Please select a page for the Contact Slideout in Theme Options > Header Options

/etalase:/ Buku-buku Seputar Musik di Kineruku

/etalase:/ Buku-buku Seputar Musik di Kineruku
21/04/2017 Rani Test

Barangkali kita sudah sering dengar adagium ini, “Writing about music is like dancing about architecture.” Tentu Anda boleh setuju boleh tidak, tapi musik memang kerap menyentuh hidup kita dengan cara yang nyaris tak bisa dideskripsikan oleh kata-kata. Karenanya acapkali juga mengharukan, menyimak bagaimana orang lain berupaya untuk describe the indescribable; dan bukan tidak mungkin seorang pembaca menemukan dirinya sendiri saat membaca tulisan tentang musik. Berikut ini merupakan buku-buku tentang musik, dalam beragam bahasan, yang bisa didapatkan di Kineruku:

 

LOKANANTA
Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi, Syaura Qotrunadha
Perum Percetakan Negara Republik Indonesia, Cetakan Pertama, Agustus 2016, 172 halaman

Buku Lokananta adalah salah satu output dari kegiatan pengolahan arsip Lokananta dalam dua tahun terakhir oleh Lokananta bekerjasama dengan penulis, fotografer dan desainer muda yang disebut dengan Lokananta Project. Buku ini menceritakan tentang sejarah dan kiprah Studio Lokananta sebagai label rekaman milik negara dalam 5 tahun belakangan di dalam industri musik Indonesia, serta membahas beberapa arsip-arsip yang ditemukan di Lokananta.

*

POP KOSONG BERBUNYI NYARING
Taufiq Rahman
Elevation Books, 2017, 146 halaman

Buku ini tidak bercerita tentang pemain ‘liga utama’ di belantika musik Indonesia dan dunia, tetapi bercerita tentang peserta turnamen tarkam, pemain figuran, dan pelengkap penderita. Nama yang tidak terlalu dikenal, seperti The Walkmen, Bandempo, Minutemen, maupun Strange Mountain, merupakan nama yang layak menjadi perwakilan dari kata ‘pop kosong’ yang menjadi judul buku ini. Pada era keterbukaan informasi seperti sekarang sangat tidak sulit untuk menemukan musik atau musisi yang paling obscure sekalipun dan tidak perlu banyak daya upaya untuk melakukannya. Satu-satunya nilai tambah yang bisa Anda dapatkan dari buku ini adalah bahwa semua pemain kelas bulu yang bisa Anda dapatkan dari buku ini (kecuali Dylan di era akhir 1990an) ditemukan di masa pra-internet.

*

MERENUNGKAN GEMA, PERJUMPAAN MUSIKAL INDONESIA-BELANDA
Penyunting: Bart Barendregt dan Els Bogaerts, Penerjemah: Landung Simatupang
Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016, 419 halaman

Dari waktu ke waktu, hingga kini, komposer, pelaku pergelaran, dan sarjana musik saling mengilhami. Kehadiran orang Belanda di Hindia Belanda dan Indonesia serta keberadaan komunitas diaspora yang besar di negeri Belanda telah memberi kontribusi terhadap pertukaran timbal-balik dalam bidang musik: dari kelompok musik tiup militer, musik klasik dan liturgi sampai musik jazz, Indo rock, dan musik dunia sebagai yang lebih baru. Meskipun demikian, interaksi musikal seperti itu sering dibentuk oleh kekuatan kekuasaan yang tidak seimbang, apalagi dengan motif-motif yang sangat beragam pada awalnya. Merenungkan Gema menyajikan eksplorasi musikologis, historis, dan antropologis dalam perjumpaan musikal yang telah dibentuk dalam masa lalu dan masa sekarang. Hasilnya adalah warisan musik yang hingga kini dapat didengarkan.

*

SETELAH BOOMBOX USAI MENYALAK
Herry Sutresna
Elevation Books, 2016, 227 halaman

Buku ini merupakan buah dari pengalaman Herry Sutresna, vokalis Homicide, sebagai pendengar musik yang rakus dan serius. Ia menyampaikan opini, membahas band, resensi, obituari, sampai desain cover album. Kita bisa membayangkan bagaimana music menyertainya ketika terancam mati, ketika sedang berdemonstrasi pada zaman reformasi. Menyimak buku ini, kita akan mengetahui apa lagu maupun album yang direkomendasikannya, mengapa sebuah album penting, dan bagaimana sebuah genre bisa lahir.

*

MUSIK INDONESIA 1997-2001
Jeremy Wallach
Komunitas Bambu, 2017, 342 halaman

Apa yang terjadi dengan suara “lokal” ketika globalisasi menyingkap para musisi dan penikmat musik pada pengaruh budaya dari seluruh dunia? Jeremy Wallach menyelidikinya sebagaimana pertanyaan ini “dipermainkan” pada perkembangan eklektik dunia musik Indonesia pasca runtuhnya rezim Soeharto yang represif. Dilatarbelakangi transisi kaotis negara-bangsa Indonesia menuju demokrasi, Wallach membawa kita menjelajahi studio rekaman, toko musik, konser musik, kampus, perekaman video musik, dan lingkungan urban. Memadukan berbagai detail, buku ini merupakan riset etnografi yang “membumi” dengan ketajaman analisis yang berasal dari teori budaya kontemporer. Ia menunjukkan bahwa akses yang dimiliki negara-bangsa Indonesia atas musik dan teknologi yang bersirkulasi secara global tidak menyurutkan dan menyeragamkan pembuatan musik lokal di Indonesia. Nyatanya malah sebaliknya. Hal ini telah menyediakan kesempatan kreatif kaum muda Indonesia untuk mengeksplorasi identitas mereka di dalam sebuah bangsa ragam budaya yang mengalami perubahan dramatis dalam dunia yang makin saling berkaitan.

__
Buku-buku tersebut dapat dibeli langsung di Kineruku, Jl. Hegarmanah 52, Bandung; atau via SMS: +62 878 2428 1152; melalui mail-order: kineruku@gmail.com atau lewat tautan berikut ini.

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Subscribe