Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/wawancara/ Budi & Rani dari Kineruku…

/wawancara/ Budi & Rani dari Kineruku…
10/10/2013 admin

BudiRani_2

Pasangan pemilik Kineruku, Budi Warsito dan Ariani Darmawan, diwawancarai oleh Aditya H. Martodiharjo, reporter majalah Cobra. Pertama kali dipublikasikan di web majalah Cobra pada 9 Agustus 2013, kini atas seizin redakturnya transkrip wawancara Budi dan Rani tersebut dimuat ulang di web Kineruku. Foto oleh Aditya H. Martodiharjo.

 

Buku apa yang paling sering kalian baca hingga berulang kali?

Rani (R): Hmm, apa ya? Oh, paling Malone Dies karya Samuel Beckett. Setiap baca lagi selalu ada rasa baru, kadang terasa pahit, manis, padahal dari kalimat yang sama, bisa jadi itu tergantung bagaimana kita membacanya lagi.

Budi (B): Kumpulan cerpen Misbach Jusa Biran, Keadjaiban di Pasar Senen. Saya selalu suka cerita-cerita yang habis dalam sekali baca, jadi ketika dibaca-baca lagi nggak butuh waktu lama. Biasanya sebelum tidur, ngingetin ke diri sendiri bahwa urip iku mung mampir ngguyu.

 

Tiga cover buku favorit kalian?

(R): The Unnamable (Samuel Beckett, Grove Press Edition, 1958)
Meski bukan termasuk karya Beckett yang saya suka, tapi sampul edisi bahasa Inggris ini adalah favorit! Akhir trilogi yang menutup novel-novel sebelumnya (yakni Molloy dan Malone Dies), berisi narasi eksistensial seorang pria, tentunya tak bernama, yang tak jelas ujung pangkalnya. Novel khas Beckett yang tanpa plot selalu mengingatkan saya pada musik jazz, penuh improvisasi, kadang tanpa awal dan akhir yang jelas. Ilustrasi pada sampul buku ini sama tak jelasnya, dan karenanya multi-interpretasi. Sederhana, abstrak, sekaligus tegas, dalam ketidakjelasan.

(B): Keadjaiban di Pasar Senen (Misbach Jusa Biran, Pustaka Jaya, 1971)
Pepatah don’t judge a book by its cover agak sulit diterapkan di sini. Pendar-pendar merah di latar gelap sampulnya justru yang pertama kali menarik perhatian saya. Bahwa judulnya terinspirasi dari film Miracolo a Milano-nya Vittorio de Sica, tak lantas bikin saya mikir itu pasti gambar kembang api di langit Milan. Bisa saja Jus Rusamsi, si perancang sampul, memaksudkannya sebagai sekawanan kunang-kunang, atau genangan air yang ketetesan rintik hujan. Dengan caranya sendiri, isi buku yang lucu-tapi-lempeng (atau lempeng-tapi-lucu?) cocok sempurna dengan gaya sampul. Ironisnya, semua edisi sampul cetak ulangnya yang bergambar lain justru menghilangkan “keajaiban” itu.

(R) & (B): Olenka (Budi Darma, Balai Pustaka, 1983)
Salah satu novel Indonesia favorit kami berdua. Kebetulan sampul cetakan pertama rancangan Hanoeng Soenarmono ini juga salah satu sampul kesayangan sepanjang masa. Jarang didapati sampul buku Indonesia yang sesimpel dan seabstrak ini, dengan dua wajah perempuan yang sangat mirip sedang saling berhadapan. Hanya ada satu karakter utama perempuan di novel ini, yaitu Olenka, kenapa harus ada dua wajah? Menebak-nebak misteri sampul ini sama sulitnya dengan menebak siapa Olenka dalam novelnya.

sampulfavorit

 

Budi suka ngumpulin cover piringan hitam yang gambarnya buah, kenapa buah? Gambar apalagi yang menarik dijadikan cover album vinyl?

(B): Yang bergambar binatang sudah terlalu banyak, sementara plat bersampul buah masih lebih sedikit. Mungkin juga karena saya suka makan buah. Makan sayur juga sih, tapi kok masih sering sariawan ya? Foto suasana keramaian, misalnya pasar tradisional, kayaknya seru buat cover vinyl. Atau orang-orang lagi ngantri apa gitu di sebuah toko.

 

Pengalaman ke perpustakaan seperti apa yang paling menggembirakan bagi kalian? Dan bagaimana ceritanya hingga Ariani memutuskan bikin perpustakaan?

(B): Dulu di kampung halaman saya, sebuah kota kecil di pelosok Jawa Tengah, ada perpustakaan daerah. Saya masih kelas 5 SD ketika guru mengajak seisi kelas ke situ. Itu pertama kali saya lihat perpustakaan bagus. Di rak kategori “Buku Referensi” ada satu ensiklopedia keren, tapi nggak boleh dipinjem. Pulangnya saya mikir, saya pasti bakal sering ke situ, jadi saya dateng lagi sekalian daftar jadi member. Ternyata ditolak dong, gara-gara saya masih terlalu kecil! Mungkin lama-lama petugasnya terharu juga melihat tekad saya yang dateng lagi dan lagi, sampai akhirnya dibolehin, tapi harus ada surat pengantar resmi dari kepala sekolah saya. Waduh, padahal kepala sekolah saya orangnya sangar. Agak takut juga saya mintanya. Tapi akhirnya dapet. Saya masih inget sampai sekarang nomer keanggotaan saya di situ.

(R): Buat saya sih ya di sini (Kineruku), perpustakaan di mana kita bisa makan dan minum. Kalau dulu kan ada stigma, di dalam perpustakaan tuh nggak boleh makan dan minum. Justru itu yang pengen kita bongkar, biar nggak angker. Menyatukan buku dengan keseharian. Mungkin juga karena saya suka makan dan minum sih, hehe. Ada kesenjangan yang mengganggu saya. Di negara-negara Barat saya lihat kayaknya dapetin buku bekas tuh gampang, dapetin referensi tuh banyak, tiap ke perpustakaan tuh lengkap, nggak cuma buku, tapi juga ada musik dan film. Sementara di Indonesia, perpustakaan sekolah dan universitas kayak nggak ada yang menarik. Cenderung dingin, suasananya angker, penjaganya sangar. Mbak Sur (manajer operasional Kineruku) sangar juga sih… tapi yah setidaknya suasananya rumahan lah. Dulu umur 20-an masih agak heroik sih ya, niat banget kalau ngelakuin sesuatu. Termasuk bikin perpustakaan untuk umum. Ternyata ada untungnya juga sempet heroik. Kalau nggak, tempat ini nggak akan pernah ada.

 

Bagaimana proses pemilihan buku-musik-film yang kalian sediakan di Kineruku?

(B): Yang kita suka dan kita anggap penting. Misalnya film, ya dipilihnya judul-judul yang berpengaruh di sejarah sinema dunia. Untuk buku dan musik juga. Tentu banyak selera pribadi, hampir semuanya malah, tapi bisa dipertanggungjawabkan lah.. Kebetulan kita berdua cocok seleranya, apa yang saya suka pasti Rani juga ngerti, begitu juga sebaliknya. Memang nggak harus selalu dua-duanya suka, tapi kira-kira bisa dimengerti kenapa salah satu dari kita milih itu.

 

Ada niat Kineruku jadi publisher atau production house?

(R): Sebetulnya dulu tiap kali saya bikin film pendek, atau video instalasi untuk pentas teater, itu pasti atas nama Kineruku Productions. Jadi sebenarnya production house udah jalan tapi belum dilanjutin lagi, karena sekarang fokusnya lain.

(B): Kalau jadi penerbit sih sekitar dua-tiga tahun lalu juga udah kepikiran, tapi belum ada waktu dan tenaga. Mungkin tahun depan mulai diseriusin lagi. Pengen bikin record label juga, namanya Rukurding.

 

Kalian punya cita-cita membuat atau menerbitkan buku seperti apa? Boleh dibagikan cita-cita itu kepada kami?

(B): Kalau kaitannya dengan rencana jadi penerbit tadi, pengennya sih menerbitkan naskah-naskah seru yang asyik, yang sebenernya sangat perlu dibaca tapi mungkin nggak bakal dilirik penerbit besar atau penerbit pada umumnya. Tapi juga bukan tipe yang ngaco banget sampai sulit dibaca. Pengennya unik tapi keterbacaannya oke, yang pembaca awam masih bisa ngeh kalau itu bagus dan seru. Udah pasti PR banget. Nyari desainer buku pasti banyak lah yang jago, tapi kalau naskah? Kita tahu itu nggak mudah. Belum lagi soal pemasaran. Menerbitkan buku itu kan nggak sekedar bikin buku, dicetak, terus udah. Nanti distribusinya gimana? Banyak orang bisa bikin buku bagus tapi nggak bisa masarin. Itu agak percuma juga sih, buang-buang kertas, ngabis-abisin pohon, tapi pesannya nggak nyampe ke banyak orang.

Ariani juga seorang sutradara film, seniman video, desainer, sementara Budi juga seorang penulis; seberapa banyak pengaruh kehidupan bersama Kineruku terhadap kerja kalian di bidang-bidang tersebut?

(R): Kineruku udah kayak nggak bisa terpisahkan, kayak baju daleman lah. Luarnya saya mau pakai apa, bisa pilih macem-macem, tapi tetep Kineruku ini udah jadi bagian terdalam saya.

(B): Sebagaimana bentuk ekspresi lainnya, nulis tuh sebenernya mirip boker, Kalau mau dapet ‘tai’ yang oke ya harus makan yang banyak dan sehat. Mau nulis yang bagus ya harus banyak baca. Karena saya merasa bacaan saya masih kurang banyak, jadi saya rasa tempat ini cocok.

 

Pengalaman seperti apa yg pengen kalian tawarkan ke pengunjung lewat paket perpustakaan buku-film-musik di Kineruku dan produk-produk vintage yang dijual di Garasi Opa?

(R): Mungkin begini. Setiap orang ke sini, mereka seneng bisa baca buku, nonton film, dengerin musik, beli makan dan minum, bisa belanja barang-barang vintage. Mungkin juga orang ke sini nggak mendapatkan hal-hal ‘mainstream’. Bisa nemu koleksi buku-musik-film kayak gini nggak di semua tempat ada, jadi dapet pengalaman yang berbeda. Dateng ke sini berarti dateng ke satu tempat yang bentuknya seperti rumah tapi bareng orang-orang lain. Bukankah ini semacam gabungan publik dan privat? Dan itu yang pengen kita jaga, tempat ini tetep terasa cozy, intimate, tapi juga bukan rumah yang punya lu doang, lu harus share dengan orang. Lu menemukan hal-hal yang berbeda dari yang biasa lu alami sehari-hari di rumah lu, di jalanan, atau di toko buku besar. Dateng ke Garasi Opa, lihat barang unik yang mungkin lu hanya bisa lihat sekarang aja, karena besok mungkin udah laku dibeli orang lain, nggak ada lagi. Jadi lu punya kesempatan dapetin barang-barang spesial, satu-satunya. Itu juga pengalaman yang berbeda dengan membeli barang-barang mass production, misalnya beli jam baru dengan merk beken tertentu, lu nyari lagi mungkin masih bisa, ada banyak. Sementara di sini lu beli barang yang one of a kind, mungkin cuma ada satu-satunya.

 

Kineruku aktif mengadakan acara pemutaran film, diskusi buku, sampai pertunjukan musik. Ada rencana program lainnya?

(B): Di kepala kita ada banyak rencana ke depan. Sekarang masih nyari orang yang tepat untuk bisa mewujudkan ide-ide tersebut. Lalu beberapa rencana workshop, beberapa eksebisi seperti pameran foto, pameran seni, dsb. Kita juga kepikiran bikin online radio, isi siarannya sih suka-suka kita aja. Masih berhubungan dengan buku-musik-film tentunya.

 

Budi adalah salah seorang member awal Kineruku, bagaimana ceritanya bisa “menemukan” Kineruku? Dan apa yang terjadi kemudian?

(B): Pas kuliah tahun ketiga atau keempat, itu sekitar 2000-2001, pilihan-pilihan hidup udah mulai goyah dan guncang. Alih-alih kuliah, saya malah lebih sering mendatangi tempat-tempat yang mewadahi minat saya waktu itu, terutama buku. Urutan nongkrongnya sih pertama di Tobucil (saat itu namanya masih Pasar Buku Trimatra Center, di Jl. Ir. H. Juanda) tahun 2001, lalu lanjut ke Omuniuum (dulu masih di Jl. Sultan Agung) sekitar awal 2003, terus baru nemu perpustakaan baru namanya Rumah Buku (nama awal dari Kineruku) pada pertengahan 2003. Kaget juga lihat katalog Virginia Woolf dan Fyodor Dostoyevsky cukup lengkap di perpustakaan ini. Semangat umur 20-an masih bisa lah baca buku-buku ribet kayak gitu, sekarang sih udah nggak! Hehe.. Waktu saya daftar jadi anggota, jumlah membernya masih baru belasan, sekarang udah ribuan. Kenalan sama Rani, ngobrol, langsung nyambung, cocok. Begitu tahu saya suka film, Rani langsung bilang “Ada nih beberapa!” Lalu saya diajak ke satu ruangan (sekarang jadi kantor kami) yang isinya setumpuk VHS koleksinya. Itu film-film foreign classics yang cuma pernah saya lihat judulnya doang di internet. Ngobrol-ngobrol, terus sepakat kita berdua bikin divisi film di Rumah Buku, namanya Kineruku. Itu tahun 2004.

 

Menurut kalian, apa yang membuat Kineruku bisa bertahan sampai sekarang?

(R): Keajaiban! Meminjam judul buku Pak Misbach tadi, mungkin ini keajaiban di Hegarmanah. Dan kebaikan banyak orang juga tentunya. Orangtua saya sudah mendukung dengan merelakan rumah ini kita obrak-abrik dan disulap jadi perpustakaan. Itu nomer satu. Nomer dua, passion kami berdua kali ya. Klise dan rada basi sih, tapi bener, kita berdua nggak peduli selera banyak orang, jadinya cuma nyediain buku-film-musik yang kita suka aja. Mungkin agak nyebelin ya. Kalau mau jadi perpustakaan yang lengkap kan harus ada juga novel-novel chicklit misalnya, tapi kita nggak mau. Ngapain, kita kan nggak suka. Nah, kalau kayak majalah Cobra masuk tuh di sini. Kan suka-suka. Dan ternyata banyak yang suka tuh.

 

Seberapa penting ruang-ruang alternatif seperti Kineruku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya?

(B): Daripada pergi ke mall dan menjadi konsumtif yang nggak perlu, mending ke tempat publik yang ada nilai lebihnya. Baca buku, nonton film, denger musik, itu lebih bermanfaat.

(R): Pastinya penting dong.. Kalau nggak, mungkin kami udah tutup dari kapan hari. Kita butuh tempat nongkrong yang nggak cuma sekedar nongkrong, ketawa-ketiwi. Sangat menyenangkan melihat tempat ini penuh dengan orang-orang yang khusyuk membaca, mau bukunya sampai selecek apa juga nggak masalah.

 

Siapa penulis favorit kalian? Apa yang kalian dapat dari karya-karyanya?

(R): Empat besar saya saat ini adalah Budi Darma, Yusi Avianto Pareanom, Italo Calvino, Georges Perec. Cowok semua ya, mungkin artinya saya harus mulai menulis, hehe.

(B): Sepakat dengan daftar Rani. Tambahan saya, Asrul Sani. Pengamatan sosialnya jeli. Dia mampu mengolah persoalan masyarakat dalam dimensi kejiwaan yang tak terduga. Puisi dan naskah dramanya sih kurang bisa saya nikmatin, tapi cerpen-cerpennya yang cuma sedikit itu, juga beberapa skenario filmnya, selalu berhasil mendongkel perasaan. Saya agak kesulitan menjelaskannya.. Mendongkel. Ya, itu kata yang tepat.

 

Makanan favorit kalian di menu Kineruku?

(B): Nasi ijo! Ini nasi yang digoreng dengan cabe ijo, bawang, kacang, dan ikan teri. Minimal seminggu sekali saya makan itu. Berarti sebulan minimal empat kali, dikali 12 bulan, berarti sekitar 50 dalam setahun. Dikali taruhlah 6 tahun atau bahkan lebih. Jadi sampai hari ini saya sudah makan setidaknya 300 piring nasi ijo.

(R): Sandwich keju manis. Sederhana banget, bikinnya juga cuma pakai alat yang rumahan gitu, tapi enak aja. Banyak orang yang mencoba hal yang sama di rumahnya tapi hasilnya beda. Padahal cuma roti dikasih susu kental manis, tambahin keju, terus dipanggang, tapi yah gitu. Lagi-lagi keajaiban di Hegarmanah mungkin?

 

Ada rekomendasi buku, film, dan musik yang mantap untuk dinikmati?

(B): Kita lagi sering muter plat-plat dangdut tua, seperti album-album awal O.M. Pengabdian, O.M. Pantjaran Muda, dsb. Cocok sama suasana renovasi bangunan di taman belakang.
(R): Buku yang sering kita rekomendasiin ke pengunjung akhir-akhir ini The Geography of Bliss-nya Eric Weiner. Mencerahkan.
(B): Meski ada penyebutan “Indonesia” yang dihilangkan di edisi terjemahan bahasa Indonesia-nya, hehe..
(R): Katalog film-film Apichatpong Weerasethakul dan Aki Kaurismaki juga layak dikunjungi kembali. Semuanya ada di Kineruku.

 

Secara insting, kalian lebih sering dan suka melipat halaman atau menggunakan pembatas buku?

(R): Dulu sebelum punya tempat ini, pastinya pakai pembatas buku. Waktu itu masih mencintai buku sebagai bentuk. Tapi setelah buka tempat ini saya malah jadi sebel lihat buku-buku yang terlalu rapi dan bersih, berarti belum dibaca orang. Kalau sekarang lihat buku-buku di Kineruku yang lecek, wah seru nih, pasti udah banyak yang baca. Akhir-akhir ini saya seringnya ngelipet buku. Tapi kadang lihat-lihat juga sih, kalau bukunya masih bersih banget, ya mending pakai pembatas buku aja deh.

(B): Waktu masih kecil dulu pastinya sering ngelipet buku, kan belum ngerti ya. Lipetnya juga yang lipet sangar gitu, ngaco! Begitu udah gede, saya coba pakai pembatas buku, tapi bukan pembatas buku yang diproduksi dan terlalu rapih. Biasanya dari karton sisa yang saya sobek asal-asalan, atau bekas bungkus rokok, meskipun saya bukan perokok.

 

Ada tips merawat buku yang aduhai?

(R): Standar lah ya, untuk koleksi rental, semua buku di Kineruku disampul pakai plastik mika transparan. Beberapa jilidan yang sudah rusak, terutama buku-buku lama, kita perbaiki ulang tanpa mengubah bentuk fisik aslinya. Ada jadwal rutin mengelap debu dari rak-rak Kineruku. Sejauh ini sih gitu, nggak ada treatment khusus.

(B): Kalau udah capek mikir, saya refreshing-nya lewat nyampul buku. Hingga hari ini saya masih terus memperbaiki rekor kecepatan saya. Mas-mas toko buku di Palasari inspirasi utamanya. Percaya nggak, kecepatan mereka menyampul buku melebihi kecepatan kita mengikat tali sepatu!

 

Seperti apa “Kata Pengantar” pada sebuah buku yang kalian suka?

(B): Hmm, kayaknya saya nggak gitu peduli. Kata pengantar di buku biografi Syd Barrett ditulis oleh Graham Coxon, dua-duanya musisi yang saya suka, tapi saya malah nggak inget kata pengantarnya itu ngomongin apa. Berarti nggak terlalu berkesan. Mending langsung sikat isinya!

(R): Kalau bab pertama If On a Winter’s Night a Traveler-nya Italo Calvino bisa dianggap sebagai kata pengantar, itu gokil!

* * *

>> Budi Warsito dan Ariani Darmawan bisa dikontak via email di: kineruku[at]gmail[dot]com.

 

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe