Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Jurnalistik

Filters

Showing 1-7 of 8 products

View 24/48/All

Filter by price

1-7 of 8 products

  • Buku - Memancing
    Buku - Memancing

    Memancing: Sepilihan Karya Jurnalistik Ernest Hemingway

    , ,
    Penerjemah: An Ismanto Penerbit: Circa Tahun Terbit: 2018 Tebal: 86 halaman ISBN: 978-602-5264-51-1 Kondisi: Baru Saat tidak menulis novel, Ernest Hemingway mengisi waktu dengan petualangan. Ia berburu hewan berukuran besar di Afrika, adu banteng di Spanyol, dan memancing di laut dalam di sekitar Florida dan Kuba. Buku ini adalah kumpulan laporan tentang salah satu hobinya, yaitu pengalaman memancing di beberapa tempat di dunia, mulai dari pedalaman Kanada di Amerika dan pedesaan Austria di Eropa hingga perairan laut dalam di sekitar Kuba. Walaupun ditulis sebagai laporan jurnalistik, pembaca dapat merasakan gaya bahasa efektif dan efisien yang biasa dijumpai dalam karya-karya prosa fiksi Hemingway.
    Rp 55.000,00
  • Buku - Humor Jurnalistik
    Buku - Humor Jurnalistik

    Humor Jurnalistik – Mahbub Djunaidi

    , ,
    Penerbit: Ircisod Tahun Terbit: 2018 Tebal: 432 halaman ISBN: 978-602-7696-65-5 Kondisi: Baru Ibarat suatu pertunjukan, suasana segar dalam buku ini senantiasa terjaga dari satu adegan ke adegan berikutnya. Gaya khas Mahbub yang tajam sekaligus kocak menyemburatkan warna tersendiri dalam dunia jurnalistik Indonesia. Dalam buku ini, Mahbub meramu aneka masalah yang pahit dan serba muram-buram menjadi semacam bahan olok-olok. Mahbub memang kaya gagasan, dan itu telah berhasil diapungkannya ke atas melalui canda dan humor. Membaca buku ini, bibir kita pasti akan terus-menerus menyunggingkan senyum. Sementara itu, mata kita tak akan rela beranjak melepaskan halaman demi halaman. Pendek kata, buku yang semula merupakan rangkuman tulisan Mahbub di pelbagai media massa terkemuka di Indonesia ini menjanjikan suatu pesona yang akan memperkaya cakrawala batin kita. Tabik! * "Itulah Mahbub, yang dengan gaya tulisannya mampu mengubah tragedi menjadi komedi." — Fariz Alniezar
    Rp 90.000,00
  • Buku - Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan
    Buku - Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

    Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan – Rusdi Mathari

    , , ,
    Penerbit: Buku Mojok Tahun Terbit: 2018 Tebal: 258 halaman ISBN: 978-602-1318-64-5 Kondisi: Baru Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Di buku ini, Rusdi Mathari membaca situasi tersebut dan mengajukan berbagai refleksi serta kritik untuk dunia media dan jurnalisme yang ia geluti lebih dari 25 tahun.
    Rp 78.000,00
  • Buku Bangkarak Jurnalistis
    Buku Bangkarak Jurnalistis

    Bangkarak Jurnalistik: Lalakon Hiji Jurnalis – Sjarif Amin

    , , , , ,
    Penerbit: Pustaka Jaya Tahun Terbit: 2017 Tebal: 186 halaman ISBN 978-979-419-462-1 Kondisi: Baru "Koran Sipatahoenan téh geus lila teu terbit, tapi ngaranna nepi ka ayeuna masih kénéh mindeng disebut-sebut. Naon sababna? Nurutkeun Syarif Amin, lantaran urang Sunda harita ngarasa Sipatahoenan téh jadi kalangkang dirina. Macaan tulisan Syarif Amin dina ieu buku, ngahudang deui kapanasaran ngeunaan “kalangkang dirina” urang Sunda mangsa ayeuna." - Abdullah Mustappa "Kabiruyungan milu macaan karangan-karangan nu di-sadapurankeun di dieu, kaasup panganteur tinu milihanana. Kayungyun boh ku nu ngaréka sastra jeung naratas jurnalisme, boh ku nu mapay raratanana. Sumbangan nu pohara gedéna keur kaweruh balaréa, utamana tina perkara sajarah sastra jeung jurnalisme Sunda abad ka-20." - Hawé Setiawan
    Rp 60.500,00
  • Buku - Jurnalisme Kontemporer
    Buku - Jurnalisme Kontemporer

    Jurnalisme Kontemporer Edisi 2 – Septiawan Santana K.

    , , ,
    Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Tahun Terbit: 2017 Tebal: xviii + 340 halaman ISBN: 978-602-433-448-2 Kondisi: Baru Jurnalisme Kontemporer Edisi 2 ini menyerap berbagai perkembangan jurnalisme. Teknologi, misalnya, mendorong jurnalisme ke dalam kontemporarisasi media, dan membawa masyarakat semakin erat, ketat, padu, dan kompak, ketika menangkap peristiwa, atau isu. Perkembangan lain membawa jurnalisme tidak lagi hanya jadi sebuah profesi. Tapi juga, perkakas mengolah pesan, dan medium komunikasi kreatif: menyoal gaya hidup, olah raga, kesehatan, makanan, hingga cuaca. Sejarah, dan keilmuan jurnalisme, di antaranya, menunjukkan ideologi bermain di ruang fakta, sumber berita, sampai reportase. Bahasa dan pelaporan jurnalisme bahkan mengubah nalar bangsa Hindia, dari budaya "ucap" menjadi "baca-tulis", dari literasi "obrolan sekampung" menjadi "informasi personal". Framing jurnalisme mengerangka tampilan sebuah bangsa, dan nafsu ekonomi politik. Dari sanalah, sertifikasi kewartawanan diukur jurnalisme, dan etika jurnalistik menolak syahwat pornografi. Hal itu tak melulu bisa diukur lewat sistem pers. Di kawasan Amerika Utara dan Eropa Barat, misalnya, aturan pers dipengaruhi pasar media, jaringan media dan partai politik, profesionalisme kewartawanan, serta intervensi negara. Ukuran profesionalisme, contohnya, pun bermacam ragam di tiap negara. Intervensi negara, misal lain, berbeda-beda ukurannya. Komponen politis bisa bersambung dengan sirkulasi pers. Buku edisi ke-2 ini dituntun, secara langsung atau tidak, oleh para mahasiswa, dosen atau pengajar, sampai pembimbing tesis dan disertasi, dari disiplin komunikasi, politik, hukum, ekonomi, psikologi, serta ilmu sosial dan humaniora lain. Selain itu, diceramahi sejawat pers dan media, serta rekan profesi lain seperti pengacara, politisi, polisi, dan lainnya. Alhamdulillah.
    Rp 175.000,00
  • Pers di Masa Orde Baru - David T Hill
    Pers di Masa Orde Baru - David T Hill

    Pers di Masa Orde Baru – David T. Hill

    , , ,
    Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Tahun Terbit: 2011 Tebal: 232 halaman Bahasa: Indonesia ISBN: 978-979-461-786-1 Kondisi: Baru Media massa menjadi perantara komunikasi yang selalu dibutuhkan. Kehadirannya memberikan informasi kepada semua kalangan. Kerja keras para pemburu berita untuk menyampaikan peristiwa yang sedang terjadi menjadi sebuah pekerjaan yang penuh risiko. Saat ini para pemburu berita lebih memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapatnya, memberikan informasinya, dan menerbitkan beritanya. Kebebasan ini merupakan hasil atas perjuangan keras di masa perjuangan Orde Baru, yang di masa itu kondisinya sangat terkekang–akibat sebuah pemberitaan yang dianggap membahayakan kedudukan orang-orang yang berpengaruh, maka perusahaan penerbitan diberhentikan secara paksa dan ditarik izin terbitnya. Hal ini membuat wartawan, mahasiswa, seniman, politisi, kaum profesional, pengacara, dan cendekiawan, berdemonstrasi selama berhari-hari di jalan-jalan untuk mendukung kebebasan pers. Kebebasan yang berarti juga kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat. Apa yang sebenarnya terjadi pada kebebasan pers kala itu? * “Tidak pernah sebelumnya terjadi suatu pemberedelan ‘disambut’ dengan ‘amarah’ yang berkepanjangan, baik oleh wartawan dan pengelola media pers maupun pengamat dan pembaca media pers yang merasa prihatin. Belum pernah terjadi dalam sejarah pers di Indonesia, demonstrasi yang memprotes pembatasan kebebasan pers terus menjalar dari satu kota ke kota lain, di sedikitnya 21 kota, selama lebih dari satu tahun.” – Atmakusumah
    Rp 65.000,00
  • Buku - Journalist Marco
    Buku - Journalist Marco

    Journalist Marco – Mas Marco Kartodikromo

    , , ,
    Penerbit: Octopus Tahun Terbit: 2017 Jumlah Halaman: vii + 224 ISBN: 978-602-747-0-361 Kondisi: Baru Mas Marco Kartodikromo memperoleh ilmu jurnalistik dari Raden Mas Tirto Adhi Soerjo ketika ia menjadi wartawan magang di Medan Prijaji pada 1909. Ia lantas menjadi jurnalis dan aktivis pembela rakyat pribumi yang ditindas oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada 1914 Marco menjadi ketia Indlandsche Journalisten Bond (IJB) atau Perhimpunan Jurnalis Hindia. Pada tahun yang sama, ia memimpin Doenia Bergerak, surat kabar yang terbit pertama kali pada Maret 1914. Sejak itu pula, ia berkali-kali masuk bui akibat tulisan-tulisannya yang keras dan persdelict (pengadilan pers). Pada 21 Juni 1927, Marco dibuang oleh pemerintahan kolonial ke Boven Digoel, Papua. Kesukaran hidup dan tekanan mental membuatnya tak mampu bertahan lagi. Ia wafat di sana pada 1931. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Marco di empat surat kabar yang pernah diawakinya, yaitu Doenia Bergerak, Sinar Hindia, Sinar Djawa, dan Hidoep. Isinya beragam, dari soal politik, keorganisasian, keredaksian surat kabar, hingga syair. Hal yang menyambungkan setiap tulisan di buku ini adalah napas dan semangat anti-penjajahan yang selalu disampaikan oleh Marco. Itulah sebab buku ini menjadi bukti tentang peran media massa di fase pergerakan anti-kolonialisme atau yang disebut dengan istilah “Zaman Bergerak”.
    Rp 70.000,00
Subscribe