Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/resensi: buku/ Panggil Aku Kartini Saja

/resensi: buku/ Panggil Aku Kartini Saja
15/08/2011

Panggil Aku Kartini Saja
Pramoedya Ananta Toer, 1962
(cetak ulang oleh Hasta Mitra, 2000)
262 hal. + xxvi

Jika menyebut nama “Kartini”, maka langsung terbersit di benak kita: seorang wanita berparas ayu, memakai sanggul, berkebaya putih, berkulit kuning langsat. Jika ditanya “siapa itu Kartini?”, pasti sebagian besar jawaban hanya berkisar antara pendekar emansipasi wanita, pejuang wanita yang menolak diperlakukan secara diskriminasi, dan hal-hal serupa lainnya. Tapi benarkah demikian? Benarkah Kartini yang bergelar Raden Ajeng itu hanya seorang pejuang emansipasi wanita? Apa saja sebenarnya yang dilakukan seorang Kartini? Siapa dia sesungguhnya?

Buku “Panggil Aku Kartini Saja” ini berusaha menjawabnya. Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis novel berlatar belakang sejarah, seolah menegaskan dirinya tetap konsisten mengangkat sejarah Indonesia, terutama zaman sebelum pergerakan nasional, seperti yang dilakukannya dengan menulis tetralogi pulau Buru yang terkenal itu. Dibuka dengan kalimat pendek yang menghentak, “1830, Diponegoro jatuh!”, buku ini mulai dengan memberi ancang-ancang kesejarahan, tentang apa yang terjadi di Hindia Belanda sebelum jabang bayi bernama Kartini lahir pada 1879. Setelah itu, secara runut Pram menguraikan perihal kelahiran Kartini, seperti apa masa kecilnya, bagaimana dunia pribumi dan Barat dalam pandangan Kartini, makna seni dan sastra baginya, dan banyak hal lainnya.

Ini memang bukan murni buku biografi semata. Di dalamnya ada banyak interpretasi Pram tentang Kartini beserta kondisi sosial budaya yang menyertainya. Karena itu tak berlebihan rasanya jika dikatakan buku ini lebih merupakan pembahasan Pram mengenai sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Bahkan Pram berani berpendapat bahwa Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi wanita, melainkan juga pemikir modern Indonesia yang pertama! Menurut Pram, tanpa adanya sosok Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin terjadi. Kartini menggambarkan masyarakat pribumi di masanya sebagai rimba-belantara yang gelap gulita. Obor-obor yang diharapkannya jadi penerangan dalam kegelapan itu, tanpa malu-malu diakuinya adalah intelektualitas Eropa, yang belum juga dimiliki oleh kaum pribumi. “Dengan intelektualitas Eropa itulah, rimba-belantara yang gelap-gulita itu akan menjadi padang luas yang terang-benderang bagi setiap orang.” (hal. 53). Dari situlah Kartini ingin membantu memajukan negeri dan masyarakatnya sendiri, seperti pengamatan Pram, “…di sanalah (Eropa) Kartini akan dapatkan segala alat yang diharapkannya dapat dikuasainya buat negeri dan rakyatnya kelak.” (hal. 154)

Pada bab terakhir, Pram mencoba menguraikan kondisi kejiwaan Kartini—sesuatu yang jarang diketahui publik. Ada sesuatu dari kisah hidup Kartini yang menarik perhatian Pram: hubungan Kartini dengan ayahnya, bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sosroningrat. Pram menganggap, meski sangat menyayangi ayahnya, sebenarnya Kartini keberatan (meski tak kuasa menolak) berbagai perlakuan feodal sebagaimana layaknya yang terjadi di zaman itu. Jadi, hubungan Kartini dengan ayahnya bisa dibilang hubungan “benci tapi rindu.” Sebagai anak bupati, Kartini mendapat perlakuan sebagaimana layaknya anak golongan bangsawan lainnya, dan ia tak menyukai perlakuan istimewa itu. Ini tercermin jelas di surat-surat Kartini yang ditampilkan Pram. Secara gamblang Pram menyebutkan bahwa Kartini menolak sistem feodalisme Jawa yang berkembang pada masa itu. Bentuk penolakan itu tampak jelas dari keinginannya untuk dipanggil tanpa gelar bangsawan atau panggilan kebesaran, seperti termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: “Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.” (hal. 231)

Sah-sah saja sebetulnya Pram banyak memasukkan penafsirannya sendiri atas surat-surat Kartini, yang memang memperkaya buku ini. Namun ini bukannya tanpa risiko. Dengan adanya interpretasi tersebut, buku ini menjadi lebih rumit bagi pembaca yang terbiasa dengan biografi ‘mentah’. Pembaca mungkin sulit membedakan mana yang benar-benar fakta Kartini, dan mana yang interpretasi Pram. Karena suatu interpretasi bisa saja subjektif, atau bahkan dilebih-lebihkan. Bagaimanapun juga, Pram telah berhasil membuat orang awam lebih ‘melek’ terhadap perjuangan-perjuangan Kartini, yang apa boleh buat, kini diingat hanya setiap tanggal 21 April saja–itupun dengan lomba memasak, berdandan memakai kebaya, merangkai bunga, dan lomba-lomba PKK lainnya. Melalui buku ini Pram berusaha mengajak pembaca untuk memahami ulang sejarah bangsanya sendiri. Karena menurut Pram, “Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban.

[Iman Purnama]

 

Kineruku juga mengoleksi buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, di antaranya: Perahu Yang Setia Dalam Badai / Hoakiau Di Indonesia / Saya Terbakar Amarah Sendirian!/ Cerita Dari Blora / Gadis Pantai / Larasati / Mereka Yang Dilumpuhkan / Panggil Aku Kartini Saja I & II / The Mute’s Soliloquy / Percikan Revolusi Subuh / Calon Arang / Bumi Manusia / Anak Semua Bangsa / Arok Dedes / Mangir / Cerita Dari Jakarta / Cerita Dari Digul / Tjerita Dari Blora / Sang Pemula / Hoa Kiau Di Indonesia / Jejak Langkah / Bukan Pasar Malam / Sekali Peristiwa Di Banten Selatan / Menggelinding 1 / Tempo Doeloe / Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer / Midah Si Manis Bergigi Emas / Perburuan / Rumah Kaca / Jalan Raya Pos, Jalan Daendels / Dari Dekat Sekali / Mereka Yang Dilumpuhkan / Keluarga Gerilya/ Arus Balik.

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe