#8221; baru yang menawarkan hal berharga. Dia menolak membuang tinta dan kata untuk musik yang buruk, bahkan kalau perlu coba dilawan dan dihancurkan.</p>
<p style="text-align: right;">[<span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;">Anwar Holid</span>,<br />
<em> tulisan ini dimuat pertama kali di <a href="http://halamanganjil.blogspot.com/2012/11/taufiq-rahman-ismail-reza-budi-warsito.html" target="_blank">blog pribadi</a>-nya</em>]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[UPDATE] Foto-foto acara oleh <a href="http://shutterbeater.wordpress.com" target="_blank"><strong>Jovy Aidil Akbar</strong></a>. Klik foto untuk memperbesar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5827" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_1.jpg"><img class="size-medium wp-image-5827" title="BincangBukuLTD_1" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Penampilan kejutan dari The Bo feat. Ran Manzarek (mini organ) dan Budi G. (seruling), membawakan lagu Celine Dion &quot;My Heart Will Go On&quot;.</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5828" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_2.jpg"><img class="size-medium wp-image-5828" title="BincangBukuLTD_2" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Harlan menghayati lagu &quot;Kiri Kanan&quot; pada penampilan perdananya di Bandung, bersama Stephanie Eka sebagai penyanyi tamu.</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5829" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_3.jpg"><img class="size-medium wp-image-5829" title="BincangBukuLTD_3" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_3-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Diskusi Tidak Ditemukan: Mencari Nabi-nabi Palsu Sampai 15.000 Kilometer</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5830" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_4.jpg"><img class="size-medium wp-image-5830" title="BincangBukuLTD_4" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_4-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Menulis soal musik adalah menulis tentang manusia,&quot; kata Taufiq.</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5831" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_5.jpg"><img class="size-medium wp-image-5831" title="BincangBukuLTD_5" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_5-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Reza bersabda soal &quot;Wolves among the sheep!&quot;</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5832" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_6.jpg"><img class="size-medium wp-image-5832" title="BincangBukuLTD_6" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_6-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Apakah aku berada di Jakartabeat atau mereka mengundang orang Jakartabeat?</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5833" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_7.jpg"><img class="size-medium wp-image-5833" title="BincangBukuLTD_7" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_7-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;...pusing mikirin vinyl, giat ngumpulin plat...&quot; #JajanRock</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5834" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_8.jpg"><img class="size-medium wp-image-5834" title="BincangBukuLTD_8" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_8-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;...sebelum warasmu mencari badut atau karaoke...&quot;</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_5835" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_9.jpg"><img class="size-medium wp-image-5835" title="BincangBukuLTD_9" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/BincangBukuLTD_9-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Anto Arief sedang berpikir apakah tanda tangan Taufiq bisa membuat bukunya menjadi mahal dan diburu kolektor 20 tahun ke depan.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/jadilah-serigala-lapar-di-antara-domba-yang-tersesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bincang Buku Lokasi Telah Ditemukan</title>
		<link>http://kineruku.com/bincang-buku-lokasi-telah-ditemukan/</link>
		<comments>http://kineruku.com/bincang-buku-lokasi-telah-ditemukan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2012 07:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5786</guid>
		<description><![CDATA[Mari bersukaria di hari Minggu, membedah relasi problematis antara menggilai musik dan menulis tentangnya [<a href=" http://kineruku.com/?p=5786">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/LokasiTelahDitemukan_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5787" title="LokasiTelahDitemukan_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/11/LokasiTelahDitemukan_still.jpg" alt="" width="575" height="407" /></a><br />
<strong></strong></p>
<p>Bincang Buku Kineruku<br />
<strong>LOKASI TELAH DITEMUKAN</strong></p>
<p><strong>Minggu, 18 November 2012</strong><br />
Pukul 14:00-17:00 WIB</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung<br />
(<a href="http://kineruku.com/how-to-reach-us/" target="_blank"><strong><em>peta menuju lokasi</em></strong></a>)<br />
GRATIS.</p>
<p>Menghadirkan:<br />
<strong>Taufiq Rahman</strong> (<em>co-founder</em> Jakartabeat.net, penulis buku <em>Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer</em>, Jakarta)</p>
<p>Dengan penanggap:<br />
<strong>Ismail Reza</strong> (penggila musik, Bandung)<br />
<strong>Budi Warsito</strong> (pustakawan Kineruku, Bandung)</p>
<p>Dimeriahkan penampilan musik oleh:<br />
<strong>Harlan</strong> (<em>Sakit Generik</em> EP, Jakarta)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami di perpustakaan Kineruku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali memegang buku&#8212;atau apapun yang bentuknya <em>printed</em>&#8212;berisi ulasan musik yang cukup gurih sambil tetap tak meninggalkan ketajaman dan kedalaman analisis, yang ditulis penuh gairah oleh orang Indonesia dalam bahasa Indonesia. Rasanya sudah lama sekali, semenjak Remy Sylado berfasih-fasih menguliti kebebalan musik pop Indonesia lewat <a href="http://kineruku.com/arsip-satu-kebebalan-sang-mengapa/" target="_blank">satu artikel panjang</a> yang menakjubkan di tahun 1977 (berarti sudah 35 tahun lalu), sementara ulasan-ulasan hari-hari ini di segelintir <em>majalah musik</em> hanya sanggup bermain-main di permukaan, dangkal dan membosankan (padahal akses mereka ke dunia itu nyaris tak terbatas), yang wajar saja jika pembaca/penikmat musik lantas berprasangka jangan-jangan kemampuan baca-tulis-analisis para jurnalis musik (!) itu memang cuma <em>segitu doang</em>. Benarkah sesulit itu menulis soal musik?</p>
<p>Peluang jawaban bisa jadi sama kuatnya antara iya dan tidak, meskipun <strong>Taufiq Rahman</strong>, <em>co-founder</em> Jakartabeat.net, jelas mengatakan &#8220;Tidak.&#8221; Di sinilah letak <em>tricky</em>-nya musik. Kita boleh saja menepuk dada sambil mengaku telah mencintai musik sejak usia dini, mengoleksi lebih banyak rilisan dan mendatangi lebih banyak konser ketimbang siapapun di sekitar kita, dan segudang klaim-klaim norak lainnya, tapi akui sajalah, bukankah kita acapkali kikuk jika diharuskan menulis tentang musik? Harus bercerita apa, dan lagipula bagaimana caranya? (Lebih eksistensialis lagi, “Haruskah ditulis?”) Musik itu seru, tapi kenapa seringnya jadi tidak seseru itu lagi begitu ditulis? Lebih mending mana, mengabarkan perasaan tercekat saat menyimak <em>trac</em>k kesekian; atau mengoceh tentang dahsyatnya <em>lick-lick</em> gitar si Fulan di album Anu? Berumit-rumit mengutip Nietzsche hanya demi terlihat pintar padahal <em>please deh</em> itu cuma tempelan (berhasil mengeja namanya dengan benar saja sudah cukup merepotkan!); atau sekadar menjejali ruang kata dengan info-info trivial yang sekadar disalin atas nama kemalasan dari <em>press-release</em> album baru? Semua cara itu benar, atau semuanya salah?</p>
<p>Taufiq Rahman, dalam buku kumpulan tulisannya yang berjudul <a href="http://kineruku.com/dijual-buku-lokasi-tidak-ditemukan/" target="_blank"><em><strong>Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer</strong></em></a>, telah mencoba segala macam cara, dan pada tingkat tertentu, dia telah memilih (menemukan?) suaranya sendiri. Mengaku tumbuh remaja di kampung dengan musik-musik Indonesia paling <em>mainstream</em> dalam <a href="http://kineruku.com/wawancara-taufiq-rahman/" target="_blank">sebuah wawancara</a>, Taufiq berikhtiar melakukan <em>leap of faith</em> dengan mencoba musik-musik lain ketika kuliah di Jogja, yang dilanjutkan saat studi master di Chicago. Tulisan-tulisan di buku ini, yang banyak dituturkan dari sudut pandang orang pertama, lancar bercerita tentang fase-fase pencarian itu, mulai dari menelusuri toko-toko musik independen di pojok-pojok Amerika (dan menulis obituari penuh haru saat toko favoritnya gulung tikar), menangis menemukan piringan hitam <em>Marque Moon</em>, duduk berhari-hari di bus Greyhound melintasi pedalaman Midwest sambil menghayati lagu Simon &amp; Garfunkel, mendatangi konser pahlawan-pahlawannya (lalu memilih terhipnotis DeVotchKa di Lollapalooza), hingga menziarahi kuil-kuil musik seperti Lokananta yang mengenaskan atau CBGB yang telah menjelma butik mahal, dan sederet perziarahan panjang lainnya demi &#8220;mencari rock and roll&#8221;, meski kemudian di sampul belakang buku dengan santainya ditulis &#8220;tentu saja dia tak pernah menemukannya.&#8221;</p>
<p>Di tulisan-tulisan Taufiq (dikumpulkan dari tulisan yang pernah dimuat di situs <a href="http://jakartabeat.net" target="_blank">Jakartabeat.Net</a>, Facebook <em>notes</em>, makalah <em>workshop</em> untuk mahasiswa, dan tulisan yang belum pernah dirilis sebelumnya), suara paling menonjol muncul dari kelihaiannya meramu isu kecintaan musik&#8212;yang bisa jadi sangat personal, sekaligus universal&#8212;dikaitkan dengan kesadaran sosial politik di sekitarnya. Keistimewaan ini tak banyak dijumpai di ranah jurnalisme musik masa kini di negeri ini. Sebagai wartawan politik di harian <em>The Jakarta Post,</em> tentu tak sulit bagi Taufiq memahami konstelasi politik Reagan dan munculnya Generasi X yang menyelamatkan budaya pop Amerika. Atau apa hubungan antara punk, Sukarno, dan Karang Taruna; atau bagaimana lewat lagu-lagunya yang sengaja berlirik bahasa Inggris Deddy Dores dan Harry Roesli sama-sama mendamba kebebasan di tahun-tahun awal Orde Baru berkuasa. Memisahkan musik dari suasana politik yang melingkupinya dan memusatkan perhatian kepada artefaknya saja, menurut Taufiq hanya akan mereduksi pemahaman kita terhadap manusia dan zamannya. Dia meyakini bahwa &#8220;menulis musik adalah menulis tentang manusia&#8221; (kredo ini bahkan diulang di beberapa tulisan), dan ini bisa kita gali lebih lanjut saat diskusi nanti.</p>
<p>Beberapa orang mungkin mengeluhkan betapa perkara musik menjadi terlampau serius dan tak lagi <em>fun</em> di tangan Taufiq. Meski kami kira-kira bisa mengerti kenapa, namun kami tetap angkat topi pada siapapun yang telah berusaha serius (bahkan jika harus kelewat serius sekalipun) menulis tentang musik dan manusia&#8212;yang berarti bekerja untuk keabadian, jika harus menyitir Pram yang sudah terlalu sering dikutip itu&#8212;ketimbang mereka yang tak melakukan apa-apa selain bicara <em></em>nyinyir di belakang, <em>anonymous</em> yang kemudian lenyap disapu zaman. Tulisan-tulisan Taufiq memang mudah tergelincir menjadi <em>music snob</em> (yang diakuinya sendiri <em>tanpa tedheng aling-aling</em> di salah satu tulisan), dan jika jumlah penggemar tulisannya sama banyaknya dengan pencibirnya adalah harga yang harus dibayar demi terekamnya peradaban panjang manusia yang baru bermakna jika-dan-hanya-jika dituliskan, kenapa tidak? Kami berani bertaruh bahwa dalam beberapa tahun ke depan, orang-orang di zaman setelah kita (yang masih mencintai musik lengkap dengan segala peluang wacana dan keasyikannya) bakal mencari-cari lagi buku ini, dan bersyukur ini pernah diterbitkan.</p>
<p>Dalam bincang buku kali ini, selain akan menghadirkan Taufiq Rahman untuk dikorek isi kepalanya, Kineruku juga mengajak <a href="http://xenantaya.blogspot.com/" target="_blank"><strong>Ismail Reza</strong></a>, seorang arsitek senior penggila musik, yang juga pengunjung setia perpustakaan Kineruku&#8212;hingga hari ini dia masih rutin menyewa CD dari koleksi rental musik kami, atau sekadar barter piringan hitam. Antusiasmenya atas musik dan budaya pop pada umumnya, juga wawasannya yang meluber dari Einstürzende Neubauten hingga rilisan dangdut Duba Record, dari pertunjukan <em>live</em> Magma di Paris sampai pagelaran karya cipta Guruh Sukarno Putra, kami rasa cocok untuk membahas relasi problematis antara menggilai musik dan menulis tentangnya, dan di posisi mana buku kumpulan tulisan Taufiq Rahman ini harus diletakkan. Untuk menambah maraknya suasana, <a href="http://soundcloud.com/harlan-boer" target="_blank"><strong>Harlan</strong></a> (alias Harlan Boer, akrab dipanggil Bin), musisi yang sudah lama berkiprah di <em>scene</em> musik independen ibukota dan bukan kebetulan adalah penulis kata pengantar buku ini, akan membuka acara dengan menyajikan <em>repertoire</em> dari mini albumnya yang masih hangat dari penggorengan, <a href="http://majalahcobra.com/blog/harlan-sakit-generik.html" target="_blank"><em>Sakit Generik</em></a> EP (Rain Dogs Records, rilis terbatas awal November 2012). Unjuk kebolehan Harlan ini bakal jadi penampilan <em>live</em> perdana-nya di Bandung.</p>
<p>Kami mengundang semua yang membaca ini untuk datang. Semoga semesta keriaan penuh barokah senantiasa menaungi kita semua di hari Minggu nanti. Amin.</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
baca, dengar, tonton.<br />
<a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>www.kineruku.com</strong></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>.<br />
Buku Taufiq Rahman <em>Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer</em> dan CD Harlan <em>Sakit Generik</em> EP tersedia dan dijual di lokasi diskusi. Foto bareng plus minta tandatangan tentu dipersilakan. :)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Acara ini terselenggara berkat kerjasama:<br />
<a href="http://jakartabeat.net" target="_blank"><strong>Jakartabeat</strong></a> dan <a href="http://kineruku.com"><strong>Kineruku</strong></a></p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/bincang-buku-lokasi-telah-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Who The Fuck Is Ismail Basbeth?  Pemutaran Film-film Pendek</title>
		<link>http://kineruku.com/film-pendek-ismail-basbeth/</link>
		<comments>http://kineruku.com/film-pendek-ismail-basbeth/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2012 04:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineruku.com/?p=5729</guid>
		<description><![CDATA[Ismail Basbeth, sutradara muda dari Yogyakarta [<a href=" http://kineruku.com/?p=5729">read more</a>]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/whothefuckisismail_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5730" title="whothefuckisismail_still" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/whothefuckisismail_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><strong>Who The Fuck Is Ismail Basbeth?</strong><br />
Pemutaran Film-film Pendek karya Ismail Basbeth</p>
<p><strong>Sabtu, 3 November 2012</strong><br />
Pk. 19:00 WIB &#8211; selesai<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52, Bandung</p>
<p>(<em>hanya untuk penonton usia 21 tahun ke atas</em>)</p>
<p><strong>Diskusi dihadiri oleh sang sutradara.</strong><br />
Gratis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah menjadi tradisi di Kineruku, memasang karya-karya sutradara dalam negeri yang layak mendapat sorotan. Kali ini dengan bangga Kineruku mengajak Ismail Basbeth, sutradara muda menjanjikan dari Yogyakarta untuk mempertontonkan film-film pendeknya. Ia telah berkeliling membawa sendiri film-filmnya, yang ia buat di kurun waktu 2008-2012, untuk diputar di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Ismail akan dengan senang hati berbagi pengalaman soal pembuatan karyanya, yang juga pernah diputar di beberapa festival film di Eropa dan Asia.</p>
<p>Sempat belajar musik tradisional di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung selama setahun, Ismail Basbeth kemudian pindah ke Yogyakarta pada 2004 untuk belajar ilmu komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bersama dua rekannya, Ismail mendirikan rumah produksi alternatif di Yogyakarta yang mereka namakan Hide Project Indonesia. Pada tahun 2011 ia berkesempatan studi Asian Film Academy (AFA) di Busan (Korea Selatan) dan memenangkan BFC &amp; SHOCS Scholarsip Fund. Pada tahun 2012 ia terpilih dalam program Berlinale Talent Campus oleh Berlinale International Film Festival di Jerman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Film-film yang akan diputar di Kineruku:</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/hideandsleep.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5735" title="hideandsleep" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/hideandsleep.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><strong>HIDE AND SLEEP</strong> | Ismail Basbeth, 2008, drama, 16 menit<br />
<em>Ramlan kebingungan ketika bangun tidur mendapati beberapa wanita ada di dalam kamarnya. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Semua terlihat aneh dan janggal. Akankah Ramlan menemukan penyebabnya?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/harryvanyogya.jpg"><img title="harryvanyogya" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/harryvanyogya.jpg" alt="" width="300" height="169" /></a></p>
<p><strong>HARRY VAN YOGYA</strong> | Ismail Basbeth, 2010, dokumenter, 3 menit<br />
<em>Blasius Haryadi, akrab disebut Harry van Yogya, adalah tukang becak di Prawirotaman (Yogyakarta) yang aktif menggunakan internet sejak tahun &#8217;90an. Sosoknya makin terkenal ketika beberapa bulan lalu banyak media massa nasional meliput usahanya memakai Facebook sebagai alat pencari pelanggan. Film ini mendokumentasikan komentar sosial dari seorang Harry van Yogya tentang korupsi di Indonesia, yang masih menjadi masalah besar yang tak terselesaikan hingga sekarang.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/shelter.jpg"><img title="shelter" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/shelter.jpg" alt="" width="300" height="175" /></a></p>
<p><strong>SHELTER</strong> | Ismail Basbeth, 2011, drama, 15 menit<br />
<em>Cintailah seseorang yang sedang bersamamu, selagi masih ada waktu.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/ritual.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5733" title="ritual" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/ritual.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a></p>
<p><strong>RITUAL</strong> | Ismail Basbeth, 2012, drama, 14 menit<br />
<em>A story told by a mirror of a dresser and a convex mirror.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/whothefck.jpg"><img title="whothefck" src="http://kineruku.com/wp-content/uploads/2012/10/whothefck.jpg" alt="" width="300" height="189" /></a></p>
<p><strong>WHO THE FUCK IS ISMAIL BETH?</strong> | Ismail Basbeth, 2012, eksperimental, 4 menit<br />
<em>Sebuah art video tentang menonton sebuah art film.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://kineruku.com"><strong>www.kineruku.com</strong></a></p>
<p>Mari sebarkan kabar baik ini via:<br />
twitter: <a href="http://twitter.com/kineruku" target="_blank"><strong>@kineruku</strong></a>, <a href="http://twitter.com/ismailbasbeth" target="_blank"><strong>@ismailbasbeth</strong></a><br />
hashtag: <strong>#whothefuckisismailbasbeth</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineruku.com/film-pendek-ismail-basbeth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
