Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

BUKU

Filters

Showing 673-696 of 783 products

View 24/48/All

Filter by price

673-696 of 783 products

  • Majalah - Subversi
    Majalah - Subversi

    SUBVersi: Kolase Cerita Kecil & Jaringan Kota Surabaya (Dwibahasa: Indonesia dan Inggris)

    , , , , ,
    Editor: Anas Hidayat, Erlin Goentoro, kathleen azali Editor Inggris: Martine Randolphe, Will Glasscock, Noel Schroeder, Matthew Borden, Joseph Taylor Penerbit: Ayorek! berkolaborasi dengan Rujak Centre for Urban Studies Tahun terbit: 2013Bahasa: Indonesia dan InggrisKondisi: BaruThis book presents a variety of (hi)stories of Surabaya that you may not be familiar with. The story of the larung along the Bratang Tangkis riverside village. Some recurring fashion tendencies in some malls in Surabaya. The Gembong flea and wet market. The trails of the defunct-but-soon-to-be-revived trams of Surabaya, and its 90-years-old ex-driver. How the visually impaired students and teachers navigate their ways through this hot and congested city. The gold shop owner in the Pasar Atom observing the first "modern" shopping centre in Surabaya built in 1970s.Also in this book: wonderful routes for the adventurous to explore o foot. Short reviews of books about Surabaya. Delicious dishes you can find in the cit: iwak pe (stingray), pickled vegetable salad, and karak satay.They around us.
    Rp 70.000,00
  • Buku - Bahasa Indonesia
    Buku - Bahasa Indonesia

    Bahasa Indonesia Bahasa Kita – Sekumpulan Karangan – Ajip Rosidi

    , , ,
    Penerbit: Pustaka Jaya Tahun Terbit: 2001 Tebal: 140 halaman ISBN: 9794192880Kondisi: Baru"... sejak awal kemerdekaan, bangsa kita sudah mempunyai bahasa nasional, bahkan bahasa negara. Berlainan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Filipina, apalagi Indoa. Negara-negara itu bahkan sampai sekarang masih bergulat dalam usahanya untuk mempunyai satu bahasa nasional. Dalam pergulatan itu, di India bahkan sampai jatuh kurban manusia. Berlainan dengan banyak negara yang baru merdeka setelah perang dunia kedua, yang mengadopsi bahasa penjajahnya, kita punya bahasa sendiri. Bahasa Indonesia yang kita punyai cukup modern untuk dipakai menyampaikan pikiran yang betapa rumitnya, termasuk ilmu yang betapa tingginya, dan perasaan yang betapa halusnya sekalipun. Dengan begitu kita tidak terjebak dalam kerangkeng bahasa penjajah kita."- Ajip Rosidi, Bahasa Indonesia, Bahasa Kita
    Rp 56.500,00
  • Buku - Rindu Dendam
    Buku - Rindu Dendam

    Rindu Dendam – Jan Engelbert Tatengkeng

    ,
    Penerbit: Pustaka Jaya Tahun Terbit: 2016 Tebal: 48 halaman ISBN: 978-979-419-444-7Kondisi: Baru"Kumpulan sajak ini merupakan curahan perasaan rindu dendam penyair kepada Yang Satu, yang menguasai alam semesta dan hidupnya sendiri dalam bentuk pujian-pujaan terhadap keindahan-keindahan alam. Rindu dendam yang penuh kerelaan dan rasa syukur, serta kesadrahan menghanyutkan diri dalam irama alam yang baginya amat damai dan tentram."Dilihatnya pagi-pagi matahari naik, seolah-olah ada perintah yang mesti dipatuhi oleh sang surya. Dilihatnya pula pada sore hari matahari terbenam, seolah-olah seorang puteri melambai sang raja siang itu di sebelah barat. Kembang-kembang mengelopak, berseri indah. Burung-burung berterbangan, angin sepoi mengembus. Semua kelarasan itu menyebabkan bangkitnya perasaan rindu dendam dalam dada penyair."- Ajip Rosidi*Jan Engelbert (J.E.) Tatengkeng (lahir di Kalongan, Sangihe, Sulawesi Utara, Hindia Belanda, 19 Oktober 1907 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 6 Maret 1968 pada umur 60 tahun) adalah penyair Indonesia dari era Pujangga BaruSelain sebagai penyair, J.E. Tatengkeng juga merupakan tokoh pendidikan dan negarawan. Sebagai tokoh pendidikan ia pernah menjadi guru bahasa Indonesia di Tahuna tahun 1932, Kepala Schakelschool di Pulau Siau, Kepala Sekolah HIS di Tahuna, Menteri Muda urusan Pengajaran tahun 1948, dan terakhir Kepala Jawatan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Kemendikbud perwakilan Sulawesi tahun 1951. Di Makassar, ia turut mengajar dan membidani lahirnya Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.Sebagai negarawan, J.E. Tatengkeng pernah menjabat sebagai Perdana menteri Negara Indonesia Timur pada rentang tahun 1949-1950.
    Rp 20.000,00
  • Buku - Manusia Indonesia - Mochtar Lubis
    Buku - Manusia Indonesia - Mochtar Lubis

    Manusia Indonesia – Mochtar Lubis

    , ,
    Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Tahun Terbit: 2012 Jumlah Halaman: viii + 140 halaman ISBN: 978-979-461-818-9Kondisi: BaruPidato kebudayaan Mochtar Lubis (1977) di Taman Ismail Marzuki (TIM) diterbitkan menjadi buku berjudul Manusia Indonesia. Karena gaya dan sikapnya yang lugas dalam mengupas terutama sifat-sifat negatif orang Indonesia, buku ini menimbulkan pendapat pro dan kontra, selain membangkitkan pemikiran kritis tentang manusia Indonesia.Sifat-sifat manusia Indonesia yang dimaksud ialah munafik, tidak mau bertanggungjawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, berbakat seni, dan lemah karakternya. Stereotipe ini tentu saja tidak semuanya benar, namun tidak juga seluruhnya salah. Ketika reformasi sedang berkembang, sosok manusia Indonesia seperti dilukiskan di atas lebih kuat lagi aktualitas dan relevansinya. beberapa penyebabnya ialah pendidikan, sistem, dan struktur politik yang ikut mengentalkan sifat-sifat negatif tersebut. dari kedua sudut pandang tersebut, buku Manusia Indonesia menyajikan bahan dan permulaan kerangka yang berguna untuk membangun kembali manusia Indonesia yang sedang porak-poranda.
    Rp 55.000,00
  • Buku - Ibu Pergi ke Surga
    Buku - Ibu Pergi ke Surga

    Ibu Pergi ke Surga – Kumpulan Cerpen Lengkap – Sitor Situmorang

    ,
    Penerbit: Komunitas Bambu Tebal: 248 halaman Tahun Terbit: 2011 ISBN: 979-3731-88-5Kondisi: Baru"... tak ada satu pun kalimat yang tak berwujud pengamatan yang cemerlang; dalam arti tertentu beberapa cerpen Sitor adalah sebuah masterpiece."- Denys Lombard dalam Histoires Courtes d'Indonésie"... dalam kesusastraan Indonesia modern, sejumlah cerpen Sitor tidak ada bandingannya ... pantas memperoleh tempat dalam sebuah antologi cerita pendek modern Barat."- A. Teeuw dalam Modern Indonesian Literature I"Salah seorang cerpenis Indonesia terpenting yang memungkinkan kita, dari cerpen-cerpennya, memperoleh nilai tambah pengetahuan latar belakang kebudayaan, di samping, kita juga bisa belajar dari pengalaman tokoh-tokohnya."- Harry Aveling dalam Rumah Sastra Indonesia
    Rp 100.000,00
  • Buku - Kahlil Gibran di Indonesia
    Buku - Kahlil Gibran di Indonesia

    Kahlil Gibran di Indonesia

    , ,
    Editor: Eka Budianto Penerbit: Ruas Tebal: xvi+176 hlm Tahun Terbit: 2011 Jenis Kertas: Bookpaper Jilid: Soft Cover ISBN: 979-25-1644-1Kondisi: Baru
    Rp 50.000,00
  • Buku - Musik Indonesia
    Buku - Musik Indonesia

    Musik Indonesia 1997-2001 – Kebisingan & Keberagaman Aliran Lagu – Jeremy Wallach

    , ,
    Penerbit: Komunitas Bambu Tahun Terbit: 2017 Tebal: xx + 322 hlm Jenis Kertas: Bookpaper Jilid: Soft Cover ISBN: 978-602-9402-75-9Kondisi: BaruApa yang terjadi dengan suara “lokal” ketika globalisasi menyingkap para musisi dan penikmat musik pada pengaruh budaya dari seluruh dunia?Jeremy Wallach menyelidikinya sebagaimana pertanyaan ini “dipermainkan” pada perkembangan eklektik dunia musik Indonesia pasca runtuhnya rezim Soeharto yang represif. Dilatarbelakangi transisi kaotis negara-bangsa Indonesia menuju demokrasi, Wallach membawa kita menjelajahi studio rekaman, toko musik, konser musik, kampus, perekaman video musik, dan lingkungan urban. Memadukan berbagai detail, buku ini merupakan riset etnografi yang “membumi” dengan ketajaman analisis yang berasal dari teori budaya kontemporer.Ia menunjukkan bahwa akses yang dimiliki negara-bangsa Indonesia atas musik dan teknologi yang bersirkulasi secara global tidak menyurutkan dan menyeragamkan pembuatan musik lokal di Indonesia. Nyatanya malah sebaliknya. Hal ini telah menyediakan kesempatan kreatif kaum muda Indonesia untuk mengeksplorasi identitas mereka di dalam sebuah bangsa ragam budaya yang mengalami perubahan dramatis dalam dunia yang makin saling berkaitan.Testimoni:Buku yang penting ini memaparkan bagaimana musik (populer atau lainnya) membumi di dalam berbagai kemungkinan yang tersedia sekarang ini melalui orang-orang yang mendapat kenikmatan di dalamnya. Sudah sepatutnya jika buku ini dibaca oleh siapa pun yang tertarik pada media populer, Indonesia, antropologi, etnomusikologi, dan gagasan-gagasan globalisasi/lokalisasi.”René T. A. Lysloff, Universitas California, Riverside, asisten editor, Music and Technoculture.
    Rp 110.000,00
  • Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia
    Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia

    Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia – Peter Carey dan Suhardiyoto Haryadi

    , ,
    Pengantar: Rimawan Pradiptyo Epilog: Pujo Semedi Penerbit: Komunitas Bambu Tahun Terbit: 2016 Jilid: Soft Cover Tebal: 262 halamanKondisi: BaruKorupsi menjadi isu abadi, isu yang selalu menghantui Tanah Air. Bahkan, sejak zaman Diponegoro (1785-1855)! Masalah korupsi juga menjadi pemicu utama Perang Jawa (1825-1830) meskipun tak pernah sekalipun dibahas dalam buku-buku sejarah di sekolah. Selama hampir 200 tahun sejak Diponegoro menampar patih di hadapan para kerabat sultan di Keraton Yogya, isu korupsi dan cara menghadapinya tidak banyak mengalami perubahan.Arus uang yang melimpah oleh kedatangan penyewa tanah dari Eropa setelah Agustus 1816 di Pulau Jawa—berbarengan dengan berakhirnya kekuasaan Raffles (1811-1816) dan Hindia Timur dikembalikan kepada Belanda—membuka jalan bagi para pejabat pribumi bertindak korup. Cara-cara yang dilakukan Danureja IV di Yogya untuk cepat memperkaya diri adalah contohnya. Tidak selesai sampai di situ. Korupsi terjadi saat Indonesia tumbuh menjadi bangsa, mengalami jatuh bangun, dan masih ada sampai sekarang. Sungguh riwayat yang suram.Buku ini membawa kita menilik kembali kompleksitas korupsi dengan mengurai budaya korupsi di Indonesia dari zaman Daendles (1808-1811) sampai masa Reformasi.Terlebih menarik, buku ini juga memberi perbandingan sejarah aktivitas korupsi dan cara pencegahannya di negeri-negeri Eropa, terutama Inggris selama abad ke-18 'yang panjang' (1660-1830). Melalui buku ini, sejarawan Peter Carey bersama mantan wartawan Suhardiyoto Haryadi membuktikan betapa seriusnya persoalan korupsi mengancam nasib hidup bangsa dan negara. Sebab korupsi di berbagai negara mengakibatkan hal yang sama. Semuanya sama-sama meruntuhkan sendi-sendi bangsa.
    Rp 145.000,00
  • Fovea #1
    Fovea #1

    FOVEA MAGAZINE #1

    , ,
    A4. PERFECT BINDING. BLACK&WHITE. OFFSET PRINTED.Kondisi: New Old Stocks“Who are we and what is our quest?”“We are gourmets, guides, and knights.“We are gourmets because we like good cooks: people who can turn a few basic ingredients into something extraordinary for other’s delicate and often demanding palates. This first issue will deal with those excellent cooks that are independent filmmakers, having to deal with limited resources and confronted to high expectations. Just like your auntie preparing the best Nasi Goreng in the world.“We are guides because we have been traveling the ways of movies in many directions, hanging out in the dark rooms of local theaters, in the erudite spheres of the cinematheques, in the festivals for the most lucky of us, and let’s admit it, in front of computer’s screen waiting for the torrents to be downloaded. Hours after hours. We have seen it almost all and we like to share it with others. (Not the torrents, but the excitement!) Showing you the unnoticed details that make sense. You know, like the statues in ‘Angels and Demons’. (But rest assured, we don’t live in Vatican’.)“We are knights because, come on! We are starting a paper-only magazine in the age of internet, about independent cinema, without subventions and formal link to any film distributors. It is a work of resistance, of guerilla. Yeah! Once a masochist, always a masochist! Or on more positive perspective: the key to freedom, and the price to pay! And we didn’t forget that Mr. Wayne who reminded us that: with great power comes great responsibility.“Our quest: to find the Grail of course! That movie which speaks to our heads and hearts. (Admittedly, the other way around is fine as well.) That filmmakers who will not only make you learn to make movies, but also make you learn to think. Those people who organize alternative distribution networks and viewing opportunities. Those ideas that put back the thinking in the viewing, that help discerned gold from lead.”– The editor and its shadowFOVEA MAGAZINE #1HEADLINE: SINEMATEKDedikasi Untuk Sinematek IndonesiaMantan Kepala Sinematek, Adi Pranajaya :“Dibutuhkan Energi Yang Luar Biasa Untuk Mengurus Sinematek Indonesia”Lisabona Rahman (Kineforum) dan Lintang Gitomartoyo (Yayasan Konfiden)“Sinematek Lepas Dari Orbit”Essay Photo : Survive On A ShoestringKurator Sinematek Brussels, Nicola Mazzanti“The Key Is Politics”Essay Photo : Cinematek Certainly Is Not A Boring PlaceFESTIVALsBUSAN FILM FESTIVAL 2012Catatan Dari Busan Film Festival:Wajah Karya Wajah PemirsaBusan Film Festival : The ReviewsEssay : The Gardener and His QuestsA conversation with Ifa Isfansyah :On Style In Directing TreatmentsCATATAN Dari HONGKONG Film Festival:Hongkong dan Cinema Pada Suatu KetikaSEA SCREEN ACADEMYMakassar Belajar Dari Fukuoka?Selamat Datang Calon Sineas-Sineas Indonesia TimurRiri Riza :“Karena Kita Pergi Untuk Kembali”CATATAN Dari ASEACC (Association For Southeast Cinemas Conference):Merayakan Lagi Lewat Djam Malam dan Mengapa Matt Dower Penting Untuk Direstorasi TotalFILM INDONESIA di AKHIR TAHUNHabis The Raid, Terbitlah ...PROFILEKenji MizoguchiSejarah Jepang dan Wanita - WanitanyaJiang WenRealisme Sinis dan Manusia Cina KiniMeiske Taurisia :“Kepercayaan Adalah Investasi dan Pondasi”Ismail BasbethSiapakah Ismail Basbeth?KLASIKMilestones:Amerika Pada Suatu MasaFEATUREThe Haunted Works Of Apichatpong Weerasethakul : PrimitivePersonalized and Depersonalized Memory Of PlacesVampir Dalam Sinema : Monster, Pahlawan, dan KekasihFashion Dalam Film : Ketika Fashion Tidak Lagi Jadi HiasanHumanimals : How Close Are You, Insects?Travelogue : Surat Kecil Pencinta Film JepangREVIEWOnce Upon A Time in Anatolia:Perjalanan Melewati Buramnya Sifat ManusiaPrometheusDon't Shoot At The Ambulance !Ambilkan BulanBulan Untuk AmeliaDi Timur MatahariMenggali Makna Film Anak Bagi Penonton DewasaPerahu KertasRomantisme Yang terus Berlayar Sampai TersesatSoegijaMengungkap Hidup Dibalik KekakuanOBITUARIAndrew SarrisChris Marker
    Rp 70.000,00
  • Fovea #0
    Fovea #0

    FOVEA MAGAZINE #0

    , ,
    154 PAGES. A4. PERFECT BINDING. BLACK&WHITE. OFFSET PRINTED.Kondisi: New Old Stocks"Who are we and what is our quest?""We are gourmets, guides, and knights."We are gourmets because we like good cooks: people who can turn a few basic ingredients into something extraordinary for other's delicate and often demanding palates. This first issue will deal with those excellent cooks that are independent filmmakers, having to deal with limited resources and confronted to high expectations. Just like your auntie preparing the best Nasi Goreng in the world."We are guides because we have been traveling the ways of movies in many directions, hanging out in the dark rooms of local theaters, in the erudite spheres of the cinematheques, in the festivals for the most lucky of us, and let's admit it, in front of computer's screen waiting for the torrents to be downloaded. Hours after hours. We have seen it almost all and we like to share it with others. (Not the torrents, but the excitement!) Showing you the unnoticed details that make sense. You know, like the statues in 'Angels and Demons'. (But rest assured, we don't live in Vatican'.)"We are knights because, come on! We are starting a paper-only magazine in the age of internet, about independent cinema, without subventions and formal link to any film distributors. It is a work of resistance, of guerilla. Yeah! Once a masochist, always a masochist! Or on more positive perspective: the key to freedom, and the price to pay! And we didn't forget that Mr. Wayne who reminded us that: with great power comes great responsibility."Our quest: to find the Grail of course! That movie which speaks to our heads and hearts. (Admittedly, the other way around is fine as well.) That filmmakers who will not only make you learn to make movies, but also make you learn to think. Those people who organize alternative distribution networks and viewing opportunities. Those ideas that put back the thinking in the viewing, that help discerned gold from lead."- The editor and its shadowFOVEA MAGAZINE #0:HEADLINEsSensor - Sensor di Indonesia - Sensor di Kamboja - Wawancara dengan Mukhlis Paeni, Ketua Lembaga Sensor Film IndonesiaCrowdfunding - Solusi Baru Filmmaking? - Wawancara dengan Sammaria Simanjuntak, sutradara Demi UcokFESTIVALsBerlinale 2012- Ada Apa di Berlinale tahun ini? - Wawancara dengan Edwin - Wawancara dengan John Badalu - Wawancara dengan Marlon Rivera - Film-film Asia Tenggara Di Berlinale65 Festival De Cannes - Bertaburan Kritik dan Komentar Sosial - Dominasi Film-Film Amerika - Lewat Djam Malam di Cannes Classics - Kontroversi Filsuf Selebriti Bernard-Henri Levy - Film-Film politik - Para Generasi BaruFILM INDONESIA DI AWAL TAHUN SHORTSHARPSHOCKFilm Pendek, Kenapa Tidak?DOKUMENTERWawancara dengan Ucu AgustinTRACKING THE SOUNDOn David Julyan's Work with Christopher NolanPROFILEJohn Cassavettes George Méliès Paul Agusta Kamila AndiniFEATURETowards A Grey World: From Apollo 13 to Apollo 18 Freak Cinema: Memandang Yang (Tidak) SeadanyaARTIST's CORNERArie Asona Sheila Rooswitha Putri Gambar SelawREVIEWModus Anomali The Mirror Never Lies Le Havre Joven Y Alocada The Iron Lady Cesare Deve Morire We Need To Talk About KevinOBITUARIAlmarhum Misbach Yusa Biran
    Rp 70.000,00
  • Buku - Repetisi
    Buku - Repetisi

    RE: PETISI/POSISI – F.X. Harsono – Amanda Katherine Rath, Hendro Wiyanto, Seng Yu Jin, Tan Siuli

    , ,
    Penerbit: Langgeng Art Foundation Tahun Terbit: 2010 Tebal: 259 halaman ISBN: 9786029693812Kondisi: Baru"... karya-karya Harsono merupakan kritik politik yang ditujukan kepada masyarakat, organ-organ dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan secara khusus kepada publik seni. Sembari mengeksplorasi kesadaran sosialnya, menjadi corong bagi mereka yang dimarjinalisasi, Harsono mengasah dan memperdalam keterampilannya menggunakan berbagai teknik, material, dan teknologi. Dengan bekal tersebut, seniman andal ini kemudian mulai menciptakan bentuk yang signifikan dari serangkaian karya-karya yang berkecenderungan investigatif dan kritis terhadap dirinya sendiri."Saya sungguh percaya bahwa karya-karya FX Harsono layak untuk diapresiasi oleh publik yang lebih banyak dan lebih tersebar. Demi mencapai apresiasi tersebut, penting bagi publik untuk memahami akar Harsono yang merupakan keturunan Cina Blitar dan Malang, dinamika hari-hari tanpa uang sakunya selaku mahasiswa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, pemberontakannya melalui Gerakan Seni Rupa Baru, dan kesuksesan kariernya selaku desainer grafis di Jakarta yang menuntunnya semakin jauh ke dalam jalur artistiknya. Saya harap esei-esei keempat penulis dalam buku ini bisa menginspirasi lebih banyak orang tentang latar belakang Harsono."Deddy Irianto, pendiri dan dewan pembina Langgeng Art Foundation.
    Rp 150.000,00
  • Identity Crisis - Brian Arnold
    Identity Crisis - Brian Arnold

    Identity Crisis – Reflections on Public & Private Life in Contemporary Javanese Photography – Brian Arnold

    , , , ,
    Afterhours, Jakarta, Indonesia, 2017. In English. 134 pp., 9¾x11".This limited-edition, serial-numbered book is the result of a three-year study of contemporary photography by Brian Arnold made across the island of Java.Working with a grant from the American Institute for Indonesian Studies, Brian traveled Java teaching and lecturing on photography at a variety of institutions and universities. In doing so, he engaged the developing ideas and patterns on photography emerging in the Javanese art schools and markets. The resulting book focuses on a group of artists and photographers addressing issues of personal or cultural identity, questioning or examining the forces that shape each of the individual photographers and the communities they represent, while also looking at the emergence and discourse of art photography in Java today.Featuring work by a number of important photographers and artists working around the island – including Krisna Murti, Wimo Ambala Bayang, Jim Allen Abel, Angki Purbandono, Dito Yuwono, Deden Durahman, Henrycus Napit Sunargo, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Amran Malik Hakim, and Tino Djumini – as well as historical photographs from the collections at the National Gallery of Art in Australia, the New York Public Library for the Performing Arts, and Cornell University, the book offers a unique perspective on the emerging trends of fine art photography across Java. Brian’s accompanying text offers historical and global contexts for understanding the uses of photography in Indonesia today, and includes some of his own pictures made while working in Java. An afterward by art historian and writer Aminudin TH Siregar provides further historical context for looking at photography in Indonesia.
    Rp 770.000,00
  • Buku - Sejarah Pemikiran Politik Klasik (2)
    Buku - Sejarah Pemikiran Politik Klasik (2)

    Sejarah Pemikiran Politik Klasik – Dari Prasejarah Hingga Abad ke-4 M – Martin Suryajaya

    , ,
    Kondisi: Baru Penerbit: Marjin Kiri ISBN: 978-979-1260-60-2 Tebal: xvi + 347 hlm Dimensi: 14.8 x 21.0 cmApa itu politik? Sejak kapankah tatanan politik muncul? Seperti apakah bentuk pemerintahan yang paling ideal itu? Apa sajakah komponen dari pengetahuan politik? Apakah hubungan antara politik dan etika? Bagaimanakah wacana soal kebebasan muncul untuk pertama kalinya? Itulah sebagian pertanyaan yang diajukan dan diuraikan dalam Sejarah Pemikiran Politik Klasik: Dari Prasejarah Hingga Abad ke-4 M.Buku ini merupakan buku pertama dari seri buku “Sejarah Pemikiran Politik” yang direncanakan terbit dalam empat jilid dan mencakup hingga pemikiran politik terkini. Untuk buku pertama ini, diuraikan tentang sejarah perkembangan pemikiran politik sejak masa prasejarah hingga abad ke-4 Masehi, dalam tradisi Barat maupun Timur. Pemikir yang dibahas mencakup sosok yang relatif dikenal seperti Plato, Aristoteles, dan Cicero, hingga sosok yang masih langka dibahas di Indonesia, seperti Thoukydides, Polybios, dan Kautilya. Dipenuhi dengan penelusuran ke sumber-sumber primer, buku ini membekali pembaca dengan piranti konseptual yang berguna bagi kajian sosial dan politik, sejarah pemikiran serta filsafat.
    Rp 89.000,00
  • BukuDVD-LautBercermin
    BukuDVD-LautBercermin

    Buku + DVD Laut Bercermin / The Mirror Never Lies

    , , , , ,
    Sebuah Catatan & Tafsir Film Penulis: Yvonne Michalik, IGAK Satrya Wibawa, Irham Nur Anshari, WIsnu Wijayanto Anwar, Prima Rusdi, Indah Wenerda, Novi Kurnia Kondisi: Baru Penerbit: Tree Water dan Rumah Sinema Editor: Dyna Herlina S & Kamila AndiniWakatobi, surga laut yang berhasil terangkat ke permukaan. Selama 4 tahun, saya mencoba membantu Wakatobi menunjukkan keindahan yang tersembunyi. Terima kasih atas kerjasama yang baik untuk film The Mirror Never Lies, khususnya masyarakat Wakatobi yang telah memberi dukungan penuh. Juga kepada WWF Indonesia yang telah mendukung ruang kreatif sebagai bentuk partisipasi terhadap konservasi alam. Berharap lewat film dan buku ini, semakin banyak orang yang menghargai serta menjaga ekosistem bawah laut kita. Melalui karya, kita berbagi kepedulian terhadap alam bawah laut Indonesia.–Nadine Chandrawinata (Produser The Mirror Never Lies)
    Rp 150.000,00
  • Buku-Mustikarasa2
    Buku-Mustikarasa2

    Mustikarasa – Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno

    , , ,
    Kondisi: Baru ISBN: 978-602-9402-69-8 Penerbit: Komunitas Bambu Kelompok: Resep Masakan Tahun Terbit: 2016 Tebal: xxxiv + 1208 hlm Jilid: Hard Cover Berat: 1.5 kg Pengantar: JJ Rizal Jenis Kertas: Bookpaper Mustikarasa merupakan kumpulan resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia warisan Presiden Sukarno. Sebab buku ini lahir atas gagasan Proklamator Republik Indonesia yang pencinta makanan dan merasa bahwa makanan adalah persoalan penting. Tak ayal makanan pun menjadi bagian dari derap politik revolusi yang didengungkan Sukarno sejak akhir 1950-an. Sukarno sebagai presiden memerintahkan mengumpulkan resep masakan Indonesia selengkap-lengkapnya. Bukan saja untuk mendokumentasikan dan menyelamatkan kekayaan warisan makanan minuman Indonesia yang beragam serta kaya pengaruh hasil silang budaya dalam sejarahnya yang panjang bertemu aneka bangsa, tetapi juga sebagai upaya memberi basis bagi politik pemertahanan pangan.
    Rp 400.000,00
  • Buku-BicaraBesar
    Buku-BicaraBesar

    Bicara Besar – Kezia Alaia

    ,
    Kondisi: Baru ISBN: 978-602-309-202-4Di mana pun kau berada, baik di tengah kemacetan kota, di ruang kelas, atau di ruang tamu rumahmu, suara-suara di sekelilingmu seringkali terlalu berisik sehingga kau tak bisa mendengar suaramu sendiri. Namun, tak jarang pula ketika mendengar dirimu sendiri kau merasa muak, jengah, atau lelah dengan apa –dan siapa– yang kau dengar.Bicara Besar adalah sebuah percakapan dengan diri sendiri, tak hanya antara Penulis dengan dirinya, namun juga antara pembaca dengan dirinya. Pada setiap puisi, Penulis dan pembaca mendengarkan diri sendiri, lalu membungkamnya, mendengarkan lagi, membungkam lagi, terus menerus menjawab dan menyanggah hal-hal yang ditanyakan dan disampaikan pada dirinya sendiri.Empat puluh lima puisi di dalam buku ini berbicara mengenai diri, Tuhan dan kepercayaan, pertentangan dan kekuasaan, hubungan anak dengan orang tuanya, dan cinta, dengan menyelami perasaan-perasaan terdalam yang dirasakan oleh Penulis –dan mungkin pembaca– tentang hal-hal di sekitar dan di dalam dirinya. Beberapa puisi dikolaborasikan dengan ilustrasi.
    Rp 65.000,00
  • Buku-Candide
    Buku-Candide

    Candide – Voltaire

    ,
    Kondisi: Baru Penerbit: Oak ISBN: 978-602-72536-9-8 Tahun Terbit: 2016Roman ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Candide yang, seperti karakter utama dua novel Voltaire yang lain, Zadig dan L’Ingenu, amat jujur, baik, hati, dan lugu. Dan seperti mereka pula, keutamaan Candide tidak membuatnya terhindar dari berbagai macam musibah. Penderitaan Candide dimulai ketika ia, laksana Adam yang harus meninggalkan Taman Eden, diusir dari istana baton Thunder-ten-tronckh, di mana Cunegonde, gadis yang dicintainya, tinggal. Selanjutnya, Candide harus mengalami kesialan demi kesialan dalam petualangan lintas benuanya demi bersatu kembali dengan Cunegonde. Meski novel ini hakekatnya adalah satir–paragraf pertamanya saja sudah sarkastik, ia juga dipandang sebagai cerita coming-of-age yang menceritakan pertumbuhan karakter utamanya, dalam hal ini secara filosofis.
    Rp 77.000,00
  • Buku-SejarahEstetika
    Buku-SejarahEstetika

    Sejarah Estetika – Martin Suryajaya

    , , ,
    Kondisi: Baru Format: Hard Cover Penerbit: Gang Kabel, Indie Book Corner Tahun Terbit: 2016 Tebal halaman: 944Dalam buku setebal nyaris 1000 halaman ini, diuraikan sejarah estetika sebagai filsafat kesenian sejak masa prasejarah hingga abad ke-21. Dipenuhi dengan penelusuran ke sumber-sumber primer, buku ini membekali pembaca dengan piranti konseptual yang berguna dalam kritik seni dan sastra, kurasi maupun praktik berkesenian itu sendiri.***Apa yang kita bayangkan jika mendengar kata “estetika” di masa kini? Klinik kecantikan—bagi kaum perempuan khususnya—dengan fasad kaca bening dihiasi citra raut cantik yang tampak bling-bling? Pemerintah Orde Lama dimasa lalu sering disebut berbakat “estetik” karena lebih mementingkan bentuk ketimbang isi, dan dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang dandy.Buku ini membentang-luaskan sejarah pemikiran dan perdebatan tentang wacana yang kita sebut “estetika”. Inilah warisan dari abad ke-18 yang mengadopsi kata dalam bahasa Yunani, “aesthêsis” yang berarti pencerapan inderawi. Melalui wacana estetika, seni dikaji sebagai gugus estetik (aesthetic entities), dan segera dibedakan dengan entitas nalar atau pikiran rasional (noetic entities). Kaitan estetika dengan “yang indah” kiranya bermula dari kajian mengenai hal-ihwal yang kita persepsi, apakah berkenaan dengan “sikap estetik” atau “obyek estetik”. Keyakinan pada masa pencerahan bahwa di dalam diri kita ada semacam kemampuan untuk menghayati cita-rasa (disebut “Faculty of Taste”), mendorong munculnya pembedaan antara apa yang dianggap indah dan tidak indah. Pengalaman estetik—berhubungan dengan “sikap estetik” dan “obyek estetik”—merangsang masalah baru ketika muncul anggapan bahwa ada orang yang memiliki cita-rasa lebih canggih ketika berhadapan dengan ekspresi seni dibandingkan yang lain, yang “selera”nya dianggap belum cukup berkembang.Sebagai studi tentang gejala yang disebut “yang indah”, kajian estetika sebenarnya tidak terbatas pada lingkup seni, karena keindahan tidak hanya melekat pada fenomena artistik, tapi juga alam.Inilah jalur estetika sebagai perkembangan dari tradisi filsafat keindahan. Ketika studi estetika kelak dimaknai sebagai filsafat seni, muncul anggapan bahwa semua yang dianggap seni mestinya memiliki bobot estetik. Tapi kemudian perkembangan seni justru menunjukkan, bahwa menjadi estetis bukanlah syarat yang diperlukan oleh seni. Dalam arti itulah “filsafat seni” berpisah dengan estetika yang berkutat dengan ihwal persepi serta ideal-ideal keindahan.Buku “Sejarah Estetika” karya Martin Suryajaya ini justru memaparkan, bahwa gejala yang belakangan kita kaitkan dengan istilah “estetika” sejak abad ke-18 sesungguhnya bisa saja dilacak sampai jauh ke belakang. Ketika manusia mulai menggunakan alat-alatnya yang paling bersahaja untuk bertahan hidup, pada saat itulah lahir suatu bentuk – sesuai dengan kegunaan praktisnya—yang bias dipersepsi secara “estetis”. Martin dengan telaten menyusuri gejala “bentuk” keindahan sejak masa purba: kapak batu dari zaman “teknologi Oldowan” yang ditemukan di Ngarai Olduvai, daratan Afrika, berasal dari zaman Paleolitik Rendah (sekitar 2,6 juta tahun SM). Bentuk benda ini sudah diasah dan ujungnya menunjukkan kepekaan pada “estetika” yang kekal, apa lagi kalau bukan rupa-kesetangkupan” (simetri). (Teknologi) kapak batulah yang dipersepsi Martin melahirkan karya seni pertama di dalam perjalanan peradaban manusia. Itulah pula rupa “yang indah” yang tetap berhubungan dengan rasa-merasa estetis kita di masa kini. Jika di dalam sejarah seni (rupa), ahli sejarah seni menempatkan “tangan yang melambai” di dinding batu sebagai karya seni pertama, itu adalah bias sensibilitas modern yang terlanjur membikin “distingsi dari abad ke-19 antara apa yang kita sebut sebagai “seni murni” (fine art) dan “seni terapan” (applied art).Dengan buku ini, Martin keluar dari kebiasaan orang membahas estetika, yang umumnya membuat semacam garis besar, misalnya dari masa Yunani klasik atau masa modern sebagai jalan pintas untuk memasuki wacana estetika.Untuk memahami hubungan yang lebih rumit antara estetika dan perkembangan berbagai cabang seni, maka bagi Martin, estetika tidak lagi dianggap cukup untuk dipahami sebagai jalur dalam “filsafat keindahan”, melainkan sebagai “filsafat kesenian”. Alih­-alih mengatakan bahwa filsafat seni berpisah dari kajian mengenai estetika, Martin justru mempertahankan istilah dan keluasan kajian “estetika” (refleksi tentang nilai estetis, pengalaman estetis, seni yang non atau kontra-estetis, hubungan seni dan masyarakat, dan seterusnya) sebagai “filsafat kesenian”. Di situlah letak sumbangan estetika bagi perkembangan seni, yakni “sumbangan teoritisnya yang berguna dalam perumusan kritik seni yang memadai”.Tentunya kita berharap bahwa dengan penerbitan buku ini, mereka yang terlibat di dunia seni lebih memahami kompleksitas perkembangan seni dan kait-kelindannya dengan wacana estetika. Para seniman tidak sekadar ge-er membayang-bayangkan seni yang manapun lahir mendahului refleksi teoritis, istilah “keindahan” atau “anti keindahan” digunakan sebatas jargon tanpa mengenali argumen-argumen yang kaya yang menjelujur jauh di belakang perdebatan itu. Mestinya sudah sejak lama buku semacam ini hadir di dalam khazanah pustaka seni kita.Energi dan ketekunan studi Martin Suryajaya untuk mendedahkan jelujur perdebatan di dalam sejarah estetika dan pemikiran seni sungguh menantang. Tanpa bermaksud membangun sebuah system pemikiran tentang estetika, dia yakin bahwa “kerja membangun sistem baru dapat dilakukan setelah survey sejarah pemikiran dituntaskan”. Dengan kata lain, buku ini mengisi lubang besar paparan sejarah mengenai estetika dalam khasanah bacaan seni kita di Indonesia yang selama dibiarkan menganga lebar, lubang yang membuat berbagai perdebatan seni sering kejeblos tanpa arah dan rujukan memadai.
    Rp 275.000,00
  • Buku-AkuMepsBeps
    Buku-AkuMepsBeps

    Aku, Meps, dan Beps – Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

    , ,
    Buku yang berisikan catatan sehari-hari, hasil kolaborasi Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo====“Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku nggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu. Meps rambutnya pendek banget. Kata Beps, setiap minggu Meps mesti cukur. Kalau tidak, kesaktiannya hilang. Apa kesaktian Meps? Nanti aku ceritakan!”
    Rp 55.000,00
  • Buku-PetaniPriayiDanMitosPolitik
    Buku-PetaniPriayiDanMitosPolitik

    Petani, Priayi, dan Mitos Politik (Esai-esai Sejarah) – Dr. Kuntowijoyo

    , ,
    Kondisi: baru Penerbit: Matabangsa ISBN: 978-979-9471-25-3Dengan memahami sejarah, kita menjadi memiliki alternatif untuk memahami gejala aktual, sekaligus alternatif untuk menentukan pilihan atau jawaban atas tantangan yang muncul secara aktual.Apa yang ditulis Dr. Kuntowijoyo dalam buku ini ––mengenai radikalisasi petani di tahuan 1960-an, dunia priayi di awal abad kedua puluh, dan mistisisme serta mitos-mitos politik di tahun 1700-an di daerah pantai utara Jawa, dll.–– mengandung kekuatan seperti itu.
    Rp 85.000,00
  • Buku-PasarKuntowijoyo
    Buku-PasarKuntowijoyo

    Pasar – Kuntowijoyo

    ,
    Kondisi: Baru Penerbit: Mata Angin ISBN: 978-979-9471-26-0"Tidak adalagi orang Jawa yang lain. Juga camat, juga kepala polisi. Ah, tahunya apa camat-camat sekarang. Adu jago saja patohan, membuat candrasengkala mesti ke Pak Mantri Pasar. Inilah kelirunya. Zaman dulu pegawai itu mesti tahu sastra. Bukan sekadar bisa baca tulis…"Novel ini menceritakan proses pewarisan nilai-nilai Jawa dan perubahan sosial di sebuah kota kecamatan. Benturan tokoh-tokohnya yang mewakili kelas priayi agraris, wong cilik, birokrat dan pedagang kapitalis dikisahkan dengan segar dan jenaka. Di antara mereka, siapa yang akhirnya dianggap mampu 'memimpin'?
    Rp 85.000,00
  • Buku-Reuni-AlanLightman
    Buku-Reuni-AlanLightman

    Reuni – Alan Lightman

    ,
    Kondisi: Baru
    Penerbit: Banana
    Tebal: 174 hlm
    Ukuran: 14 x 21 cm
    ISBN: 979-978-1079-58-7
    Terbit: Cetakan Pertama, Desember 2016
    Charles adalah seorang dosen di universitas kecil Amerika. Usianya lima puluh dua tahun, bercerai, mengagumi hasrat tetapi dirinya sendiri kosong emosi. Ketika ia kembali ke kampusnya, ia tergulung oleh kenangan jelas masa muda dan pandangannya tentang cinta pertama dan cinta sejatinya--seorang murid balet bernama Juliana. Saat gambar-gambar tersingkap, Charles sadar bahwa ia telah membentrokkan kenangan tentang hubungan asmara itu dirinya sendiri sewaktu muda. Bergelut dengan identitas sendiri dan cintanya yang hilang, Charles sekali lagi menghadapi serentetan peristiwa menghancurkan yang selamanya mengubah hidupnya.
    Rp 55.000,00
  • Buku - Orang-Orang Malang
    Buku - Orang-Orang Malang

    Orang-orang Malang – Fyodor Dostoevsky

    ,
    Kondisi: Baru Penerbit: Oak ISBN: 9786027253612"Baiklah, biar aku katakan padamu, aku sangsikan kemasyhurankku akan lebih tinggi dari yang kucapai sekarang ini," tulis Dostoevsky kepada adiknya, Mikhail, bulan November 1985. Orang-orang Malang, novelnya yang pertama, baru diterbitkan bulan Januari berikutnya, tetapi masyarakat St. Petersburg sudah ramai membicarakan bakat sastra yang baru ini. Orang-orang pertama yang dipinjami naskahnya tidak berhenti membaca sebelum mereka menamatkannya pada pukul empat pagi, kemudian bergegas ingin bertemu dengan penulisnya. Air mata berlelehan di pipi mereka, mereka memeluk dan menyelamatinya sebagai "Gogol yang baru". Penulis berusia dua puluh empat itu tidak mampu berkata-kata dan merasa rikuh. Tidak lama kemudian Vissarion Belinsky, kritikus sastra paling berpengaruh waktu itu, juga ikut memujinya. Bisakah Dostoevsky sendiri –Belinsky bertanya– mengerti besar nilai dari dari apa yang sudah ditulisnya itu?"Orang-orang Malang menunjukkan Dostoevsky yang masih muda itu membuat debut yang dipengaruh oleh apa yang sudah berlangsung dalam budaya Rusia, tetapi pada waktu yang sama memberikan syarat yang menggoda terhadap lahirnya seorang seniman yang akan memiliki pengaruh besar terhadap apa yang kemudian datang mengikutinya di seluruh dunia sastra." – Hugh Aplin, Penerjemah adikarya sastra Rusia.
    Rp 85.000,00
  • buku-sangpengoceh
    buku-sangpengoceh

    Sang Pengoceh – Mario Vargas Llosa

    ,
    Kondisi: Baru Tahun Terbit: 2016 Penerjemah: Ronny Agustinus Jumlah Halaman: 374 Penerbit: Penerbit OAK ISBN: 978-602-72536-8-1Llosa lewat El Hablador, barangkali adalah karya yang paling banyak menimbulkan perdebatan. Puluhan buku dan kajian ilmiah telah ditulis untuk mengurai dan menafsirkan novel tentang benturan antara ekspansi modernitas dan pertahanan hidup masyarakat adat dan pencarian jati diri pribadi, masyarakat, dan arti minoritas dalam sebuah bangsa-bangsa ini.“Beberapa tahun lalu, saat pertama kali membaca novel menakjubkan Mario Vargas Llosa El Habrador, seketika saya merasa berpapasan lagi dengan rongrongan perbandingan; karena yang terlintas seketika di depan mata saya adalah Tetralogi Buru karya maestro Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dan dalam rentang yang lebih panjang dibarengi oleh novel-novel Spanyol besar karya pahlawan nasionalis Filipina, Jose Rizal […] Mahakarya nasionalis Amerika/Latin/Spanyol/Peru.” – Benedict Anderson, “El Malhaldado Pais”, The Spectre of Comparisons (1998)“Apa yang dilakukan Hassan Fathy dalam arsitektur, […], Mario Vargas Llosa dalam novel El Habrador, misalnya, menyentakkan kita bahwa keangkuhan ilmiah tidak benar.” – Nirwan Dewanto, Pidato Kongres Kebudayaan 1991“Intelek, etik, dan artistic, semuanya sekaligus dan brilian adanya. Bagi saya, inilah buku Vargas Llosa yang paling menarik.” – Ursula K. Le Guin, The New York Times Book Review“Memikat dan menggugah pikiran… Jalinan rumit komentar politik dengan gaya naratif.” – Minneapolis Star-Tribune
    Rp 90.000,00
Subscribe