Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/diskusi/ SERUKU.03: Fenomena Mengoleksi Kaos Band

/diskusi/ SERUKU.03: Fenomena Mengoleksi Kaos Band
11/04/2014 admin

posterSERUKU03_still

Bincang Santai Minggu Sore
SERUKU.03
Minggu, 13 April 2014 pukul 15:00-17:00 WIB

FENOMENA MENGOLEKSI KAOS BAND
bersama Edwin Sandi dan Idhar Resmadi

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52 Bandung
www.kineruku.com
@kineruku
[peta menuju lokasi, klik di sini]

Ada banyak dimensi dalam selembar kaos band, yang jauh melampaui sekadar proses fisik dari kapas dipanen lalu dipintal jadi benang dan kain untuk kemudian digunting dan dijahit sesuai pola demi menjadi sandang penutup aurat. Biang keroknya ada pada sederetan huruf dan desain yang tercetak di kaos tersebut: NAMA BAND. Membeli dan mengenakan kaos band melibatkan banyak urusan psikologis, dari sesederhana unsur kecintaan—baik yang tulus maupun palsu—pada musik, musik dan musik; hingga perkara yang lebih pelik: permainan gaya hidup, upaya pencitraan diri tertentu, snobbery, bahkan kibul-kibul kapitalisme global jika Anda mau terdengar sok kritis dan ideologis. Beberapa pemeluk taat percaya bahwa mengoleksi band t-shirts adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian ritual untuk memenuhi rukun iman musik: membeli rilisan (dan mendengarkannya betul-betul, tentunya), mengoleksi band merchandise (termasuk kaos dan segala variannya) hingga mendatangi konsernya jika mampu; meski banyak kalangan penikmat lainnya tak ambil pusing dengan segala keribetan itu. Tapi bukankah seorang Kurt Cobain pun ditemukan tewas dengan mengenakan kaos Half Japanese, band cult favoritnya? Jangan-jangan Anda menyimpan setengah lusin kaos Metallica di lemari meski sebenarnya “Nothing Else Matters” adalah satu-satunya lagu mereka di iPod Anda? Apakah Anda datang ke konser Blur di Senayan dengan kaos Modern Life Is Rubbish produk dadakan fanclub lokal, atau malah sengaja memakai kaos Oasis (alangkah usangnya joke ini!), sweater impor Gorillaz, atau justru kaos The Abyss? Anda mengoleksi kaos The Kuda asal Bogor yang diproduksi sangat terbatas—untuk tidak menyebut ogah-ogahan—sambil terus berharap menemukan debut EP-nya di online seller Facebook? Kenapa kaos original band-band indie luar negeri ’90-an sangat diburu kolektor meski kadang harganya selangit? Dan jika karakter snob Jack Black di film High Fidelity justru bangga memakai kaos konser Yanni (!) sambil menunggui record store-nya, lantas kaos band apa yang sekiranya paling tepat untuk kita pakai bergoyang di konser comeback Orkes Moral Pengantar Minum Racun berikutnya? Daftar pertanyaan ini bisa menjadi sangat panjang, karena musik, beserta segala embel-embelnya—termasuk kaos band—hampir selalu tak ada habis-habisnya diperbincangkan. Anda semua, pemakai kaos band atau bukan, diundang untuk berbagi cerita dan opini soal ini. Mari!

* * *

 

> Lihat arsip seri SERUKU lainnya di tautan berikut ini.

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe