Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/diskusi/ Mari Bung, Kita ke Bandung!

/diskusi/ Mari Bung, Kita ke Bandung!
26/02/2013 admin

Mari Bung, Kita ke Bandung!
Ngobrol-ngobrol Santai tentang Majalah Bung!

Sabtu, 2 Maret 2013
Pukul 14:30-17:00 WIB

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52, Bandung
(peta menuju lokasi)

Menghadirkan:
Kunto Adi Wibowo (dosen studi media Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran)
Syarif Maulana (penggiat Klab Filsafat Tobucil)
Tim Redaksi Majalah Bung!

Moderator:
Budi Warsito (pustakawan Kineruku)

Dimeriahkan oleh penghiburan musik santai dari:
Tetangga Pak Gesang

 

Syukur-syukur Anda masih ingat, kita pernah mengalami kejayaan majalah pria ketika Matra (untuk segmen dewasa) dan Hai (remaja) isinya masih membanggakan dan penuh daya mendampingi hidup hingga periode 1990-an—untuk tidak menyebut booming majalah di era 1970-an dimana segala macam majalah memang terbit dengan penuh gairah; mulai dari majalah musik, rohani, militer, sulap, hingga beternak unggas. Sementara sejak awal 2000-an hingga hari ini justru majalah pria waralaba (franchise) yang memenuhi lapak-lapak majalah; membuat kita bertanya-tanya apakah jadwal gym dan gadget terbaru sungguh-sungguh mendominasi benak pria Indonesia, atau benarkah kantor menjadi pusat semesta dengan jenjang karier adalah segalanya, mall jadi satu-satunya ruang publik, dan kenapa lidah kita lebih terbiasa mengucapkan ‘meeting‘ atau ‘married‘, dan bukannya ‘rapat’ atau ‘menikah’?

Jika majalah-majalah pria waralaba itu dinilai gagal mencitrakan pria Indonesia sesungguhnya, lalu di manakah wajah orang-orang itu bisa terwakili? Di mana tempat bagi mereka, pria yang biasa-biasa saja, yang sadar dengan apa yang ideal tapi sekaligus juga realistis, yang tetap tahu caranya berbahagia di tengah keseharian satir yang penuh beban dan tuntutan hidup, dengan menertawakan dirinya sendiri? Majalah Bung! terbitan ruangrupa (Jakarta) berusaha menjawabnya. Terbit pertama kali pada Oktober 2011, dalam penjelasannya ke penulis-penulis kontributor yang mereka undang berpartisipasi, Bung! mengaku sebagai majalah tentang pria Indonesia usia 25-45 tahun yang tinggal di perkotaan dengan segala peran yang mesti dijalaninya dengan penuh suka dan duka; dari keberanian, ketulusan, kelicikan, hingga kebrengsekannya menjalani hidup. Diniatkan sejak awal untuk terbit hanya 4 edisi, majalah ini kemudian dengan santainya memuat tulisan brilian soal keperjakaan yang (di)hilang(kan), rumah-rumah para pria pekerja yang merantau, dinamika naik ojek (anak haram moda transportasi?), suka duka “pertandingan” kasur (salah satu kalimat pengantarnya sungguh catchy: “Dengan perempuan jagoan di ranjang, apakah Bung yakin sedang bertualang?”), kisah seru dan mengharukan tentang sekolah khusus laki-laki, romantika berpacaran di jembatan layang (saat taman-taman kota tak bisa diharapkan), filsafat bersepeda (ditulis oleh seorang pastur), pria-pria yang tak bisa menyetir mobil (dengan segala konsekuensinya), hingga wawancara dengan seorang preman tentang aktivitas sehari-harinya. Kali lain mereka cuek menulis tentang absurdnya olahraga binaraga, pengalaman SKJ semasa Orde Baru, akal-akalan kere merekam kaset-kaset musik yang sulit terbeli, pembahasan model rambut dan koleksi celana dalam, rumitnya menjaga hubungan menantu dengan mertua, hingga berpanjang-lebar membahas bulu ketiak perempuan—tema yang sudah pasti tak bakal dapat tempat di majalah-majalah pria standar.

Semboyan majalah Bung! boleh simpel, “Hidup Pria Indonesia”, namun sebenarnya misi mereka sungguh tak main-main: membuka ruang untuk berdiskusi dan menganalisis konstruksi sosial dalam maskulinitas di Indonesia dari berbagai sudut pandang (kelas, etnis, kepercayaan, seksualitas, lokalitas, dsb), dan memberikan ide dan pandangan alternatif atas maskulinitas yang selama ini selalu dikomodifikasi oleh industri. Pertanyaannya sekarang, berhasilkah misi mulia tersebut? Sambutan (dan sambitan) khalayak, baik lewat akun twitter @majalahBung maupun rubrik surat pembaca, rata-rata bernada positif dengan beberapa catatan masukan. Edisi-edisi selanjutnya selalu ditunggu-tunggu, setidaknya oleh pangsa pembaca yang telah berhasil mereka dapatkan. Dalam tulisan perpisahan di edisi terakhir (edisi 4, terbit Januari 2013), diakui bahwa menuntaskan seluruh pembahasan atas kehidupan seorang pria sampai khatam adalah “hil yang mustahal“—mengutip pelawak Asmuni, tentunya. Hidup jalan terus, kegilaan akan terus terjadi, dan bagaimana pun majalah Bung! telah turut mewarnai sejarah penerbitan majalah pria di Indonesia. Setelah purnatugas mereka, kini giliran kita sepenuhnya, para pembaca, untuk lanjut memaknainya. Diskusi santai akhir pekan di perpustakaan Kineruku nanti adalah salah satunya.

Tentu menarik menyimak Kunto Adi Wibowo, peneliti dan dosen Fikom Unpad—yang bukan kebetulan juga pernah diundang menulis di majalah Bung!—dengan segala wawasan akademiknya perihal studi media mengupas tuntas majalah ini. Disandingkan dengan sudut pandang tengil dari Syarif Maulana, penggiat Klab Filsafat Tobucil yang terbiasa menilai hal-hal dari kacamata filosofis secara serius tapi santai. Meski diskusi ini dibikin mungkin hanya demi alasan supaya para awak redaksi Bung! bisa bertamasya ke Bandung di akhir pengabdian mereka, namun hampir seluruh tim memang diboyong langsung dari ibukota, mulai dari para redaktur (Ardi Yunanto, Roy Thaniago, Ika Vantiani) hingga para penata artistik (Reza Mustar, Andang Kelana). Mereka siap berbagi rahasia dapur redaksi, syukur-syukur bisa menginspirasi. Khalayak Bandung yang hadir diskusi di perpustakaan Kineruku nanti bisa sekalian bertukar pikiran (atau nomor kontak, setidaknya?) dan berkenalan dengan orang-orang di balik layar majalah pria Indonesia itu, yang lucunya, menurut sebuah wawancara, “tidak ada yang macho.” Demi menambah semarak suasana, bakal ada hiburan musik oleh Tetangga Pak Gesang, duo kembang akustik yang masih hangat dari penggorengan alias baru terbentuk beberapa purnama yang lalu.

Kami mengundang Anda yang membaca pengumuman ini, baik sebagai pembaca majalah Bung! maupun bukan (atau belum?), kontributor, para secret admirer maupun pencibir, apapun dan siapapun, untuk datang meramaikan. Tiada kesan tanpa kehadiran Anda!

Salam,

Kineruku
baca-dengar-tonton
www.kineruku.com

* * *

Acara ini terselenggara berkat kerjasama:
Kineruku | Bung! | ruangrupa

.

Edisi lengkap Majalah Bung! (1, 2, 3, 4) bisa dibeli dengan harga khusus di acara diskusi.
Dapatkan segera sebelum menjadi barang langka!
(klik foto untuk memperbesar)

 
 

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe