Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

Ketidaksambungan yang Justru Nyambung dan Terkutuklah Kita…

Ketidaksambungan yang Justru Nyambung dan Terkutuklah Kita…
17/02/2010

Alkisah, beberapa tahun lalu, di tengah deraan tenggat waktu penulisan sebuah skenario yang diselang-seling dengan gebyar urusan lain sehubungan dengan upaya NRU*, seorang kawan menyodorkan apa yang disebutnya sebagai ‘obat pusing’ dengan tantangan, ‘Kalo elo bisa nggak ketawa baca ini, gue bayar!’ Waktu itu saya sedang tidak pusing, jadi sebetulnya tidak perlu obat. Tapi menantang penulis paruh waktu yang bangkrut selalu dengan tantangan cemen buat membaca apapun, plus iming-iming ‘gue bayar’, adalah salah besar. Karena jawabannya pasti: ‘bawa sini barangnya!’

Dan ‘obat’ itu adalah sebuah ‘buku’ (mungkin tepatnya ‘buklet’, kenapa saya letakkan di antara tanda (‘), karena apapun istilahnya ‘barang’ itu adalah hasil fotokopi) berjudul Samsuddin dan Kereta Api. Penulis sekaligus ilustratornya bernama oomleo. Sejujurnya, saya pikir itu buku porno. Karena penulisnya adalah oom-oom. Dan bentuknya fotokopian. Tapi, sebodo-amat, saya kan mau menang taruhan? Ternyata? Belum habis kalimat pertama, saya kalah telak! Dan, Samsuddin tidaklah porno saudara-saudara, melainkan EDAN!

Sampai hari ini, saya masih yakin Samsuddin dan Kereta Api adalah salah satu buku yang paling sinting dan paling orisinil yang pernah saya baca. Sayangnya, Samsuddin hanya beredar di kalangan terbatas. Itupun secara fotokopi estafet. Siapa yang ingin punya, dialah yang harus berprakarsa buat memfotokopi. Dan betul, Samsuddin ampuh berfungsi sebagai obat pusing tanpa efek samping.

Satu ‘Oom’ di antara sejumlah Aa’ dan sekian banyak Dra./Drs., Psi.
Baru sekian tahun setelah Samsuddin, terdengar kabar adanya sebuah majalah anak muda yang nekat memberikan salah satu rubriknya untuk diasuh oleh si oom-oom sinting itu. Rubrik itu berkaitan dengan soal cinta. Judul rubriknya: Getar Cinta. Astaga! Ada gitu? Anak muda yang mau konsultasi urusan asmara dengan seorang oom-oom? Jawabannya? Banyak! Serius. Memangnya si oom ini bisa ngasih saran apa? Jawabannya? Apa aja! Ini juga serius. Di mana posisi rubrik oomleo di antara kolom sejenis yang diasuh oleh doktorandus psikologi X, atau doktoranda psikologi Y, atau Aa’ ini, atau Aa’ itu? Jawabannya? Hanya yang Maha Kuasa lah yang tahu. Yang pasti, rubrik ini sempat berjalan cukup lama. Kok bisa? Bisa jadi karena di antara rubrik-rubrik sejenis yang berlomba menawarkan pencarian solusi berdasarkan petunjuk ‘ahli’, hanya Getar Cinta-lah yang mampu melihat aspek kelucuan dari semua masalah yang dilemparkan ke rubrik ini.

Untungnya, kompilasi konsultasi rubrik Getar Cinta tak ikut hilang bersama Samsuddin dan kereta apinya, tapi terbit sebagai sebuah buku yang berjudul Diskonek: Segambreng Tulisan Nggak Nyambung oomleo (Bukune, 2008). Meski tidak segila Samsuddin, Diskonek tetap layak diperhitungkan sebagai bacaan yang bisa menantang pemikiran kita dalam banyak hal. Misalnya? Oke, kita mulai dengan nama penulisnya. Kebanyakan dari kita akan cengar-cengir menyebutkan kata ‘oom’ di luar konteks paman kandung. Karena, sudah lama dunia maklum, menjadi oom-oom, bagi mayoritas pria bukanlah cita-cita. Sementara, bagi mayoritas perempuan, menjalin hubungan dalam kapasitas apapun dengan oom-oom juga bukanlah cita-cita. Jadinya, sangatlah mengherankan kalau ada sosok yang nama ‘asli’-nya terdengar tokcer dari segi artistik justru memutuskan untuk menjadi ‘oom’ sejak dini, dan atas kemauan sendiri. Lebih jauh lagi, ia bahkan menggabungkan dua kata yang setara konotatifnya: ‘oom’ dan ‘leo’. Padahal, gabungan dua kata ini-sejujurnya, (tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua oom, apalagi pembaca, termasuk oomleo sendiri) membuat si penyandang nama  terdengar bagaikan penjahat seks dunia maya yang layak jadi incaran aparat.

Bila sosok ‘oom’ tidak dekat dengan dunia penulisan, bayangkan pula bagaimana sulitnya buku karya oomleo ini bisa bertahan di tengah badai chick-lit/teen-lit yang meluap bagaikan air bah itu. Selain itu, (sekalian saya sampaikan salam dukungan untuk Anwar Holid, yang merasa terteror akibat kelangkaan editor**) saat-saat ini adalah lazim bagi sebagian penulis/penulis syair lagu Indonesia untuk memproklamirkan ‘ketidakmampuan’ mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia, dengan dalih ‘kurang ekspresif’, karenanya, menulislah mereka dengan bahasa ‘asing’. Karena memang seringkali ‘asal Inggris’ dan jadinya betul-betul asing, akibat sulitnya kita menangkap maknanya. Justru, si oom yang ini menulis hanya dengan bahasa Indonesia. Dan tetap 100% ekspresif! 150% lah buat temen!

Banyak penulis yang enggan saat harus menuliskan ‘kata pengantar’. Kebanyakan mungkin berpikir, ‘paling-paling nggak dibaca.’ Atau karena memang sedikit sekali yang mau memaknai bagian ini. Rupanya, oomleo memilih cara lain guna mempertanyakan apa pentingnya ‘si pengantar’. Jadi, meski materi yang terangkum di dalam Diskonek sebagian besar adalah daur ulang, kata pengantar oomleo berhasil menambahkan beberapa poin: (Apakah arti dari “Si Pengantar”? Mungkin maksudnya adalah si pengantar koran…), demikian oomleo mengawali bagian pengantarnya. Dan di penghujung bagian ini oomleo bersabda, “Ketahuilah, bahwa saat ini kamu masih berada pada bagian “Si Pengantar”, yang artinya, BUKU INI SAMA SEKALI BELUM SELESAI KAMU BACA!!!”

Bagian isi dimulai dengan segmen oomleo menjawab pertanyaan seputar ‘mahluk halus’ (hlm. 2).
T: Mengapa namanya “mahluk halus”?
J: Dahulu kala, ia bernama “mahluk kasar” sampai akhirnya lotion untuk memperhalus kulit ditemukan.

Soal perbedaan ‘setan’ dengan ‘mahluk halus’? Jawaban oomleo adalah, “Setan memiliki anak, sedangkan mahluk halus tidak. Anda pasti pernah dengar makian ‘anak setaaaaan!’ Itu bukti bahwa setan lebih eksis…” (hlm. 4).

Mungkin penulis yang berniat ‘bicara’ ke segmen pembaca muda/remaja cenderung jauh-jauh dari topik-topik berat. Justru oomleo tidak. Setelah pembahasan soal mahluk halus, masuklah kita pada pembahasan soal Pemilihan Presiden. Bagian ini rupanya berkaitan dengan jelang pemilihan presiden tahun lalu. Bagi yang sungkan bertanya urusan ini kepada pihak yang kompeten, oomleo dengan senang hati menjawabnya. Contoh (hlm. 12):

T: Kartu PEMILU Presiden yang hendak saya coblos, tertukar dengan kartu domino, apa yang harus saya lakukan?
J: Perhatikan kartu tersebut dengan seksama. Jangan sampai salah lihat. Kartu domino yang komplit berjumlah 28 lembar, sedangkan kartu remi berjumlah 52 (tidak termasuk dua buah kartu joker).

Apakah pembaca akrab dengan perdebatan berkepanjangan soal istilah ‘indie’ dan ‘major’ label? Perspektif dari oomleo sama sekali tidak memihak integritas artistik dari kedua belah pihak. Ia memperkenalkan isu ini kepada para pembacanya dengan memasukkan unsur ‘sejarah’. Tentunya bukan sejarah ‘dunia’, tapi sejarah menurut ‘dunia oomleo’. Konon, menurut oomleo, istilah ‘indie’ lahir di India. Sehingga, sekali lagi menurut oomleo, “…setiap band ‘Indie Label’ pasti beranggotakan personil yang pernah nonton film India…” (hlm. 22-23). Sementara, terbentuknya ‘major label’ menurut oomleo, bermula di Magelang, Jawa Tengah. Saat itu, menurut oomleo, banyak perwira ABRI yang mencoba merintis karir di bidang musik (hlm. 23).

Kemudian oomleo memberikan sejumlah anjuran, mengenai beragam hal tentunya. Sampai di bagian ini seolah pembaca disiapkan untuk memasuki ‘hidangan utama’, tak lain kumpulan tanya-jawab soal asmara saat oomleo masih mengasuh rubrik Getar Cinta. Silakan simak metodenya saat ‘mengurus problem anak orang’, melalui beberapa cuplikan berikut (dari hlm. 113 dan hlm. 133).

T: Dear oomleo. Ada cewek yang suka sama gue dan lagi PDKT. Dia bela-belain telepon gue malem-malem cuman buat bilang goodnite. Kesannya dia kelewat agresif. Kalau pergi, selalu dia yang bayarin. Haruskah gue memberi harapan? (Andi xxxxxx@yyyyy.com)
J: Dear Andi. Rubrik Getar Cinta adalah sarana berkonsultasi tentang permasalahan cinta. Jika ada seorang cewek yang naksir sama kamu dan rela melakukan segalanya buat kamu, tapi kamu masih bingung, berarti kamu sedang mengalami ‘permasalahan sikap’. Dan bukan, ‘permasalahan cinta’. Jadi, carilah rubrik Getar Sikap dan cobalah untuk berkonsultasi dengan rubrik tersebut. Terima kasih.

T: Dear oomleo. Aku baru putus sama cowok yang aku sayangi banget. Aku jarang suka sama cowok, tapi kalau suka pasti suka banget. Ini yang aku alami sama Ricky (bukan nama sebenarnya). Sayangnya dia selingkuh. Makanya aku putusin dia. Menurut oom kalau aku ngajak balik, lucu nggak ya? Aku takut banget ditolak (Yani@yyyyy.com).
J: Dear Yani. oomleo paham kamu masih mencintai Ricky. Namun, bagaimana mungkin kamu bisa mencintai Ricky yang bukan nama sebenarnya?? Jelas saja dia selingkuh, sering acuh, dan jadinya kalian musuhan! Itu semua karena kamu tidak mengenal dia dengan baik! Bahkan, kamu sama sekali tidak tahu nama asli dia! Bisa jadi cowok bernama Ricky itu nama aslinya Suherman. Pantas aja dia acuh? Setiap kamu panggil dia “Ricky”, dia tidak perduli, karena namanya adalah “Herman”? Lalu, kamu mau ngajak dia balik? Pasti dia menolak! Sekali “Herman” tetap “Herman”!

Dan, Terkutuklah Kita…
Ulasan ini saya tulis bertepatan dengan munculnya ‘liputan’ sebuah media utama mengenai perseteruan Kang Steven (Tyler) vs. Aerosmith yang alamak, bukan hanya sudah telat sekian bulan tapi bahkan membuat kita harus bersimpati kepada para penata letak, anak magang, pengantar koran atau siapapun yang harus menanggung malu akibat mengikuti keputusan bosnya untuk mengantarkan berita basi itu kepada para pembacanya. Media yang sama juga sudah berpuluhan tahun sibuk menuliskan pentingnya peran Kang Jimmy 1 (Hendrix) dan Kang Jimmy 2 (Page) dalam sejarah dunia musik (ya ampyuun!). Kaitannya dengan oomleo? Sabar pembaca…

‘Penokohan’ di penghujung tahun lalu, hasil ‘pilihan’ sejumlah media utama juga cukup bikin kita melongo. Karena? Tidak jelas kriterianya, gan! Dan karena tidak ada upaya buat menjelaskan siapa bikin apa, karyanya seperti apa, bisa dilihat/didengar/diakses di mana, dan ujug-ujug terpilihlah sejumlah nama itu dalam jajaran ‘tokoh-tokoh penting’ tahun lalu. Kaitannya dengan oomleo? Sebentar…

Banyak yang percaya salah satu syarat utama untuk menyikapi globalisasi dan menjadi bagian dari warga internasional adalah dengan ‘menguasai’ bahasa Inggris. Kombinasi antara kebutuhan ‘menjadi’ internasional digabungkan dengan ‘konsep’ gaya hidup adalah resep ampuh dalam melahirkan ‘gerakan sesat’, bukan dalam konteks pengabdi setan tapi dalam soal menyesatkan maksud. Satu dari sekian contoh adalah saat seorang pesohor yang baru-baru ini muncul lagi dengan album terbarunya, dalam sebuah wawancara radio berkaitan dengan promo album itu berujar dengan pede, “Massage dari album saya adalah…” Sampai hari ini misteri si mbak itu pijat di mana belumlah terjawab. Hubungannya dengan oomleo? Tenang, tenang…

Kalau sedang ada stamina lebih, saya punya hobi ‘aneh’ dengan mengajukan pertanyaan di beberapa toko buku utama, “Permisi, bisa bantu saya cari buku Iwan Simatupang? Judulnya Merahnya Merah.” Jawaban paling monumental  yang pernah saya terima adalah, “Oh, kayaknya ada di deretan interior. Atau fesyen!” Bisa jadi penjaga toko buku yang ini berkawan erat dan sudah bertukar PIN BB dengan penjaga toko buku lainnya yang punya jawaban ringkas, padat, tapi belum tentu akurat, waktu saya tanya, “Ada buku In Cold Blood?” Jawaban si mas ber-iPod dan bergaya emo itu adalah, “Udah cari di bagian buku kesehatan?” Kaitannya dengan oomleo? Sedikit lagi…

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di atas, saya sulit berharap akan ada media utama yang meliput band seperti  Efek Rumah Kaca secara komprehensif dan dalam waktu dekat—boro-boro menantang pembaca buat memikirkan posisi band ini ada di mana—karena mungkin, kalau toh manajer band ini sudah berupaya mengirimkan CD album ERK ke pihak yang berwenang soal liputan musik, bisa jadi yang bersangkutan mengira CD itu berisi materi penyuluhan soal dampak pemanasan global dan langsung meminta putra kantor (ini terjemahan resmi dari office boy, sumpah!) untuk meneruskan CD tersebut ke bagian lingkungan. Kaitannya dengan oomleo?  Saya jawab sekarang  juga: kaitannya itu lebih kepada kita, pembaca yang budiman.

Sementara  kita kenyang diganjar beragam informasi yang tidak informatif dan kita tahu tapi tak perduli, sebetulnya itu bisa jadi pertanda kita mengamini hilangnya relevansi.*** Padahal, sebelum ‘sesuatu’ atau seseorang bisa menjadi ‘penting’, mungkin ‘sesuatu’ atau hasil karya seseorang itu haruslah relevan bagi publik/umum. Karena kalau tidak, buat apa disebarluaskan? Sehingga, kaitan tulisan oomleo dengan semua kegilaan yang ada sungguh jelas. Karena, ia justru bisa melihat adanya ketersambungan di antara sekian banyak hal yang dalam istilah dia ‘tidak nyambung’ itu tadi. Dan karenanya, tulisan seperti yang terangkum di dalam Diskonek ini pun menjadi relevan di dalam konteks kehidupan kita yang terlanjur dipadati beragam hal yang tidak relevan seperti saat ini.

Saya membela pemikiran dan proses di balik pembuatan buku ini. Karena jelas bukan hasil pretensi atau akibat terjangkit serangan ‘kepingin tampil’. Permainan kata a la oomleo, meski gila jelas memperlihatkan kekayaan kosakata. Juga tampak pemahaman dia soal konteks/kontradiksi/ironi dan sekali lagi, relevansi. Dan itu juga yang membuat kelucuan a la oomleo, menjadi unik, bukan bodoh, bukan merendahkan.

Apakah Diskonek lantas layak disebut sebagai buku penting? Sementara oomleo sendiri mengakui Diskonek bukanlah karya terbaiknya. Kenapa saya berani mencantumkan ‘pengakuan oomleo’ soal Diskonek dan membagi semua ini dengan pembaca? Bukankah ulasan harusnya bertujuan ‘jualan’? Tidak menurut saya. Ulasan bukanlah pameran arogansi. Juga bukan manual yang berhak mengajari pembaca untuk menilai sebelum ia mengonsumsi materi yang diulas. Jaman dominasi keperkasaan opini via media apapun sudah lewat terbawa oleh pilihan kita untuk merangkul demokrasi. Ulasan, menurut saya, bertugas memberi ruang untuk menimbang. Belum lagi, saya sadar betul, memilih kegemaran membaca di negara kita tercinta ini harus didukung dengan energi lebih dari sekedar tindakan membeli di toko-toko buku terkemuka. Niat itu kerap harus diawali dengan aksi mencari. Bagian ‘pencarian’ ini jadi penting untuk diberi penekanan ekstra. Karena, jika tak ada lagi yang relevan di tempat-tempat ‘utama’, artinya kita harus mencari di tempat lain.

Kebutuhan soal relevansi ini juga yang menjadi salah satu dasar terbentuknya beragam istilah seperti ‘indie’, atau komunitas, atau alternatif, dan banyak lagi. Masalahnya, beragam terminologi keren itu baru bisa berdampak kalau memang dilakoni dengan berani. Termasuk berani mencari, menemukan, mengerti dan lalu menyikapi  hal-hal yang awalnya berada di luar kelaziman  tapi justru tak pernah tercabut dari ‘akar’ (seperti gaya bertutur oomleo yang edan, atau penulisan syair a la ERK yang formal—dua-duanya masih 100% Indonesia). Tanpa keberanian dalam menentukan sikap, akan terkutuklah kita menjadi data statistik bisu yang terus dimanipulasi dan diatasnamakan sebagai ‘mayoritas’ oleh pihak-pihak yang punya kepentingan mempertahankan status quo. Argumen soal rating televisi itu bisa jadi contohnya, meski tak pernah ada yang menyoal metode penelitian rating yang digunakan serta validitas datanya. Hanya waktu yang bisa menentukan keabsahan ‘peran’ dari hasil karya ERK atau oomleo, tapi ketika ada yang akhirnya bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai acuan dasar mereka saat bekerja, dan sekali lagi tetap ekspresif, dan kita paham mereka mau bicara apa, kita pun jadi punya bahan untuk berpikir ulang soal pernyataan ‘bahasa Indonesia tidak ekspresif’. Apa iya? Jadi, menutup ulasan saya mengenai Diskonek, carilah, bacalah, dan silakan tentukan nasib serta masa depan karya-karya seperti ini.

[Prima Rusdi, penulis skenario/penulis paruh waktu
yang baru saja lolos dari lubang jarum karena batal dinobatkan
sebagai penulis skenario paling lelet di Asia Tenggara
.]

Catatan Kaki:
*) NRU: Ngelakoni Rupa-rupa Usaha alias kerja serabutan, istilah NRU lahir satu angkatan dengan LSM (Lembaga Syuting Manten), kata kawan-kawan saya di Jogja.
**) Menitip-nitipkan salam, menurut saya kini tak lagi hanya bisa dilakukan di radio tapi juga bisa via kemurahan hati editor.
***) Kekhawatiran soal hilangnya relevansi sudah diantisipasi sejak akhir ’60-an oleh salah satu pendidik dan pemikir terbaik yang pernah kita punya, alm. Soedjatmoko (1922-1989).

Foto ilustrasi diambil dari sini.


DISKONEK: Segambreng Tulisan Nggak Nyambung oomleo
Penulis: oomleo
Penerbit: Bukune
Tahun: 2008
ISBN: 978-602-8066-16-8

.

Comments (14)

  1. oomleo 10 years ago

    terima tengkyu, prima + rumahbuku-kineruku!!

    GOKILLL!!! si prima tulisan’nya dalem bangettt!! (hampir nangis merinding gua nge’bacanya.. sadisss!!!)

    ..hati² buku’nya bisa ludes dibeli orang.. maklumlah.. nggak banyak orang yang ‘nyari buku ini! hehehehe..

    sekali once more: TENGKYU!!!!!

  2. Rani 10 years ago

    Gokilllll! Gak mungkin gak sih setelah baca review ini gak pengen beli bukunya atau gak pengen email reviewernya? Teman-teman, layangkan email nge-fans kalian ke: primarusmini@yahoo.com!

  3. Ardi Yunanto 10 years ago

    Poin bahasa Indonesia yang ekspresif, justru di tangan ‘oom gila seperti leo’ (yang selalu berpesan untuk menuliskan namanya dengan disambung dan huruf kecil semua) itu, bagus sekali, Prim. Nggak cuma terjadi di banyak seliweran media terkini, tapi juga mampet di dunia-dunia sastra Indonesia yang mandul berbahasa (sekalipun masih ada Joko Pinurbo dalam puisi, dan sudah saatnya sastra membuat kita tertawa). Dan ketika ada buku segila ini, bagaimana ia bisa diterjemahkan? Mustahil. Ini 100 persen Indonesia asli. Dan ulasan ini sendiri? Gila. Haha. Ini ulasan yang menyamai kelucuan buku ulasannya. Keren! Nggak percaya? Coba simak kalimat sendiri (“Tapi menantang penulis paruh waktu yang bangkrut selalu dengan tantangan cemen buat membaca apapun, plus iming-iming ‘gue bayar’, adalah salah besar. Karena jawabannya pasti: ‘bawa sini barangnya!’”). Masih nggak percaya? (“Karena, sudah lama dunia maklum, menjadi oom-oom, bagi mayoritas pria bukanlah cita-cita. Sementara, bagi mayoritas perempuan, menjalin hubungan dalam kapasitas apapun dengan oom-oom juga bukanlah cita-cita.) Mungkin ini pertamakalinya gue baca ulasan sambil ngakak. Haha. Thanks!

  4. wartax 10 years ago

    review yang menarik dan ramai, tapi menurutku kurang lucu. ha ha ha… meski begitu sudah tergambar isi bukunya kira-kira seperti apa, membuat pembaca ‘penasaran’ (bahasa inggrisnya: ‘narketing’; karena ‘marketing’ = ‘pemasaran’.) kayaknya menarik nih buat dibaca. semoga nanti aku bisa pinjem dari rumah buku untuk mendapatkan kelucuan yang contohnya sudah dipamerkan di review ini.

    sedikit komentar: kadang-kadang aku rada heran sama review yang terlalu serius untuk buku-buku yang punya kadar kelucuan cukup kental. contoh klise ialah buku-buku puisi joko pinurbo. tapi lihatlah komentar para kritikus itu: semua seolah-olah merasa bahwa kalau kelucuan dikomentari secara lugas, maka kredibilitas mereka rusak. jadi mereka membungkus review mereka dengan bahasa serius, bilang ada kelucuan tapi dengan serius, bahkan kadang-kadang istilahnya susah. kelucuannya enggak tergambar sama sekali. wah… enggak lucu itu namanya! masih untung review ini masih bisa bikin kita senyum simpul.

    yang “sembarangan-sembarangan” seperti buku oomleo ini menurutku pentingnya ialah menangkap momen kelucuan dari segala kejadian yang memungkinkan, dan bisa jadi itu semacam pelepasan buat orang-orang yang mudah tertekan seperti aku. (ah, enggak lucu alasannya!)

    ps: terima kasih salamnya, prima. sejahtera selalu.

  5. Prima 10 years ago

    wah,
    emang berat kalo cacat teknologi kayak gue. baru ngeh lho, ada komentar-komentar mengharukan kayak gini. pinjem istilah oomleo, tengkyu setengkyu tengkyunya.

    anwar holid! merdeka! gue setuju, bahkan buat ‘nyari’ bahasa ‘ulasan’ pun kayaknya kita emang kadung kejebak pola lama. salam sejahtera juga anwar! ditunggu tulisan-tulisannya.

    hidup editor yang berani ‘gila’ macam bung budi dan bung ardi.

    salam!

  6. Dimas Ario 10 years ago

    Gokil ah, mba reviewnya. Bernas dan komprehensif

  7. Prima 10 years ago

    tengkyu bung dimas ario! semua editor (laki) bakal gw panggil ‘bung’ (yang perempewi kali ‘saudari’), dengan harapan kapan-kapan pada ngumpul dan memberdayakan penulis/pemikir baru yang rada gokil menurut standar sekarang, tapi bisa jadi penting entarnya. silakan lho bung ardi, bung budi, dan bung dimas ngeriung..hehehehehe

    mari..

  8. cholil 10 years ago

    rumah buku punya samsudin dan kereta api gak?

    kirimin dong prim satu ke ruku..gua juga udah denger kedahsyatannya tapi belum baca (oomleo kayaknya juga udah gak punya..)

  9. Kineruku 10 years ago

    Belum punya, Lil! Selama ini aku baca Samsudin dan Kereta Api di sini.

  10. Prima 10 years ago

    cholil, temans,
    itulah ‘perkaranya’, gue dan ardi karbon jurnal lagi ngelobi oomleo biar dia ikhlas mempdf-kan si samsuddin demi kepentingan khalayak kayak kita-kita ini.

  11. santi 10 years ago

    tetap bangga memakai bahasa Indonesia, seperti review nya…
    hahaha// aku jadi tertarik sekali ingin membaca bukunya.. :)

  12. Prima 10 years ago

    Silakan baca,
    Kata pengelola kineruku, Diskonek masih ada tuh di sana.

  13. fikri yathir 10 years ago

    wahh…asik banget bacanya mbak prima.saya punya pandangan baru lagi (meskipun kemarin2 sudah pernah sih lewat emailnya mba) mengenai penggunaan bahasa indonesia dan bahasa inggris. dan mengenai buku diskonek nya, kirain buku apa. ternyata dari ulasan mba, nampaknya kocak tapi cerdas ya. di toko2 buku ngetop kayak gramedia ada dan masih ada ga? kayaknya sih selama ini belum pernah liat kalo ada di sana, atau sayanya yang lalai??

    salam

    fikri

  14. Kineruku 10 years ago

    Fikri, buku Diskonek masih bisa didapatkan di Kineruku. Silakan datang langsung (Jl. Hegarmanah 52, Bandung), atau bisa pesan juga lewat mail order, ke: kineruku[at]gmail[dot]com :)

Leave a reply to Ardi Yunanto Click here to cancel the reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe