Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

X dan/atau XXX…

X dan/atau XXX…
17/09/2008

‘G’ means the hero gets the girl,
‘R’ means the villain gets the girl,
and ‘X’ means everyone gets the girl.”
– sebuah lelucon lama

Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? Sama-sama ditasbihkan lembaga rating MPAA sebagai ‘X-rated film’, aksi ranjang di Basic Instinct rasanya lebih sah di persepsi kita ketimbang aksi kekerasan di RoboCop atau Total Recall.

Tak ada catatan pasti kapan pertama kali film bergenre X (dan/atau XXX) dibuat, tapi saya curiga itu sebenarnya hanya beberapa jam setelah kamera film pertama kali diciptakan di akhir abad 19. Ciuman pertama yang pernah terekam pita seluloid memang baru muncul beberapa tahun kemudian, tapi siapa bisa menjamin Lumière Bersaudara tidak kepikiran merekam adegan asyik masyuk sesaat setelah menemukan kamera cinematograph pertama di tahun 1895? Mungkin mereka tidak memutarkannya di depan publik yang terhormat kala itu. Siapa tahu mereka menyimpannya saja. Jangan-jangan persis seperti kita: diam-diam menyembunyikan film-film Jenna Jameson di laci paling bawah, dan menontonnya setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat.

Ya, setiap pria normal tentu paham siapa Jenna Jameson, kecuali jika Anda memang sangat alim dan kuper luar biasa. Bisa jadi dialah bintang film porno paling populer saat ini, meski mengaku telah pensiun. Kita sudah terlanjur hapal berapa ukuran dadanya (silikon tentunya), bagian pantat dan kaki sebelah mana yang bertato, gaya favoritnya (dia benci seks anal, tapi toh melakukannya), juga kemahiran oralnya yang tak jarang dibanjiri ludah. Goyangan dan desahannya hidup abadi di keping-keping cakram bajakan, beredar cepat dari tangan ke tangan (tergores-gores akibat terlalu sering disetel di bagian tertentu), atau menetap permanen di harddisk komputer kita. Buku otobiografinya, How to Make Love Like a Porn Star, digarap serius setebal hampir 600 halaman, meledak di pasaran. Orang-orang seperti Jenna (juga ribuan bintang porno lainnya) inilah yang membuat roda industri gambar bergerak pengumbar syahwat itu terus berputar. Ada supply, ada demand. Dan layaknya dunia keprofesian, banyak prasyarat harus dipenuhi: salah satunya, bisa jadi paling utama, adalah size does matter. Angka 36D adalah lingkar dada yang biasa ditemui, tak peduli itu asli atau palsu, dan ingat, ‘senjata’ legendaris Rocco Siffredi dikabarkan bisa mencapai panjang 23 cm! (Freud bisa tertawa dalam kubur jika tahu betapa fetisisme atas fantasi phallus sangat dirayakan dalam industri raksasa ini, termasuk pemilihan adegan penis ejakulasi sebagai ending abadi.)

Kualitas akting para aktor-aktrisnya pun tak perlu tinggi-tinggi amat, karena yang lebih penting stamina dan teknik bercinta. Toh skenario, bila itu bisa disebut skenario, tak menuntut macam-macam: hampir selalu minim dialog. Kalaupun ada dialog, biasanya simpel dan cheesy, tak banyak kalimat yang harus dihapal selain harus mendesah seseksi mungkin (“Oh yes! Oh no!“—sikap yang plin plan?). Atau melenguh (“Faster! Harder!“). Atau menjerit (“Oh, God!“—wow, apakah mereka religius?). Semuanya demi satu tujuan bersama, merangsang audiens. Para produser tahu betul kebutuhan pasar: segala preferensi dan fantasi seksual terliar manusia difasilitasi; mulai dari pasangan biasa, sesama jenis, tukar pasangan, keroyokan, bahkan jika perlu dengan binatang sekalipun. Judul-judulnya pun menggelikan, tak jarang plesetan dari film-film terkenal: A Clockwork Orgy, Good Will Humping, Sex Trek: The Next Penetration, Black Cock Down, dan sebagainya.

Jalan cerita di film-film porno acapkali ngawur. Logikanya busuk seperti kentut, tapi seperti halnya kentut, kita tetap membutuhkannya, bukan? Contoh plot standar: wanita pirang seksi tinggal sendirian di rumah, tak jelas apa aktivitasnya, mendadak lapar dan memesan pizza via telepon. Atau tanpa sebab pasti, tiba-tiba pipa ledeng di kamar mandinya ngadat. Kejadian ‘perut lapar’ dan ‘ledeng rusak’ ini hanyalah pengantar seadanya demi menghadirkan ‘lawan bertanding’ di adegan utama yang lebih esensial. Maka datanglah pria pengantar pizza atau mas-mas tukang ledeng, biasanya kekar tapi pendiam. Setelah bertukar dialog yang mengada-ada, ngalor ngidul, cenderung murahan dan nggak penting, mereka mulai menjurus ke ‘hal-hal yang kita inginkan’. Namun tempo dari segala adegan pembuka itu selalu terasa terlampau lambat (meminjam analisis nakal Umberto Eco, “if, to go from A to B, the characters take longer than you would like, then the film you are seeing is pornographic.”). Sehingga tak jarang tombol fast-forward di remote control menjadi pahlawan andalan kita. Fantasi dan mata kita minta segera dipuaskan, meski kadang otak suka bertanya-tanya mengapa ketika ‘bertempur’ mereka masih mengenakan sepatu dan tak menanggalkan topi. Berterima kasihlah pada teknologi masa kini, karena segalanya sekarang menjadi jauh lebih mudah dan ringkas, setidaknya dibanding masa-masa memutar knop di VHS/Beta player bertahun-tahun silam. Dan kode rahasia klasik nan malu-malu “Ehmm, ada film Unyil?” mulai tergantikan oleh tradisi unduh-sendiri-film-bokep-pilihanmu di belantara internet.

Kemajuan teknologi juga membuat video porno amatir makin merajalela. Perangkat paling mutakhir dan hasrat paling purba berpadu sempurna dengan gejala narsisistik manusia: now everyone could be a porn star. Pada tahun 2001, ketika Adi dan Nanda merekam percakapannya di kamar hotel, “Nanda, sekarang kita sudah berapa bulan?/ Sudah 23 bulan/ Berarti sudah hampir 2 tahun, kamu maunya apa?”, mungkin tak pernah terbayang oleh mereka betapa kini hampir sewindu semenjak adegan percintaan heboh mereka itu, video serupa makin biasa didapati. Tengoklah folder-folder di warnet, atau file-sharing di forum-forum. Nyalakan televisi, maka tak habis-habisnya acara gosip memberitakan video pribadi terbaru mulai dari artis ibukota hingga anak SMA di daerah, yang bisa langsung dengan mudah di-search di Google.

Jenna Jameson boleh mengaku pensiun (“I will never spread my legs in this industry again!” ujarnya), Adi dan Nanda mungkin sudah menikah di Kutub Utara lalu bercerai (who knows?), anggota DPR telah insaf dan aji mumpung Maria Eva sudah tak ampuh lagi; tapi apa boleh buat, pornografi gambar bergerak tetap melenggang kangkung. Dunia profesional dan amatir seolah berjalan serentak. Persis kata-kata yang menggema di podium Adult Video News Awards 2008, pertengahan Januari silam. Pada hajatan 25 tahun ajang penghargaan paling bergengsi industri pornografi itu, Stormy Daniels, bintang bokep yang masih aktif, menanggapi pernyataan pensiun Jenna Jameson, “I love you Jenna, but I’m going to spread my legs a little longer.” Industri (dan tradisi) film porno pun jalan terus. [Budibadabadu]

* * *

Budibadabadu bermimpi menjadi kolektor film, menggemari film dari berbagai genre, kecuali horror dan India. Jadi jangan berharap menemukan film hantu Bollywood di rak kamarnya. Pernah membual tentang karya-karya Antonioni dan Wenders, tapi diam-diam juga rajin mengumpulkan film bergenre huruf tertentu (oke, huruf ke-24 dalam abjad), atau kelipatannya. Tapi siapa sih yang nggak? Dia hanya manusia biasa.


Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe